Hari Raya yang menyakitkan
Aku tidak di akui keluarga karna aku miskin.
" Dek lebaran besok jadi kan kita kerumah Ibu dengan anak-anak," tanya mas Abdi sambil membetulkan ban gerobak baksonya sembari menatapku.
Aku mengangguk pelan, " loh dek kok jawabnya hanya mengangguk aja?" Tanya mas Abdi kembali.
"Mmmmm....apa ngga lebih baik kalau kita ngga usah kerumah ibu mas, ada baiknya kalau kita merayakan hari raya di rumah kecil kita ini aja bersama keluarga kecil kita," sanggaku sambil menarik nafas.
Mas Abdi segera menghentikan pekerjaannya dan menghampiriku sambil duduk di sampingku.
Dia menatapku dalam " loh dek jangan ngomong gitu, bagaiamanapun juga besok hari raya itu kita wajib kerumah orang tua kita walaupun hanya saling bermaaf maafan," jelasnya.
Bukan tanpa sebab aku menolak di ajak kerumah Orang tuaku dan juga orang tua mas Abdi, orang tuaku dan juga orang tua mas Abdi sama-sama ngga menyukai kami, karna kami hidup miskin.
Orang tuaku dan juga orang tua mas Abdi adalah musuh bebuyutan sejak dulu, aku dan mas Abdi kenal dan memutuskan menikahpun tak tau apa-apa soal permusuhan itu.
Dan pada saat kami tahu semuanya, kami masih memutuskan untuk menikah karna kami berharap dengan pernikahan kami, kami bisa membuat mereka akur, namun kami kami salah, justru pernikahan kami di tentang dan mereka malah balik memusuhi kami.
Sebenarnya orang tuaku dan juga orang tua mas Abdi adalah orang berada, dengan banyak tanah dan juga properti yang do wariskan pada anak-anak mereka saat mereka sudah menikah.
Tapi kami tidak mendapatkan itu lantaran kami menikahi anak musuh orang tua kami, terakhir kami kesana saat hari raya tahun lalu.
Yang kami dapat bukan sambutan melainkan hinaan dan ejekan dari orang tuaku serta saudaraku, begitupun jika kami kerumah orang tua mas Abdi, kami juga mendapatkan perlakuan yang sama.
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskanya perlahan," Tapi mas aku ngga mau kita di hina lagi, kasihan Rara dan Kania mas," jawabku sambil menatap kedua putri kembarku yang asik bermain.
" mas janji hanya bersalaman kok, habis itu kita langsung pulang," jawab mas Abdi.
" baiklah mas kalau itu keinginanmu," balasku.
Akupun berjalan masuk kedalam rumah, menuju dapur dan melihat opor ayam yang kumasak, kemudian kembali mencuci beras dan segera mengisi anyaman ketupat yang tadi pagi kubuat.
Aku membawa bahan-bahan tersebut keluar di dekat mas Abdi dan anak-anakku bermain.
" dek, adek buat ketupatnya banyak kan dek," tanya mas Abdi kembali menatapku.
" iya mas, aku buatnya banyak, buat bakal jualan mas juga besok," jawabku sambil mengisi satu persatu anyaman ketupat.
" mas ngga usah jualan aja besok ya, ketupatnya sebagian kita bawa aja kerumah orang tua kita sebagai oleh-oleh" sangganya lagi.
" tapi mas, kalau hanya ketupat saja kan ngga enak mas," jawabku.
" kan ada opor kan dek, bisa dengan itu," jelas Mas Abdi.
" tapi mas opornya aku hanya masak satu ekor ayam mas, itupun bakal kita, kalau kita bawa , anak-anak mau makan apa?" Tanyaku sambil menatapnya.
" begini, Anak-anak di kasi opor aja, kalau adek sama mas kan masih ada bakso sisa kemaren yang sudah di panaskan, nah kita makan itu aja, lagian masakan adek kan enak biar orang tua kita bisa merasakan enaknya masakan adek" jelas mas Abdi panjang lebar.
Aku hanya menarik nafas, aku ngga bisa menolak keinginan mas Abdi, aku kasihan padanya, segitu berharapnya dia di sukai terhadap orang tua kami, aku hanya berharap esok kami bisa di perlakukan dengan baik, rasanya ngga sanggup melihat kekecewaan di mata mas Abdi lagi.
***********
Suara takbir bergemah,menandakan Ramadhan telah berakhir.
" Dek...cepak sedikit ya nanti adek ngga dapat tempat," panggil mas Abdi sambil membetulkan kain sarung di depan cermin yang telah usang di makan usia.
Kutatap lekat suamiku, dalam hatiku tiba-tiba bergemuru hebat,pelupuk mataku kiang memanas,ada rasa sesal di dalam d**a, andai saja kami tidak keras kepala menentang kedua orang tua, mungkin saja mas Abdi sekarang merayakan hari raya dengan fasilitas yang mewah, tidak seperti sekarang, baju kokoh yang dia kenakan adalah baju lebaran 4 tahun yang lalu, nampak usang dan juga sudah nampak tua.
Badan dan kulit mas Abdi, yang dulunya putih mulus ,bersih dan kekar, kini hanya tinggal tulang di tambah lagi warna kulit yang menghitam.
" dek....kok diam," tepukan mas Abdi di pundakku membuatku tersadar dari lamunan.
Segera kubersihkan linangan air mata lalu menatap dalam suamiku.
" ada apa dek,?" Tanya mas Abdi sedikit menunduk kearahku.
"Maafin aku ya mas?, karna aku , mas mengalami hidup melarat seperti ini," ucapku sambil tertunduk di hadapanya.
" loh kenapa adek minta maaf, adek ngga salah, in syah Allah semua akan ada jalanya dek, yang penting kita tetap berusaha, hidup seperti ini in syah Allah ngga akan selamanya kok dek, mas janji," ucap mas Abdi lalu memeluk sambil mengecup keningku.
Aku memejamkan mata, hanyut di dalam pelukan suamiku.
" Ibu ayo cepetan," teriakan putri kembarku membuatku dan mas Abdi melepaskan pelukan kami.
" Ayo..tuh si kembar sudah ngga sabar, kamu harus kuat buat mereka," ucap mas Abdi sambil mengusap pelan bahuku.
*************
Sepulanya dari sholat Ied dengan perlahan kami berjalan menuju rumah kami yang di kelilingi sawah warga, tepatnya rumah kontrakan kecil yang terbuat dari dindi kayu dan bambu.
Sangat nampak dari kejauhan rumah yang kami tinggali sudah sangat reot, bahkan ketika musim hujan datang tak jarang kami begadang karna kehujanan.
Rumah yang kutinggali sekarang sangat jauh berbeda dengan kediaman orang tua serta saudara kami yang terletak di tengah kota.
Di pinggiran kota ini kami tinggal tanpa keluarga, bagaikan warga pendatang dari jauh, tak jarang juga aku kenà ejekan dari tetangga sebelah ketika berbelanja kewarung.
Katanya rumah yang kutinggali pantasnya hanya menjadi rumah sawah.
Ada rasa nyeri di d**a jika mendapatkan omongan seperti itu, namun apalah dayaku itu semua benar adanya.
" Adek, mas perhatikan dari tadi, adek banyak sekali melamun, ada apa dek," tanya mas Abdi.
Aku menggelengkan kepala," ngga apa-apa mas" jawabku lalu fokus menatap kedepan.
" apa yang sedang mengganjal di hati adek,tolong beritahu mas," ucapnya lagi.
" ngga mas, aku hanya berfikir, tidakka kita bisa pindah kekontrakan yang layak, agar jika hujan ngga perluh begadang lagi, makin hari si kembar makin besar udah berusia 3 tahun, kita ngga akan kuat begadang malam-malam sambil menggendongnya," jawabku lirih nyaris tak terdengar.
Kudengar mas Abdi menarik nafas berat, seakan lagi menyimpan beban berat.
" maafin mas ya dek, karna mas belum bisa memberikan tempat yang layak buat kalian, tapi in syah Allah, mas akan usahakan tahun ini kita bisa pindah ketempat yang layak buat kalian," bisiknya sambil memeluk bahuku.
" aduuuuu....romantisnya," ucap Ibu-ibu yang baru saja kembali dari sholat ied.
Aku melempar senyum sambil mengulurkan tangan," Minal aidin walfaizin Bu" ucapku dengan tersenyum.
Dan ibu-ibu itupun menyambut uluran tanganku satu persatu.
" biar hidup miskin kalau romantis gini aku juga mau Bu," ucap Bu Sri sambil mencolek lenganku.
" hhhhhhhhh, iya Bu ibarat kata, makan ngga makan asal tetap berdua denganmu kanmas," timpal Bu Mayang tertawa sambil menutup mulutnya.
Ntah mengapa ada rasa nyeri di hatiku mendengar omongan mereka, mau marah juga ngga guna, toh apa yang mereka omongin ada benarnya juga, lagian kami memang miskin, tapi apa ngga adakah sama sekali di hati mereka untuk menghargai perasaan kami.
Perasaan mereka juga ngga kaya-kaya amat, aku aja dulu mungkin jauh di atas mereka tapi aku ngga pernah memandang rendah orang lain, tapi mengapa sekarang keluarga kecilku di rendahkan begini.
" maaf ya ibu-ibu kami pamit dulu, mau kerumah keluarga," pamit mas Abdi sembari melirikku.
Aku hanya ikut dan terdiam tanpa memandang ibu-ibu itu.
" ow ada keluarga juga mas Abdi?" Tanya bu Mayang.
"Ada bu di kota," jawab mas Abdi sekenanya sambil masih tersenyum ramah dan sesekali membungkukkan bahu.
"Wah, keluarga mas Abdi pasti jualan bakso juga ya," timpal bu Sri.
Mas Abdi hanya tersenyum," ya sudah bu kami pamit ya, Assalamualaikum, " pamit mas Abdi sembari menarik tanganku dan juga si kembar.
" apa mereka tidak tau cara menghargai sesama?" Gerutuku.
"Sabar dek,anggap saja angin lalu," ucap mas Abdi sambil tetap merangkul bahuku.
"Ayo,Rara kita balapan,ciapa nyampe duluan dia yang di cuapi ibu," ucap Kania dengan suara cadelnya.
"Ayo ciapa takut," balas Kania, dan mereka berduapun berhamburan lari menuju gubuk.
Aku dan mas Abdi tersenyum melihat mereka, "lihat dek, si kembar,mereka begitu riang dan bahagia, sampai-sampai kebahagiaan mereka nular kekita," lirih mas Abdi sambil tetap memandang kearah si kembar.
Aku tersenyum " iya mas," jawabku.
"Ayo kita susul mereka,"ajak mas Abdi.
Kami berduapun segera menyusl Kania dan juga Rara.
"Holeeeee,Rara menang," ucap Rara sambil lompat kegirangan.
"Ibu cuapin Rara ya, biar Ania di cuapin Ayah," ucap Rara sambil menarik ujung gamis lusuhku.
"Sreeeeeeek..." suara gamisku yang baru saja sobek di tarik Rara.
" maafin Rara,Bu" ucapnya sambil tertunduk dan meremas ujung bajunya.
Aku tersenyum lalu jongkok berhadapan dengan Rara, kuusap pelan bahunya sambil tersenyum," ngga apa-apa sayang,nanti kan bisa di jahit lagi," ucapku.
Mata Rara seketika berbinar," ibu ngga malah?" Tanya nya.
" ngga sayang, mana mungkin ibu marah sama bidadari ibu yang manis ini," jawabku sambil mencubit pelan pipi bakpaonya.
" ya sudah,ayo kita susul ayah dan Kania kedalam, katanya laper," ucapku sambil menuntun Rara.
Setibanya di dalam, kulihat mas Abdi sudah memakai celana kain dan sudah bersiap-siap.
" ayo dek kita makan dulu, habis itu kita berangkat," ajak mas Abdi.
Aku mengangguk lalu duduk di sisinya, suara nyaring berbunyi ketika kami manaiki dipan yang terbuat dari kayu tersebut, maklum rumah kami masih beralaskan tanah.
" dek, itu kenapa?" Tanya mas Abdi sambil menunjuk kearah gamisku yang sobek.
"Oh..ini, ngga apa-apa mas, tadi Rara menarik ujungnya eh tiba-tiba sobek" jawabku sambil tersenyum dan mengusap kepala Rara.
" maafin Rara ya Bu," lirih Rara lagi.
" ngga apa-apa sayang,ayo makan biar ibu suapin," ucapku balik.
mas Abdi menatapku iba, tak ingin dia kawatir, aku melempar senyum terbaikku," ngga apa-apa mas, masih bisa di jahit kok,".
"Maafin mas ya dek,," lirihnya sambil tertunduk.
Aku menatapnya sambil tersenyum, " sudahlah mas, ayo kita makan nanti telat," timpalku, sambil menyuapi Kania dan juga Rara.
Dari tatapan mas Abdi, aku sangat tau kalau dia sangat bersalah juga atas keadaan ini,tapi bagaimanapun juga kami harus saling mendukun dan menguatkan satu sama lain demi buah hati kami, Kania juga Rara.
Setelah menyuapi Kania dan juga Rara,aku pamit sebentar pada mas Abdi.
" mas, aku titip si kembar dulu ya, aku mau mengganti baju," ucapku.
Mas Abdi mengangguk sambil meneguk air di gelas.
Gegas aku kekamar kami, kubuka lemari dan memilah baju mana yang masih layak di pakai pada hari raya.
Namun lama kupilah-pilah ternyata hanya gamis ini yang masih kelihatan bagus meskipun sudah usang.
Aku menarik nafas panjang, segera kubuka gamisku dan gegas menjahit sobeknya.
"Dek, kok lama?" Tanya mas Abdi sambil menyibak tirai pembatas ruang tamu dan kamar kami.
Aku menatapnya sesaat lalu kembali fokus menjahit.
"Dek,apa sudah ngga ada baju lagi yang lain," tanyanya lagi sambil duduk di sisiku.
Aku menggeleng pelan" ngga ada mas, yang lain sudah pada tua, hanya baju ini yang masih terlihat bagus," jawabku sambil fokus menjahit.
Mas Abdi memegang bahuku," maafkan mas ya dek," lirihnya.
" sudahlah mas, ngga usah minta maaf terus, ya mau diapakan lagi,ini semua juga kehendak kita berdua jadi ngga usah minta maaf," jawabku lalu menatapnya dengan senyum di bibir.
" mas janji, akan berusaha sekuat tenaga,biar kalian bisa hidup layak," ucap mas Abdi lagi.
"Trima kasi mas,ya sudah ayok kita berangkat,aku sudah selesai dan tunggu aku di luar mas,aku pakai dulu bajunya," balasku dan segera berdiri dari dudukku.
Mas Abdi segera keluar menghampiri si kembar sedangkan aku langsung kedapur mengambil makanan yang telah kusiapkan, buat orang tuaku dan juga mertuaku.
"Bismillah,semoga kali ini mereka tidak menghina kami," bisikku, lalu segera keluar menyusul keluarga kecilku.
"Ayo dek,sini mas bantu," ucap mas Abdi sambil meraih rantangan di tanganku dan meletakkannya di jok motor butut yang di pakainya menjual bakso sehari hari.
"Ayo dek,naik," ucap mas Abdi.
Akupun segera naik kemotor itu, nampak sesak karna bobot si kembar yang gemoy di tambah lagi aku dan ayahnya, sungguh sangat tidak muat untuk kami berempat, tapi kami paksakan berdesakan semoga saja kali ini kami tidak mendapat hinaan dari mereka yang kami tuju.
Kali ini rumah pertama yang kami datangi adalah rumah orang tuaku.
Setelah sampai di depan gerban rumah mewah pondok melati milik orang tuaku, satpam di rumah itu segera membukakan gerbannya buat kami.
"Non Andin," sapa pak Budi satpam rumah orang tuaku.
Aku melempar senyum lalu segera masuk sambil memegang tangan Kania dan disusul mas Abdi dengan Rara.
Setelah tiba di halaman rumah itu, kulihat 3 mobil mewah berjejeran, rupaya ketiga kakaku sudah berada di dalam, jantungku semakin bergemuruh kalah mas Abdi memegang tanganku dan menuntunku berjalan menuju pintu masuk.
Ada rasa yang ngga mau menginjakkan kaki di rumah itu,namun aku juga tidak bisa menentang kemauan suamiku.
"Assalamualaikum," ucap mas Abdi saat sudah berada di ambang pintu.
Seketika suara meriah di ruangan itu berubah menjadi hening, menatap kearah kami lalu kembali diam memalingkan muka tanpa satupun yang mempersilahkan kami masuk.
Bahkan kedua saudara perempuankupun tidak mempersilahkan kami masuk.
Aku anak ke 4 dari 5 bersaudara, dahulu kami sangat akrab dan saling menyayangi dan takkusangka ternyata pernikahanku ini berdambak pula pada kedua saudara perempuanku.
Aku menatap mereka,namun rasanya mereka enggang untuk menatap kami.
"Eh non Andin, silahkan masuk non,sini aku bantu," ucap Bi Darmi pembantu di rumah itu.
Aku tersenyum," makasi Bi," ucapku.
"Ayo masuk non den," ucap bi Darmi lagi.
Baru saja bibi ingin membawa masuk ratangan dariku, tiba-tiba suara kaka laki-lakiku menggelegar.
" Bibi stop di situ, siapa yang menyuruh bibi menyambut mereka, siapa yang menyuruh bibi mempersilahkan mereka masuk?" Geram kak Yoga.
"Maaf tuan," timpal bibi.
"Kembalikan rantanganya,dan jangan lupa suruh mereka keluar dan katakan pada mereka, mereka tidak berhak menginjakkan kaki di rumah kami, dan katakan juga kalau kami tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka," geram kak Yoga.
Kedua putriku berlindung di belakangku dan juga mas Abdi,aku sangat yakin kalau putri kembarku ketakutan mendengar suara omnya.
Aku menatap nanar kedalam ruangan dimana semua keluarga besarku berada,mataku memanas, hatiku sakit bahkan untuk menelan saliva pun aku rasanya tidak sanggup, berasa ada batu besar yang menjanggal di bagian tenggorokanku, hatiku sakit sangat sakit.
Seketika aku tertunduk dan melirik kearah mas Abdi dan kulihat mas Abdi melangkahkan kaki, gegas kutahan.
Aku menatap mas Abdi sambil mengenggam tangannya.
"Jangan mas," sanggahku sambil menahan air mata yang berlinang.
Mas Abdi menatapku, nampak jelas dimatanya dia juga sedang berusaha kuat.
"Tapi dek," ucapnya sambil menatapku.
Aku menggelengkan kepala, "ayo mas kita pergi,aku mohon," ibah ku sambil menatapnya.
Aku ngga sanggup lagi menahan buliran air mataku, kini air mataku membasahi pipiku,katarik lengang suamiku lalu mengajaknya pergi dari sana.
Kututupi wajahku yang basah dengan ujung leher bajuku.
Ya Allah sesakit ini kah?.
Aku dan mas Abdi meninggalkan tempat itu, berjalan lunglai sambil masih tertunduk.
Setibanya di halaman rumah itu, mas Abdi berhenti sejenak lalu menghadapkanku padanya, menatapku dalam-dalam.
"Adek harus kuat," bisiknya sambil mendekapku.
Akupun mengangguk pelan di balik dekapan d**a kurusnya, kami berempatpun berpelukan.
" Andiiiìin...." teriak Ibuku, berlari kecil ke arah kami.
Aku menatap ibuku dari kejauhan," ayo mas kita pergi,aku yakin ibu pasti akan memakiku lagi seperti tahun lalu," ucapku dan gegas naik kemotor kami.
"Tunggu nak, tunggu," cegah ibu sambil memegang lenganku dengan nafas ngos ngosan.
" apa lagi bu, apa ibu ngga puas melihat kami di maki seperti itu sama kak Yoga, eh maaf aku lupa kalau aku bukan anakmu lagi," lirihku sambil menahan sesak di d**a.
Ibu menatapku sambil menggelengkan kepala," tidak nak, kamu jangan bicara seperti itu, sampai kapanpun kamu tetap putri ibu, maafkan ibu nak jika selama ini ibu menorehkan luka di hatimu," jelas ibuku sambil terisak.
Aku menatap ibuku, kaget, bukankah selama ini ibu juga membenciku? lantas mengapa dia tiba-tiba baik padaku.
"Apa ibu tidak membenciku lagi?," tanyaku sambil menatap matanya, mencari kebencian di sana.
" ngga nak, ngga akan ada seorang ibu yang mampu membenci anaknya terlalu lama," bisik ibuku sambil kembali mendekapku.
Akupun membalas dekapanya lalu perlahan kulepaskan.
"Bu minal aidin walfaizin,maafkan Andi Bu jika selama ini Andin menjadi anak yang membangkan," ucapku sambil mengecup jari tangan yang mulai keriput.
Ibuku mengangguk sambil mencium keningku.
Mas Abdipun segera turun dari motornya dan hendak menyalami Ibuku namun ibuku menolak.
" maaf Abdi Anggara putra Anggara wijaya, meskipun aku menyukai putriku, bukan berarti aku menyukaimu, anak dari seorang penipu," maki ibuku sambil menatap sinis kearah mas Abdi.
" bu, kenapa ibu berkata seperti itu bu?" Tanyaku bingung.
" ibu ngga sudi bersentuhan denganya, suatu hari kamu akan tahu sendiri mengapa ayah dan ibu begitu benci pada keluarganya," timpal ibuku.
"Ibu......,"teriak Ayahku dari belakang dan di iringi kak Yoga dan istrinya.
"Ngapain ibu di sini,?"tanya Ayahku sambil menatap ibu.
" ini....iiiiiiibu...laagiiii ini Ayah," jawab Ibu gugup sambil melepaskan genggamanya dari tanganku.
"Apa kamu mau ikut beserta putri durhakamu itu?" Timpal Ayah lagi.
" kalian harusnya sudah pergi dari sini, kalian harusnya tau diri siapa diri kalian, bukanya malah berlama lama," serga ka Mia istri kak Yoga.
Aku menatap Ka Mia, tega sekali dia berkata seperti itu.
" Mia, tau batasanmu," timpal Kak Yoga.
" kalian pergilah dari sini, di rumah ini ngga ada tempat buat kalian lagi, Andin, semenjak kamu memutuskan untuk menikah dengan pria ini, semenjak itu pula kamu bukan siapa-siapa lagi buat kami," ucap kak Yoga lagi.
Aku menatap mas Abdi,kulihat dia hanya tertunduk sambil memeluk si kembar.
" baiklah,kalau itu keinginan kalian, jika aku bukan siapa-siapa lagi buat kalian, baiklah," balasku sambil menahan air mataku.
" Ayah akui Andin, keras kepalamu mewarisi dariku tapi Ayah bisa pastikan keras kepalamu itu malah akan menjerumuskanmu pada kemiskinan yang teramat," timpal Ayahku sambil melipat tangan di dadanya.
" Ayah tau keras kepalau mewarisi keras kepala Ayah,maka Ayah juga harus tau kalau aku juga mewarisi sifat gigih dalam berusaha, sama seperti Ayah," timpalku.
" Ayah mau lihat sampai dimana kamu bisa bertahan dengan anak penipu ini," ucap Ayah sambil melirik mas Abdi.
" Cukup Ayah,jangan berkata seperti itu, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar membuat keluargaku hidup layak,bahkan melebihi kalian," serga mas Abdi berani dan menatap Ayahku.
" dengan cara apa? Atau dengan cara menipu seperti orang tuamu?" Ejek Ayah sambil tersenyum.
"Sudah Ayah, berhenti mengatakan hal itu,ayo mas kita pergi," ajakku sambil menaiki motor butut kami.
"Ingat jangn pernah menginjakkan kaki di rumahku lagi dasar sudah miskin belaku lagi," teriak Kakak Iparku.
Aku sama sekali tidak menoleh, aku hanya diam menahan sakit di d**a, keluargaku sendiri kenapa berasa seperti orang lain.
Aku dan mas Abdi meninggalkan tempat itu, seiring berputarnya roda motor kami, ingatankupun berputar jauh kebelakan kekejadian saat awal kami memutuskan untuk menikah.
****************
"Buat apa kamu kembali lagi, rumah ini tidak lagi mengharapkan kedatanganmu," bentak Ayahku,sesaat setelah aku memasuki rumah, bukan tanpa alasan aku kerumah itu.
Aku hanya ingin mengambil pakaian dan juga ijazahku, dan saat itu aku menempuh pendidikan semester 2 saat bertemu mas Abdi yang tidak lain adalah Dosen di tempatku kuliah.
Kami menjalani hubungan tanpa tau permasalahan kedua orang tua kami, namun saat perkenalan orang tua, malah Ayahku dan juga Ayah mas Abdi malah ribut dan disitulah hubungan kami di tentang.
Tapi kami keras kepala, kami tetap ingin menikah dan berharap pernikahan kami bisa membawa mereka pada perdamaian namun tdk terjadi.
" Maaf Ayah aku datang hanya untuk mengemasi pakaianku," ucapku lalu berjalan meninggalkanya.
" berhenti, ngga satupun di rumah ini yang berhak kamu ambil, kamu pergi dengan pakaian yang kamu kenakan itu," bentak Ayahku lagi.
Karna dulu aku keras kepala, dan tak berfikir panjang, aku langsung aja pergi tanpa A I U E O.
"Baiklah," ucapku.
Saat itu aku berfikir, apa yang aku kawatirkan,toh aku bisa beli pakaian lagi, mas Abdi kan orang kaya jadi ngga perluh susah.