¦Part 5¦

1659 Kata
    Gerald kembali datang ke sekolah putrinya alias TKP percobaan pembunuhan alias SMA Argosaka. Mungkin ia harus mengerahkan tenaga lebih banyak untuk mencari bukti tentang kasus percobaan pembunuhan terbaru ini.     Tempat yang pertama kali Gerald tuju adalah gudang kebersihan alias TKP. Tak banyak polisi yang tersisa. Sebagian memang kembali ke kantor dan sebagian lagi masih menjaga area sekolah secara menyebar.     Gerald segera meneliti gudang itu. Ia sendirian di dalam sana. Gerald segera menggunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Matanya jadi lebih awas. Dan, tunggu! Apa itu? ***     Arthur membuka handphonenya yang sedari tadi bergetar-getar tak sabaran. Awalnya, ia hendak tidak memedulikan handphonenya itu. Namun, ia memutuskan untuk mengecek terlebih dahulu.     Ternyata keputusan Arthur tak salah. Ia sekarang sedang berbicara serius dengan orang di seberang telepon. Rupanya itu Pak Gerald.     "Siapa, Ar?" tanya Shana yang sedari tadi terdiam di dekat Arthur. Sepertinya gadis itu juga penasaran dengan pembicaraan Arthur.     "Bokap lo." jawab Arthur singkat. Ia kemudian memasukkan handphonenya ke saku celana.     "Jadi ayah bilang apa?" tanya Shana lagi. Shana cukup peka untuk melihat perubahan pada raut wajah Arthur.     "Kita kecolongan. s*****a untuk melukai korban kemungkinan sempat disembunyikan di tingkap gudang itu. Saat Pak Gerald mengecek ke tingkap, s*****a itu udah nggak ada di sana." jelas Arthur. Laki-laki itu tampak mengusap wajahnya.     "Kok ayah bisa menyimpulkan kalau s*****a untuk melukai korban disembunyikan di tingkap?" Shana ikutan cemas. Ternyata mereka tidak jeli sama sekali.     "Ada noda di bagian tingkap eternit gudang. Kemungkinan itu adalah noda darah korban yang menempel di senjata." Arthur mengulangi penjelasan Gerald tadi di telepon.     Shana mengangguk-angguk paham. Sesaat ia sempat merutuki keteledoran yang ia lakukan. Namun, ia kemudian memilih terdiam dan kembali memutar otaknya.     "Kalau gitu, pelaku baru saja kembali ke gudang pada saat kita keluar dan sebelum ayah datang?!" ucap Shana antara pernyataan dan pertanyaan karena sejujurnya ia juga asal menyimpulkan.     "Mungkin. Karena sekarang masih jam pelajaran, kita bisa cari tahu siapa aja siswa yang nggak ada di kelas saat ini. Kita berpencar dan tanya pada guru yang tengah mengajar sekarang!" Arthur memberi perintah.     "Oke, kita bagi tugas. Gue akan ke kelas sepuluh dan sebelas, sedangkan lo ke kelas dua belas," lanjut Shana.     "Lo ke kelas sepuluh aja. Gue yang ke kelas sebelas sama dua belas. Gue kan lebih cepet geraknya," ujar Arthur yang tampak kurang setuju dengan pembagian tugas itu.     "Oke, deh!" tanpa banyak bicara lagi Shana segera berlari ke kelas-kelas yang dimaksud. Semoga saja usahanya kali ini membuahkan hasil.     Arthur pun begitu. Cowok itu dengan cepat memasuki satu kelas dan pergi ke kelas lain untuk mencari tahu siswa-siswi yang tidak berada di kelas saat ini. ***     Hasilnya, ada beberapa anak yang tidak masuk kelas pada jam pelajaran ini. Dari kelas sepuluh, Shana mendapati ada dua orang siswa yang tidak hadir saat ini.     "Gue dapet dua nama anak kelas sepuluh yang nggak hadir di jam pelajaran ini. Dua-duanya cewek." Shana berujar sambil mengingat-ingat.     "Siapa nama kedua siswi itu?" tanya Arthur.     "Yang satu namanya Vivian. Dia nggak masuk sekolah sejak pagi karena sakit. Dia udah izin sejak hari Jumat kemarin. Yang satunya lagi namanya Erlina. Dia juga sakit di UKS sejak jam pertama." jawab Shana.     Arthur mengangguk paham. Sekarang gilirannya bicara sekaligus melaporkan hasil yang ia dapatkan.     "Ada lima anak kelas sebelas yang nggak ada di kelas. Abimana sama Bianca, keduanya ikut technical meeting di SMA sebelah. Riana dan Yoga, mereka jaga UKS karena kebetulan hari ini perawat yang biasa jaga UKS nggak dateng. Yang terakhir Jonathan, dia ada di ruang kepala sekolah karena sedang diberi pengarahan untuk program pertukaran pelajar," jelas Arthur panjang, lebar, dan lengkap.     Shana menatap Arthur tak percaya. Jujur saja, Shana merasa Arthur benar-benar keren. Nama-nama siswa-siswi itu terasa asing di telinga Shana namun Arthur dengan cepat mengingat nama-nama sebanyak itu. Sepertinya Arthur juga belum selesai bicara.     "Dari kelas dua belas, ada Agatha sama Verrel. Mereka berdua udah nggak masuk ke kelas sejak pagi. Tapi barusan gue ke parkiran dan lihat ada mobil Verrel di sana. Gue rasa Agatha juga sekolah hari ini. Kemungkinan besar mereka lagi barengan sekarang. " Arthur menambahkan.     "Mereka kemana memangnya kalau nggak di kelas?" tanya Shana yang mulai cemas.     "Gue masih ngecek CCTV." jawab Arthur sembari matanya fokus ke handphone. "Nah, dapet!" seru Arthur tampak puas.     "Gimana?" Shana ikut mencondongkan badan ke arah handphone Arthur.     "Verrel sama Agatha keluar dari sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Tepatnya saat kegaduhan di gudang karena penemuan korban." jelas Arthur.     "Kenapa mereka keluar dari area sekolah? Kemana tujuan mereka?" Shana menggumam sambil mengetuk dahinya kesal karena tak bisa menebak keberadaan Verrel dan Agatha.     "Mereka sepertinya nggak membawa sesuatu yang mencurigakan walau cara jalan mereka terkesan kaku dan takut ketahuan. Tapi gue yakin kemungkinan besar bukan mereka pelakunya. Lo jangan negative thinking dulu. " Arthur meluruskan pikiran Shana. Arthur jelas tahu bahwa Shana sempat curiga pada Agatha dan Verrel.     "Apa perlu kita cari mereka?" usul Shana meminta pertimbangan Arthur.     "Boleh. Kayanya udah nggak ada yang bisa kita kerjakan di TKP dan sekitarnya." Arthur menyetujui usul Shana. Arthur mengambil langkah cepat ke arah gerbang sekolah.     Shana juga melangkah lebar-lebar untuk mengikuti jejak Arthur. Perbedaan tinggi badan membuat Shana harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menyejajari langkah Arthur. ***     Sesampainya di luar sekolah, hal pertama yang Arthur lakukan adalah mengecek ke setiap g**g dan bangunan yang mengelilingi sekolah.     Menurut asumsi Arthur, Agatha dan Verrel tidak akan pergi terlalu jauh karena mereka tidak membawa kendaraan. Kecuali mereka berhasil naik kendaraan umum atau sejenisnya. Namun jam segini jarang ada angkot yang lewat depan sekolah atau bahkan ojek yang nongkrong di dekat sekolah. Biasanya, kendaraan umum akan ramai berseliweran di depan sekolah saat jam pulang sekolah. Kesimpulannya adalah Agatha dan Verrel masih ada di sekitar sini.     "Arthur, coba lo lihat kantin panti asuhan di samping sekolah. Kantin itu punya tiga lantai. Kayanya kita bisa mantau bagian samping sekolah lewat atas sana. Gudang peralatan kebersihan kan ada di bagian samping sekolah, Ar. Artinya kita juga bisa mantau TKP lewat atas sana. Kita bisa coba cek ke sana." ujar Shana kegirangan.     "Tapi kita harus cari Agatha sama Verrel dulu. Lo lupa tujuan kita keluar area sekolah buat nyari mereka?" Arthur mengingatkan.     "Iya, sih. Tapi gue pengen banget ngecek ke kantin itu dan mantau TKP dari atas sana. Siapa tahu kita juga bisa menemukan sesuatu yang nggak tampak kalau kita lihat dari bawah." Shana masih ngotot karena penasaran. Sebenarnya, Shana merasa ada dorongan yang kuat untuk mengecek ke sana—atau semacam firasat bahwa ada sesuatu di bangunan itu.     "Oke, ayo kita cek." Arthur menyetujui ajakan Shana. Ia segera berjalan ke arah gedung itu.     Mereka masuk ke dalam kantin yang ternyata belum buka. Tidak ada hambatan yang berarti untuk mencapai lantai tiga kantin panti asuhan itu.     Sesampainya Shana dan Arthur di lantai tiga, mereka dikejutkan oleh keberadaan orang lain di sana. Orang lain itu tak lain adalah Agatha dan Verrel yang tampaknya tengah sibuk merekam sesuatu.     "Kalian lagi ngapain?" tanya Shana mengagetkan Agatha dan Verrel yang ternyata tidak menyadari kehadiran Shana dan Arthur.     "Shana! Kebetulan lo kesini." jerit Agatha yang terlihat senang luar biasa.     Shana hanya mengernyit bingung. Kenapa Agatha bisa sesenang itu saat terpergok Shana dan Arthur? Apa itu artinya Agatha dan Verrel memang bukan pelaku kasus percobaan pembunuhan ini?     Ah, Shana jadi malu sendiri. Tadinya ia sempat tidak percaya dengan perkataan Arthur yang terkesan terlalu membela Agatha dan Verrel. Saat ini, Shana percaya bahwa Agatha dan Verrel tidak terlibat. Tapi kenapa mereka ada di atas sini?     "Jadi, kalian ngapain disini?" Shana mengulang pertanyaannya yang belum terjawab tadi.     "Kita lagi mantau TKP. Kebetulan tadi pagi pas denger ada keributan tentang penemuan korban percobaan pembunuhan di gudang sekolah, gue langsung keinget tempat ini. Dari atas sini, kita bisa lihat gudang itu dengan jelas. Gue sama Agatha bahkan sempat merekam beberapa kejadian yang kami anggap janggal." jelas Verrel mantap. Ada nada bangga dalam setiap penuturannya. Pasti cowok itu berpikir sudah melakukan hal besar untuk penyelesaian masalah ini. Yah, memang begitu sih.     "Coba gue lihat hasil rekaman lo." pinta Arthur sembari bergerak maju.     "Nih." Verrel menyodorkan handphonenya pada Arthur.     Sementara Verrel dan Arthur sibuk mengamati hasil rekaman, Shana dan Agatha berjongkok di dekat jendela untuk mengintai gudang itu.     "Jadi, Sha, lo beneran jadi tersangka?" tanya Agatha tanpa mengalihkan perhatian dari gudang itu.     "Masih terduga, belum beneran jadi tersangka. Btw, kok lo tau sih? Bukannya dari pagi lo di sini." tanya Shana sembari menaikkan sebelah alisnya.     Agatha hanya merogoh saku rok seragamnya dan mengeluarkan handphone. Tanpa bicara apa-apa, Agatha menyodorkan handphone itu pada Shana.     "Jadi sekarang anak kelas juga nggak ada yang percaya sama gue?" tanya Shana tak percaya. Kenapa sih teman-temannya jadi yakin banget kalau Shana memang pelakunya?     "Nggak cuma nggak percaya, Sha. Mereka bahkan mulai berargumen tentang motif lo mencelakai Kelvin. Ada yang bilang kalau Kelvin kan memang saingan lo sejak dulu, jadi lo tega ngejahatin dia. Ada juga yang bilang kemungkinan Kelvin tahu bahwa selama ini lo curang kalau pas ulangan, makanya lo nutup mulut si Kelvin. Ada lagi yang bilang gara-gara Arthur berhasil menduduki peringkat satu paralel, lo jadi frustasi dan melampiaskan kemarahan lo pada Kelvin." jawab Agatha sambil terkikik geli. Benar-benar bukan alasan yang masuk akal.     "Tapi gue kan nggak sejahat itu. Kok mereka berpikiran gitu sih?" Shana menggumam sedih.     "Udah nggak usah dipikirin. Teman kelas mah gitu. Mereka nggak kenal baik sama lo, jadi mereka sendiri juga nggak pintar menilai lo. Dan lo kan punya gue, Arthur, Verrel. Ah ya, juga kak Nizar dan Akbar. Kita bakal jadi temen sekaligus partner seperjuangan untuk menyelesaikan kasus ini. Bokap lo kan juga orang kepolisian. Semua akan baik-baik aja," hibur Agatha.     Shana mengulas senyum menanggapi ucapan Agatha. Tumben Agatha lumayan bijak. Biasanya sahabat Shana yang satu itu agak kekanakan. ***     Arthur sudah mendapat pencerahan tentang pelaku percobaan pembunuhan ini. Setidaknya, rekaman di handphone Verrel cukup jelas.     "Gue yakin sih pelakunya orang dalem sekolah. Dia kaya udah terbiasa dengan lingkungan sekolah ini." Verrel berujar di sebelah Arthur.     "Belum tentu. Orang luar juga berpotensi. Bisa aja kan pelaku udah mengobservasi wilayah sekolah kita secara keseluruhan?" tambah Arthur.     "Iya juga sih," angguk Verrel sambil merengut. "Arthur, menurut lo, siapa pelaku yang balik ke TKP buat ambil s*****a?"     Arthur hanya menggeleng. "Gue nggak tau. Yang jelas dia cowok!"     Verrel menganggukkan kepala. Kemudian ia tampak tepekur sejenak. "Kalau gitu, pelakunya kemungkinan ada dua ya? Cewek cowok gitu?"     "Ya, kemungkinan sih gitu. Tugas pelaku yang cewek adalah memancing korban ke TKP sedangkan yang cowok mungkin bertugas mengeksekusi korban." Arthur menyimpulkan. Tapi siapakah mereka ini? Pertanyaan itu tak bisa diusir dari kepala Arthur hingga saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN