¦Part 1¦

1509 Kata
    "Masuk dulu sini. Gue mau ambil handphone di kamar." Shana membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Arthur masuk.     Setelah Arthur duduk di ruang keluarga rumah Shana, Shana segera berlari menuju ke kamarnya. Ia meraih handphonenya dan segera kembali ke ruang keluarga.     "Dapet nggak?" tanya Arthur.     Shana menganggukkan kepala. Semakin besar kemungkinan peristiwa setahun yang lalu kembali terjadi. Itu artinya Shana dan Arthur harus bersiap untuk menghadapi teror-teror baru seperti yang tertulis di pesan singkat itu. From: 0812538840**  Kamu sudah beristirahat terlalu lama. Saatnya untuk kamu kembali siap menghadapiku. Banyak kejutan yang akan kuberikan. Selamat bermain kembali dalam permainanku.     Shana bergidik ngeri membaca pesan singkat itu. Astaga, ini benar-benar buruk. Shana tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi bisa dipastikan bahwa hal-hal buruk sudah menanti. ***     Shana dan Arthur, keduanya masih duduk termenung di ruang keluarga kediaman Shana. Mereka berdua memang sudah sangat akrab.     Arthur adalah anak buah ayahnya Shana. Ayahnya Shana adalah seorang detektif kepolisian. Jadi bisa dibayangkan kedudukan Arthur di sini sebagai apa. Walau bukan bagian dari kepolisian, Arthur sering menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk menangani berbagai macam kasus.     Tak heran juga melihat Arthur yang begini santainya mengunjungi seorang gadis di waktu tak wajar. Shana memang sudah terbiasa menampung Arthur di rumahnya untuk beberapa alasan. Bukannya Arthur tak punya rumah atau apa, namun kalau ada hal-hal mendesak seperti ini mereka memang sepakat untuk langsung bergerak.     Arthur dan Shana sama-sama bukan orang biasa yang bisa diremehkan. Setahun yang lalu, keduanya berhasil menghadapi para pembunuh yang menewaskan beberapa murid SMA Argosaka. Walaupun tak dimungkiri bahwa baik Arthur maupun Shana juga terluka akibat kejadian itu, namun setidaknya Arthur dan Shana bisa mengirim orang-orang yang bersalah untuk diadili.     Masalahnya adalah sekarang ini ada satu orang yang sepertinya berpotensi untuk membuat kekacauan seperti yang setahun lalu terjadi. Alhasil, mau tak mau, Shana dan Arthur harus menghadapi orang itu yang kemungkinan besar adalah Pak Ilham.     "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Shana setelah bosan merenung.     "Sha, lo belum ganti baju sejak pulang dari pertunjukan orkestra gue tadi?" Arthur tampak memindai Shana dari ujung rambut hingga ujung kaki dan bukannya menjawab pertanyaan Shana.     Shana masih menggunakan dress dan riasan yang sama seperti saat tadi ia datang menonton pertunjukan orkestra Arthur.     "Iya, tadi belum sempat aja ganti baju." Shana yang merasa tak nyaman dipandangi begitu sehingga membuat alasan dengan cepat. Ia bahkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.     "Oke, balik ke topik. Gue ada rencana tapi belum matang dan karena Akbar, Verrel, Agatha juga dapet SMS yang sama, kita harus ajak mereka juga," kata Arthur mengalihkan topik.     "Tapi gue takut kejadian setahun lalu terulang lagi. Gue belum bisa lupa soal kak Kara yang ternyata adalah bagian dari para pembunuh itu. Sekarang ini, gue nggak bisa percaya gitu aja sama orang," ujar Shana.     "Jadi lo juga nggak percaya sama mereka bertiga?" tanya Arthur dengan dahi berkerut.     Yah, memang benar bahwa Agatha adalah sahabat Shana. Verrel dan Akbar juga adalah bagian dari tim Arthur setahun yang lalu. Tapi semua bisa jadi berbalik, kan?     "Jadi gimana? Mereka juga dapet SMS nya. Gue yakin sih mereka akan bertanya-tanya ke kita. Buktinya tadi Verrel langsung telepon gue begitu dapet SMS itu. Agatha dan Akbar juga langsung nge-chat gue." Arthur berusaha membuat Shana paham.     "Oke, kita akan mengikutsertakan mereka bertiga. Tapi sama seperti tahun lalu, kita jangan terlalu banyak mengajak mereka dalam penyelidikan kita. Bahaya kan kalau misal ada mata-mata lagi di antara kita." Shana menyetujui walau dengan berat hati.     Arthur mengangguk paham. Ia juga sepemikiran dengan Shana. Ia memang tidak akan mengatakan semuanya secara gamblang pada Akbar, Verrel, dan Agatha. Mereka hanya perlu tahu hal-hal yang bersifat umum saja. Selebihnya, biar Shana dan Arthur saja yang mengurus.     "Arthur, gue mau ganti baju sama cuci muka dulu ya. Kalau lo laper, cari aja makanan di kulkas. Kemarin bunda baru aja belanja bulanan, jadi pasti masih banyak stok makanan di kulkas," ujar Shana sambil bangkit berdiri.     "Oke," gumam Arthur. ***     Arthur masih duduk sendirian di ruang keluarga kediaman Shana. Ia menyibukkan diri untuk mencari informasi dan menghubungi rekan-rekannya, termasuk ayahnya Shana. Berdasarkan pengalaman setahun yang lalu, si peneror ini tak segan-segan melukai banyak orang.     "Halo Pak Gerald?" sapa Arthur pada orang di seberang teleponnya yang tak lain adalah ayahnya Shana.     "Nak Arthur? Ada apa telepon malam-malam begini?" tanya ayahnya Shana.     "Maaf Om, saya pasti mengganggu kesibukan Om," sesal Arthur. Ia sudah mengganti panggilan 'Pak' menjadi 'Om'.     "Nak Arthur ini, seperti sama orang lain saja. Saya bisa tebak bahwa ada sesuatu yang sangat mendesak, bukan?" Gerald langsung menembak.     "Benar Om." Arthur terkekeh kemudian. Pak Gerald memang sangat tahu tentang Arthur.     "Jadi ini soal apa?" tanya Gerald dengan penasarannya.     "Saya, Shana, Akbar, Verrel, dan Agatha mendapat SMS yang secara tersirat berisi teror. Menurut saya, si pengirim SMS ini adalah Pak Ilham," jawab Arthur.     "Pak Ilham? Mantan guru SMA Argosaka itu, ya?" Pak Gerald sepertinya langsung mampu mengingat orang yang dimaksud Arthur.     "Tepat sekali, Om. Kemungkinan terburuk dia tidak hanya akan mengirim teror, tapi juga mencelakai orang-orang lagi." Arthur memikirkan kemungkinan terburuknya.     "Lalu apa motifnya kali ini?" Pak Gerald masih penasaran.     "Dendam, tentu saja." Arthur berkata dengan yakin.     "Baiklah saya akan cari informasi tentang orang bernama Ilham ini. Secepatnya akan saya kirimkan info-info yang dapat membantu kamu mencari orang ini. Oh ya, kamu sekarang di mana?" Gerald tiba-tiba saja penasaran dengan keberadaan Arthur.     "Di rumah Om Gerald," jawab Arthur sambil nyengir.     "Yang ini juga bisa ditebak sebenarnya. Oke kalau begitu, ada lagi yang ingin nak Arthur sampaikan?" Gerald juga terdengar menahan tawa.     "Tidak, Pak. Terima kasih banyak. Malam ini saya izin menginap di rumahnya Om, boleh?" Arthur berkata dengan ragu.     "Tentu saja boleh. Asal kau tidak macam-macam pada Shana." Gerald tampak terkekeh di akhir kalimatnya.     "Siap, Om." Arthur berjanji.     Telepon itu berakhir. Arthur segera merebahkan tubuhnya pada sofa dan tangannya mencari remot televisi. Ia berperilaku seperti di rumahnya sendiri. ***     Shana membuka pintu kamarnya dan melongok ke lantai satu rumahnya. Rupanya Arthur menyalakan televisi. Pantas saja ada suara orang mengobrol. Shana kira ada tamu tak tahu waktu lagi yang berkunjung ke rumahnya.     Shana yang sudah selesai berganti baju dan membersihkan make up itu segera menuruni tangga untuk menghampiri Arthur. Sesampainya Shana di ruang keluarga rumahnya, ia hanya mendapati Arthur yang sedang tertidur.     Shana menghela napas dan menyalakan handphonenya. Shana melihat beberapa pesan masuk. Shana membuka satu per satu pesan itu. Ada Agatha, Verrel, dan Akbar yang tampaknya mengebom Shana dengan puluhan chat.     Belum sempat Shana mengetikkan balasan atas pesan-pesan Agatha, ternyata Agatha justru meneleponnya terlebih dahulu.     "Ada apa, Tha?" tanya Shana setelah mengangkat telepon dari Agatha.     "Lo kok susah banget sih ditelepon dari tadi? Ke mana aja lo?" Agatha memberondong pertanyaan dengan nada kesal yang kentara.     "Sori, tadi pulang dari nonton pertunjukan orkestranya Arthur, gue langsung tidur," jawab Shana ringan.     "Lo dapet SMS yang isinya serem banget itu nggak?" Agatha bertanya lagi.     "Iya, gue dapet pesan itu," jawab Shana.     "Berarti kita semua dapet dong? Wah, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya nih?" Agatha terdengar panik di seberang.     "Mana gue tau. Kita tunggu aja tanggal mainnya." Shana berujar lesu.     "Lo siap kalau peristiwa setahun yang lalu keulang lagi?" Agatha masih cemas.     "Enggak, lah. Gue masih normal dan waras untuk nggak nyari masalah atau berurusan dengan psikopat-psikopat gitu," gerutu Shana.     "Apalagi gue. Gue mana bisa ikut-ikutan jadi lo atau Arthur yang berani cari mati dengan bantuin polisi buat mencari pelaku pembunuhan-pembunuhan di sekolah tahun lalu." Agatha ikutan menggerutu.     "Udah jangan dipikiran terlalu jauh, Tha. Besok kita bahas kalau memang si pengirim pesan ini serius dengan isi pesannya," kata Shana menghibur Agatha sekaligus menghibur dirinya sendiri.     "Lo mau nunggu si pengirim pesan bertindak dulu, Sha? Gimana kalau mereka membahayakan nyawa orang lain?" Agatha tampak tidak setuju dengan saran Shana.     "Ya gimana dong, Tha? Kita juga nggak tahu kan siapa pengirim pesan itu. Kita tunggu aja waktu yang udah mereka siapkan. Setelah itu, kita baru berusaha melakukan segala cara untuk menangkap dan menggagalkan rencana mereka," balas Shana.     "Oke, kalau itu yang lo mau. Tapi gue cuma khawatir aja kalau misal kejadiannya separah kejadian tahun lalu." Agatha memelankan suaranya.     "Iya, pokonya lo jangan panik. Kalau kita panik hanya kerena SMS yang mungkin cuma omong kosong, kita jadi kelihatan lebih lemah. Gue juga akan berusaha untuk membuat situasi nggak sekacau setahun lalu." Shana berusaha mengurangi ketegangan.     Setelahnya, mereka sama-sama diam. Ada jeda beberapa saat sampai Agatha berbicara.     "Lanjut tidur gih, Sha. Paketan telepon gue udah habis nih. Udahan dulu ya. Sampai ketemu besok," ujar Agatha mengakhiri sambungan telepon.     "Good night," balas Shana. Ia kemudian meletakkan handphonenya di meja.     Shana yang semula memandangi layar handphonenya yang mati memilih mengedarkan pandangannya ke sekeliling sampai akhirnya matanya menyorot pada Arthur.     Cowok itu tampaknya tengah tidur. Ia tertidur dengan kedua lengan yang bersilangan dan menutupi bagian matanya.     Shana memperhatikan cowok itu dalam diam. Shana kagum pada cowok itu. Arthur bisa menghadapi masalahnya dengan kuat dan pantang menyerah. Dia juga profesional dan mau menerima risiko apapun itu.     "Puas lo ngeliatin gue?" tanya Arthur sambil menurunkan lengan yang menutupi wajah terutama bagian matanya. Cowok itu mengganti posisi berbaringnya dengan posisi duduk.     Shana langsung mengalihkan pandangannya. Astaga! Ini seperti deja vu. Sungguh, dua kali Shana dibuat malu oleh Arthur karena ketahuan memperhatikan Arthur lekat-lekat.     Kini gantian Arthur yang menatap Shana lekat-lekat. Ia tengah menikmati hasil keisengannya. Arthur dapat melihat perlahan-lahan rona di wajah Shana berubah jadi merah muda. Arthur terkekeh karena Shana terus memandang ke lain arah dan tak berani menatapnya lagi.     "Gue tidur dulu deh," ujar Shana sembari bergegas menaiki tangga kemudian masuk ke dalam kamarnya.     Bunyi pintu tertutup yang agak keras justru membuat tawa Arthur pecah. Sepertinya Shana memang sungguhan salah tingkah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN