DERITA SI GADIS KECIL
Part 1
Namaku Humayra Saat itu, usia ku masih 5 tahun, dimana anak-anak usiaku seharusnya sudah waktu nya bersekolah. Tetapi, tidak dengan diriku, Karna keadaan orang tua yang masih hidup belum menetap dan sering berpindah-pindah. Jangan kan biaya sekolah makan sehari-hari pun belum tentu akan terpenuhi.
Ibuku pun terkadang menangis, memikirkan nasib kehidupan kami. Bukan tanpa sebab Ibu ku menangis, tetapi sikap Ayah yang kasar tidak akan segan untuk memukul Ibu dan Aku pun tidak luput dari amukan kemarahan nya.
"Bu, kapan aku sekolah? aku ingin sekolah seperti teman-teman lain,enak bu sekolah banyak mainan nya di sekolah".ucapku saat aku menanyakan keinginan Ku yang ingin bersekolah kepada Ibu.
" Iya nak, sedikit lagi Mayra akan sekolah kok seperti teman-teman Mayra, tapi sabar ya, tunggu Ibu dan Ayah ada rezeky nanti Ibu akan mendaftarkan sekolah, dan membelikan Mayra tas serta peralatan sekolah lainya, agar Mayra juga bisa sekolah ya".ucap Ibu yang menatap ku sendu sambil mengelus pucuk kepala ku dengan lembut. Aku tau ada kesedihan yang mendalam di mata Ibu.
"Bu, kenapa ya Ayah itu jahat? setiap pulang kerumah Ayah selalu marah-marah sama Kita selalu kasar dengan Ibu, Mayra takut Bu kalo Ayah mukul Ibu lagi" ucap ku kala itu sambil menangis karna mengingat Ayah selalu berbuat kasar terhadap Ibu Ku. Ku lihat wajah Ibu berubah pias, terpancar kesedihan dimata Ibu yang mulai berembun.
"Nggak apa May, Ibu baik-baik saja kok, Mayra jangan khawatir ya sama Ibu. Ya sudah Mayra tidur ya, sudah malam Mayra harus istirahat biar besok bisa main lagi" kata Ibuku dengan lembut seraya menidurkan ku agar aku segera tertidur.
Aku tahu Ibu tidak ingin Aku melihat kesedihan nya. Ibu ku yang selalu sabar menerima Ayah ku yang jahat dan suka bermain Perempuan, pasti hatinya saat ini sangat sedih, karena sudah malam begini Ayah belum juga pulang kerumah. Baru saja mata ini ingin terpejam, suara ketukan pintu terdengar.
'Tok.. Tok.. Tok..!'
"Mila cepat buka pintunya" suara ketukan di pintu berubah menjadi lebih keras layaknya seperti di gedor.
"Mila dasar kurang aj*ar Kamu suruh buka pintu saja lelet banget" terdengar suara Ayah ku menggedor daun pintu dengan keras Aku yang terkaget pun ikut terbangun. Ibu yang sempat terlelap akhirnya segera terbangun mendengar suara Ayah gegas bangun dan berjalan terburu-buru ke arah daun pintu dan membuka nya.
"Dasar bodoh, buka pintu begitu saja lama banget" ucap Ayah ku sambil masuk ke dalam rumah bersama teman laki-laki yang entah siapa. Ya begitulah Ayah, sumpah serapah yang selalu ia ucapkan untuk Ibu. Aku yang mendengarkan nya seakan diam membisu. Takut. Ya aku sangat takut, karna pasti setelah nya akan ada pertikaian yang terjadi.
Bersambung...