Bagian 52 Saat membuka mata, ternyata aku sudah berada di kamar. Ada Mama, Bi Inah dan juga anak-anak di sampingku. Mereka terlihat senang saat aku sudah siuman. "Kamu sudah siuman, Nak?" Mama mengelus kepalaku, mengambil segelas air putih dan langsung meminumkannya padaku. Anak-anak terlihat cemas karena mengkhawatirkanku. Namun, Bi Inah berhasil meyakinkan anak-anak bahwa aku baik-baik saja. Kepalaku masih terasa pusing, aku memijitnya pelan sambil berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Aku mulai mengingat semuanya. Saat Mas Mulya menemui kami di tempat pemakaman umum dan mengakui semua perbuatannya. Aku berharap bahwa semua itu adalah mimpi, tapi sayangnya semua itu nyata. Lelaki yang pernah mengisi hari-hariku selama sepuluh tahun dan telah memberiku empat orang anak itu ternyat
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


