¦Part 9¦

1740 Kata
    Semakin dipikirkan, semakin tak masuk akal. Shana berkali-kali menghela napas. Temuan-temuan terbaru Arthur berupa sapu tangan dengan bau kloroform dan sidik jari yang tertinggal di piano itu makin membuat Shana penasaran.     Shana menyorot lampu senter handphonenya ke arah ruang musik itu sekali lagi. Tiba-tiba saja ia teringat bagian tingkap.     Dalam kasus pertama, s*****a untuk melukai korban kan disembunyikan di tingkap. Mungkinkah pada kasus kedua ini hal itu juga berlaku?     "Ar, coba deh lo ngecek ke tingkap itu." Shana menunjuk ke bagian tingkap yang dimaksud.     Arthur mengamati tingkap itu sebentar, kemudian ia memutuskan menuruti perkataan Shana. Arthur menarik sebuah meja yang teronggok di pojok ruangan. Ia juga menambahkan sebuah kursi lipat di atas meja itu untuk bisa menggapai tingkap.     "Gimana?" tanya Shana penasaran.     Arthur masih bergeming. Kemudian ada kilatan puas dari mata Arthur. Tak lama kemudian, Arthur berhasil mengeluarkan sebuah tongkat besi dan pedang pendek yang berlumuran darah. Shana memekik girang karenanya.     Shana bukannya girang dalam artian buruk. Ia hanya puas bisa menemukan bukti paling oke dalam kasus ini.     "Pelaku yang melukai Adrian pasti ganas dan brutal banget, deh. Pakai dua s*****a lagi. Satu tumpul, satu tajam. Gila deh, lengkap sudah!" Shana mengomentari s*****a yang ada di tangan Arthur.     Arthur juga turut mengamati dua s*****a yang ada di tangannya. Kenapa s*****a itu ditinggal di tempat ini? Siapa sebenarnya pelaku yang melukai Kelvin dan Adrian?     "Hallo, anak-anak!" seru seseorang dari ambang pintu ruang club musik.     Shana dan Arthur sama-sama terkejut. Darah di wajah mereka tampak menyusut membuat keduanya pucat pasi. Dengan gerakan yang tampak slow motion, keduanya menoleh ke arah sumber suara.     "Ayah?"     "Om Gerald."     Shana dan Arthur sontak saja menggumamkan secara bersamaan siapa sosok yang berhasil membuat jantung Shana dan Arthur berhenti berdetak barang satu dua detik. Untunglah itu bukan sesuatu yang buruk. ***     Setelah menyerahkan bukti-bukti yang berhasil mereka temukan, Shana dan Arthur mengikuti Gerald menuju sebuah ruangan.     Ruangan itu tampak terang di antara ruangan lain di sekolah ini yang sengaja dipadamkan lampunya. Ternyata Gerald membawa kedua anak itu ke ruang piket. Biasanya ruangan itu dijaga oleh guru piket pada jam-jam sekolah. Ruangan itu sendiri berfungsi untuk menerima tamu yang datang ke sekolah ini.     Namun kali ini ruangan itu tampak ditunggui oleh beberapa polisi. Mungkin ruang piket itu dijadikan markas sementara para polisi jaga itu. Begitu melihat Pak Gerald, polisi-polisi itu tampak memberi hormat.     Pak Gerald memberi perintah pada anak buahnya untuk mengosongkan ruang piket. Begitu polisi-polisi itu pergi, Pak Gerald membawa Shana dan Arthur masuk ke ruangan itu.     "Duduk dulu," ucap Gerald memberi perintah pada dua anak yang berjalan di belakangnya.     Kedua anak itu duduk dengan patuh dan tanpa banyak omong.     "Tindakan kalian malam ini cukup nekad," komentar Gerald.     "Maaf, Om. Saya nggak berpikir panjang dalam mengambil langkah." Arthur menanggapi dengan penuh sesal.     "Lain waktu, saya akan marah atas tindakan ceroboh kalian. Tapi untuk kali ini, saya akan menoleransinya. Kalian sudah melanggar batas TKP yang diberi pita kuning oleh pihak kepolisian dan kalian juga menggeledah ruangan itu tanpa izin dari kami. Tapi untungnya, kalian menemukan bukti yang bahkan tidak ditemukan oleh pihak kepolisian." Gerald tampak serius.     Arthur dan Shana terdiam meresapi kata-kata Gerald. Baguslah mereka menemukan bukti-bukti itu. Kalau tidak, mereka pasti mendapat masalah sekarang.     "Arthur, apa yang ada di pikiran kamu begitu melihat s*****a yang disembunyikan di tingkap?" Gerald menatap Arthur tajam.     "Saya berpikir bahwa orang yang bertugas untuk mengambil s*****a itu dan melenyapkannya dari tempat kejadian belum sempat mengambil benda itu. Kami berhasil mendahului pergerakannya." Arthur menjelaskan.     "Menurutmu malam ini pelaku akan bergerak untuk mengambil s*****a itu?" Gerald menaikkan sebelah alisnya. Arthur tampak mengangguk sebagai jawaban.     "Kalau gitu, mungkin pelakunya lebih dari dua orang?" Shana menyela bertanya.     "Kenapa lo mikir gitu?" Arthur mengalihkan tatapannya dari Gerald ke Shana.     "Gini ya, di kasus Kelvin, ada cewek mirip gue yang memancing Kelvin ke gudang. Memang ada kemungkinan cewek itu melakukan aksi kejahatannya sendiri, tapi gue pikir itu nggak mungkin. Kelvin bukan cowok yang lemah. Dia jago olahraga dan badannya juga lebih besar dari si cewek yang mirip gue. Itu artinya ada satu orang pelaku yang udah menunggu di gudang itu, entah cewek atau cowok. Mereka melukai Kelvin kemudian pergi begitu saja tanpa membawa s*****a mereka dan memilih menyembunyikan s*****a itu di tingkap. Mereka pasti udah menyuruh orang lain lagi untuk mengurus s*****a itu. Makanya sesaat setelah kejadian itu, ada orang yang balik lagi ke TKP buat ambil senjatanya." Shana berkata panjang lebar.     "Bagus!" Gerald memuji pemikiran Shana.     "Sekarang, kita berpikir kalau ada tiga pelaku di kasus ini. Dua orang itu berusaha untuk tidak tampak membawa-bawa s*****a sehingga bisa disimpulkan bahwa keduanya pasti orang dalam. Mereka nggak berani tampil terang-terangan setelah melukai korban karena mereka dikenal oleh warga SMA ini. Sedangkan si pelaku yang bertugas mengurus s*****a, ia mungkin saja orang luar. Dia bisa membawa s*****a itu keluar sekolah sehingga apabila ada penggeledahan, dua pelaku yang merupakan orang dalam sekolah ini akan aman." Arthur tampak menyambung pemikiran Shana.     "Good job buat kalian, pemikiran yang luar biasa," puji Gerald. "Nah, sekarang saatnya kalian kembali ke rumah. Besok kalian masih harus sekolah. Serahkan saja sisanya pada saya. Akan saya usahakan untuk hasil yang terbaik."     Shana dan Arthur bangkit berdiri kemudian berpamitan dengan Gerald. Setelah selesai berpamitan, keduanya berjalan keluar sekolah.     "Tiga orang ya?" Shana bergumam pelan.     Arthur menoleh dan tampak mengangguk singkat. Ia kemudian terpikir akan pendapat Shana. "Menurut lo, siapa mereka?"     Shana menggeleng lemah. Ia tidak memiliki bayangan soal pelaku ini. Benar-benar tak tertebak.  ***     Shana turun dari mobil Arthur dan segera membuka pintu gerbang. Arthur memasukkan mobilnya. Begitu selesai dengan mobilnya, ia juga turun dari mobil dan mengekori Shana.     Arthur menghentikan langkah tepat di samping Shana. Shana terdiam cukup lama dengan pandangan tegang yang tertuju pada sebuah kotak kayu. Arthur mengambil kotak kayu yang sedari tadi dipelototi Shana.     "Boleh gue buka?" Arthur menggerak-gerakkan kotak kayu itu di depan wajah Shana.     "Buka aja," jawab Shana kaku.     Dengan cemas dan sedikit berdebar, Shana ikut mengamati isi kotak kayu yang baru saja dibuka oleh Arthur itu. Rupanya kotak itu berisi kepingan-kepingan cokelat dengan sepucuk surat terselip di sana.     "Semacam kado Valentine?" Arthur tampak mengernyit kemudian menyodorkan kotak kayu itu ke arah Shana. "Lo punya cowok?"     Shana hanya menggeleng dan menolak menerimanya. Dasar Arthur! Di saat genting begini, Arthur malah berpikir kotak kayu itu pemberian dari cowok. Bahkan Shana yang tidak memegang kotak kayu itu pun bisa merasakan aura negatif yang terpancar dari isi kotak kayu itu. "Buka suratnya dulu dong!" tukas Shana sambil cemberut.     Arthur membuka surat yang terselip di antara kepingan-kepingan cokelat itu. Ia menutup kotak kayu itu dan beralih membuka sepucuk surat yang tampak imut-imut. *** Dear Shana, Kerja bagus, Sha! Semua berjalan sesuai rencana kita. Kelvin sudah terluka sesuai dengan yang kamu inginkan. Bahkan hari ini, aku berhasil melukai teman Arthur juga, Adrian. Rasanya senang bisa membodohi cowok bernama Arthur itu. Semoga saja kamu membaca surat ini ketika sedang sendirian dan Arthur tidak ikutan membaca. Sedari tadi aku ingin menemuimu agar bisa bicara berdua saja, tapi tidak bisa. Arthur mengikutimu kemana-mana dan sepertinya dia rada-rada posesif. Atau jangan-jangan dia mulai curiga pada rencana kita, ya? Tapi tak masalah untuk saat ini. Asal rencana kita berjalan baik, itu sudah cukup. Sampai ketemu besok pagi. Aku punya kejutan yang lebih seru untukmu yang suka tantangan, Shana. Take care,  Aku nggak perlu sebutin nama kan? ***     Surat itu selesai sampai disitu. Bahasanya sangat komunikatif. Entah siapa yang menulisnya.     Shana mendapati tatapan Arthur tertuju pada Shana. Tatapan itu tidak menuduh tapi seolah siap membuat Shana mengatakan semua penjelasan yang masuk akal.     "Ar, ini... Gue nggak tau ini apa. Gue nggak pernah buat rencana aneh-aneh. Gue—" ujar Shana gagap.     "Iya gue tau." Arthur memotong ucapan Shana. Ia tampak memperhatikan surat itu sekali lagi lalu mulai melipat dan memasukkannya ke dalam kotak kayu berisi cokelat itu. "Lo masuk gih."     Shana berjalan mendekati pintu dan membuka kuncinya. Perlahan, Shana mendorong pintu itu. Sebelum Shana sepenuhnya masuk ke dalam rumah, ia membalikkan badan dan menatap Arthur. "Lo mau balik?"     "Kenapa? Lo takut di rumah sendirian?" Arthur tampaknya bisa membaca pikiran Shana.     "Enggak," geleng Shana. Ia kemudian masuk dan menutup pintu.     Sebenarnya Shana sedikit gemetar sekarang. Siapa yang tidak takut sih setelah menerima surat aneh semacam itu? Tapi Shana sadar, ia tidak punya hak untuk merepotkan Arthur. Toh sudah biasanya Shana sendirian di rumah. Hanya saja kejadian hari ini dan surat yang ia terima malam ini membuat Shana merinding dan takut.     Wajar kan Shana takut? Surat itu memang ditulis dengan bahasa yang baik dan tidak berisi ancaman atau teror mengerikan. Tapi itu malah lebih buruk. Surat itu ditulis dengan bahasa santai seolah-olah pelaku mengenal Shana dengan baik. Ataukah memang si pengirim surat mengenal Shana dengan baik? ***     Arthur melangkah menjauh dari teras rumah Shana. Ia segera menuju mobilnya dan mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah Shana. Tak lupa, ia juga menutup kembali pintu pagar rumah Shana.     Arthur menjalankan mobilnya keluar dari kompleks perumahan tempat Shana tinggal. Ia menghentikan mobilnya tak jauh dari gerbang masuk.     Arthur tak berniat meninggalkan Shana sendirian di rumah. Ia hanya teringat isi surat itu. "Sedari tadi aku ingin menemuimu agar bisa bicara berdua saja, tapi tidak bisa. Arthur mengikutimu kemana-mana dan sepertinya dia rada-rada posesif."     Itu sindiran halus. Arthur tidak bodoh untuk tidak menyadari hal itu. Intinya penulis surat—siapa pun itu—ingin Arthur jauh-jauh dari Shana. Mungkin jika dengan cara Arthur menjauhi Shana lalu pelaku yang sesungguhnya mau menampakkan wujudnya, maka Arthur akan mengambil kesempatan itu.     Mulai sekarang, Arthur harus menjaga jarak dengan Shana. Arthur harus tidak berada di sekitar Shana sehingga mereka jarang untuk terlihat bersama. Juga Arthur harus menempatkan Shana tetap dalam pengawasannya. Jangan sampai karena ingin tidak terlihat terlalu dekat, Arthur justru tidak bisa melindungi Shana. Kedengarannya memang sulit karena butuh trik yang oke, tapi Arthur yakin dia bisa.     Arthur menghela napas kemudian melirik kotak kayu yang ia letakkan dengan asal di kursi mobil di sampingnya. Sepertinya kotak kayu itu terbuat dari kayu yang berkualitas. Kotak kayu itu punya ukiran yang halus dengan pola ukiran yang bagus. Pasti harga kotak kayu itu lumayan mahal. Dimana kotak kayu ini dibeli?     Arthur tidak biasanya mencari barang-barang seperti itu. Dia sama sekali tidak memiliki referensi.     Arthur tampak memejamkan mata sambil berpikir. Apa Arthur harus mendatangi satu persatu toko kayu dan mebel? Tapi bagaimana jika kotak kayu ini tidak dijual di tempat-tempat itu? Bagaimana jika kotak kayu ini justru dijual di tempat souvenir atau kado?     Mata Arthur terbuka cepat. Benar sekali, pertanyaan terakhir yang ia pikirkan lumayan masuk akal. Besok Arthur akan mendatangi toko-toko yang menjual berbagai macam kado. Agak sulit memang mengingat toko-toko yang menjual barang semacam souvenir atau kado pasti sangat banyak jumlahnya di kota ini. Namun selama ini, Arthur tak pernah mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah.     Arthur merilekskan tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi. Namun matanya manatap tajam dan lurus ke arah pintu gerbang masuk ke kompleks perumahan Shana. Siapa tahu malam ini si pengirim kotak kayu kembali ke rumah Shana untuk memastikan apakah kotak kayu dan suratnya sudah diterima Shana atau belum. ***     Shana melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia sudah mengganti bajunya dengan piyama.     Tangan Shana meraba-raba nakas selama beberapa detik. Ia meraih handphonenya yang tergeletak di sana.     Shana memandang handphonenya dengan ragu. Apakah ia harus melakukan ini?     Setelah berpikir cukup lama, Shana menekan layar handphonenya beberapa kali kemudian membuat sambungan telepon. Telepon itu tak langsung dijawab. Butuh waktu beberapa saat hingga telepon tersebut tersambung.     "Hallo," sapa Shana begitu telepon itu diterima.     "Kenapa, Sha?" tanya suara di seberang telepon. Dari suara yang terdengar, sepertinya orang di seberang telepon baru saja terbangun dari tidurnya.     "Lo tadi ke rumah gue?" balas Shana seolah tak mengindahkan kondisi si penerima telepon.     "Iya," gumam singkat orang di seberang telepon.     "Elo juga yang naruh kotak kayu di teras rumah gue?" cecar Shana langsung ke inti masalah.     Tak ada jawaban hingga beberapa menit berikutnya. Shana masih tetap menunggu dengan sabar. Namun akhirnya sambungan telepon itu putus.     Shana mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Kenapa Agatha memutus sambungan teleponnya?  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN