¦Part 10¦

1732 Kata
    Selasa pagi. Shana terbangun dari tidur singkatnya. Ia baru saja terlelap saat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan tenang. Macam-macam hal selalu berlalu lalang di pikiran Shana.     Shana memilih bergerak turun dari ranjangnya dan segera menuju ke kamar mandi. Ia harus bersiap pergi ke sekolah. Walau sedikit pening karena kurang tidur, Shana tidak boleh membolos.     Shana hanya memerlukan sedikit waktu untuk mandi dan bersiap diri. Tiga puluh menit kemudian, ia tampak sudah rapi dan sedang mematut diri di depan cermin.     Shana membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke sekolah dan memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya. Begitu selesai, ia segera menggendong tasnya dan berjalan keluar kamar.     Shana menyempatkan diri untuk mengecek makanan di kulkas. Ia mengambil s**u kotak dan sekotak brownies. Ia melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Gawat, Shana bisa kesiangan ini.     Ia membawa makanan hasil menjarah kulkas itu. Mungkin akan ia makan saat sampai di sekolah saja.     Shana mengunci pintu rumah dan pintu pagar. Setelahnya ia berjalan ke gerbang kompleks untuk menanti taksi lewat. Shana memang terbiasa kemana-mana naik angkutan umum. Walau sudah bisa mengendarai mobil, ayah Shana tak mengizinkan Shana terlalu sering menyetir sendiri.     Shana mulai panik. Sepuluh menit berlalu dan tak ada taksi yang tampak. Apa ia harus memesan ojek online? Tapi sama saja itu membuang waktu.     Sebuah motor berhenti tepat di depan Shana—nyaris saja menyerempet. Shana yang semula sedang memandangi handphone untuk mengorder ojek online pun akhirnya mengangkat wajah.     Rupanya Arthur yang datang. Ia membawa motor hari ini.     "Tumben bawa motor?" Shana bergumam.     "Bosen bawa mobil. Lagian pulang sekolah nanti gue ada urusan. Jadi lebih gampang bawa motor biar nggak kejebak macet." Arthur tampak menyodorkan helm pada Shana.     Shana menerimanya dan segera memasang helm itu. Ia pun beranjak menaiki motor Arthur.     Arthur melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia memilih jalan-jalan alternatif untuk menghindari macet. Bahkan Arthur memilih jalan memutar yang cukup jauh tapi lengang daripada jalan yang biasanya.     "Ar, emang pulang sekolah lo ada urusan apa?" Shana berteriak dari belakang.     Arthur tampak membuka kaca helmnya. "Mau ngecek ke toko souvenir atau kado gitu soal kotak kayu semalem."     Shana mencerna kata-kata Arthur. Dalam hati, Shana merasa usaha Arthur tak akan berhasil. Tapi ia urung berkomentar. Alih-alih mencegah Arthur untuk melaksanakan rencana yang terdengar konyol itu, Shana justru menawarkan diri untuk membantu. "Gue ikut ya?"     "Janji nggak ngerepotin?"     "Janji."     Perjalanan mereka berakhir juga. Gerbang sekolah sudah di depan mata. Shana berhenti bicara. Arthur juga tampak tak ingin diajak bicara lagi.     Mereka sampai di parkiran sekolah yang masih cukup sepi. Hanya ada beberapa motor yang terparkir di sana.     Setelah mengucapkan terima kasih, Shana berjalan mendahului Arthur. Ia langsung menuju ke kelasnya.     Shana membuka pintu kelas yang tertutup. Sepertinya walau ia datang kesiangan, ia tetap jadi yang    pertama sampai di kelas.     Shana menduduki bangku favoritnya. Ia meletakkan tasnya dengan asal. Setelahnya, ia membuka bekal sarapan yang ia bawa tadi. Perutnya sudah keroncongan minta diisi.     "Lo udah sarapan?" Shana menoleh ke arah Arthur yang baru saja masuk kelas.     "Udah tadi," jawab Arthur sambil melemparkan tasnya—yang sepertinya kosong—ke bangku di depan Shana.     "Mau?" Shana menawarkan brownies yang ia bawa.     "No, thanks." Arthur membalas singkat. Ia mulai menekuni ponselnya.     Shana penasaran, tapi ia tidak mau mengganggu. Ia memilih mengamati ekspresi Arthur yang makin lama makin tegang saja. Sepertinya serius sekali. Ada apa?     Shana sudah siap bertanya, namun ia melihat Arthur mematikan handphonenya. Akhirnya, Shana urungkan lagi niatnya. Shana kembali fokus menekuri bekal sarapannya. ***     Agatha datang sebelum bel masuk berbunyi. Ia tampak ngos-ngosan karena berlari. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengatur napasnya.     "Kenapa lari-lari?" Shana bertanya penasaran.     Agatha membuka mata dan menegakkan tubuhnya. "Iya lah, dah hampir telat gini."     "Tha, gue mau bicara serius sama lo!" Shana berseru tegas.     "Harus banget sekarang? Gue baru sampai nih," gerutu Agatha.     Tapi Shana tidak menerima penolakan. Dia mengangguk yakin. Agatha tampak menghela napas lagi.     "Apaan?" Agatha tampak kebingungan sekaligus mulai kesal.     "Semalem kenapa lo matiin telepon gue?" cecar Shana.     "Oh ya? Kayanya gue nggak sengaja deh. Soalnya tadi malem pas lo telepon tuh gue udah tidur. Mungkin karena masih ngumpulin nyawa, gue jadi salah pencet. Setengah sadar gitu. Atau malah gue ketiduran ya?"     Shana menaikkan sebelah alisnya. Apakah ucapan Agatha jujur?     "Lo nggak bohong?" desak Shana.     "Emang gue pernah bohong sama lo?" Agatha membalikkan omongan Shana.     "Ya enggak sih. Btw, kemarin lo ke rumah gue ngapain?" Shana memancing-mancing.     "Oh itu, gue mau pinjem catetan Kimia lo. Punya gue nggak lengkap gitu," jelas Agatha.     "Tumben belajar?" sindir Shana.     "Ya iya lah. Nanti siang kan rencananya ada kuis. Gue harus belajar dong," balas Agatha sengit.     "Oh ya? Kok gue nggak tau kalau bakal ada kuis?" Shana tampak sangsi.     "Ck, dasar anak pinter. Lo kan kemarin nggak remedi, gimana sih? Yang kuis kan yang remedi doang." Agatha berkata dengan gemas.     "Oh gitu, terus lo udah dapet pinjeman catetan?" Shana memperhatikan Agatha yang tengah mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya.     "Udah. Semalem gue ke rumah Sena. Untungnya dia ada di rumah." Agatha mulai tekun membaca bukunya.     Shana mengangguk-angguk. Ia kemudian kembali menatap Agatha dengan mata menyipit. "Lo ngasih gue coklat?"     "Coklat? Buat apa, Sha?" Agatha menatap Shana dengan bingung dan tentu saja penasaran.     "Ya siapa tau lo pengen bagi-bagi coklat gitu ke gue." Shana membalas cuek. Ia berusaha tak membeberkan hal lainnya.     "Lo nggak lagi ulang tahun atau merayakan sesuatu, ngapain gue ngasih-ngasih lo coklat. Oh ya, emang lo dapet coklat? Dari siapa? Jangan bilang pengirimnya orang misterius! Iiihh, so sweet banget," lantur Agatha.     Shana hanya tersenyum kecut kemudian membuang muka. So sweet kata Agatha? Yang benar saja, Shana malah merinding dikirimi coklat oleh orang tak jelas. Terlebih suratnya itu lho yang bikin jantung deg-degan.     Kalau Agatha berkomentar seperti itu, sepertinya bukan Agatha pengirim coklat itu. Tapi siapa pengirim surat yang sepertinya berusaha SKSD—Sok Kenal Sok Dekat—dengan Shana?     Shana tampak menghela napas kemudian mulai mengeluarkan buku-buku pelajaran untuk jam pertama ini. Ia berusaha fokus mengikuti pelajaran. ***     Arthur bangkit dari duduknya. Ia memutar badan ke belakang dan mendapati Shana juga tengah menatapnya.     Arthur menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"     "Ke kantin yuk," jawab Shana.     Arthur mengangguk. Shana menyusul Arthur dengan berlari-lari kecil.     "Tumben nggak sama Agatha?"     "Dia lagi belajar buat kuis Kimia nanti. Oh ya, Ar, kita nggak mau melanjutkan penyelidikan kasus ini?"     Arthur hanya diam dan tetap berjalan. Sebenarnya, Arthur ingin bergerak sendiri. Ia harus menjaga jarak dengan Shana dan memberi kebebasan pada si pengirim surat untuk menemui Shana. Tapi Shana justru terus mendekati Arthur. Ini cukup sulit.     "Enggak sekarang," gumam Arthur.     "Tapi gimana kalau mereka beraksi lagi? Tiga pelaku lho, Ar. Bukan jumlah yang sedikit kan untuk diungkapkan." Shana mengingatkan.     "Lain waktu kita omongin ini lagi. Sekarang kita ke kantin dan stop bahas hal ini," tegas Arthur.     Shana sempat tercengang. Tanggapan Arthur di luar dugaannya. Tapi kemudian Shana tersadar. Mungkin saja Arthur hanya ingin menjaga semua informasi dari dunia luar. Mereka kan belum tahu siapa saja pelakunya. Bagaimana kalau mereka ternyata ada di sekitar Shana dan Arthur? Shana memaklumi keputusan Arthur ini. Dengan terpaksa, Shana harus mengubur dalam-dalam segala rasa keingintahuannya. ***     Kantin lumayan penuh. Shana memilih tempat untuk duduk sedangkan Arthur memesan makanan. Sembari menunggu Arthur, Shana mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin.     Tiba-tiba, seorang cewek mendekat ke meja Shana. Cewek itu membawa baki berisi semangkuk rawon dan sepiring nasi serta segelas es teh. Rupanya ia berniat ikut duduk di meja Shana.     "Permisi kak, bangku ini kosong?" Gadis itu bertanya sopan pada Shana.     "Maaf, tapi bangku itu untuk teman saya. Dia lagi memesan makanan sekarang." Shana menjawab dengan tak enak hati. Tapi kenyataannya memang begitu. Bangku itu untuk Arthur.     "Ah, sayang sekali. Kalau begitu saya cari bangku lain. Mari, kak." Gadis itu berlalu pergi setelah mengangguk sopan pada Shana.     Shana balas tersenyum. Tak lama kemudian, Arthur datang dengan baki berisi dua piring gado-gado yang tampak lezat dan dua botol air mineral. Shana mengambil satu piring gado-gado dan mulai menyuap potongan lontong ke mulutnya.     "Tadi siapa?" tanya Arthur. Rupanya Arthur sempat melihat Shana berbicara dengan seseorang yang berniat menduduki bangku Arthur.     "Oh, itu tadi dia mau duduk di bangku lo. Tapi gue bilang kalau udah ada yang nempatin." Shana menjawab di sela-sela kunyahannya.     "Lo kenal dia?" tanya Arthur lagi. Ia tampak belum menyentuh makanannya karena masih sibuk bertanya.     Shana menggeleng. Arthur mengerutkan dahi. Apa cewek tadi itu si pengirim surat dan sekotak coklat? ***     Shana menghabiskan makanannya dengan cepat. Sementara Arthur masih memakan makanannya setengah saja.     "Kenapa, Ar?" tanya Shana begitu menyadari raut aneh di wajah Arthur.      "Enggak, nggak ada apa-apa. Yuk cabut!" Arthur bangkit dari duduknya.     Shana melirik piring gado-gado milik Arthur yang masih tersisa. "Tapi lo belum selesai makan?"     "Gue udah kenyang," jawab Arthur sambil mulai melangkah keluar area kantin.     "Ada apa sih? Nggak biasanya lo nyisain makanan. Hei tunggu!" Shana tampak kesal karena tidak digubris.     Arthur berhenti berjalan. Matanya menatap sekitar sebelum berhenti di wajah Shana. "Lo nggak curiga kalau yang tadi nyamperin lo itu si pengirim surat?"     Shana terperangah. Ia terdiam dengan kaku. Shana sama sekali tak terpikirkan soal itu.     "Makanya gue nggak mau ngomongin apapun tentang kasus ini selama berada di lingkungan yang ramai. Terutama di lingkungan sekolah." Arthur menambahkan. Ia kembali berjalan meninggalkan Shana yang masih bingung.     Shana berlari-lari kecil menyusul Arthur. Wajah Shana penuh tanya. "Jadi menurut lo cewek itu orang yang ngirim surat ke rumah gue?"     "Yep, mungkin aja," jawab Arthur. "Lo bisa sebutin ciri-ciri cewek itu?"     "Dia mungkin tingginya se gue. Rambut lurus dipotong rapi model bob. Cantik tanpa riasan wajah. Terus seragamnya masih kelihatan baru dan atributnya lengkap. Mungkin dia anak kelas sepuluh atau kelas sebelas? Soalnya jarang banget ada anak kelas dua belas beli seragam baru. Biasanya mereka nggak peduli sama seragam, toh bentar lagi lulus juga. Ah ya, cewek itu juga panggil gue dengan sebutan 'kak'." Shana memberikan gambaran ciri-ciri cewek yang dimaksud.      Arthur mengusap dagunya. "Lo lihat name tag cewek itu?"     Shana menggeleng cepat. "Tapi gue yakin dia bukan Riana. Jadi siapa ya?"     "Bianca?" Arthur tampak memicingkan mata.     "Bianca siapa?" Shana turut mengerutkan dahinya.     "Bianca dan Abimana. Dua orang yang ikut technical meeting. Kita belum jadi interogasi mereka kan?" Arthur menjelaskan.     "Oh ya. Bianca cewek ya? Kalau gitu kita coba samperin dia." Shana langsung nyambung.     Mereka memutar arah dan berjalan menuju gedung kelas sebelas. Sebentar lagi bel tanda jam istirahat selesai akan berbunyi tapi Arthur dan Shana tampak tidak peduli. ***     Arthur dan Shana sudah berdiri di depan ruang kelas yang menurut Arthur adalah kelas Bianca. Mereka menunggu selama beberapa menit hingga cewek bernama Bianca itu kembali ke kelasnya.     Bianca, cewek berkacamata dengan rambut sebahu berwarna coklat. Tampangnya tidak cupu sama sekali. Malah terlihat cute dengan kacamata berbingkai pink. Seragamnya rapi dan sesuai standar sekolah. Sepatunya bukan sepatu pantofel melainkan sepatu olahraga. Terlihat sekali bahwa dia adalah gadis feminin yang menyukai olahraga.     "Hai, Bianca!" Shana menghadang Bianca yang hendak masuk ke kelas.     Bianca tampak mengamati Shana sebentar kemudian begitu sadar orang yang ada di hadapannya adalah kakak kelasnya, ia tersenyum. "Iya kak, ada perlu apa?"     "Boleh kita bicara sebentar?" Arthur turut berbicara.     Bianca ragu sejenak namun akhirnya mengangguk juga. "Boleh."     Shana dan Arthur mengajak Bianca ke ujung koridor kelas sebelas. Bianca tampaknya enggan untuk ikut serta, tapi mungkin tidak berani menolak ajakan kakak kelas.     "Ada perlu apa ya, Kak?" Bianca mengawali pembicaraan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN