¦Part 8¦

1849 Kata
    Shana menopang dagunya sembari memperhatikan Arthur yang tengah menulis sesuatu di buku catatannya. Sedari tadi Shana hanya diam dan tidak berani mengganggu. Namun lama-lama ia bosan juga dengan keheningan yang ada.     "Ar, hari ini kacau banget ya?" Shana tampak menghela napas.     "Begitulah," gumam Arthur singkat.     "Sejauh ini belum ada bukti tentang pelaku sesungguhnya. Gue masih jadi tersangka sampai saat ini. Argghh!" Shana tampak geregetan sendiri.     Shana dan Arthur sedang berada di rumah Shana. Sepulang sekolah, keduanya langsung pergi meninggalkan sekolah. Bukannya kabur, hanya saja mereka tidak mau mendapat masalah lebih banyak lagi.     "Sha, polisi nemuin name tag gue di TKP." Arthur menunjukkan sebuah pesan yang baru saja masuk ke handphonenya. Itu pesan dari Pak Gerald.     "Ini artinya pelaku yang sebenarnya memang berniat menjebak kita, Ar. Mereka memberikan jejak-jejak di TKP yang memojokkan posisi kita." Shana tampak melotot kaget membaca beberapa baris kalimat di handphone Arthur.     "Polisi minta gue untuk laporan besok. Gue rasa mereka tetep percaya sama gue kalau gue bisa menjelaskan semuanya. Gue punya lo sama Agatha yang bisa mastiin posisi gue saat itu. Ini nggak akan jadi masalah." Arthur berusaha berpikiran positif.     "Siapa sih korban kedua itu?" tanya Shana yang sedari tadi memang tidak mengetahui secara jelas siapa korban kedua ini.     "Dia Adrian. Anak kelas 12 IBB. Pemain piano dan salah satu anak emas di club musik," jelas Arthur.     "Pemain piano? Tunggu deh, gue tadi lihat sekilas kalau tangannya terluka kan? Jangan bilang nanti dia nggak bisa main piano lagi?" Shana syok berat mengetahui hal itu.     Walau tidak kenal dengan Adrian, Shana tetap merasa kasihan. Bagaimana mungkin Adrian bisa bermain piano bila tangannya terluka? Pelaku percobaan pembunuhan ini pastilah kelewat kejam.     "Gue rasa memang itu tujuan pelaku. Dia melukai korban tepat di mana kemampuan korban berada. Kelvin luka di bagian kepala. Gue belum dapet info apapun tentang cidera yang dialami Kelvin tapi gue bisa menebak dia pasti mengalami gegar otak. Dia kan saingan lo dalam mempertahankan posisi peringkat paralel. Kalau ada masalah sama otaknya, itu akan menghambat dia dalam berpikir. Sama kaya korban kedua ini. Adrian pemain piano. Dia nggak akan bisa main piano dengan tangan cidera parah. Bahkan tadi gue denger dari tim medis ada beberapa jarinya yang patah. Mungkin Adrian memang bukan saingan gue di club musik. Tapi orang yang hanya dengar sedikit informasi akan langsung menarik kesimpulan bahwa mungkin gue tega melukai Adrian untuk maksud tertentu." Arthur mengemukakan kesimpulan yang sudah ia pikirkan sedari tadi.     Shana hanya meringis ngeri. Psikopat mana sih yang tega melakukan hal itu pada Kelvin dan Adrian? Walau Kelvin dan Adrian tidak terbunuh, namun cidera yang mereka alami sangat parah. Bahkan itu akan membuat keduanya merasa kehilangan kehidupan mereka.     "Kapan terakhir kali lo pakai name tag, Ar?" Shana bertanya penasaran.     "Gue nggak pernah pakai name tag. Tapi memang saat gue jadi anak baru di sekolah ini, gue dapet seragam lengkap sama atributnya. Artinya gue juga dapet name tag dari sekolah. Masalahnya sejak kapan name tag itu hilang, gue nggak tau."     "Kalau lo mungkin emang nggak sadar name tag lo itu dicuri. Tapi gimana sama kalung gue? Gue pakai kalung itu setiap hari, Ar. Tanpa terkecuali mandi pun gue pakai."     "Tunggu dulu, Sha. Kayanya waktu lo dateng ke acara pertunjukan musik orkestra gue, lo nggak pakai kalung itu."     "Oh ya?"     "Gue inget! Lo waktu itu pakai kalung model choker sedangkan kalung yang biasa lo pakai itu kan kalung dengan model rantai biasa aja ditambah liontin."     Shana tampak memicingkan mata. "Lo bisa ingat detail-detail kaya gitu?"     Arthur hanya mengedikkan bahunya. Ia tak memberi tanggapan lebih soal kemampuannya yang baik dalam mengingat sesuatu itu.     "Jadi mulai malam itu gue nggak pakai kalung yang biasanya?" Shana kembali memastikan.     Arthur tampak mengangguk yakin. Matanya masih fokus ke handphonenya. Sesaat kemudian wajahnya mengeras. "Nih, coba liat foto close up lo waktu di pertunjukan orkestra gue. Lo nggak pakai kalung yang biasanya, Sha. Nggak salah lagi, kemungkinan malem itu lo kehilangan kalung lo!"     "Satu-satunya orang yang barengan sama gue di rumah ini malam itu cuma Agatha, Ar."     "Kita tanya ke dia besok pagi."     Perasaan Shana jadi makin tak enak saja. Sedari awal ia sudah curiga pada Agatha. Ditambah beberapa fakta baru ini membuat posisi Agatha di mata Shana semakin buruk saja. Tapi bagaimana kalau ini hanya jebakan untuk memecah belah persahabatan mereka? Bagaimana kalau ini hanya akal-akalan pelaku sebenarnya untuk memperumit keadaan dengan menimbulkan rasa saling tidak percaya?     "Ar, gue pengen menyelidiki TKP kedua ini, deh. Siapa tahu kita dapet sesuatu yang bisa menguntungkan posisi kita." Shana mengutarakan keinginannya untuk menyelidiki TKP kedua ini.     "Boleh, gue juga penasaran. Nanti malem jam tujuh kita balik ke sekolah. Gue rasa polisi udah mulai balik ke kantor dan sekolah pastinya udah sepi." Arthur mengangguk-angguk setuju dengan ide Shana.     "Sip." Shana tampak antusias. ***     Jam menunjukkan pukul tujuh malam tepat ketika mobil Arthur menepi di sekitar sekolah. Tentu saja Arthur tak akan datang ke sekolah membawa mobilnya. Bisa gawat kalau kedatangan mereka diketahui banyak orang terutama para polisi. Ingat kan posisi Shana dan Arthur saat ini adalah tersangka?     Shana turun dari mobil Arthur sambil memakai masker seribuan yang tadi ia beli di lampu merah. Sembari menunggu Arthur turun dari mobil, Shana mengecek handphonenya.     Shana membuka bagian pesan yang masuk dan belum ia baca. Ada beberapa pesan dari Agatha. Shana segera membuka pesan itu. From: Agatha Sha, gue di depan rumah lo nih. Lo nggak di rumah ya? From: Agatha Sha, lo nggak di rumah? From: Agatha Oi, Sha!!! From: Agatha Lo dimana sih? -_- From: Agatha Bales dong, Sha. Jangan di read doang, please! :((((     Gawat!! Agatha datang ke rumah Shana malam-malam begini. Mau apa coba? Mana Shana sudah terlanjur membaca pesan itu lagi.     Shana segera melirik Arthur yang baru saja keluar dari mobil. Mungkin Arthur punya solusi.     "Ar, Agatha nyamperin rumah gue coba. Gue udah terlanjur baca pesan dari dia lagi. Gue harus bales apa nih?" Shana menyodorkan handphonenya ke Arthur.     "Bilang aja lo lagi kemana gitu."     "Iya kemana dong?"     Arthur mengambil alih handphone Shana. Ia mengetikkan balasan untuk Agatha dengan cepat. To: Agatha Sorry, Tha. Gue lagi jalan sama Arthur nih. Lo pulang aja, gue masih lama baliknya.     Arthur menyerahkan kembali ponsel Shana setelah mengetikkan balasan itu. Shana hanya melongo melihat beberapa baris kalimat yang Arthur ketikkan. Kata 'jalan sama Arthur' sepertinya bisa disalah artikan oleh Agatha. Tapi itu bukan poin penting saat ini. Akan lebih bagus jika Agatha tidak berniat menganggu Shana dalam waktu dekat ini karena tahu Shana sedang ada kegiatan lain.     Arthur rupanya sudah berjalan mendahului Shana menuju gedung sekolah. Rupanya Arthur juga tak berniat masuk melalui pintu gerbang yang seharusnya. Arthur memutari sekolah hingga ke bagian belakang.     Shana hanya mengekori Arthur dalam diam. Ia tak mau membuat keributan dengan bercakap-cakap dan justru membuat keberadaan mereka diketahui orang lain.     "Lo bisa manjat pohon ini?" tanya Arthur begitu Shana mendekat.     Shana menimbang-nimbang sebentar. Pohon itu memiliki cabang batang pohon yang menjulur ke samping hingga melewati pagar sekolah. Cabang itu juga tidak terlalu tinggi. Sepertinya dengan sedikit usaha, Shana bisa naik ke cabang pohon itu.     "Bisa," jawab Shana yakin.     "Oke. Gue akan masuk dulu buat mantau situasi. Lo naik aja pelan-pelan. Kalau lo udah sampai di atas, tunggu gue balik. Gue akan bantu lo turun setelah gue pastiin situasi aman." Arthur mulai bergerak dengan cepat menaiki pohon itu.     Setelah Arthur berhasil masuk ke area sekolah melalui cabang pohon itu, Shana berusaha menggapai cabang pohon itu. Beberapa kali gagal, namun ia tidak menyerah. Shana tidak mungkin mundur sekarang. Arthur sudah masuk ke dalam sekolah dan apabila Shana tidak ikut masuk, Shana hanya akan membebani Arthur.     Shana menggapai cabang pohon itu sekali lagi. Berhasil. Ia berusaha bergelantungan di cabang pohon itu hingga kakinya bisa berpijak di cabang pohon yang akan membawanya melewati pagar sekolah.     Shana sudah masuk ke area sekolah. Namun rupanya cabang pohon itu cukup tinggi dari tanah. Alhasil, Shana benar-benar harus menunggu Arthur kembali dari kegiatannya memantau situasi.      Dari kejauhan, Arthur tampak berlari-lari kecil. Setelah Arthur berdiri di bawah cabang pohon tempat Shana bertengger, Arthur memberi aba-aba agar Shana lompat ke bawah.     "Tangkap ya, Ar. Ini lumayan tinggi soalnya." Shana segera melompat setelah berkata begitu.     Dengan sigap Arthur menangkap dan menahan tubuh Shana yang mendarat ke tanah dengan tidak mulus. Keseimbangan Shana sempat hilang tadi. Rupanya posisi kaki Shana saat mendarat tadi salah. Namun tak ada masalah. Shana tidak cidera.     Setelah mampu menguasai keseimbangan tubuhnya lagi, Shana melepaskan diri dari pelukan Arthur. Bukan pelukan sih sebenarnya, hanya kebetulan posisi mereka sangat dekat dan tangan Arthur menahan bahu dan lengan Shana.     Begitu Shana melepaskan diri, Arthur mundur dua langkah. Arthur bahkan berdeham singkat untuk menghilangkan situasi canggung yang aneh itu. Ia juga mengajak Shana segera jalan. "Yuk cabut sekarang. Kita muterin gedung ekskul dulu." ***     Shana dan Arthur berjalan dalam kegelapan. Tidak benar-benar gelap, hanya saja penerangan yang minimalis. Mereka hanya memanfaatkan cahaya senter dari handphone masing-masing. Beberapa kali mereka harus bersembunyi saat ada langkah kaki mendekat. Rupanya ada polisi atau satpam sekolah yang patroli.     "Kita masuk ke ruang musik lewat jendela belakang." Arthur memberi aba-aba.     "Kenapa nggak lewat pintu aja?" tanya Shana.     "Kalau kita mau lewat pintu, kita harus jalan di koridor gedung ekstrakurikuler. Kemungkinan kita akan kepergok dalam waktu dekat," jelas Arthur.     Shana mengangguk paham. Ia segera mengikuti Arthur yang sudah berhasil masuk lewat jendela belakang ruang musik. Jendela itu tidak tinggi namun juga tidak rendah. Untung saja saat ini Shana menggunakan celana dan bukannya rok seperti seragam sekolah. Mungkin memang penyelidikan-penyelidikan seperti ini seharusnya dilakukan di luar jam sekolah.     Shana menundukkan badannya saat ada cahaya yang menyorot ke arah jendela tempat ia masuk tadi. Rupanya ada juga orang yang berpatroli di bagian belakang gedung ekskul. Untung bagi Shana karena ia sudah masuk ke dalam gedung ekskul sebelum orang yang berpatroli itu memergoki keberadaannya.     Dengan mengendap-endap, Shana mendekati Arthur. Terlihat di sana Arthur tengah berjongkok di dekat tempat korban kedua tergeletak.     TKP itu sudah bersih. Tidak ada darah di lantai lagi. Kondisi ruang club musik itu juga banyak yang berubah. Arthur bisa melihat pergeseran letak dari perkakas-perkakas yang ada di ruang club musik itu. Pasti para polisi itu juga sudah menggeledah tempat ini.     Namun Arthur tetap optimis. Ia yakin akan menemukan sesuatu yang bahkan tak bisa ditemukan oleh para polisi itu.     Arthur sempat mengamati korban kedua dalam kasus ini sebelum ia memanggil polisi. Arthur bisa mengenali luka di jari korban itu berasal dari jepitan. Dalam hal ini, Arthur menyimpulkan bahwa jari-jari korban dijepit di antara tuts piano dan penutup tuts tersebut.     Arthur beranjak dari tempat korban ditemukan dan segera memindai bagian piano dengan sebuah alat untuk memindai sidik jari. Ada beberapa sidik jari yang menempel di bagian piano itu. Tapi itu bukan masalah. Arthur hanya perlu mengumpulkannya dan menyerahkannya pada Pak Gerald.     Arthur yakin Pak Gerald pasti mau membantunya. Apalagi dalam kasus ini, Shana-putri Pak Gerald-juga nyaris jadi tersangka. Kalau sampai kasus ini tidak menemukan titik terang, pastilah Shana juga akan terseret-seret kasus hukum.     Setelah memindai piano itu dengan teliti, Arthur segera menggeledah ruang club musik itu secara keseluruhan. Ia memeriksa setiap bagian, termasuk lemari, loker meja, dan kotak-kotak tempat menyimpan alat musik.     Sepertinya polisi belum memeriksa kotak-kotak tempat penyimpanan alat musik. Bisa Arthur lihat, posisi kotak-kotak itu nyaris tak berubah. Tergeser pun tidak. Dengan serius, Arthur mulai mencari-cari barang bukti yang mungkin belum ditemukan oleh polisi.     Sesuai dugaan Arthur, ada barang bukti yang tertinggal di sana. Sebuah saputangan terselip di antara kotak-kotak tempat biola disimpan. Arthur merogoh saku celananya dan mengeluarkan sarung tangan. Ia segera menggunakan sarung tangan itu untuk mencegah sidik jarinya menempel pada barang bukti.     Dengan hati-hati, Arthur memungut saputangan itu. Ia mendekatkan saputangan itu ke hidungnya. Lagi-lagi seperti dugaan Arthur, saputangan itu berbau kloroform. Sudah jelas bahwa korban dibius terlebih dahulu baru dilukai.     Mengingat badan Adrian yang lumayan berbobot, Arthur bisa menyimpulkan bahwa jumlah pelakunya sama seperti kasus yang pertama. Kemungkinannya adalah dua orang pelaku yang sama. Tapi siapa pelaku yang bisa bergerak secepat itu bahkan saat ada banyak polisi berjaga di area sekolah? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN