¦Part 3¦

1884 Kata
    Senin pagi. Shana memasuki gerbang sekolah. Di sepanjang jalan menuju kelasnya, ia berjalan sendirian. Jam segini memang belum banyak murid yang berangkat. Suasana di sekitar Shana juga sedikit mendung karena hujan baru saja reda.     Tiba-tiba, Shana merasa ada yang aneh. Apa ada seseorang yang menguntitnya? Oke, ini mungkin hanya Shana yang parno berlebihan. Cewek itu memutuskan mempercepat langkah kakinya.     Ia akhirnya menghela napas lega saat kakinya memasuki sebuah kelas yang menjadi kelasnya sejak beberapa bulan yang lalu. Shana berjalan perlahan ke bangkunya. Sebenarnya, setiap siswa tidak memiliki bangku tetap di kelas itu. Hanya saja, Shana selalu menduduki bangku yang sama karena ia selalu berangkat pagi dan bisa memilih untuk duduk di mana.     Shana menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelasnya. Kelasnya itu kosong. Namun anehnya, sedari tadi Shana merasa ada yang mengamatinya lekat-lekat.     Sejujurnya, Shana sendiri percaya adanya hantu. Mungkin semua orang akan menertawakan kebodohan Shana yang satu itu. Secara Shana kan selalu mendapat nilai bagus dan sepertinya punya otak yang lebih bagus dibanding teman-temannya. Masa iya sih Shana percaya hal-hal di luar nalar begitu? Tapi tentu saja, Shana punya alasan khusus untuk takut pada makhluk sejenis hantu dan rekan-rekannya yang tak kasat mata.     Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Ia menatap awas ke seluruh bagian kelasnya. s**l, memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi Shana yakin betul bahwa sekarang ini ada yang sedang menguntitnya.     Handphone Shana berbunyi dan membuat gadis itu terkesiap. Ternyata ada pesan singkat yang masuk ke handphonenya. Shana segera mengecek pesan yang baru saja ia terima itu.     Gadis itu nyaris berteriak histeris saat membuka pesan yang ternyata berisi sebuah foto mengerikan. Bukan hanya mengerikan, tapi juga menjijikkan.     Bagaimana tidak, foto itu adalah foto orang yang terluka di bagian kepalanya. Jelas itu bukan luka biasa karena bisa dilihat darah yang keluar dari bagian yang luka—bahkan Shana curiga sebenarnya itu bukan hanya kepala yang retak, tapi nyaris pecah—cukup banyak.     Tidak cukup sampai di situ. Kepala yang berdarah-darah itu belum seberapa dibandingkan kenyataan yang membuat Shana kehilangan kata-kata. Ya, Shana sedikit banyak bisa mengenali korban di foto itu. Korban itu menggunakan seragam sekolah yang sama dengan Shana—dalam hal ini adalah seragam OSIS yang sebenarnya hampir semua sekolah di Indonesia mewajibkan murid-muridnya untuk memiliki dan menggunakan seragam yang satu ini. Namun Shana dapat mengenali lambang sekolahnya yang dijahit di bagian dasi seragam itu.     Sialnya lagi, dia adalah ketua kelas di kelas Shana. Belum cukup sebagai ketua, korban itu juga saingan berat Shana dalam mempertahankan kedudukannya sebagai siswa dengan peringkat terbaik kedua—karena yang pertama adalah Arthur dan laki-laki itu sepertinya tak sudi untuk di kalahkan siapa pun termasuk Shana. Ya, si korban adalah si peringkat tiga alias Kelvin.     Shana meletakkan handphonenya dengan agak kasar ke meja. Terlihat sekali bahwa Shana terpukul atas fakta itu. Rasanya, seluruh tubuh Shana mati rasa.     Tak berselang lama, seseorang menderap masuk ke kelas. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Arthur. Cowok itu hanya mengernyitkan dahi saat melewati bangku Shana.     "Kenapa lo pagi-pagi udah bengong aja?" tanya Arthur setelah meletakkan tasnya di bangku kesukaannya.     Shana diam saja. Bahkan sepertinya pandangannya agak kosong.     "Kerasukan setan penunggu sekolah ini, ya?" tanya Arthur lagi dengan seringai mengejek.     Biasanya dengan ditakut-takuti begitu, Shana akan kesal. Namun kali ini beda. Arthur sama sekali tak mendapat respon Shana. Akhirnya dengan rasa penasaran yang tinggi, cowok itu menghampiri Shana dan bersandar di meja di samping meja Shana.     Cowok itu sebenarnya ingin bersuara lagi, namun pandangannya tersita oleh sesuatu yang terpampang di handphone Shana. Oke, Arthur sendiri juga cukup kaget. Terbukti dengan rahang cowok itu yang mengeras. Sepertinya selain kaget, Arthur juga marah.     Arthur mengenali siapa korban yang kepalanya berdarah-darah itu. Korban itu adalah Kelvin. Mungkin kenyataan itu juga yang membuat Shana sebegitu terpukulnya.     "Sha, sadar lo!" ketus Arthur dengan nada yang cukup keras dan penuh penekanan.     Sepertinya Arthur berhasil mengembalikan kesadaran Shana. Sesaat Shana memandang Arthur dengan linglung, namun setelahnya ia seperti tersadar akan sesuatu.     "Ar, karena si korban menggunakan seragam OSIS, itu artinya dia baru saja dicelakai, kan?" Shana berargumen. Alih-alih menyebutkan nama Kelvin, cewek itu justru menggantinya dengan sebutan "si korban".     "Ya, lo bener. Karena selama seminggu kemarin dia masih baik-baik saja, mungkin dia diserang pagi ini," ujar Arthur yakin. Arthur menyadari keengganan Shana untuk mendengar nama korban di foto itu disebut. Makanya ia juga tidak mengucapkan nama Kelvin, melainkan menggantinya dengan kata "dia".     "Kalau gitu, mungkin belum terlambat untuk mencari dan menolongnya," ucap Shana dengan ragu-ragu. Shana sendiri tidak bisa memastikan kondisi korban hanya dari foto saja. Mungkin memang belum terlambat jika mereka serius mencari dan menolong Kelvin.     "Ayo!" putus Arthur kemudian. Arthur kembali bergerak cepat ke luar kelas. Shana juga berlari menyusul. ***     Shana dan Arthur mengecek ke berbagai tempat mulai dari bagian kelas, ruang guru, ruang lab, gedung ekskul, toilet, dan aula. Hanya saja, tak ada jejak-jejak darah atau hal lain yang dapat mereka temukan. Atau mungkin dugaan awal mereka salah?     Saat mereka hampir putus asa, terdengar suara rintihan dari gudang penyimpanan segala macam perkakas-perkakas kebersihan. Kebetulan sekali, Shana dan Arthur memang berdiri di koridor tak jauh dari gudang itu. Tanpa dikomando, keduanya segera menuju gudang itu yang lokasinya sudah tak seberapa jauh.     Gudang itu tak terkunci. Padahal biasanya para petugas kebersihan dengan telaten memastikan bahwa ruangan itu terkunci. Karena selain menyimpan perkakas untuk bersih-bersih, gudang itu juga digunakan untuk menyimpan alat-alat kebersihan baru yang akan dibagikan ke setiap kelas saat tahun ajaran baru dimulai.     Tanpa ragu, Arthur mendorong pintu gudang itu dan bergerak masuk. Seketika cowok itu sudah lenyap di balik ruangan.     Shana masih berdiri di depan gudang. Walau agak ragu, Shana juga memutuskan untuk mengikuti langkah Arthur.     Dan di sini lah mereka berada. Shana dan Arthur menatap si korban yang tengah merintih-rintih dengan tatapan iba. Mungkin si korban sudah setengah sadar saat ini.     Shana yang sedari tadi menggenggam handphone segera menghubungi ayahnya. Ayahnya kan bagian dari kepolisian, jadi akan lebih cepat ada penanganan.     Sembari menunggu ayah Shana dan rekan-rekannya tiba di sekolah ini, Shana dan Arthur mencoba mengobservasi keadaan TKP. Mereka kan tidak jago medis, jadi lebih baik tidak merusuh dengan mencoba menolong korban. Dikhawatirkan bukannya menolong malah menambah cidera korban. Oleh karena itu, Shana dan Arthur lebih fokus untuk mencari bukti.     Karena penerangan yang minimalis—hanya ada satu lampu bercahaya kuning temaram—Shana dan Arthur cukup kesulitan untuk melihat keadaan sekitar. Mana tempatnya agak-agak kurang ditata. Belum lagi banyaknya tumpukan barang yang longsor ke lantai membuat tempat yang semula luas jadi sempit.     "Tunggu dulu! Kenapa banyak tumpukan barang yang jatuh?" Shana menyadari ada yang aneh di sini.     "Ada tiga kemungkinan. Yang pertama, karena tempat ini diurus oleh petugas kebersihan yang hampir semuanya laki-laki, maka tempat ini jadi tidak terurus dengan baik. Yang kedua, karena baru saja terjadi perkelahian di sini, mungkin antara si pelaku dan korban. Yang ketiga, karena pelaku ingin menyembunyikan jejaknya dengan membuat ruangan ini kacau," ujar Arthur ringan.     Shana menganggukkan kepala. Ya, tiga kemungkinan itu sangat masuk akal. Arthur memang hebat. Atau karena ia sudah terbiasa menangani kasus semacam ini, ya?     Shana segera menuju ke pintu saat terdengar suara kaki mendekat. Rupanya itu mereka.     "Ayah, korbannya di sini," ujar Shana sembari melambaikan tangannya.     Beberapa petugas kepolisian menerobos masuk ke gudang itu. Shana dan Arthur segera menemui Pak Gerald, ayah Shana.     "Bagaimana menurut kalian?" tanya Pak Gerald saat Shana dan Arthur sudah berdiri di dekatnya.     Arthur menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terpikir olehnya. Shana juga menambahkan kecurigaannya.     "Ayah, ini semua mungkin ulah Pak Ilham," ujar Shana.     "Ya, mungkin benar. Tapi mungkin juga orang lain. Untuk saat ini, kita jangan langsung memutuskan." Gerald berpikiran terbuka dan tak mau langsung menuduh.     "Semua memang belum jelas. Makanya saya akan mencoba mencari bukti-bukti lagi. Dan sementara itu, tolong Pak Gerald lacak nomor telepon yang tadi digunakan pelaku untuk mengirim teror gambar ke handphone Shana," kata Arthur tegas.     "Ya. Saya akan kembali ke kantor dan menyelidiki lebih lanjut tentang nomor telepon itu. Oh ya, karena teman kalian itu saat ditemukan dalam kondisi sadar, kemungkinan dia tahu siapa pelakunya. Kita juga akan tunggu sampai korban ini sadar walau ini membutuhkan waktu yang sepertinya cukup lama mengingat kondisinya benar-benar gawat. Saya akan berusaha mengunjungi korban secara berkala," ujar Gerald sambil menyerahkan catatan pada anak buahnya. Tak lama kemudian, Gerald undur diri untuk pergi ke rumah sakit terlebih dahulu dan melihat kondisi si korban. ***     Shana dan Arthur tengah meneliti setiap bagian dari gudang yang sekarang menjadi TKP itu. Setelah ayah Shana kembali ke kantornya, Shana dan Arthur merasa perlu ikut membantu para polisi mengumpulkan bukti-bukti.     Shana membenahi posisi tumpukan sapu-sapu yang longsor di dalam gudang itu. Tak disangka, mata Shana berhasil mendapati barang yang cukup mencolok dan mencurigakan.     "Arthur, gue nemu ini," kata Shana sembari menunjukkan sebuah kalung yang tadinya tergeletak di lantai dan tertutup longsoran sapu. Tentu saja, Shana melapisi tangannya dengan sarung tangan lateks sehingga sidik jarinya tak akan menempel di benda yang kemungkinan bisa dijadikan bukti itu.     "Kalung itu—," ujar Arthur menggantung. Oke, bukannya Arthur manusia yang bisa mengingat sesuatu dengan sangat baik. Namun, ia jelas tahu siapa pemilik kalung itu. Terlalu familier melihat kalung itu dikenakan oleh seseorang.     "Punya gue!" Shana melanjutkan ucapan Arthur yang tak selesai itu. Suara Shana sedikit bergetar saking kagetnya.     Kenyataan apa lagi ini? Shana segera meraba-raba lehernya. Tentu saja tak ada kalung di sana. Itu artinya, kalung itu adalah sungguhan milik Shana.     Arthur menatap Shana seolah-olah meminta penjelasan. Shana hanya bisa diam terpaku. Mulutnya terkunci sempurna sekarang. Wajahnya mendadak pucat dengan keringat membasahi keningnya. Apa saat ini dirinya adalah tertuduh untuk kasus ini? ***     Dengan berat hati, Arthur menyerahkan bukti itu ke tangan para polisi yang tengah berjaga. Bisa diduga, Shana langsung ditetapkan sebagai tertuduh di sini. Ia bahkan diinterogasi habis-habisan tanpa memandang latar belakang Shana yang omong-omong adalah anak seorang penyidik.     Setelah diperiksa, tidak ada sidik jari milik orang lain kecuali sidik jari Shana di kalung itu. Bahkan sidik jari Shana ditemukan secara jelas di bagian liontinnya yang ukurannya cukup besar.     Oke, ini memang terlalu cepat memutuskan bahwa Shana terlibat dalam kecelakaan kali ini. Namun sampai saat ini belum ada lagi bukti yang bisa membantu memecahkan kasus ini dan meringankan beban tuduhan untuk Shana.     Sementara Shana tengah ditanya-tanyai, Arthur memilih pergi ke ruang server sekolah dan mengecek CCTV. Tentu saja ia punya akses untuk hal yang satu itu. Sepertinya itu bukan sesuatu yang sulit dan Arthur akan mendapatkan pencerahan dari kasus ini.     Arthur berhasil melihat-lihat CCTV sebelum kejadian itu berlangsung. Syukurlah karena koridor itu ternyata disorot secara jelas oleh CCTV.     Setengah jam sebelum Arthur dan Shana berhasil menemukan si korban, ternyata si korban alias Kelvin datang ke gudang itu bersama seorang gadis yang entah bagaimana caranya bisa mirip dengan Shana. Gadis itu keluar lima belas menit setelah berkutat di dalam gudang. Sayangnya, gudang itu sendiri tidak dipasangi CCTV. Mungkin memang terlalu mewah bagi sekolah mereka jika gudang saja harus dipantau CCTV.     Arthur menajamkan penglihatannya sembari memperbesar gambar di layar. Ini memang subjektif, namun Arthur yakin gadis itu bukan Shana. Memang dilihat dari penampilan gadis itu—mulai dari rambut, cara berpakaian, tinggi badan pun—mirip Shana. Namun pembawaan gadis itu terkesan angkuh dan dingin.     Jelas, Arthur tidak bisa melihat persamaan antara gadis di dalam CCTV itu dan Shana jika dilihat dari sifat dan sikapnya. Shana adalah gadis yang ceria dan ramah. Oke, sekali lagi mungkin itu hanyalah pemikiran Arthur yang subjektif.     Arthur menyalin rekaman CCTV itu ke dalam flashdisk miliknya. Untuk saat ini, rekaman itu tak bakalan Arthur berikan pada polisi karena sejujurnya rekaman itu sangat memberatkan Shana. Tentu saja dengan sekali pandang, polisi akan mengatakan bahwa gadis di CCTV itu adalah Shana. Polisi itu kan tidak mengenal Shana dengan lebih baik daripada Arthur.     Jadi saat ini Arthur harus bergerak cepat sebelum polisi-polisi itu juga memutuskan mengecek CCTV sekolah ini. Akan semakin gawat jika Shana sungguhan mendapat gelar pelaku percobaan pembunuhan ini. Tapi itu artinya Arthur harus bergerak sendiri dan jauh-jauh dari polisi-polisi itu. Apa yang harus Arthur lakukan sekarang? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN