¦Part 12¦

2220 Kata
    Shana akhirnya memilih pulang dengan Arthur saja. Selama di jalan, Shana sama sekali tak mengajak atau diajak bicara Arthur.     Perjalanan mereka ke rumah Shana memakan waktu sekitar satu jam karena terjebak macet. Dan itu sesuai dugaan Arthur. Untunglah Arthur lihai membawa motornya menerobos celah-celah mobil yang merayap di jalanan. Kalau tidak, mungkin waktu yang mereka habiskan untuk sampai di rumah Shana akan lebih lama lagi.     Sampai di rumah Shana, langit sudah menggelap. Shana segera turun dari motor Arthur. Ia mengucapkan terima kasih lalu berbasa-basi sebentar.     Biasanya Shana tulus mengajak Arthur mampir ke rumahnya. Namun untuk kali ini, Shana berharap Arthur menolak mampir.     Rupanya, Arthur juga ada urusan lain. Dia tidak mampir dan segera pulang begitu Shana masuk ke rumahnya. ***     Shana melangkahkan kaki ringan menuju kamarnya. Tapi suara-suara aneh mulai terdengar dari dalam rumahnya. Shana tak tahu dia sedang berhalusinasi atau sungguhan mendengar suara-suara itu.     Jujur saja, Shana percaya adanya makhluk tak kasat mata. Bukan bakteri atau makhluk bersel satu lainnya. Yang Shana maksud di sini adalah makhluk gaib. Apalagi sebentar lagi magrib.     Shana menghentikan langkah. Ia bergidik ngeri. Sudah pasti ia sedang di rumah sendirian. Mobil Ayah dan Bundanya tidak ada di carport. Dan tentu mereka, Ayah dan Bunda Shana tidak mungkin memarkirkan kendaraan mereka di garasi. Ada mobil Shana di garasi itu. Intinya mereka belum pulang.     Rumah juga tampak gelap kecuali beberapa ruangan yang Shana anggap perlu penerangan. Beberapa ruang memang sengaja Shana biarkan tetap menyala lampunya sedari pagi.     Shana mencoba berpikir realistis. Mungkin ada kucing nyasar ke rumahnya. Atau mungkin ada jendela yang terbuka dan tertiup angin sehingga suaranya jadi berisik. Ah, tapi itu juga tidak mungkin.     Shana memikirkan kemungkinan lain. Mungkin ada orang tak diundang sedang menjarah rumah Shana. Penyusup? Penjahat? Pencuri? Atau mungkin pelaku yang melukai teman-teman di sekolahnya?     Shana menggusah pikiran negatif itu dari kepalanya. Ia hanya perlu memastikan sendiri bunyi apa itu. Ia tidak perlu berasumsi yang aneh-aneh soal bunyi itu dan justru membuat nyalinya makin ciut.     Shana melangkah lambat tapi awas. Matanya menyapu seluruh bagian rumahnya. Shana menggenggam tongkat golf yang tadi sempat ia comot entah di mana—yang jelas, tongkat itu tadi berada di salah satu ruang di rumahnya. Lumayan lah untuk s*****a dadakan begini.     Shana memicingkan mata ke arah dapur. Sesuatu bergerak-gerak membuat bayangan hitam di dinding dapur. Sesuatu yang besar. Mungkin seukuran manusia. Atau memang manusia?     Gawat! Shana terperangah. Dia kehilangan orientasi sesaat. Napasnya memburu dan keringat dingin mengucur. Shana terkesiap saat sosok itu membalikkan badannya menghadap Shana.     "Hallo, Shana. Lama nggak jumpa ya. Apa kabar?" Suara khas yang membuat Shana merinding. Suara ramah yang terdengar palsu. Suara yang menyebalkan dan mengerikan. Mimpi buruk bagi Shana telah kembali.     "Kamu kenapa ada di sini?" Shana beringsut mundur.     "Tentu saja, aku mau lanjut sekolah di sini sama kamu. Katanya ada universitas yang bagus di kota ini. Berhubung aku lulus SMA tahun lalu, aku jadi gap year dulu deh. Tapi nggak papa. Aku senang bisa balik ke kehidupan kamu lagi, Shana." Suara lembut itu tampak menenangkan. Dan menghanyutkan tentu saja.     Shana mengeluarkan handphonenya dan menekan layar beberapa kali hingga mampu membuat sambungan telepon.     "Ayah, kenapa cewek itu ada di rumah kita?" Shana bertanya panik. Nada suaranya nyaris histeris.     "Prim, kamu ngomong apa sih? Cewek itu siapa yang kamu maksud?" Gerald masih kebingungan. Gerald memang memanggil putrinya itu dengan nama belakangnya.      Nada suara Gerald terdengar khawatir. Bagi Gerlad, putrinya itu terlalu tenang dalam bersikap. Kalau putrinya itu sampai histeris, pasti ada yang tidak beres.     "Roselin, Rose, dia ada di rumah kita, Yah!" teriak Shana gemetar. Menyebutkan namanya saja mampu membuat kenangan buruk bangkit lagi dari memori Shana.     Ayah Shana tampak diam sejenak. Kemudian ia mulai menjelaskan keadaan dengan tenang. "Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kalian sudah sama-sama dewasa. Mungkin Rose memang sering menjailimu dulu. Tapi sekarang kalian kan bukan anak kecil lagi. Tolong kamu pengertian sama Rose. Mamanya sakit dan dirawat di Belanda, kampung halamannya. Papanya terpaksa bolak-balik sana-sini buat ngurus semua hal. Roselin akan tinggal sama kita dulu sementara waktu."     "Bukan dengan kita, Yah. Tapi dengan aku. Ayah dan Bunda nggak pernah ada di rumah. Cuma aku yang akan menghadapi cewek menyeramkan itu!" protes Shana keras.     "Kamu jangan bicara gitu. Usia Roselin lebih tua setahun daripada usiamu. Kamu harus bersikap sopan padanya. Perlakukan dia seperti kakakmu."     Shana melotot tidak percaya mendengar penuturan ayahnya—walau yakin ayahnya tidak akan bisa melihat ekspresi Shana saat ini. Menganggap Roseline sebagai kakak terdengar begitu mengerikan di telinga Shana.     Shana menutup telepon tanpa salam dan sebagainya. Oke, mungkin tindakan Shana kurang ajar banget kali ini. Ia bahkan tadi sempat bicara dengan nada tinggi pada Ayahnya.     "Kenapa? Kamu pikir aku tinggal di sini tanpa persetujuan Ayahmu? Haha, sepertinya nggak ada yang bisa kamu andalkan untuk mengusirku." Roselin maju selangkah. "Di mana kamarku?"     "Kamu nggak diterima di sini!" Shana mendesis tajam.     "Rupanya kamu pendendam, ya? Ah, Shana adikku yang lucu dan polos sekarang berubah menjadi gadis arogan yang keras kepala." Rose tampak menilai Shana dari ujung kaki hingga puncak kepala. "Apa karena aku pernah mendorongmu dari atas perahu sampai kamu hampir tenggelam di danau? Apa karena aku pernah menancapkan gunting di telapak tanganmu? Apa karena aku pernah hampir membunuh teman masa kecilmu yang culun dan jelek itu? Apa karena aku membuat acara kemah sekolahmu waktu itu jadi kacau? Apa karena aku membuat cowok pertama yang mengantarmu pulang jadi celaka? Apa karena aku pernah menjegal kakimu saat kamu sedang menari hingga kamu cidera dan harus berhenti menari? Bagian mana yang membuatmu masih membenciku, Shana?"     Ya, Roselin sudah membuka aibnya sendiri. Betapa psikopatnya cewek itu. Dan buruknya, hanya Shana yang menyadari bahwa Rose punya masalah dengan kejiwaannya.     Semua orang menutup mata soal itu. Menganggap Rose terlalu manis untuk berbuat hal yang aneh-aneh. Segala kesalahan yang Rose lakukan hanya dianggap kecelakaan dan murni tanpa unsur kesengajaan.     "Kamu kapan dateng?" Shana menatap curiga cewek yang setahun lebih tua darinya itu. Jangan-jangan dia terlibat kasus percobaan pembunuhan di sekolah Shana lagi.     "Tadi pagi. Aku hampir lupa alamat rumah Om Gerald. Aku sempat berputar-putar di kota ini hingga akhirnya bisa menemukan rumah ini." Cewek itu menghempaskan diri ke sofa.     "Kamu yakin baru dateng?" Alis Shana naik sebelah.     "Yep. Kenapa? Ada sesuatu yang aku lewatkan, ya?" tanya Rose dengan mata berkilat-kilat mengerikan seolah sedang mempermainkan Shana.     "Kamu nggak berniat merusak hidupku lagi kan?" Shana memastikan.     Rose menarik senyum yang tampak ganjil. Ia tampak menyilangkan kakinya dengan anggun. Kalau begini, Rose terlihat sudah berumur dua puluhan.     Shana berlalu masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya. Ia takut Rose akan masuk ke kamarnya dan membunuhnya. Itu bukan hal yang tidak mungkin. Dan Shana yakin, Rose datang untuk tujuan itu.     Pikiran Shana kacau. Perasaannya pun begitu. Ia merasa kecewa, marah, sedih, dan takut pada satu waktu yang sama.     Shana menatap pintu dengan nanar. Bahkan Rose bisa mengakses rumahnya saat tak ada siapapun di rumah. Darimana cewek itu punya kunci rumah ini?     Shana merasa tak aman berada di rumahnya sendiri. Malam itu, Shana mengemasi barang-barangnya dan mendatangi rumah Agatha. Sebelumnya, ia sudah mengabari Agatha bahwa malam ini ia akan menumpang di rumah Agatha.     Shana bahkan nekad membawa mobilnya. Shana tahu Ayahnya tak pernah setuju jika Shana berkendara malam-malam begini. Tapi kali ini dia masa bodoh soal itu. Mungkin nanti jika Shana bertemu dengan Ayahnya, Ayahnya itu akan mulai mengomelinya.     Shana memarkirkan mobilnya di halaman rumah Agatha. Shana turun dari mobil sembari membawa ransel sekolah dan ransel yang berisi baju dan keperluan lain-lain. Shana juga menenteng plastik yang berisi makanan. Tadi ia menyempatkan diri untuk membeli makanan yang bisa ia bawa ke rumah Agatha.     Agatha keluar dari rumahnya bersama sang Mama. Ia berdiri di teras dan menyambut Shana. Mamanya segera memeluk Shana dengan hangat.     Agatha membawakan satu ransel Shana. Mereka langsung menuju ke kamar Agatha. Tadi Shana sempat beramah tamah dengan Papa dan Mama Agatha. Sampai akhirnya, Papa Agatha harus kembali bekerja di ruang kerjanya dan Mama Agatha harus menyiapkan makan malam.     "Jadi Sha, ada apa nih sampai lo minggat dari rumah?" Tampang Agatha tampak kepo maksimal.     "Ada sepupu gue dateng." Shana menjawab datar. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengeluarkan isi tas.     "Dan lo punya masalah sama sepupu lo itu? Kalian nggak akur? Atau apa?" Agatha masih penasaran. "Cerita, Sha!"     Shana mendudukkan dirinya di kursi belajar Agatha. Inilah konsekuensi yang akan Shana terima bila memilih menginap di rumah Agatha. Shana akan direcoki pertanyaan oleh Agatha. Agatha sendiri tak akan berhenti bertanya sampai ia puas dengan jawaban Shana.     "Sepupu gue itu cewek dan dia agaknya punya kelainan jiwa. Gue rasa dia punya kecenderungan untuk jadi psikopat. Sayangnya, pembawaan dia sangat manis kaya gadis-gadis normal pada umumnya. Semua orang percaya dengan topengnya. Tapi udah beberapa kali dia mencoba mencelakai gue dan orang-orang di sekitar gue." Shana menjelaskan dengan berat hati.     "Dan sekarang dia ke sini dengan tujuan apa?" Agatha tampak ikutan ngeri.     "Entah, gue juga nggak tau. Makanya gue kabur dari rumah. Takut dia bakal bunuh gue dalam waktu dekat." Shana menggusah napas.     Agatha tampak manggut-manggut. "Oke, lo tinggal di sini aja sampai dia pergi lagi dari rumah lo. Oh ya, selama ini dia tinggal dimana?"     "Mungkin dia bakal lama di sini. Dia bahkan sempet nyinggung soal kuliah di sini juga. Hiii, serem deh pokoknya. Btw, kayanya terakhir dia tinggal di Surabaya deh." Shana tampak merenung.     "Eh, user name i********: sepupu lo apa? Biar gue cari tahu keseharian dia." Agatha mulai memainkan handphonenya.     "Namanya Roselin. Tapi gue nggak tau Instagramnya apa," jawab Shana sambil turut memperhatikan handphone Agatha. Ya, Shana memang tidak terlalu aktif menggunakan sosial media. Ia hanya menggunakan w******p sebagai media untuk berkomunikasi.     "Sha! Yang ini bukan?" Agatha memperlihatkan layar handphonenya pada Shana.     "Iya," gumam Shana.     "Wah, dia lumayan aktif lho di i********:. Astaga, dia cantik banget, Sha. Mana dewasa banget lagi penampilannya. Kayanya dia sering upload tutorial make up dan hasil make up nya. Dia beauty vlogger kali ya? Terus nih liat, pengikutnya lumayan banyak." Agatha mengomentari Roselin.     "Hmm." Lagi-lagi, Shana hanya menggumam. Tak ada selera untuk menanggapi ucapan Agatha.     "Gila ya, dia turunan atau asli Indonesia, sih? Kulitnya putih banget, nyaris kaya transparan gitu. Cuma sayang ya, dia nggak terlalu tinggi. Paling tingginya se kita-kita. Kalau dia lebih tinggi lagi, pasti dia bisa jadi model profesional atau bahkan artis, nggak cuma jadi selebgram aja kaya sekarang." Agatha masih meracau.     "Nyokapnya asli orang Belanda. Makanya kulitnya putih gitu." Shana masih memberi balasan.     "Wih, asli, keren banget cewek ini. Roselin bisa jadi trendsetter, lho. Secara sense of fashion nya bagus banget gini. Btw, yang sodaraan sama lo, bokap atau nyokapnya?" Agatha ganti menatap Shana.     "Bokapnya lah. Lo kira gue ada darah Belandanya. Bokapnya Rose orang Indonesia asli tapi dia lama tinggal di Belanda, sekolah dan kerja di sana. Terus ketemu nyokapnya Rose dan nikah." Sekali lagi Shana menjelaskan pada Agatha.     Agatha tampak mengangguk-angguk paham. "Terus-terus, si Rose selama ini nggak tinggal di Belanda?"     "Pernah, tapi nggak tau kenapa, dia malah tinggal di Indonesia. Bokapnya juga punya perusahaan di Indonesia sih. Mungkin karena itu."     "Lo sebegitu nggak sukanya ya sama si Rose ini?"     "Gue bukannya nggak suka. Tapi gue takut, Tha. Yakin deh, kalau dia nggak pake topeng, dia nyeremin banget."     "Iya, iya, gue ngerti. Yuk cus makan malam dulu. Habis itu lo wajib bantu gue ngerjain tugas klipping PPKn."     "Gitu doang tugasnya, lo belum selesai?"     "Belum, hihi. Gue udah cari artikelnya. Tinggal gue print nanti sama potong-potong jadi bagian kecil-kecil. Gue juga belum cetak gambar. Ah iya, gue kan mau tambahin klipping gue dengan sedikit gambar-gambar yang bikin klipping gue cantik. Btw, lo udah jadi klippingnya?"     "Udah beres entah sejak kapan."     "Cih, iya deh, lo rajin. Sedangkan gue pemalas."     "Nah, tuh sadar."     Mereka tiba di meja makan. Papa dan Mama Agatha sudah lebih dulu duduk di sana. Mama Agatha mempersilakan Shana duduk dan menikmati makanan yang tersaji serta tak lupa menyuruh Shana menganggap ini rumahnya sendiri agar Shana nyaman.     "Makan yang banyak, ya. Kalian kan masih dalam masa pertumbuhan." Papa Agatha tampak memberi saran.     "Iya, Pa. Ini udah banyak, kaya porsi kuli." Agatha membalas dengan bergurau.     "Nak Shana mau tambah lagi?" Mama Agatha siap mengambilkan nasi lagi untuk Shana.     Namun Shana menggeleng cepat. Ini saja sudah hampir tidak habis karena kebanyakan, tapi Shana tetap harus menghabiskan makanan yang sudah ia ambil di piringnya. "Enggak usah, Tante. Ini sudah cukup."     "Eh, Ma, Shana masukin ke kartu keluarga kita aja. Biar anggota keluarga kita tambah. Lagian Shana juga bakal tinggal di sini dalam waktu lama. Dia takut dibunuh sama sepupunya kalau tetep tinggal di rumahnya. Sendirian pula." Agatha berujar riang tanpa beban. Sesaat kemudian, ia tampak memukul pelan mulutnya yang ember itu.     "Apa maksudnya?" tanya Papa Agatha sambil menatap Shana. Kali ini serius dan tidak ada yang namanya bercanda. Mama Agatha juga turut serta menatap Shana, dengan tatapan lembut tentu saja. Dan Shana terpaksa menceritakan semuanya.     Mendengar cerita Shana, kedua orang tua Agatha mulai mewanti-wanti dan memberi wejangan-wejangan pada Shana. Mereka tampak khawatir. Tentu saja karena mereka juga punya anak perempuan seusia Shana. Mereka pasti bisa merasakan kerisauan hati anaknya kalau sampai hal itu terjadi. Makanya mereka begitu berusaha memahami Shana.     "Ayah kamu kan polisi, Nak Shana. Apa Ayahmu tidak curiga pada Rose, sepupumu itu?" Mama Agatha menatap heran.     "Ayah menganggap bahwa Rose tidak punya masalah dengan kejiwaannya. Ayah berusaha netral. Tapi dia lebih percaya pada adiknya, alias ayah Rose, kalau Rose itu gadis manis yang baik hati. Sama sekali tidak punya kecenderungan untuk menjadi psikopat." Shana tampak menunduk.     "Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal bilang sama kami. Kalau kamu sungkan, kamu minta Agatha saja yang menyampaikan permintaanmu pada kami. Pokoknya anggap kami Papa Mama serta keluargamu sendiri, ya." Papa Agatha berkata dengan tenang tapi tak menerima bantahan.     Shana mengangguk kemudian tersenyum. Tatapannya teralih pada Agatha yang tampak senyum-senyum sendiri. "Kalau lo mau menganggap orang tua gue sebagai orang tua lo, lo harus panggil gue Kakak, oke!"     "Hush, kamu tuh ngomongnya kok gitu. Kalian kan seumuran. Shana nggak harus panggil kamu Kakak." Mama Agatha menegur Agatha.     "Ihhh, Agatha kan lebih tua tiga bulan dari Shana. Secara teknis, Agatha kakaknya Shana dong." Agatha berdalih.     "Terserah deh. Kamu tuh memang aneh-aneh aja." Papa Agatha menyela sebelum Agatha dan Mamanya saling berargumen lebih lama lagi.     "Hehe," kekeh Agatha akhirnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN