Shana, Agatha, Arthur, dan Verrel berjalan mengendap-endap masuk ke area sekolah. Baru saja bel istirahat pertama berbunyi. Itu artinya saat ini banyak siswa yang berkeliaran di luar kelas. Apabila siswa-siswi itu melihat Shana, Agatha, Arthur, dan Verrel baru saja dari luar sekolah, tak pelak lagi keempat anak ini pasti dicurigai.
Akhirnya dengan susah payah, mereka berempat berhasil menyusup ke bagian gedung sekolah tanpa dicurigai murid lain. Walau begitu, beberapa pasang mata menatap ke arah Shana dengan pandangan takut dan terkesan menuduh.
"Apa lo liat-liat! Dasar adek kelas nggak tahu sopan santun. Pake nunjuk-nunjuk segala lagi. Lo kira kita nggak punya mata, hah?" Agatha berujar sengit saat ada segerombolan anak kelas sebelas yang saling berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah Shana.
Segerombolan siswa-siswi itu langsung membuang muka seolah tak tahu apa-apa. Hampir saja Agatha menyembur anak-anak itu lagi, namun Verrel berhasil menahan Agatha.
"Udah, Tha. Makin lo nyolot gitu, mereka makin nggak seneng sama kita. Malah mereka bisa musuhin kita juga," ujar Verrel tenang.
"Yuk ke kelas aja." Shana kembali melangkah dan berjalan menuju kelasnya.
"Yah, gue nggak bisa ikutan dong. Kalian enak sekelas. Gue doang yang beda kelas." Verrel menggerutu saat ketiga temannya itu memutuskan kembali ke kelas.
"Lo kan sekelas sama Akbar!" tukas Agatha dengan nada jutek.
"Oh iya lupa," balas Verrel sambil menepuk dahinya. "Yaudah gue balik ke kelas dulu deh."
Shana dan Arthur mengangguk kemudian masuk ke dalam kelas. Agatha masih berdiri di depan pintu kelas sambil menonton punggung Verrel yang makin menjauh.
***
"Heh, dari mana aja lo?" Akbar langsung menghadang Verrel saat Verrel barusaja melangkah memasuki ruang kelas.
"Baru action, lah! Emangnya elo yang duduk-duduk aja di dalam kelas," jawab Verrel sembari berjalan melewati Akbar dan segera duduk di bangkunya.
"Lho, elo kok nggak ngajak gue?" Akbar bertanya lagi dengan nada super sewot.
"Sori, bro. Tadi kesempatan gue jalan berdua sama Agatha. Kalau gue ajak lo, nanti lo jadi orang ketiga di antara kami." Verrel nyengir lebar sekali.
Akbar memukul kepala Verrel pelan kemudian duduk di bangkunya—omong-omong, bangkunya ada di sebelah bangku Verrel. "Dasar ABG! Pikiran lo aneh banget sumpah, Rel. Gue kan cuma mau ikut membantu dalam kasus ini."
"Iya-iya, maaf. Ntar kalau ada acara ngumpulin bukti lagi, gue pasti ajak lo kok," ucap Verrel serius.
Akbar mengangguk. Ia kemudian meminta Verrel menceritakan hasil penyelidikannya bersama Shana, Arthur, dan Agatha tadi.
***
Agatha duduk di samping Shana dengan gelisah. Entah mengapa sedaritadi perasaannya tidak enak.
"Sha, menurut lo setelah ini akan ada korban lagi?" Agatha memasang tampang seriusnya.
Shana mengedikkan bahu untuk pertanyaan yang satu ini. Sebenarnya perasaan Shana mengatakan bahwa akan ada korban lagi. Namun alih-alih mengatakan hal itu pada Agatha, Shana memilih diam. Ia tidak mau sahabatnya itu membuat kehebohan.
"Kalau menurut gue sih akan ada korban lagi," bisik Agatha yang ternyata memiliki pemikiran sama dengan Shana.
"Menurut lo gitu?" Shana menatap Agatha dengan alis terangkat.
Agatha mengangguk mantap. Agatha masih cukup ingat dengan peristiwa pembunuhan berantai yang juga setahun lalu terjadi di SMA Argosaka. Mungkin kali ini juga akan begitu.
"Sha, sekarang yang jadi tertuduhnya adalah elo. Gimana kalau besok tiba-tiba gue, Arthur, Verrel, atau bahkan Akbar juga ikutan jadi tersangka?" Agatha tampak cemas pada kenyataan itu.
"Ah, itu cuma kebetulan, Tha. Kebetulan kalung gue ada di TKP." Shana mencoba berpikiran positif walau ia juga sempat menduga bahwa ada yang sengaja menjebak dirinya.
"Nggak ada yang kebetulan, Sha. Lo kan nggak pernah kelayapan di gudang itu. Bisa-bisanya kalung lo ada di sana. Itu nggak masuk akal!" tukas Agatha.
"Jadi menurut lo, tertuduh selanjutnya siapa?" Shana mengerutkan dahinya dan menopang wajah di meja sambil menatap Agatha lurus-lurus.
"Kalau bukan Arthur, ya gue!" wajah Agatha jadi pucat saat menyadari kemungkinan itu.
"Kalau begitu, sebelum itu terjadi, kita harus bergerak untuk mencegah adanya korban lagi." Shana beranjak dari bangkunya dan menyeret Agatha ke luar kelas.
***
Arthur baru saja keluar dari toilet. Ia sedang merapikan dasinya saat matanya tak sengaja melihat dua orang gadis yang amat sangat familier.
Kedua gadis itu tak lain adalah Shana dan Agatha. Dengan kecepatan jalan yang nyaris terlihat seperti sedang berlari, kedua gadis itu bergerak menuju gedung ekstrakurikuler.
Untuk sementara, Arthur hanya mengamati dari kejauhan. Kernyitan di dahinya makin berlipat saat melihat kedua gadis itu memasuki sebuah ruang di gedung ekstrakurikuler.
Arthur dapat menyimpulkan bahwa Shana dan Agatha masuk ke dalam UKS. Tanpa banyak berpikir lagi, Arthur berlari menyusul kedua gadis itu.
Dan tepat sekali. Baru saja Arthur menghentikan langkah di depan pintu UKS, ia dapat mendengar suara percakapan dari dalam sana.
Arthur menstabilkan napasnya yang tak beraturan setelah berlari. Setelah napasnya kembali normal, ia memasuki ruangan itu.
Di hadapan Arthur, ada dua orang adik kelas yang rupanya bertugas sebagai penjaga UKS sementara. Kalau tidak salah ingat, kedua anak itu bernama Yoga dan Riana. Mereka adalah anak-anak kelas sebelas.
Arthur juga bisa melihat ada dua ranjang UKS yang terisi anak sakit. Arthur dapat menebak bahwa salah satu murid yang sedang beristirahat di ranjang UKS itu bernama Erlina—berhubung baru tadi pagi Shana mengatakannya, Arthur masih ingat betul siapa siswi yang sedang sakit itu. Namun Arthur tak tahu bahwa ada satu siswa yang juga sedang beristirahat di UKS saat. Ah, mungkin siswa itu baru saja masuk ke sini.
Arthur tidak berjalan mendekati Shana dan Agatha. Sebaliknya, ia justru langsung berbelok ke arah tempat tidur pasien. Namun dari sini pun, Arthur tetap dapat mendengar obrolan Shana dan Agatha dengan kedua penjaga UKS itu. Bahkan ia juga bisa melihat posisi mereka dengan baik.
"Jadi kakak-kakak ada keperluan apa ya?" tanya Riana dengan sopan.
"Ehm, kami mau minta obat tambah darah," ujar Shana dengan canggung. Rupanya ia tidak terlalu pandai membuat alasan. Semoga saja itu bukan alasan yang konyol.
"Iya nih, badanku lemes banget. Biasalah, anemia," tambah Agatha berusaha berakting meyakinkan.
"Maaf kak, tapi kami tidak bisa memberi obat saat tidak ada perawat yang berjaga. Kalau mau, kakak bisa istirahat aja di sini. Nanti saya ambilkan minum hangat." Yoga angkat bicara.
"Ngomong-ngomong, kak Agatha kan anak PMR. Masa kak Agatha lupa kalau anak PMR nggak boleh ngasih obat tanpa anjuran perawat UKS?" Riana mengulas senyum geli sambil menatap Agatha.
Bagai tersambar petir, Agatha langsung teringat fakta itu. Ia kan juga dulu anak PMR. Dengan bodohnya, ia malah mendukung alasan Shana yang terdengar terlalu dipaksakan itu.
Shana hanya bisa tersenyum kecut menatap Agatha. s**l! Kenapa situasi jadi memalukan seperti ini? Batal sudah rencana Shana dan Agatha untuk menginterogasi dua anak yang bertugas menjaga UKS itu. Jangan-jangan mereka juga tahu kalau Shana dan Agatha hanya mencari-cari alasan saja.
Arthur yang sadari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka akhirnya memutuskan untuk ikut turun tangan. Berhubung kedua gadis itu tidak bisa diandalkan, Arthur sendiri yang harus menanganinya. Tanpa banyak drama, Arthur langsung mengajukan pertanyaan.
"Kalian jaga di UKS ini sejak tadi pagi?" tanya Arthur yang ditujukan untuk Riana dan Yoga.
Riana dan Yoga mengangguk dengan bingung. Mereka sempat kaget mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Arthur. Rupanya kehadiran Arthur di UKS itu semula tidak mendapatkan perhatian.
"Apa kalian pernah meninggalkan UKS ini sejak tadi pagi?" Arthur bertanya lagi.
Kali ini, Riana dan Yoga kompak menggeleng. Dua pertanyaan Arthur hanya dijawab dengan gerakan tubuh. Arthur berpikir sejenak untuk mencari pertanyaan lain yang membutuhkan jawaban panjang.
"Apa kalian bisa membuktikan omongan kalian tentang keberadaan kalian di ruangan ini sejak pagi dan sama sekali tidak meninggalkan ruangan ini?" Arthur menarik kursi di depan meja perawat—tempat Riana dan Yoga berada—kemudian mendudukinya.
Riana dan Yoga terdiam cukup lama. Sepertinya mereka berusaha menyusun kalimat penjelasan.
"Kalian bisa tanya ke Erlina. Sedari pagi dia istirahat di sini. Dia tahu kami ada di sini sejak pagi." Riana menjawab dengan tenang sambil mengulas senyum. Rupanya gadis ini hobi tersenyum.
"Erlina?" Agatha bertanya dengan tampang bingung yang tidak ditutup-tutupi. Shana kan belum sempat menjelaskan semuanya secara rinci.
"Siswi kelas sepuluh yang sedang sakit di UKS, kak. Dia sedang istirahat di ranjang pojok sana." Yoga menunjuk ke arah ranjang di bagian pojok UKS.
"Dia sedang tidur!" tukas Arthur dengan nada dingin.
Tak ada balasan untuk beberapa saat. Arthur menatap tajam ke arah Riana dan Yoga.
"Selain Erlina, siapa yang bisa membuktikan keberadaan kalian?" kini Shana menyela.
"Hanya ada Erlina di sini sedari tadi. Sedangkan satu siswa sakit lain baru saja masuk UKS setengah jam yang lalu. Tapi kami nggak berbohong. Sedari tadi kami hanya berjaga di UKS." Yoga lah yang akhirnya menjawab.
Arthur menghela napas. Rupanya jawaban Yoga cukup jujur. Begitupun dengan Riana. Tidak ada kesan gugup saat menjawab. Walau setiap pertanyaan yang Arthur berikan membutuhkan waktu lama untuk dijawab, rupanya kedua penjaga UKS itu hanya berusaha menyusun kata yang benar. Sejauh ini mereka tidak bisa di curigai.
"Ah iya sebentar, saya ingat kami hanya keluar untuk mengambil teh dan roti sobek di kantin," ujar Riana menambahkan. "Sebentar lagi kami juga mau mengambil teh lagi untuk murid yang baru saja masuk UKS itu."
Arthur menatap ke meja di dekat ranjang yang ditempati Erlina. Rupanya benar, di sana memang ada segelas teh yang saat ini sudah sisa setengahnya saja dan beberapa bungkus roti sobek. Sedangkan di meja pasien kedua yang baru masuk UKS tidak ada manuman atau makanan apapun.
"Saya permisi dulu, kak. Yoga, kamu jaga UKS aja. Aku ambil teh hangat ke kantin dulu." Riana berdiri dan mengulas senyum. Setelahnya ia berjalan ke pintu UKS dan menghilang di belokan koridor.
***
Arthur menggiring Shana dan Agatha keluar dari UKS. Awalnya kedua gadis itu ngotot untuk tetap tinggal di UKS sampai Erlina bangun dari tidurnya. Namun setelah ditunggu cukup lama—bahkan sampai Riana kembali dari kantin dan membawa segelas teh hangat dan beberapa roti sobek, dengan susah payah pula—Erlina belum bangun juga.
Akhirnya, Shana dan Agatha mau keluar dari UKS setelah diseret Arthur. Sudah cukup Arthur bersabar dengan sikap konyol kedua gadis itu. Bisa dibilang ini adalah pemborosan waktu.
"Buruan jalannya!" tukas Arthur yang berjalan di depan Shana dan Agatha.
"Ar, harusnya kita lebih sabar dong nungguin Erlina bangun. Kita kan harus memastikan omongan Riana sama Yoga itu bener atau bohongan!" protes Shana dengan kesal.
"Iya tuh. Dasar Arthur nggak sabaran. Jangan-jangan nama lengkap lo itu Arthur Nggak Sabaran Elias, ya?" Agatha menggerutu dengan kekesalan tingkat maksimum.
Arthur hanya melirik tajam pada Shana dan Agatha. Ia tetap berjalan ke tempat tujuannya. Toh mau tidak mau, dua gadis itu tetap mengikuti kemana Arthur pergi.
***
Kantin? Shana tahu saat ini jam istirahat sudah selesai. Artinya semua siswa tidak disarankan untuk pergi ke kantin. Tapi sepertinya cowok yang berjalan di depan Shana itu tidak mendengar bel berbunyi—atau barangkali sengaja mengabaikan.
"Ar, nggak seharusnya kita pergi ke kantin sekarang." Shana berujar tegas.
"Ih, Sha, kok lo kaya guru BK?" ledek Agatha.
"Emangnya salah ngingetin? Lagian kalau ada guru yang mergokin kita bolos, kita pasti langsung dikirim ke ruang BK dan itu akan jadi masalah besar buat gue." Shana tampak ogah-ogahan meneruskan langkah.
"Ada yang harus kita selidiki di kantin." Arthur membeberkan maksud dan tujuannya mendatangi kantin.
"Emang ada apa dengan kantin?" tanya Agatha dengan tampang begonya seperti biasa.
"Kita akan mencari tahu kebenaran omongan Riana di sini," jawab Arthur singkat.
"Ar, lo mau interogasi orang-orang kantin?" tanya Shana dengan mata membelalak.
"Yep!" jawab Arthur singkat sembari menuju ke salah satu konter yang ada di kantin itu. Rupanya ia sudah siap beraksi lagi.
***