¦Part 7¦

1824 Kata
    Shana mengetuk-ngetukan ujung sepatunya ke lantai dengan bosan. Bukan hanya Shana sebenarnya yang merasa bosan luar biasa menunggu di sini, ada Agatha yang tampangnya siap kabur saat ada kesempatan.     Satu-satunya orang yang menikmati saat-saat seperti ini hanyalah Arthur seorang. Cowok itu dengan semangat mendatangi satu konter makanan ke konter lain yang ada di kantin itu.     Andai saja Shana dan Agatha boleh ikut dalam kegiatan Arthur, pastilah mereka berdua tidak akan sebosan ini. Namun dengan bengisnya, Arthur melarang kedua gadis itu turut serta dalam rencananya. Jadi apa gunanya Arthur mengajak mereka ke situ kalau akhirnya hanya Arthur yang bisa bertindak?     Yep! Arthur sedang melakukan interogasi kepada para penjaga kantin. Seorang diri pula. Pokoknya dengan keras kepala, Arthur tidak membolehkan Shana dan Agatha menguping. Arthur hanya bilang    bahwa jika sudah ada hasil saja baru ia akan cerita. Sama sekali tidak menyenangkan.     "Arthur kenapa sih?" tanya Shana yang penasaran banget dengan sikap Arthur. "Dibantu kok nggak mau!"     "Sensi banget dia. Jangan-jangan sakit hati gara-gara omongan kita pas di jalan tadi?" Agatha membelalakkan mata, kaget.     "Ah mana mungkin. Kita kan cuma bercanda tadi," ujar Shana sambil nyengir.     "Lagi ngomongin gue?" suara Arthur menyeruak di antara Shana dan Agatha.     Secara bersamaan, Shana dan Agatha menoleh ke samping. Mereka bisa mendapati Arthur sudah berdiri di sana entah sejak kapan.     "Jadi gimana hasilnya?" Shana mengalihkan topik pembicaraan karena malu terpergok tengah mengerumpi. Apalagi topik pembicaraannya ada di depan mata.     "Riana dan Yoga memang ke sini tadi untuk mengambil teh hangat dan beberapa roti. Mereka langsung kembali setelah selesai mendapatkan pesanan." Arthur menjawab dengan jelas.     "Berarti mereka jujur dong?" Agatha menanggapi.     Arthur menggeleng. "Belum pasti. Kita harus temui Erlina. Tapi nggak di UKS saat ada Riana dan Yoga."     "Kenapa gitu?" tanya Shana dan Agatha bersamaan.     "Kalau ada Riana dan Yoga, kemungkinan besar Erlina nggak akan bisa ngomong dengan leluasa. Itu kan sama artinya dengan ngomongin seseorang di depan seseorang itu sendiri. Kaya yang kalian lakuin barusan." Arthur tersenyum miring dan berjalan keluar area kantin.     Shana dan Agatha hanya bisa melongo mendengar ucapan Arthur. Arthur memang pandai menyindir.     "Lho, bagus dong! Bukannya kalau ngomongin orang di belakang itu juga nggak baik?" Shana berujar dengan sewot sembari berusaha menyamai langkah Arthur. Ia tidak mau kalah begitu saja.     Arthur hanya mengedikkan bahunya sekilas. Ia berjalan cepat menuju tempat selanjutnya. ***     Arthur sudah duduk di hadapan seorang cowok yang diketahui bernama Jonathan. Rupanya Jonathan baru saja selesai mendapat pembekalan dari kepala sekolah. Jonathan akan dikirim ke Jepang sebagai bentuk pertukaran pelajar dalam waktu dekat ini.     Walau terkesan tidak nyambung banget, Arthur tetap harus memintai keterangan keberadaan Jonathan hari ini. Ini memang terkesan berlebihan karena kepala sekolah sendiri sudah memastikan bahwa Jonathan ada di kantornya sejak pagi.     Namun itu tak cukup. Arthur ternyata mendapati bahwa kepala sekolah itu pergi rapat selama satu jam. Itu artinya, Jonathan ada di ruang kepala sekolah sendirian dan tanpa pengawasan. Siapa yang bisa menjamin dia tidak berbuat yang aneh-aneh?     Terlebih saat ini tidak ada CCTV di ruangan kepala sekolah. Alhasil, Jonathan harus memiliki alibi yang jelas tentang keberadaannya.     "Jadi siapa yang bisa mengonfirmasi keberadaan lo di ruang kepala sekolah selama satu jam ditinggal kepsek itu rapat?" tanya Arthur to the point. Ya, itu memang gayanya.     "Kalau nggak salah ada tukang kebersihan yang tadi masih mangkas rumput di taman depan ruang kepala sekolah. Mungkin dia tahu keberadaan gue di ruang kepala sekolah," jawab Jonathan tenang.     "Ada lagi yang lain?" Arthur bertanya lagi.     "Enggak ada," gumam Jonathan sambil menggeleng.     "Oke deh. Gue pergi dulu." Arthur berdiri dari duduknya dan meninggalkan Jonathan yang tampak kebingungan. Rupanya Jonathan tidak tahu bahwa baru saja dia diinterogasi oleh Arthur. ***     Shana dan Agatha masih setia mengikuti kemana Arthur akan pergi. Kedua gadis itu sebenarnya cukup malas untuk melakukannya. Namun, mereka juga penasaran dengan hasil-hasil yang didapatkan Arthur.     "Jadi Ar, Jonathan bilang apa?" Shana mulai bertanya.     "Dia bilang dia punya alibi. Petugas kebersihan yang sedang memangkas rumput di depan kantor kepsek tahu kalau Jonathan ada di dalam kantor kepsek itu sejak pagi." Arthur menjelaskan sambil masih terus berjalan.     "Sekarang lo mau cari orang yang motong rumput itu?" Agatha bertanya antusias.     Kali ini Arthur hanya mengangguk. Ia juga mengangkat sebelah tangannya untuk menyuruh kedua gadis itu—yang mengekorinya kemana-mana—berhenti berjalan. "Kalian tunggu di sini. Jangan nguping!"     Sahutan tak jelas keluar dari mulut Shana dan Agatha. Namun akhirnya kedua gadis itu memilih diam dan melihat apa yang Arthur lakukan di pinggiran taman sekolah.     Rupanya seperti yang sebelum-sebelumnya, Arthur juga menanya-nanyai pemotong rumput itu. Sepertinya tak banyak informasi yang bisa Arthur dapatkan dari pemotong rumput itu. Arthur meninggalkan pemotong rumput itu dengan wajah tidak puas.     "Gimana, Ar?" tanya Shana begitu melihat Arthur berjalan mendekat.     "Nggak banyak yang dia tahu. Pemotong rumput itu memang ada di sana sejak pagi. Tapi dia tidak terlalu memperhatikan aktivitas di sekitarnya. Dia pakai mesin pemotong rumput yang berisik dan membuatnya tidak mendengar dengan baik aktivitas di sekitarnya. Belum lagi dia pakai topi dan masker yang menghalangi pandangannya," jawab Arthur panjang lebar.     "Terlebih, dia kan motong rumput. Pasti dia sering menunduk ngelihat rumput yang mau dia potong daripada melihat sekitar," tambah Shana.     Agatha hanya memandang dalam diam dan tidak berkomentar selama beberapa saat. "Berarti Jonathan nggak punya alibi yang jelas!" seru Agatha dan diangguki oleh Shana. ***     Mereka memutuskan kembali ke kelas. Mereka sudah terlalu lama berkeliaran di luar kelas. Akan sangat tidak bijak bila acara penyelidikan mereka dianggap sebagai pembolosan yang pada akhirnya mereka malah mendapat masalah dari guru BK.     Berhubung mereka satu kelas, mereka masih bisa saling mengobrol. Kebetulan sekali bangku yang dipilih Shana dan Agatha ada di pojok belakang. Dan seperti biasa, Arthur juga suka duduk di depan bangku Shana.     "Ar, istirahat kedua ini, lo mau ngapain?" tanya Agatha lirih.     "Gue mau nemuin Abimana sama Bianca yang katanya tadi pagi pergi untuk ikut technical meeting." Arthur balas berbisik. Untung saja Arthur duduk sendirian hari ini. Biasanya, walau tidak memiliki teman duduk yang tetap, Arthur tidak pernah duduk sendirian. Berhubung saat ini ada satu orang dari kelas mereka yang tidak hadir—si korban alias Kelvin—jadilah Arthur duduk sendirian.     "Kita ikut juga?" Shana meletakkan kepala di meja.     "Iya. Tapi kalian nggak boleh ikut tanya-tanya." Arthur melihat ke belakang sesaat dan mendapati pelototan Shana.     "Nggak seru!" tukas Shana muram.     "Udah lah nurut aja," balas Arthur singkat.     "Btw, Ar, siapa aja orang yang lo curigai dalam kasus ini?" Agatha kembali berbisik.     "Tentu aja semua anak yang nggak ada di kelas tadi pagi." Arthur menjawab serius.     "Lo juga curiga sama gue dan Verrel?" Agatha bertanya dengan tampang tidak yakin.     Arthur mengangguk singkat sebagai jawaban. Wajah Agatha langsung tertekuk dan muram setelah mendapati Arthur curiga pada dirinya.     Pembicaraan mereka terhenti saat sebuah kapur tulis melayang ke arah mereka dan mendarat di dahi Agatha. Sontak saja Agatha langsung berdiri dari duduknya dengan misuh-misuh. "Bapak apa-apaan sih? Kok saya dilempar kapur?"     "Salah kamu ngobrol terus!" tukas si Bapak dengan marah.     "Lho, kan yang ngobrol bukan cuma saya, Pak! Shana sama Arthur juga ngobrol kok! Bapak nggak adil banget deh." Agatha menggerutu sambil cemberut. Setelah sadar ia sedang menjadi tontonan anak satu kelas, Agatha memilih duduk kembali.     "Arthur sama Shana kan sudah pintar. Walau mereka nggak mengikuti pelajaran dengan baik pun, nilai mereka tetap bagus!" Sepertinya si Bapak ini tidak mau kalah.     "Ehm, maaf Pak," ucap Shana menyela. "Bapak terlalu mendiskriminasi Agatha. Saya sama Arthur juga salah kok, Pak!"     "Oh, begitu ya? Kalau gitu kalian bertiga keluar dari kelas saya. Kalian bersihkan toilet sekolah sekarang juga!" titah si Bapak yang sepertinya sekarang ini sedang emosi berat.     Dengan berat hati, ketiganya bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah pintu.     "b**o banget lo, Sha!" Arthur memaki Shana.     "Ya gue kan nggak mau Agatha kena marah sendirian, Ar." Shana meringis merutuki kebodohannya. Tapi ia juga tidak menyesal membela Agatha tadi di depan guru yang terkenal killer itu. ***     Verrel berjalan dengan gelisah. Sedari tadi ia sudah berusaha menghubungi teman-temannya namun tak ada hasil. Di mana sih mereka?     "Rel, kantin nggak?" tanya Akbar yang rupanya menyusul langkah Verrel.     "Enggak. Gue lagi bingung nih," jawab Verrel sekenanya.     "Bingung? Tumben lo bisa bingung gitu." Akbar memperhatikan Verrel dengan cermat.     "Arthur, Agatha, dan Shana nggak ada yang bisa dihubungi." Verrel mulai menuruni tangga dengan cepat sembari menjelaskan pada Akbar.     Akbar mulai memahami situasi genting ini. Mungkin menghilangnya ketiga sobat mereka bukan tanpa alasan. Gawat! Bagaimana kalau mereka celaka?     Akbar mengikuti Verrel dengan diam. Akbar juga memasang mata dan telinganya dengan baik untuk menemukan ketiga sobat mereka. "Lo yakin mereka nggak ada di kelas?" tanya Akbar dari balik punggung Verrel.     Langkah Verrel terhenti. Cowok itu memutar tubuhnya menghadap Akbar. "Gue tau lo nganggep gue b**o dan ceroboh. Tapi untuk kali ini lo bisa andelin otak gue yang pas-pasan ini. Gue udah datangi kelas mereka tadi. Temen sekelas mereka bilang kalau Arthur, Agatha, sama Shana tadi dihukum suruh bersihin toilet. Barusan gue udah samperin itu toilet dan mereka nggak ada di sana. Mereka ilang, Bro!"     Melihat Verrel mulai mendramatisir keadaan, Akbar hanya mengangguk-anggukan kepala beberapa kali. Ia kemudian menepuk bahu Verrel dan melanjutkan perjalanan. ***     Setelah berputar-putar selama lebih dari lima belas menit akhirnya Verrel dan Akbar berhasil menemukan ketiga sobat mereka yang sempat menghilang itu. Verrel dan Akbar mengehela napas lega. Sayangnya keadaan tak sebaik yang Verrel dan Akbar ketahui.     Berbanding terbalik dengan kelegaan yang dirasakan Verrel dan Akbar ketika menemukan sobat mereka yang menghilang, ketiga sobat mereka itu justru dicekam rasa takut. Arthur, Shana, dan Agatha baru saja menemukan korban percobaan pembunuhan yang kedua dalam hari yang sama pula. Ini benar-benar gila!     "Kalian kenapa sih kok pucet-pucet gitu mukanya?" tanya Verrel sambil menerobos masuk ke sebuah ruang.     Ruangan itu memiliki fasilitas berbagai macam peralatan musik. Sebuah organ diletakkan di tengah ruangan menjadi ikon ruangan itu. Sedangkan ada beberapa bagian dari ruangan itu yang disekat papan dan kaca. Rupanya itu ruang rekaman yang terkenal kedap suara. Biasanya ruangan itu digunakan saat pelajaran seni musik berlangsung atau sebagai tempat berlatih anggota club musik. Namun kali ini fungsi ruangan itu sudah berubah. Ada yang tidak beres dengan keadaan di ruangan itu.     "Itu apa?" tanya Verrel dengan wajah bingung.     "Menurut lo?" Arthur yang sudah menyusul Verrel berhasil menghentikan langkah Verrel. "Jangan mendekat! Lebih baik kita semua keluar dari sini. Gue udah menghubungi para polisi itu."     Verrel segera membalikkan badannya dan berjalan keluar ruangan itu dengan gerakan kaku. Rupanya Verrel masih cukup kaget dengan apa yang ia lihat barusan.     "Seperti yang kalian tau, kita nemuin korban kedua. Gue udah mastiin kalau dia masih hidup. Kita serahin masalah ini ke polisi-polisi itu." Arthur mulai menjelaskan. Tak lama setelah Arthur diam, polisi-polisi itu datang juga.     Shana dan Agatha sampai saat ini masih tampak terguncang. Sedari tadi mereka memilih bungkam.     "Siapa kali ini yang akan jadi tersangkanya?" Shana mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi membayang di pikirannya.     "Sepertinya gue. Kita bisa lihat polanya. Korban pertama adalah siswa yang dianggap sebagai saingan Shana. Shana yang mendapat petunjuk pertama berupa foto korban." Arthur tampak menggebu-gebu menjelaskan.     "Lalu apa hubungannya korban kedua ini sama lo?" Akbar menatap Arthur dengan muka penuh tanya.     "Gue yang dapet foto korban kedua ini. Dia temen gue di club musik. Kami memang sudah kelas dua belas. Tapi kami masih lumayan aktif. Makanya gue bisa nemuin korban tanpa banyak buang waktu. Gue kenal banget sama dia. Dugaan gue bahwa kemungkinan dia ada di ruang musik ternyata nggak meleset." Arthur mulai menemukan benang merahnya.     "Kenapa tersangkanya harus lo? Lo kan temenan sama dia, Ar." Verrel tampak kebingungan.     "Menurut gue ini jebakan untuk menghancurkan nama baik kita. Shana udah dapet gilirannya. Kemungkinan korban kedua ini adalah giliran gue yang jadi tersangka. Korban-korban selanjutnya mungkin akan jadi bagian kalian." Arthur tersenyum pahit.     "Kalau gitu, siapa selanjutnya?" tanya Akbar dengan wajah tegang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN