Ini adalah hari minggu pagi. Hari di mana Shana akan belajar bersama teman-temannya di perpustakaan kota. Shana sendiri sedang bersiap-siap sambil sesekali mengecek ponselnya.
Arthur sudah pergi dari rumah Shana dan kembali ke apartemennya sendiri. Ia juga rencananya akan turut serta dalam acara belajar bersama di perpustakaan kota. Namun Arthur mungkin akan datang terlambat karena harus mengurus hal lain terlebih dahulu.
Kembali ke Shana, gadis itu tampak memasukkan buku-buku kumpulan soal latihan untuk UN ke dalam tasnya. Setelah dirasa cukup, ia menutup tasnya dan membawanya ke luar kamar.
Shana segera menuruni tangga dan berjalan menuju pintu depan. Sesampainya di teras rumah, Shana segera mengunci pintu rumahnya. Ia kemudian berjalan ke arah abang ojek online yang tadi sudah dipesannya.
***
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu di perjalanan, Shana akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Ia segera masuk ke perpustakaan kota yang lumayan ramai pengunjung itu.
Ia memilih tempat di pojokan dekat jendela besar yang memperlihatkan taman di samping perpustakaan. Ia mulai mengeluarkan buku-buku yang memenuhi tasnya. Tak lupa, ia juga mengecek handphonenya untuk memastikan keberadaan teman-temannya.
Ah, ternyata Agatha sedang terjebak macet dan mungkin butuh waktu sepuluh menit lagi untuk sampai di perpustakaan ini. Verrel malah ketiduran. Akbar sedang menjemput Kak Nizar di bandara. Tunggu dulu!
Shana melebarkan matanya saat membaca balasan dari Akbar. Apakah Shana tidak salah baca? Akbar mengatakan kalau ia tengah menjemput Nizar di bandara? Itu artinya Kak Nizar ada di Indonesia!
Apa ini sebuah kebetulan? Apa Kak Nizar juga mendapat pesan teror?
Shana mendengar langkah kaki mendekat. Shana kemudian mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang.
"Hai, Sha. Udah lama lo?" sapa seorang cowok yang berdiri di hadapan Shana.
Cowok itu bernama lengkap Verrel Aluka. Cowok tampan yang menjadi idola di SMA Argosaka. SMA tempat Shana bersekolah. Verrel memiliki penampilan acak-acakkan dan terkesan cuek. Namun nyatanya ia adalah salah satu anggota OSIS yang paling disegani di masa jabatannya. Ia masuk ke jajaran penting dalam keanggotaan OSIS dan sering mengetuai kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan OSIS.
"Lho, katanya lo ketiduran?" Shana jadi bengong dan terlihat seperti orang b**o.
"Iya, tadi gue emang ketiduran. Bukan di rumah tapi di sini," jawab Verrel sambil nyengir.
"Hah, di sini gimana?" tanya Shana yang makin kelihatan b**o saja.
"Otak lo kenapa sih, Sha? Biasanya encer banget. Sekarang kok gagal paham terus." Verrel mengejek Shana.
"Tunggu! Jadi lo ketidurannya pas udah sampai perpustakaan ini gitu?" tanya Shana begitu selesai mencerna.
"Nah, itu tahu," balas Verrel sembari menjatuhkan diri ke kursi.
Shana hanya memberengut kesal. Ia kemudian mengambil salah satu buku yang tadi ia bawa kemudian sibuk mengerjakan soal-soal yang ada.
"Shana!" Suara keras, nyaring, dan melengking terdengar memanggil nama Shana.
Suara keras itu membuat sebagian pengunjung perpustakaan menoleh tak suka ke sumber suara. Sementara si pemilik suara hanya tersenyum tak tahu malu. Siapa lagi kalau bukan Agatha.
Gadis bernama lengkap Agatha Shia itu sepertinya sudah kebal dengan tatapan sebal yang ditujukan padanya. Kebiasaan berteriak-teriak dengan suara nyaring sepertinya juga sudah menjadi ciri khasnya.
"Tha, jangan malu-maluin dong!" gerutu Shana begitu Agatha mendekat.
"Hai, Agatha. Lo kok makin cantik aja sih?" sapa Verrel sambil mengagumi Agatha.
Sontak saja Agatha segera melayangkan jitakan ke kepala Verrel. Walau tidak keras, namun jitakan itu mampu membuat Verrel meringis menahan sakit.
"Galak amat sih, Neng?" Verrel bergumam dengan wajah kusut.
Agatha sudah tidak memperhatikan Verrel dan justru memperhatikan buku-buku yang Shana bawa. Ia tampak terkagum-kagum melihat tumpukan buku-buku itu.
"Sha, soal di buku-buku ini udah lo kerjain semua?" tanya Agatha tak percaya.
"Iya, udah. Kenapa?" Shana memasang wajah datar.
"Banyak banget ini latihan soalnya. Gila sih!" balas Agatha sambil menarik salah satu buku yang ada di tumpukan itu. Ia membuka lembar demi lembar isi buku itu.
"Iya kan gue udah mulai ngerjainnya sejak kelas sebelas." Shana berkata ringan.
"Iya sih. Lo kan hobinya belajar, nggak kaya gue. Salut gue sama lo!" Agatha nyengir sendiri membandingkan perbedaan dirinya dan Shana.
Shana hanya tersenyum lalu kembali fokus ke buku. Selama ini, waktunya memang lebih banyak ia gunakan untuk belajar dan belajar. Tak heran juga kalau Shana sejak kelas sepuluh sudah menduduki peringkat satu paralel di sekolah dan mengalahkan hampir tiga ratusan siswa lainnya. Nilai-nilainya selalu jauh melebihi nilai KKM yang dipatok sekolahnya. Nilai-nilai Shana kebanyakan berkepala sembilan dan mendekati nilai maksimal yaitu seratus.
Namun di tes kenaikan kelas kemarin, sialnya, Shana kehilangan posisi itu. Seseorang berhasil merebut posisi Shana sebagai juara bertahan.
Seseorang itu tak lain adalah Arthur. Arthur memang berstatus anak baru di SMA Argosaka waktu itu. Namun siapa sangka jika ia langsung keluar sebagai si peringkat satu paralel pada ujian kenaikan kelas.
Walau agak jengkel, Shana tetap menyadari bahwa nilai-nilai Arthur lebih unggul dari nilai-nilainya. Tak heran juga bila Arthur yang sering berpindah-pindah sekolah itu selalu diterima di sekolah barunya. Mungkin memang benar bahwa Arthur itu jenius dan layak untuk diterima sebagai siswa. Bahkan mungkin sekolah amat sangat bersyukur kalau-kalau mendapat murid pindahan seperti Arthur.
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh ketika denting lonceng berbunyi sepuluh kali. Shana yang sedari tadi fokus ke buku akhirnya mengangkat kepalanya.
Sudah satu jam berlalu sejak Shana sampai di perpustakaan ini. Selain Agatha dan Verrel, belum ada yang datang lagi dalam kelompok belajar mereka.
"Ini pada jadi dateng nggak sih? Bosen gue belajar terus," celetuk Verrel sambil meletakkan kepalanya di meja.
"Hey, lo ngomong apa barusan? Belajar kata lo! Dari tadi mainan HP doang padahal." Agatha berkata sarkas pada Verrel.
"Mungkin yang lain masih ada urusan." Shana menimpali dengan kalem. Seratus delapan puluh derajat perbedaan nada suara Shana dan Agatha.
"Sha, lo mau ikutan kelas taekwondo nggak?" tanya Agatha pada Shana.
"Buat apa?" Shana mengerutkan dahinya. Selama ini ia tidak pernah membahas hal seperti itu dengan Agatha.
"Kenapa tiba-tiba lo mau ikut taekwondo?" Verrel juga penasaran.
"Nih gue kasih tau. Berdasarkan asumsi gue tentang si peneror ini, dia pasti akan bertindak kejam ke kita. Nah, karena kita nggak punya persiapan apa-apa, kita pasti cepet kalah. Maka dari itu, setidaknya kalau kita bisa beladiri kan lumayan buat modal menghadapi si peneror ini. Bener nggak?" Agatha memaparkan dengan percaya diri.
Verrel mengangguk-angguk sambil memasang wajah serius. Atau mungkin hanya sok serius?
Sedangkan Shana masih diam. Ia belum memberi tanggapan.
"Gimana, Sha? Setuju nggak lo kalau kita ikutan kelas taekwondo? Langsung gue daftarin nih." Agatha kembali bertanya pada Shana.
"Ya kalau lo mau, lo aja sana yang ikut. Gue males ikutan yang kaya begituan," jawab Shana. Hal itu mengecewakan Agatha.
"Yah, Sha. Kalau sendirian gue juga males," rajuk Agatha.
"Ajak gue dong, Tha. Gue pasti mau kok nemenin lo." Kini Verrel menyela.
"Ogah!" bentak Agatha telak.
"Hai semua, apa kabar?" sapaan hangat dari seseorang itu menarik perhatian Shana, Agatha, dan Verrel yang semula sedang bercakap-cakap.
Sapaan hangat itu dilontarkan oleh Nizar. Nizar Abasya adalah nama lengkapnya. Laki-laki berpenampilan kalem dan dewasa itu saat ini sedang menjalani masa kuliah di luar negeri dan katanya ia mendapat beasiswa. Hebat bukan?
Tatapan tak percaya Shana dan Verrel menyertai kehadiran Nizar di perpustakaan ini. Jadi Akbar sungguhan menjemput abangnya?
Berbicara soal Akbar. Nama lengkapnya Akbar Hendranata. Laki-laki yang datang bersama Nizar itu adalah adik tirinya. Walau hubungan mereka hanyalah saudara tiri, namun mereka sangat-sangat akur. Akbar sendiri adalah salah satu murid SMA Argosaka dan setahun terakhir ia juga berteman dekat dengan Shana.
"Bang Nizar, kan?" Agatha langsung kegirangan. Ia tidak ikutan bengong seperti Shana dan Verrel.
"Iya. Lama nggak ketemu kalian, nih. Gimana kabar kalian beberapa bulan ini?" Nizar mengulangi pertanyaannya.
"Baik banget, Bang," jawab Agatha ceria yang langsung diangguki oleh Shana dan Verrel.
Obrolan mengalir begitu saja setelah kedatangan Nizar dan Akbar. Sebenarnya Shana sudah diberitahu oleh Akbar bahwa Nizar akan datang, namun sejauh ini Shana masih tampak kaget banget.
Kemudian Shana teringat sesuatu. Apakah mungkin alasan Nizar pulang ke Indonesia bukan hanya karena masa kuliahnya sedang libur? Misalnya saja, ia juga mendapat pesan itu sehingga ia merasa perlu turut serta dalam masalah ini juga.
"Kak Nizar tau sesuatu nggak?" tanya Shana sengaja menggantung.
"Gue udah cerita soal masalah itu. Bang Nizar memang nggak dapet pesan kaya kita, tapi dia justru mendapat email oleh si peneror ini." Rupanya dengan tingkat kepekaan yang tinggi, Akbar menjawab menggantikan Nizar.
"Jadi ini juga alasan lo pulang, Bang?" Kali ini giliran Verrel bertanya. Pertanyaan Verrel sudah mewakili pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepala Shana.
"Yah, itung-itung ngisi waktu liburan," jawab Nizar enteng.
Mereka kemudian mengganti topik dengan membicarakan pengalaman hidup Nizar selama kuliah di luar negeri. Hal itu sontak saja membuat mereka semua lupa bahwa sebentar lagi akan ada hal-hal buruk yang akan mereka hadapi.
***
Hingga pukul tiga sore, mereka masih ada di perpustakaan. Walau sebagian waktu dihabiskan dengan mengobrol, namun sebagiannya lagi juga digunakan untuk belajar intensif.
Arthur baru datang saat jam menunjukkan pukul satu siang. Untungnya dengan kesadaran untuk menjadi orang dermawan, Arthur membawakan mereka makanan untuk makan siang.
Ya itulah enaknya belajar di perpustakaan kota. Perpustakaan itu memiliki fasilitas lengkap dan nyaman, buku-buku yang sepertinya tak terhitung lagi banyaknya, dan juga yang terpenting tidak ada larangan untuk tidak makan di dalam perpustakaan.
Sejauh ini, larangan di perpustakaan kota itu hanya ada dua. Seperti umumnya perpustakaan, larangan pertama adalah semua pengunjung dilarang berisik dan menganggu kenyamanan pengunjung lain. Sedangkan larangan kedua memang cukup unik yaitu larangan untuk berpacaran di dalam perpustakaan.
Mungkin larangan nomor dua itu memang terdengar konyol, namun ini tentu peraturan yang perlu diacungi jempol. Aturan ini pasti mampu menampar telak orang-orang yang hobi menghabiskan waktu pacaran di segala tempat, termasuk di tempat umum seperti perpustakaan yang sepi.
Sambil mencicipi makanan yang dibawa Arthur, mereka semua tetap fokus ke buku masing-masing. Walau tak dapat dimungkiri bila materi yang dapat terserap hanya sebagian kecil karena selebihnya mereka juga fokus merasakan makanan-makanan yang masuk ke mulut mereka.
"Ar, lo kayanya udah banyak berubah, ya?" Nizar mengajak Arthur berbicara.
Posisi Nizar yang duduk di lantai dan berada di sela-sela dua rak buku membuat mau tak mau Arthur memutar tubuhnya agar bisa melihat lawan bicaranya.
"Ya, begitulah," ujar Arthur kalem. Ia bahkan mengulas senyum.
"Gue rasa memang sebenernya lo yang asli tuh yang kaya gini dan bukan Arthur yang dingin itu," balas Nizar memberikan penilaiannya.
"Ah, nggak juga. Gue sendiri merasa lebih nyaman dengan sikap dingin itu. Tapi di lain sisi, gue rasa nggak baik juga bersikap s***s ke orang-orang." Arthur tampak menimbang-nimbang omongannya sendiri.
"Ya, sebenarnya hak lo sih mau bersikap kaya apa. Cuma gue lihat, lo jadi kelihatan lebih akrab sama Verrel dan Akbar ketimbang dulu. Itu pasti karena sikap lo yang melunak dan mulai mudah bersinggungan dengan dunia luar." Nizar mengulas senyum. Walau hanya lebih tua setahun, aura kebapakan yang dimiliki Nizar memang sangat kentara.
"Pada dasarnya gue memang butuh orang lain buat ada di dekat gue. Lo benar, Bang. Gue memang pengen punya orang-orang yang ada di deket gue. Mungkin karena itu juga tanpa sadar gue udah mengubah sikap." Arthur juga mengulas senyum. Wajahnya yang semula kaku menjadi lebih cerah.
"Ar, lo sama Bang Nizar lagi ngomongin apa? Takzim bener, deh." Verrel menengok ikutan nimbrung.
"Enggak lagi ngomongin apa-apa." Nizar berkata kalem dan tenang.
Setelah mendengar jawaban dari Nizar, tanpa rasa penasaran lagi Verrel kembali fokus ke bukunya.
Lain halnya dengan Verrel yang angkat bicara, Shana hanya membatin. Sedari tadi ia pasang telinga mendengarkan obrolan Nizar dan Arthur. Oh, jadi itu alasannya sikap Arthur berubah makin manusiawi. Ternyata seorang Arthur yang hebat dalam segala hal juga butuh teman.
***