Shana menunduk dalam-dalam saat dipandangi dengan intens oleh Arthur. Walau cowok itu tak mengatakan apapun, tetap saja Shana merasa terintimidasi. Saat ini, Shana benar-benar ketakutan dengan sikap marah Arthur.
"Karena kalung itu belum cukup kuat untuk menjebloskan lo ke penjara, lo masih bisa berkeliaran di sini." Arthur berujar dingin. Sembari berbicara, Arthur mengangkat dagu Shana sehingga tatapan gadis itu bertemu dengan Arthur. Tatapan Arthur juga lurus ke mata Shana.
Shana makin ketakutan saja. Ia bahkan merasa lebih baik ditanya-tanyai oleh polisi-polisi itu daripada dihadapkan pada Arthur. Rasa-rasanya kata-kata Arthur itu menancap di hati Shana dengan sedemikian rupa.
Kata-kata Arthur seolah-olah tak berbelas kasih. Cowok itu bahkan memasang tampang dingin dan datar dengan mata setajam elang. Apakah setiap Arthur menghadapi kasus mengerikan, ia akan memasang tampang begitu ya?
"Terus apa yang harus gue lakukan sekarang?" tanya Shana begitu berhasil mengumpulkan keberanian.
Arthur menoleh ke kanan dan kiri. Ia memastikan tak ada polisi di sekitar mereka. Saat ini, Arthur dan Shana sedang ada di ruang sidang. Ruang itu bukan ruang sidang seperti di pengadilan, ini hanya lah ruang sidang di ruang BK. Kebetulan, para polisi hanya berjaga di luar ruang sidang itu. Ruang sidang ini juga cukup kedap suara. Setelah memastikan tak ada yang akan mendengar pembicaraan Arthur dan Shana, cowok itu lanjut bicara.
"Gue udah cek CCTV sekolah. Lo tau hasilnya? Itu tambah memberatkan lo," ujar Arthur dengan kekehan menyebalkan di akhir kalimatnya. Walau terkekeh seperti itu, sorot tajam mata Arhur sama sekali tak melembut.
"Kok bisa begitu?" Shana mengernyit makin takut saja.
"Bisa dong. Lihat ini!" perintah Arthur sambil mengangsurkan handphonenya pada Shana. Mendengar nada penuh perintah itu, Shana segera menurut saja.
"Ini gue, Ar?" tanya Shana sambil menunjuk-nunjuk handphone Arthur. Gadis itu melongo saking bingungnya.
"Tadinya, gue berpikir dia bukan lo. Tapi, kalo lo merasa cewek di CCTV itu adalah lo, mungkin itu memang lo," jawab Arthur enteng.
Muka Shana yang pucat sekarang nyaris hijau. Shana bahkan tak bisa sepenuhnya memahami kata-kata Arthur yang terlalu banyak menggunakan kata "lo".
Oke Arthur memang keterlaluan sekarang. Cowok itu juga sadar kok kalau tingkah usilnya sangat tidak tepat waktu. Tapi dia juga butuh membuat Shana merasa terdesak sehingga gadis itu akan melakukan hal sesuai perintahnya. Oke ini lebih memperlihatkan lagi betapa kejamnya Arthur.
"Coba lihat rekaman yang ini," Arthur menunjukkan video lainnya yang tersimpan di handphonenya.
"Ini juga gue pas berangkat sekolah." Shana berujar pasrah.
"Itu mengonfirmasi bahwa lo udah ada di sekolah sejak lima belas menit sebelum lo ngajak si korban ke gudang itu, kan? Kemudian korban datang ke sekolah sepuluh menit sejak kedatangan lo di sekolah. Lima menit adalah waktu yang cukup untuk lo mengajak korban lo ke tempat yang udah lo siapin. Lo sekarang nggak punya alibi karena belum ada siswa yang berangkat kecuali lo dan korban lo itu. Lo juga bisa mencelakai temen lo saat kondisi sekolah masih sepi dan itu membuat lo bisa menjalankan rencana lo dengan mulus. CLEAR!" Arthur menyimpulkan seenak jidat.
"CUKUP!" Shana balas berteriak ke arah Arthur. Kepala Shana rasanya akan meledak dalam waktu dekat karena mendapat tuduhan-tuduhan dari Arthur itu.
Saat ini Shana malah menangis sesenggukan. Emosinya meledak-ledak tak karuan. Kenapa ia jadi terkesan bersalah dan ketakutan?
Sesaat, Arthur menoleh ke arah polisi yang berjaga di depan ruang sidang ini. Namun, Arthur tak melihat polisi itu terusik oleh teriakan Shana. Ini artinya ruang sidang itu benar-benar kedap suara.
"Nggak usah teriak-teriak. Gue cuma mau menawarkan bantuan kok," ujar Arthur kalem. Tatapannya juga melembut.
s**l, Shana masih emosi banget saat ini. Gadis itu tetap menangis sesenggukan sambil menunduk dalam-dalam. Ia bahkan tak menggubris kata-kata Arthur yang katanya akan membantu Shana. Walau sebenarnya malu karena ada Arthur di hadapannya, Shana sudah tak bisa menahan kekesalan itu.
Melihat Shana menangis tak henti-henti, Arthur jadi tak tega juga. Mungkin dia terlalu keras pada Shana. Cowok itu mengusap dan menepuk lembut kepala Shana perlahan sambil menggumamkan kata "sorry" beberapa kali. Setelah Shana mampu mengendalikan diri, Arthur mulai berbicara lagi.
"Sha, mumpung mereka belum melakukan tindakan apapun dalam kasus lo ini, sebaiknya kita juga bergerak lebih cepat." Arthur berujar sabar.
"Tapi gimana caranya? Gue kan bakal diawasi terus sama polisi-polisi itu," ucap Shana di sela-sela tangisnya.
"Gue akan minta keringanan buat lo. Dengan syarat—" Arthur tampak berpikir untuk kalimat selanjutnya.
"Dengan syarat apa, Ar?" sambung Shana penasaran.
"Nanti aja kita bahas lagi. Sekarang gue akan ngomong ke polisi-polisi itu dan berusaha meyakinkan mereka untuk memberikan waktu buat gue dan juga lo menyelesaikan kasus ini. Gimana?" tawar Arthur.
Shana mengangguk setuju. Setelah itu, Arthur bergegas keluar dari ruang sidang itu dan segera bercakap-cakap pada polisi yang tengah berjaga. Tak sampai lima menit bicara, Arthur sudah berhasil meyakinkan polisi jaga itu.
***
"Karena dia cewek, terlalu sulit buat kita mencari identitasnya. Cewek yang tubuhnya seukuran gue kan ada banyak banget. Tinggi badan gue standar, gue juga nggak gemuk-gemuk amat. Nggak ada yang spesifik dari postur tubuh gue." Shana mencerocos panjang lebar.
"Setelah dilihat berkali-kali, gue rasa nggak susah nemuin cewek ini," kata Arthur percaya diri, bahkan nyaris sombong.
"Siapa dong kalau gitu?" Shana bertanya dengan penuh pengharapan. Semoga saja Arthur sudah menemukan pelaku sebenarnya dan dapat membebaskan Shana dari status tertuduh.
"Ya kalau sekarang sih, gue belum ada nama. Tapi sambil kita cari bukti lain, pasti akan ketemu kok." Arthur mematikan handphonenya dan segera mengembalikannya ke dalam saku.
Shana menghela napas. Ia bosan juga menyandang status sebagai terduga pelaku.
"Ar, lo udah cek keadaan di sekitar TKP?" tanya Shana sambil manatap Arthur serius.
"Gue baru cek gudangnya. Kalau bagian luar sama sekitarnya belum," jawab Arthur sambil berpikir.
"Kalau gitu, kita cek sekarang aja!" Shana berseru antusias. Ia juga mulai melangkah dengan semangat ke arah gudang itu.
Arthur berlari kecil untuk menyusul Shana. Sesuai dugaan Arthur, setelah diberi tekanan begitu, Shana akan lebih mampu berpikir dengan terbuka dan tidak hanya meratapi nasibnya yang malang.
***
Selama di jalan, Shana hanya memfokuskan diri untuk segera sampai di TKP. Sebenarnya Shana tak dapat memungkiri bahwa teman-temannya tengah menggunjing tentang dirinya yang dianggap sebagai pelaku. Tentu saja, dengan mudah gosip-gosip begitu akan langsung didengar oleh sebagian besar siswa-siswi SMA itu. Bahkan mungkin pihak eksternal juga sudah ada yang tahu.
Tapi mau bagaimana lagi. Daripada mengurusi hal sepele dan menyebalkan seperti tatapan penuh tuduhan dan bisik-bisik penuh celaan, Shana lebih memilih mengurusi masalah yang sebenarnya.
Ini baru hari pertama penemuan korban. Jadi masih ada kemungkinan bahwa Shana dan Arthur akan mendapatkan jejak-jejak tambahan. Belum lagi waktu kejadiannya kan baru pagi ini.
Arthur dan Shana langsung menyisir bagian belakang gudang itu. Mata mereka sama-sama tertuju pada jendela yang ternyata adalah jendela gudang itu. Entah bagaimana, Shana dan Arthur tak menyadari bahwa ada jendela itu di sana. Ada yang salah di sini.
Shana segera masuk ke dalam gudang. Arthur juga mengekor Shana.
"Jadi, jendela itu ada di balik lemari ini?" Shana tampak menimbang-nimbang pemikirannya.
"Sepertinya begitu. Ayo, geser lemari ini!" Arthur mulai menyeret lemari itu menjauhi jendela.
"Bukan lemari yang berat," ucap Shana menyadari keganjilan yang ada.
Arthur juga menyadari hal itu. Kali ini laki-laki itu bergerak untuk mengecek jendela.
"Ada yang membuka jendela ini dalam waktu dekat. Debu di bagian ini nggak setebal debu di bagian lain," gumam Arthur sembari mengamati jendela itu baik-baik.
"Apa mungkin pelakunya lebih dari satu? Sementara si cewek memancing Kelvin ke dalam ruang ini, ada orang lain yang sudah menunggu di dalam sini." Shana tiba-tiba bergidik ngeri. Sepertinya itu rencana yang cukup mengerikan untuk dibayangkan.
"Mungkin benar. Jendela ini bisa untuk akses keluar masuk pelaku yang satunya lagi. Kemungkinan juga, s*****a untuk melukai korban juga dimasukkan dan dikeluarkan lewat sini mengingat si cewek di CCTV sepertinya nggak membawa-bawa sesuatu yang mencurigakan." Arthur memandang sekelilingnya lagi.
"Ngomongin soal s*****a. Menurut lo s*****a apa yang kemungkinan digunakan pelaku untuk melukai kepala Kelvin?" Shana tampak sedang mengingat-ingat kondisi si korban.
"Kapak?" Arthur bertanya ringan.
Shana hanya bergidik karena merasa ngeri dengan dugaan Arthur. Tapi memang kepala korban kan mengeluarkan darah cukup banyak dan bukannya memar. Kemungkinan menggunakan s*****a tajam memang ada, hanya saja ini terasa sangat mengerikan.
"Di mana kita bisa menemukan s*****a yang digunakan pelaku? Kalau dia adalah salah satu siswa atau siswi di SMA Argosaka ini, mungkin s*****a itu bisa kita temukan di sekitar sekolah." Shana berargumen.
"Lo benar. Karena sekarang masih ada KBM, kemungkinan untuk si pelaku keluar dari sekolah hampir tidak mungkin. Kecuali kalau sebelum bel masuk dia sudah berhasil membuang senjatanya atau ada pihak luar yang membantu melenyapkan s*****a ini. Itu artinya, kita harus cari s*****a itu apapun hasilnya." Arthur kembali menguatkan pemikiran Shana.
Mereka berdua berlari ke tempat-tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat untuk menyimpan s*****a itu. Namun siapa sangka, jika s*****a itu sebenarnya masih ada di dalam gudang dan Shana serta Arthur gagal untuk kesekian kalinya.
***
Gerald mengerutkan dahinya. Sepertinya, ia tengah berpikir keras. Kenapa tiba-tiba saja putrinya jadi tertuduh dalam kasus terbaru di SMA Argosaka? Apa mungkin ini ulah salah satu orang yang tidak menyukai Gerald? Ya, itu memang mungkin terjadi. Alih-alih berhadapan langsung dengan Gerald, banyak pihak yang ingin menghancurkan Gerald dengan menyerang keluarganya.
Tapi ini sangat keterlaluan. Bahkan kejadiannya melibatkan sekolah dan teman Shana. Gerald tahu, putrinya itu bukan gadis lemah. Terlebih, saat ini ada Arthur di dekat Shana.
Tadi Arthur lah yang memberi kabar bahwa Shana menjadi tertuduh karena sebuah kalung. Sebenarnya Gerald ingin turun tangan dan mengatakan bahwa putrinya tidak mungkin melakukan hal k**i begitu. Namun Gerald juga tak ingin dianggap tidak profesional untuk urusan begini penting.
Bagaimana pun Gerald tidak dapat menolong putrinya dengan tanpa alasan. Harus ada bukti atau alibi yang menguatkan bahwa Shana tidak bersalah.
Sekali lagi, Gerald bersyukur karena ada Arthur yang bisa diandalkan. Sebelum Gerald menyuruh Arthur bertindak, cowok itu sudah menyiapkan rencana yang cukup bagus. Untuk ukuran orang yang sama sekali bukan bagian dari kepolisian, Arthur sangat lah hebat dalam memecahkan beragam kasus. Cara berpikirnya benar-benar matang dan selalu terencana. Jelas, tak semua bocah seusia Arthur mampu berpikir dengan begitu cepat dan tepat.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Gerald. Ternyata ada anak buahnya.
"Bagaimana hasil pelacakannya?" tanya Gerald to the point.
"Nomor ini hanya nomor sekali pakai. Bahkan registrasinya pun menggunakan nomer induk kependudukan yang tidak valid. Sepertinya kartunya pun sudah dilepas dan mungkin dihancurkan," jawab Pak Bambang—anak buah Gerald—dengan tegas.
Gerald tampak memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa penat. Ia kemudian menghela napas dan membaca laporan tertulis dari anak buahnya itu.
"Bagaimana dengan pelacakan orang bernama Ilham yang kita curigai ini?" tanya Gerald lagi.
"Tak banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Tapi selama beberapa tahun dia sempat tinggal di luar negeri dan baru kembali ke Indonesia satu setengah tahun lalu," jawab Pak Bambang sambil menunjukkan catatan yang hanya berupa coret-coretan singkat.
"Bukannya dia punya kesulitan ekonomi? Bagaimana bisa dia pergi ke luar negeri dan menetap di sana? Apakah dia bekerja di sana?" Gerald tampak menaikkan sebelah alisnya.
"Saya akan cari tahu lebih lanjut soal itu. Saya permisi, Pak." Pak Bambang undur diri.
Gerald hanya mengangguk. Namun karena teringat sesuatu, ia akhirnya bicara lagi pada anak buahnya itu, "Kalau bisa kumpulkan semua informasi secepatnya. Mungkin itu akan membantu kita dalam penyelidikan kasus terbaru ini."
"Baik, Pak," ucap Pak Bambang dengan mantap kemudian ia benar-benar keluar dari ruang kerja Gerald.
Gerald menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang ia duduki. Kepalanya terasa pening menghadapi masalah yang satu ini. Tak salah lagi, inilah risiko yang harus ia tanggung apabila bersedia mengambil pekerjaan seperti ini. Kemungkinan kedamaian keluarganya akan terancam.
***