¦Part 11¦

1960 Kata
    Begitu Bianca mengawali pembicaraan, Shana langsung mengambil kesempatan bertanya. "Kemarin kamu ikut TM di mana?"     "Di SMA Mahanipuna, kak." Bianca tampak bingung kenapa tiba-tiba kakak kelasnya penasaran soal hal itu. Itu kan bukan hal yang penting banget untuk diketahui anak kelas dua belas. Mereka sudah pensiun dari segala macam urusan tugas ekstrakurikuler atau apapun itu. Mereka kan hanya perlu belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi UN dan serangkaian tes serta seleksi untuk mendapatkan perguruan tinggi idaman.     "Kamu nggak masuk kelas sejak pagi?" Arthur turut bertanya. Dan tampaknya Bianca makin bingung saja.     "Iya. Acara TM nya dimulai jam delapan dan perwakilan peserta harus hadir paling lambat pukul setengah delapan." Bianca ganti menatap ke Arthur.     "Kamu sempat datang ke sekolah dulu?" Shana bertanya lagi.     "Iya. Saya pergi sama Abimana ke acara TM nya. Kami janjian ketemu di sekolah dan pergi ke sana bersama. Kebetulan juga Bima bawa motor, jadi kami nggak perlu naik angkutan umum." Bianca tampak mulai enggan menjawab. Mungkin itu sedikit pribadi baginya dan tak seharusnya orang lain mengetahui.     "Begitu ya? Kamu berangkat ke SMA Mahanipuna jam berapa?" Shana terus bertanya seolah-olah tak menyadari keengganan Bianca.     "Kalau nggak salah jam tujuh kurang lima belas. Sekitaran itu." Bianca tampak mengingat-ingat hal lampau itu.     "Kalau gitu, kamu pasti tau dong keributan kemarin pagi di sekolah ini?" Arthur kembali berbicara.     "Keributan? Oh yang penemuan mayat itu ya?" Mata Bianca tampak berbinar. Mungkin topik ini lebih seru untuk dibahas daripada soal kepergiannya ke acara TM.     "What?!" pekik Shana, kaget rupanya.     "Eh iya kan, Kak? Katanya ada mayat di gudang alat-alat kebersihan." Bianca balas bergumam sangsi. Ia juga menggaruk kepalanya dengan canggung. Bianca rasa, dia baru saja salah bicara.     "Dia teman kami dan dia masih hidup. Berita tentang mayat itu salah." Arthur bersuara. Nadanya terdengar tegas dan serius.     "Oh, maaf kak. Saya cuma denger-denger kata orang." Bianca tampak menyesal. Kepalanya menunduk.     "Oke, jadi kamu tau tentang keributan itu. Apa yang kamu tau lagi soal kejadian itu?" Arthur berujar dengan suara lebih santai.     "Saya keburu pergi untuk TM, Kak. Jadi saya nggak tau apa-apa lagi," ucap Bianca serba salah.     "Oke, terima kasih waktunya. Kamu bisa kembali ke kelas sekarang. Sebentar lagi pasti guru yang mengajar akan sampai." Arthur mengakhiri sesi bertanya-tanya pada Bianca.     "Saya permisi dulu, Kak. Oh ya, nama kakak siapa?" Bianca memandang Shana dan Arthur bergantian. Tentunya dengan wajah ingin tahu.     "Shana," jawab Shana cepat.     "Arthur," ujar Arthur hampir bersamaan dengan Shana.     Cewek itu tampak mengerutkan keningnya. Selama beberapa saat, ia tampak berpikir. Ekspresinya berubah saat menyadari siapa dua orang kakak kelas yang ada di hadapannya. Tanpa pikir panjang atau mengucapkan sesuatu lagi, Bianca segera berlari masuk ke dalam kelasnya.     Shana dan Arthur saling pandang sejenak. Mereka tengah memikirkan hal yang sama. Pasti kabar tentang Shana maupun Arthur yang menjadi terduga tersangka sudah menyebar. Sekarang, semua siswa mungkin akan ketakutan saat didekati Shana dan Arthur. Sungguh merepotkan dan memperumit keadaan. ***     "Lo mau kemana?" tanya Shana begitu melihat Arthur berbalik dan tidak jadi masuk ke kelas.     Rupanya Arthur memang tak ingin masuk kelas. Dia hanya mengantar Shana kembali ke kelas kemudian pergi entah kemana.     "Mau laporan ke polisi." Arthur berkata singkat.     "Oh, soal name tag lo yang ada di TKP itu? Gue ikut ya? Gue bantu lo jelasin. Gue bisa jadi saksi keberadaan lo saat itu." Shana tampak menawarkan diri.     "Lo masuk kelas aja. Bentar lagi gurunya dateng," tolak Arthur halus dan serius. Ia pun mulai berlalu pergi.     Shana hanya memandangi punggung Arthur dengan kecewa. Apa serunya ikut pelajaran di saat-saat seperti ini. Toh Shana bisa belajar sendiri di rumah. Membolos bukan masalah yang besar bagi Shana.     Tapi ya sudah lah. Shana akhirnya mampu meredam kekesalannya. Ia berjalan ke bangkunya. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pada jam pelajaran ini datang juga. ***     Waktu berlalu dengan cepat. Sangat cepat malah. Selama pelajaran berlangsung, Shana hanya menopang dagu bosan. Sedari tadi ia memang mendengarkan penjelasan guru, namun ia sama sekali tak menyentuh buku.     Shana merasa ada yang aneh pada Arthur. Rupanya walau sudah tidak kesal banget, Shana tetap belum bisa menerima sikap Arthur. Shana bisa merasakan Arthur agak menjauhinya. Mungkin tidak terlalu kentara, tapi akhir-akhir ini Shana jadi lebih peka.     Ada apa dengan Arthur? Jangan bilang dia percaya isi surat yang semalam mereka terima. Surat itu kan menegaskan bahwa Shana memiliki andil dalam kecelakaan yang dialami Kelvin.     Ya ampun. Mungkin itu memang benar. Arthur membatasi informasi yang ia miliki untuk Shana. Arthur tidak mengajak Shana dalam bagian-bagian penting penyelidikan. Arthur tidak berniat mengajak Shana untuk menemui polisi-polisi itu karena mungkin Arthur akan membahas sesuatu. Shana tersenyum kecut. Ia jadi agak kecewa.     "Sha, ini cara ngerjainnya gimana?" Agatha menggeser buku latihan soal matematika ke hadapan Shana.     Shana memutus lamunannya dan memperhatikan buku yang Agatha sodorkan. "Oh, ini tinggal pakai rumus yang 'b' minus 'q' dibagi dua akar 'a'."     "Trims. Lo buruan ngerjain bagian lo, nomor 36. Lo maju habis gue." Agatha berdiri dari duduknya dan menuju ke papan tulis.     Shana segera menyambar bukunya dan membaca soal yang kata Agatha adalah bagiannya. Setelah Agatha kembali duduk di bangkunya, Shana maju untuk mengerjakan soal itu di papan tulis. ***     Bel pulang sekolah berbunyi. Shana masih ada di bangkunya. Dia akan menunggu Arthur untuk pulang bareng. Kalau jadi, mereka juga harus sidak ke beberapa toko kado.     "Nggak beres-beres, Sha?" Agatha tampak memperhatikan Shana dengan heran. Agatha bisa melihat Shana masih santai-santai saja sementara teman sekelas mereka sudah mulai berebut pintu untuk keluar kelas.     "Iya, bentar lagi." Shana menjawab singkat sembari merapikan buku dan alat tulis yang tercecer di meja.     "Lo pulang bareng Arthur?" tanya Sena—teman sekelas Shana dan Agatha sekaligus ratunya gosip di sekolah—pada Shana. Dia sudah berdiri tak jauh dari meja Shana dan Agatha.     "Iya, kayanya," balas Shana ragu. Ia juga belum tau apakah Arthur jadi mengajaknya keliling-keliling mendatangi toko-toko kado atau tidak.     "Kalau gitu kita balik dulu ya, Sha. Kita ada bimbingan tambahan, nih. Yuk, Tha!" Sena menggamit lengan Agatha dan mengajaknya keluar kelas. Sena tampak melambaikan tangan pada Shana.     "Duluan ya, Sha. Lo nggak papa kan sendirian di kelas?" Agatha juga berpamitan dan berbasa-basi sebelum meninggalkan Shana.     "Iya nggak papa. Sebentar lagi Arthur juga balik ke kelas kok." Shana tersenyum ceria. Padahal dalam hati, ia sedikit merasa resah memikirkan Arthur dan sikap cowok itu. ***     Arthur berjalan lambat menuju kelasnya. Barusan ia sudah mendengar bel pulang sekolah berbunyi. Ia juga sudah selesai memberikan laporan pada pihak kepolisian. Sekarang, Arthur memilih kembali ke kelas untuk mengambil tas. Ia memang tidak ikut pelajaran sejak tadi.     Sesampainya di kelas, Arthur melihat Shana tengah menunduk memandangi handphone di bangkunya. Begitu menyadari kehadiran Arthur, Shana segera mengangkat wajah.     "Ar, gue jadi ikut ya," ujar Shana.     Arthur hanya mengangguk singkat. Ia membereskan tasnya dan mengajak Shana keluar kelas.     Shana dan Arthur saling diam selama perjalanan menuju ke parkiran sekolah. Shana ingin bertanya-tanya tapi dia ragu. Arthur tampak enggan diajak bicara.     "Arthur, lo ngejauhin gue ya?" Shana akhirnya bertanya juga karena mulutnya terasa gatal.     "Enggak." Arthur mengelak dengan santai.     "Tapi gue merasa lo menjauh." Shana tetap ngotot.     "Kalau gitu, itu cuma perasaan lo aja," ujar Arthur dengan kalem dan tenang.     Shana tampak tak puas dengan jawaban Arthur. Tapi ia juga yakin kalau Arthur tak akan memberikan jawaban yang memuaskan walau didesak sedemikian rupa. Shana mengambil sikap bungkam saja untuk saat ini.     Akhirnya mereka tiba di parkiran. Arthur menyodorkan helm ke Shana. Shana segera menerima helm itu dan memakainya dengan cepat. Arthur sendiri tampak menaiki motornya, menyalakan mesin, dan mulai memasang helm.     "Lo ngambek, Sha?" tanya Arthur begitu Shana sudah duduk di jok belakang motornya.     Arthur bisa menyadari gerak-gerik Shana yang tampak lebih kasar dari biasanya. Bahkan tadi Shana menaiki motor Arthur dengan menghempaskan keras tubuhnya. Hal itu sukses membuat Arthur hampir kehilangan keseimbangan motornya.     "Enggak," balas Shana singkat. Padahal dalam hati, Shana mengiyakan.     Arthur tak segera menjalankan motornya. Ia malah menoleh ke belakang. Tangan Arthur terulur untuk membuka kaca helm Shana.     "Apaan sih!" ketus Shana tak bersahabat.     "Jangan cemberut, Sha. Muka lo jelek banget tau." Arthur tergelak oleh omongannya sendiri.     "s****n!" maki Shana pelan. Tangannya bergerak memukul punggung Arthur.     Arthur tampak mengaduh oleh pukulan Shana yang tidak keras-keras amat sebenarnya. Kemudian ia tampak menatap mata Shana serius. "Sha, kita jaga jarak dulu ya?"     Shana mengerutkan dahinya. Apa karena barusan Shana sedikit bersikap brutal pada Arthur, cowok itu jadi enggan berteman dengannya? Kenapa Shana merasa tidak setuju soal itu? Rasanya Shana ingin berteriak bahwa dia tidak setuju. Tapi tentu saja Shana masih punya akal sehat untuk tak melakukannya.     "Kenapa memangnya?" Shana bertanya dengan cemas.     "Ya nggak kenapa-napa. Gue cuma butuh waktu untuk mikir." Arthur memutuskan kontak mata dengan Shana. Ia kembali menatap ke depan dan siap menjalankan motornya.     Motor Arthur melaju meninggalkan sekolah. Shana sedari tadi masih berusaha mencerna kata-kata Arthur. Entah kenapa, setiap kali Arthur berbicara, rasanya kemampuan otak Shana tidak terlalu berguna. Padahal Shana tidak b**o-b**o amat. Tetap saja Shana masih bingung dengan semua ucapan Arthur.     Kenapa Arthur meminta Shana menjaga jarak? Kenapa Arthur butuh waktu untuk berpikir? Memangnya apa yang harus Arthur pikirkan? Dan di atas semua pertanyaan itu, Shana merasa dadanya sesak luar biasa. Kali ini, Shana sungguh kecewa pada sikap Arthur. ***     Arthur memberhentikan motornya di depan sebuah toko. Entah ini sudah toko ke berapa yang ia sambangi hari ini. Nyatanya, ia belum mendapat hasil apapun.     "Nggak turun?" Arthur buka suara menyadari Shana yang tetap nangkring di motornya tanpa ada niatan untuk turun.     Arthur melihat Shana tersentak. Bisa Arthur simpulkan bahwa sedari tadi Shana melamun.     Shana turun dari motor Arthur. Arthur bisa merasakan sepertinya cewek itu sedang bad mood. Mungkinkah gara-gara dirinya? Ya, tak salah lagi, ini semua karena omongannya barusan.     Arthur memimpin jalan ke toko itu. Dia langsung menemui penjaga toko dan menunjukkan kotak kayu yang sedari tadi ia bawa.     "Permisi mbak, ada kotak kayu seperti ini?" Arthur mulai bertanya.     "Iya mas ada. Tapi kebetulan stoknya habis." Si penjaga toko menjawab dengan ramah.     "Jadi kotak kayu ini benar dibeli di sini?" Arthur memastikan.     "Coba mas saya lihat dulu," ujar penjaga toko.     Arthur menyerahkan kotak kayu itu pada penjaga toko. Penjaga toko itu tampak mengamati sebentar.     "Iya mas. Kotak kayu ini dibeli di sini. Kebetulan barangnya memang terbatas dan ini stok terakhir. Ada sekitar tiga kotak tersisa dan kemarin sudah dibeli semua. Kotak ini salah satunya." Penjaga toko itu tampak menjelaskan.     "Mbak inget siapa yang beli kotak kayu ini?" Shana berinisiatif bertanya. Walau sebelumnya Arthur sudah melarang Shana ikutan bertanya-tanya, tapi Shana tak peduli. Ia kan juga penasaran setengah mati soal kotak kayu ini.     "Anak sekolahan juga kok. Berdua, cewek-cewek. Mereka ke sini naik mobil warna merah. Kebetulan toko ini sepi jadi saya lumayan ingat." Penjaga toko itu berkata meyakinkan.     "Apa kotak kayu seperti ini juga dijual di toko lain?" tanya Arthur memperjelas lagi.     "Mungkin ada mas, tapi nggak sama persis desainnya. Soalnya ini buatan pengrajin kayu lokal yang hanya dijual di toko ini. Mas juga bisa liat labelnya. Ini label toko ini."     Jadi yang membeli kotak kayu itu adalah dua orang cewek yang mengendarai mobil warna merah. Bayangan Arthur soal dua pelaku adalah cowok dan hanya ada satu pelaku cewek langsung hancur. Sebenarnya ada berapa pelaku dalam kasus ini?     Tapi tak apa. Arthur sudah cukup dengan hanya menemukan toko di mana kotak kayu itu dijual. Setidaknya Arthur tak perlu berkeliling kota lebih lama lagi dan mengunjungi toko-toko kado lebih banyak lagi.     Arthur hanya perlu waktu untuk berpikir lagi dan lagi. Nanti pasti akan ada jawaban atas permasalahan ini. Arthur menghela napas dan memantapkan diri bahwa ini tidak sesulit yang ia pikirkan. Syaratnya satu, Arthur harus mulai berpikir out of the box.     Arthur mengucapkan terima kasih pada si penjaga toko. Ia menarik tangan Shana meninggalkan toko itu.     "Ar, gue pulang sendiri aja ya?" Shana menolak helm yang Arthur sodorkan.     "Kenapa? Ada masalah?" tanya Arthur tampak sangat keberatan.     "Seperti kata lo. Kita kan harus jaga jarak. Dengan naik motor lo, gue nggak bisa menjaga jarak yang lo maksud itu." Shana berucap kelu.     Arthur bergeming. Wajahnya tak menunjukkan reaksi berlebih. "Maksud gue saat di sekolah. Kita jaga jarak saat di sekolah."     "Kenapa harus gitu? Kenapa nggak bersikap kaya biasa aja? Ada apa sih?" Shana tampak geram.      "Ini juga demi penyelidikan kasus ini." Arthur menjawab dengan tegas. Ia segera naik ke motornya dan mengenakan helm. "Lo jadi pulang sendiri atau gue anter?"     Shana mendekati motor Arthur dengan langkah menghentak. Ia mengambil helm yang Arthur sodorkan. Ia memakai helm itu dengan kasar, juga menghempaskan tubuhnya di jok motor belakang Arthur dengan ganas.     Arthur hanya menggeleng beberapa kali. Kemudian sambil menjalankan motor, ia terlihat tersenyum. Aneh, kenapa ia harus tersenyum untuk tingkah kekanakan Shana? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN