Shana dan Agatha kembali ke kamar Agatha setelah makan malam. Seperti rencana sebelum makan malam, Shana akan membantu Agatha menyelesaikan tugas klipping Agatha.
"Eh, Sha, flashdisk gue ilang coba!" Agatha berkata frustasi. Barusan ia sudah mengobrak-abrik tasnya. Ia bahkan menumpahkan seluruh isi tasnya ke lantai.
"Hah, kok bisa?!" Shana tampak ikut kaget. Ia berjalan mendekati Agatha.
"Ya mana gue tau lah. Padahal tugas yang mau gue print ada di flashdisk itu." Agatha melemparkan diri ke kursi belajar. Wajahnya jadi masam.
"Ya udah sini gue bantu cari materi baru aja." Shana memberi solusi.
"Tapi flashdisk gue ilang nih. Mana baru kemarin gue kasih gantungan kunci lagi. Kan sayang kalau ilang!" Agatha menggerutu.
"Oh yang flashdisk ada gantungan kuda warna pink itu kan?" tanya Shana.
"Bukan kuda, Sha. Itu Unicorn." Agatha meralat.
"Apa bedanya sama kuda?" Shana mengernyit.
"Beda lah. Kalau kuda biasa mah nggak lucu. Kalau Unicorn itu lucu." Agatha masih mendebat Shana.
"Iya deh. Terserah lo aja! Sekarang prioritas utama kita apa? Ngerjain tugas klipping lo kan?! Kalau gitu kita bagi tugas buat ngerjain klipping lo itu." Shana memilih mengalah daripada berdebat panjang lebar dan menghabiskan banyak waktu.
"Ya udah. Lo cari materi di google terus nanti serahin ke gue biar gue rapiin dan cetak." Agatha mulai membuka laptopnya.
"Lo kebagian materi apa kemarin?" tanya Shana yang sudah siap dengan handphonenya.
"Pertahanan dan Keamanan di Wilayah Perbatasan Indonesia," jawab Agatha.
Shana mencari materi itu menggunakan handphone dan mengirimkannya ke Agatha. Agatha tampak merapikan materi-materi itu dan langsung mencetaknya.
Setelah menyiapkan semua materi, Shana dan Agatha beralih untuk membuat klipping. Shana menggunting cetakan materi tadi menjadi potongan kecil berbagai bentuk.
Agatha juga tampak tak kalah sibuk. Ia menghiasi klippingnya dengan aneka gambar dan tulisan yang dibuat indah.
"Jadi, Tha, kapan terakhir kali lo pakai flashdisk itu?" Sembari menggunting, Shana bertanya.
"Kapan ya? Gue lupa, Sha. Mungkin ketinggalan di perpustakaan sekolah. Waktu hari jumat itu kita kan ke perpustakaan sekolah, nah gue pakai deh tuh flashdisk buat cari materi." Agatha berucap ragu. Ia hanya bisa mengira-ngira saja.
"Kok lo nggak tau sih flashdisk lo ilang?!" Shana bertanya dengan sebelah alis terangkat.
Agatha berhenti menempel kertas-kertas itu. Ia mendongak menatap Shana. "Gue punya banyak flashdisk kali, Sha. Cuma yang buat gue sayang kalau sampai flashdisk gue yang satu itu ilang tuh gue harus beli lagi gantungan kunci Unicornnya."
Shana mengangguk-angguk. Ia kemudian turut menatap Agatha serius. "Tha, mau denger analisis gue nggak?"
"Analisis apaan?" Agatha memandang Shana dengan wajah heran.
"Kalau ada korban percobaan pembunuhan di sekolah lagi, lo yang jadi tersangka berikutnya." Shana berkata yakin.
"What the hell! Serius lo? Kok lo mikir gitu sih?" Mata Agatha melotot dengan mulut ternganga.
Shana berdeham kemudian bicara lagi dengan suara diberat-beratkan. "Seperti kata Arthur. Lihat polanya!"
"Kalau gitu, siapa korban ketiga ini?" Agatha bertanya penasaran.
"Saingan lo di club kesenian siapa?" tanya Shana balik.
Agatha tampak mengusap dagunya. Ia berusaha berpikir sambil mengingat-ingat. "Kesenian kan dibagi jadi beberapa club lagi. Ada musik, drama, lukis, tari. Dan gue sih nggak punya saingan ya di club seni lukis. Secara gue agak-agak nggak aktif gitu di club itu. Gue aktifnya di ekskul PMR. Atau jangan-jangan anak PMR yang jadi sasarannya?"
"Tapi dari pola yang ada, korban dilukai berdasarkan kemampuannya. Kalau di PMR kan nggak ada yang signifikan untuk dilukai." Shana tidak setuju.
"Oh ya?" Agatha bertanya sangsi.
"Iya. Si Kelvin, berhubung dia saingan gue di kelas, dia dapet jatah luka di kepala. Sedangkan Adrian dapet luka di tangan. Padahal dia jago banget main piano," jelas Shana.
Agatha tampak mengangguk-angguk setuju. "Wah, iya juga sih. Tapi siapa ya saingan gue itu? Gue serius jarang bikin masalah sama orang. Apalagi sampai punya saingan. Gue kan bukan tipe orang yang ambisius."
Mereka terdiam sejenak. Sama-sama menerka target pembunuhan selanjutnya. Tapi keduanya sama-sama tidak mendapat jawaban.
"Lo ngerasa nggak sih Sha, selama ini target pembunuhan nggak jauh-jauh dari kita. Sejak kasus tahun lalu. Gue heran, kenapa para pelaku ini nargetin kita sebagai pemecah kasus!" Agatha mengernyit ngeri.
Shana hanya diam. Mungkin Agatha belum tau banyak soal kasus-kasus ini. Yah, tapi Agatha benar. Semua ini memang terjadi tak jauh-jauh dari mereka. Dan mereka lah yang kebagian peran untuk menyelesaikan karena masalah ini berhubungan dengan diri mereka masing-masing.
"Sha, lo pasti tau lebih banyak dari gue kan? Gue nggak minta lo jelaskan semua secara mendetail, tapi tolong kasih tau gue alasan kenapa kita yang dapet tugas untuk mencari tau siapa dalang kasus ini."
"Ya karena siswa lain nggak ada yang peduli. Nggak ada yang mikir buat ikut mecahin kasus ini, kan?" Shana mencoba mencari alternatif jawaban yang mudah.
"Nggak, gue nggak percaya itu alasannya! Selain itu, pasti masih ada alasan lain kan?"
"Karena target mereka adalah menghancurkan kita, Tha!"
Agatha diam. Tak salah lagi, mungkin besok ia akan menyandang status tertuduh dalam kasus ini.
***
Shana dan Agatha sudah membereskan perlatan yang tadi mereka gunakan untuk membuat klipping. Agatha sedang menggunakan kamar mandi sedangkan Shana sibuk mengecek handphonenya.
Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Arthur. Shana mengecek bagian pesan, siapa tahu Arthur juga mengirim pesan. Tapi rupanya tidak. Shana tidak mendapati satu pesan pun yang berasal dari Arthur.
"Kenapa, Sha? Muka lo serius amat?" Agatha baru saja selesai dari aktivitasnya di kamar mandi.
"Menurut lo, kenapa Arthur telepon gue sampai ada tiga puluh kali?" tanya Shana sambil tetap memandangi handphonenya.
"Wah, gila sih kalau itu! Kayanya dia kangen berat sama lo." Agatha mulai mendramatisasi keadaan.
"Ini nih yang membuat gue merasa lo cocok banget kalau jadian sama Verrel. Sama-sama tukang drama. Drama King and Drama Queen." Shana menyeringai.
"Heh, enak aja. Gue mah nggak se-drama Verrel ya. Dia mah nggak relevan, kalau gue masih mending." Agatha tampak tidak terima. "Btw, emang gue pernah ngomong kalau gue mau jadian sama Verrel?"
Shana menatap Agatha dengan dahi berkerut. "Jadi, lo emang punya rencana mau serius sama Verrel? Padahal baru kemarin gue lihat betapa nggak akurnya kalian."
"Hehe, gue sama dia udah baikan kok sekarang. Tapi ya emang belum ada rencana ke arah sana sih." Agatha tampak nyengir malu-malu.
"Ah, ciyeee-ciyeee, bentar lagi gue bakal dapet traktiran nih. Gue jadi ikut seneng dengernya, Tha." Shana tersenyum semringah sambil menatap Agatha dengan jahil.
"Jangan bilang siapa-siapa dulu. Lagian gue sama Verrel masih dalam tahap lebih deket dibanding temen biasa, gitu aja." Agatha menangkup pipinya sendiri untuk menutupi rona wajahnya yang jadi merah muda.
"Iya, iya, lo kan tau gue nggak ember." Shana meyakinkan.
Agatha tampak balas menatap Shana dengan pandangan curiga. "Kalau lo kapan, Sha? Udah jalan bareng masa nggak jadian-jadian. Kemarin malem lo jalan sama dia kan, pake acara nyuruh gue pulang aja karena lo baliknya lama. Atau jangan-jangan lo main rahasia-rahasiaan ya sama gue! Heh lo udah jadian kan, ngaku lo!" Agatha mulai menginterogasi Shana. Agatha bahkan memasang tampang preman tukang palak yang siap meminta seluruh penjelasan Shana.
Shana mengernyit bingung sementara Agatha menatap Shana dengan tampang sangar penuh minat dan kekepoan tiada tara.
"Hah, lo ngomong apa?" Shana berpura-pura tak paham.
Agatha mencibir akting Shana. "Cih, belagak b**o lo kalau ngomongin hal kaya begini. Ya hubungan lo sama Arthur lah, Sha. Udah sampai tahap apa?"
Shana membuang muka, risih ditatap begitu oleh Agatha. Apalagi topik pembicaraan mereka soal Arthur.
"Kenapa lo nggak bisa jawab? Sha, Sha, lo kalau udah taken sama Arthur, ngomong ke gue kek. Jujur gitu lho, Sha."
"Ck, apaan sih! Gue masih dalam tahap penjauhan sama Arthur," ungkap Shana.
"Hah, serius? Kok malah penjauhan sih? Biasanya orang tuh kalau mau pacaran itu pendekatan dulu bukannya penjauhan, Sha." Agatha berujar sangsi dan bingung tentu saja.
"Serius, Tha. Dia minta ada jarak di antara kami. Makanya, seperti yang lo bilang tadi, hubungan gue sama Arthur tidak akan sampai ke tahap pacaran." Shana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dan lo terima-terima aja?" Agatha melotot terheran-heran.
"Mau gimana lagi? Emang gue harusnya bersikap gimana?" Shana mengangkat bahu tak peduli.
"Sha, lo suka sama Arthur nggak sih? Kalau suka, ya lo harus berjuang dong. Arthur emang punya otak, tapi dia nggak punya hati. Lo tau itu kan? Sedangkan lo punya otak dan hati. Lo yang harus lebih agresif di sini!" tutur Agatha dengan menggebu.
Shana bengong mendengar nasihat Agatha yang lumayan tidak masuk akal. Shana bukan tipe cewek agresif. Apalagi dalam urusan membangun hubungan dengan cowok. Terlebih cowoknya macam Arthur yang kaku dan tidak bisa diprediksi jalan pikirannya.
Tiba-tiba dari luar rumah Agatha terdengar suara mesin mobil dimatikan. Shana dan Agatha berhenti bicara dan sama-sama menatap ke jendela.
"Ada tamu ya, Tha?" Shana bertanya.
"Kayanya gue kenal mobil itu." Agatha tampak melirik Shana tepat ketika handphone Shana berbunyi nyaring. "Suami lo jemput, tuh."
"Heh, enak aja!" tukas Shana. Ia meraih handphonenya dan segera menerima panggilan itu.
Seperti yang sudah Shana duga, Arthur lah si pelaku peneleponan itu. Arthur meminta Shana keluar dari rumah Agatha dan menemuinya. Shana hanya mengiyakan. Ia berjalan lambat ke luar rumah Agatha.
Arthur sudah berdiri di hadapan Shana saat Shana membuka gerbang rumah Agatha. Cowok itu menggunakan baju santai rumahan.
"Malam ini gue sengaja nginep di rumah Agatha, Ar," cicit Shana. Ini aneh, kenapa Shana jadi gugup bertemu Arthur begini? Ini semua pasti efek omongan Agatha yang rada-rada ngaco.
"Barusan bokap lo telepon gue. Beliau minta gue jemput lo di rumah Agatha." Arthur memasang wajah datar tapi tegas sehingga Shana sulit menolak.
"Tapi, Ar, gue punya alasan untuk nginep di rumah Agatha. Gue—" ucap Shana menggantung.
Agatha menyusul Shana. Sekarang ia sedang bergelayutan di pintu pagar. Ia bahkan memotong ucapan Shana. "Malam, Arthur. Mau jemput istri ya? Sebenernya istri lo aman kok di rumah gue. Daripada Shana tinggal di rumahnya sendiri sama sepupu yang creepy abis."
Shana menyikut rusuk Agatha agar cewek itu berhenti ngomong yang tidak-tidak. Shana merasa malu luar biasa sekarang. Shana kan bukan Agatha yang bermuka badak. Apalagi omongan Agatha melantur tidak jelas begitu dan bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Arthur menaikkan sebelah alisnya, bingung. Ia memilih tersenyum kaku lantaran tak tahu harus berkomentar apa. "Tapi bokapnya Shana minta gue jemput Shana. Gue akan temenin dia di rumah."
"Ihh, kalian lucu deh. Udah kaya pasangan beneran. Mana so sweet banget lagi. Pulang gih, Sha." Agatha menyenggol lengan Shana beberapa kali. Agatha juga memberi tatapan jahil untuk menggoda Shana.
"Lo ngusir gue?" tanya Shana tak percaya.
Agatha mengangguk mantap. "Demi kebaikan lo!"
Shana tak bisa membalas omongan Agatha. Demi kebaikan Shana? Dilihat dari sudut pandang manapun, semua itu hanya usaha Agatha untuk menipu Shana. Benar-benar ya Agatha ini!
Shana terpaksa mengemasi barang-barang yang tadi ia bawa ke rumah Agatha. Ia kemudian pamit pulang pada orang tua Agatha. Berbeda dengan Agatha yang hepi banget karena Shana dijemput Arthur, kedua orang tua Agatha tampak was-was.
"Kamu yakin Nak Arthur anak yang baik? Dia anak yang bertanggung jawab, kan? Apa perlu Tante sama Om buntutin mobil kalian." Mama Agatha mengantar Shana ke luar rumah.
Agatha sedari tadi masih merecoki Shana. Kali ini ia bahkan menjawab pertanyaan Mamanya untuk Shana. "Ma, tenang aja. Arthur tuh calon tunangannya Shana. Ayahnya Shana langsung lho yang memberi perintah ke Arthur buat jemput Shana di sini."
Shana mendelik ke arah Agatha. Lama-lama keki juga mendengar omongan Agatha yang penuh fiksi.
"Oh, ya?" Mama Agatha tampak melebarkan mata terkejut sekaligus tertarik.
"Ah, enggak, Tan. Agatha emang kebanyakan nonton sinetron deh. Jadi suka nggak jelas gitu kan ngomongnya." Shana menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menatap Agatha dengan tatapan yang bisa diartikan "diem lo, Tha!".
Agatha terkekeh melihat kekesalan Shana. Ia dan Mamanya berdiri di luar pagar. Mereka mengantarkan kepergian Shana dan Arthur.
***
Selama di jalan, Agatha mengirimi Shana pesan. Agatha masih belum kapok merecoki Shana dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Arthur.
Berhubung Arthur juga tidak mengajak Shana bicara, Shana tak keberatan membalas semua pesan absurd dari Agatha. Sesekali ia bahkan senyum-senyum tidak jelas gara-gara celotehan Agatha.
"Chat-an sama siapa?" Arthur memecah keheningan.
Shana mengangkat wajahnya dari handphone dan menatap Arthur sekilas. "Agatha."
"Ngomongin gue lagi?" tebak Arthur.
"Kok lo tau?" Upsss, Shana keceplosan. Gara-gara konsentrasinya terpecah, ia jadi tidak bisa berpikir dengan benar kan.
Arthur melirik handphone Shana sekilas kemudian mulai mencibir. "Padahal gue cuma bercanda. Taunya beneran. Nggak ada topik lain yang bisa kalian bahas selain tentang gue?"
Shana menggeleng secara refleks. Ya ampun, kok ia justru menggeleng, sih?! Entah untuk alasan apa ia harus menggeleng.
Arthur tertawa. Shana terperangah. Ia bahkan tak bisa mengalihkan matanya dari wajah Arthur. "Ar, kok lo ganteng sih?"
Arthur menghentikan tawanya secara mendadak. Kini ia tampak mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Lo lagi sakit?"
"Hah?" Shana terlihat kebingungan.
"Nggak biasanya lo ngomong hal aneh kaya barusan." Arthur memicingkan mata.
Shana menunjukkan handphonenya pada Arthur. "Oh, itu Agatha yang nyuruh."
Kali ini Arthur hanya menggeleng-geleng. Ia benar-benar speechless atas tingkah Shana.
***