¦Part 14¦

1734 Kata
    Shana dan Arthur sudah sampai di rumah Shana. Shana membuka pintu garasi untuk menyimpan mobil Arthur. Garasinya memang kosong karena mobil Shana masih ada di rumah Agatha.     Shana dan Arthur berjalan lambat menuju pintu depan rumah Shana. Sebelum mereka masuk, Shana menghentikan langkah dan menghadang Arthur.     Shana ragu sejenak untuk membuka mulut dan bicara. Tapi ia perlu memberitahu hal ini pada Arthur. "Ar, lo tau nggak kalau ada sepupu gue di rumah ini?"     Arthur mendekatkan wajahnya ke wajah Shana. Ia juga mulai bicara dengan berbisik-bisik. "Iya, bokap lo udah bilang. Namanya Rose kan? Dan kata bokap lo, dia sedikit psikopat."     "Bokap gue bilang gitu?" pekik Shana takjub. Shana lumayan keheranan. Shana pikir selama ini ayahnya tidak percaya padanya. Shana pikir ayahnya tidak pernah menganggap sepupunya itu punya jiwa psikopat.     "Iya, makanya bokap lo minta gue nemenin lo." Arthur berkata lagi.     Shana mengangguk-angguk. Ia membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk. Arthur mengikutinya.     Baru beberapa langkah, sebuah suara menginterupsi langkah Shana. Shana terpaksa berhenti berjalan dan mendapati si pemilik suara berdiri di tangga teratas menuju lantai dua rumah Shana.     "Wah, wah, aku pikir kamu kabur dan nggak akan kembali ke rumah ini dalam waktu dekat, Sha." Rose tampak tersenyum. Ia mengalihkan tatapannya dari Shana ke Arthur. "Halo, Arthur. Om Gerald bilang, kamu sering nginep di sini karena rumah kakek kamu jauh. Kamu pasti akrab sama Shana, ya?"     Shana tak mengomentari satu pun ucapan Rose. Ia malah sedang berpikir. Apa maksud ucapan terakhir Rose? Apa Ayahnya sudah berbohong pada Rose bahwa Arthur memang sering menginap di sini agar cewek itu tidak curiga pada keberadaan Arthur? Wah, Ayahnya memang hebat.     "Ya, kami lumayan akrab. Di sekolah, kami ada di kelas yang sama. Dan omong-omong, saya bayar sewa kamar di rumah ini." Arthur berkata diplomatis.     Shana hanya diam. Ia takut mengacaukan drama yang sedang Arthur lakoni.     Rose mengangguk paham. Ia tersenyum lagi dan pamit undur diri. "Begitu rupanya. Ah, ini sudah terlalu larut. Aku tidur dulu ya. Kalian juga harus segera pergi tidur. Selamat malam."     Shana dan Arthur memandangi kepergian Rose. Mereka sama-sama diam sampai Rose menghilang di salah satu kamar di rumah Shana.     "Kamu sama Ayah lagi buat drama ya?" Shana melirik Arthur.     Arthur mengernyit bingung sesaat. "Yep, biar Rose nggak menyelidiki latar belakangku."     "Eh, btw, kok jadi ngomongnya pakai aku-kamu sih. Ketularan bahasa bakunya Rose, nih." Shana tertawa canggung kemudian.     "Aku kira kamu sengaja." Arthur tersenyum menggoda. Dan seperti biasa, Shana jadi salah tingkah.     "Ah, lo bisa aja." Shana berucap dengan cepat lalu segera ngacir ke kamarnya. Ya Tuhan, iman Shana tidak kebal dengan godaan Arthur. ***     Arthur manatap Shana yang berlari-lari meninggalkannya. Arthur terkekeh entah untuk alasan apa. Arthur memang suka menggoda Shana dengan hal-hal sepele tapi rupanya berefek besar.     Berhenti tersenyum-senyum sendiri, Arthur merebahkan diri di sofa. Daripada di kamar, ia lebih baik tidur di sini. Ia bisa mengawasi seluruh aktivitas Rose dan Shana. Apabila ada yang mencurigakan, Arthur bisa bertindak.     Arthur tahu kalau Pak Gerald sudah memasang banyak CCTV untuk memantau rumah ini. Arthur juga punya akses untuk mengecek CCTV di rumah Shana ini.     Tadi pagi, Pak Gerald sempat mengontak Arthur. Pak Gerald memberitahu Arthur bahwa sepupu Shana akan datang dan menginap di rumah Shana untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya. Tentu saja hal itu bukan masalah jika sepupu Shana adalah orang normal. Masalahnya, Pak Gerald sudah menjabarkan track-record kejahatan yang sudah sepupu Shana lakukan pada Shana. Kejahatan yang sepupu Shana lakukan itu mulai dari yang ringan seperti hanya iseng belaka sampai yang berat seperti melukai dan mengancam nyawa Shana.     Hingga beberapa jam yang lalu, Pak Gerald kembali mengontaknya. Pak Gerald meminta Arthur menjemput Shana di rumah Agatha dan membawa cewek itu pulang. Juga Arthur diminta menemani Shana malam ini dan mungkin malam-malam yang akan datang. Intinya, Pak Gerald meminta Arthur menjaga Shana dari sepupu Shana yang creepy abis—menurut Agatha. Dan Arthur tak keberatan soal itu.     Arthur memejamkan matanya. Ia mencoba rileks tapi tetap terjaga. ***     Shana masih terjaga sampai tengah malam. Matanya masih nyalang menatap sekitar kamar. Rasa kantuknya seolah menguap dan lenyap.     Shana bergerak gelisah. Ia sudah mengubah posisi tidurnya beberapa kali tapi tetap tak berhasil menemukan posisi yang nyaman.     Suasana gelap dan tenang di kamar Shana seharusnya bisa membawa Shana terlelap. Namun nyatanya itu tak mempengaruhi Shana.     Shana terlalu banyak pikiran sampai-sampai rasanya jika ia bisa menuangkan pikirannya dalam tulisan, ia akan menerbitkan satu novel karyanya. Sayangnya, Shana hanya bisa terus menerus memikirkan hal-hal yang mengusik ketenangannya ini.     Sejak bertemu Rose malam ini, Shana jadi meyakini satu hal—yang sebenarnya belum pasti sih. Rose terlibat dalam kasus percobaan pembunuhan di sekolahnya.     Kedatangan Rose ke sini terdengar seperti kebetulan yang sangat kebetulan. Sampai rasa-rasanya Shana tidak bisa percaya bahwa ini hanya kebetulan.     Ya, Shana tidak percaya semua ini hanya kebetulan! Shana mengubah posisi berbaringnya dengan posisi duduk. Shana berpikir lebih serius.     Rose mungkin berbohong soal kedatangannya yang baru tadi pagi. Cewek itu punya uang dan beberapa masalah bisa diselesaikan dengan uang. Rose juga punya keberanian yang cenderung nekad. Jadi apa yang tidak bisa Rose lakukan?     Shana mencoba memutar otaknya lagi. Pada kasus pertama dimana dia dijadikan tertuduh, pelaku yang memancing korban ke gudang adalah cewek yang mirip Shana. Shana harus mengakui bahwa ia memiliki kemiripan dengan Rose. Ingat, mereka kan saudara sepupu! Hanya saja warna kulit Shana sedikit lebih gelap daripada warna kulit Rose yang putih transparan. Juga model rambut Shana berbeda dengan model rambut Rose. Tapi di zaman modern ini, apasih yang tidak bisa diubah? Rose bisa saja kan menggunakan rambut palsu.     Rose bahkan tega mencelakai orang lain demi memenuhi keinginannya. Sampai di sini Rose sudah terlihat mencurigakan, kan? Ia sangat-sangat berpotensi menjadi pelaku. Masalahnya, kenapa Rose mencelakai mereka?     Shana menghela napas. Apa benar Rose terlibat? Tapi bagaimana dia bisa berkeliaran di sekolah?     Shana tau bahwa pelaku dalam kasus percobaan pembunuhan ini ada banyak, lebih dari dua tentu saja. Mungkinkah Rose mendapat kemudahan akses dari pihak-pihak tertentu? Atau Rose adalah dalangnya? Bisa saja kan Rose mengerahkan orang lain untuk menjadi pionnya.     Kepala Shana berdenyut-denyut. Memikirkan hal rumit begini ternyata menyita banyak tenaga. Shana meraih gelas di nakas. Buruknya, gelas itu kosong.     Shana terpaksa turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. Sesaat ia mengintip dari celah pintu. Ia memastikan tak ada Rose yang berkeliaran seperti hantu jaga malam.     Shana menghela napas lega. Ia segera keluar kamar dan berjalan cepat menuju dapur. Ia mengisi penuh gelasnya dengan s**u vanila. Semoga setelah minum s**u, kantuk segera datang. Ia segera menenggak habis segelas s**u itu.     Shana mencuci gelasnya dan berjalan kembali ke kamarnya. Saat melewati ruang keluarga, Shana mendapati seseorang tertidur di sofa.     Dengan penasaran, Shana bergerak mendekati sosok tersebut. Sesaat Shana sempat mengira itu ayahnya, namun nyatanya sosok itu adalah Arthur.     Arthur membuka mata dengan cepat membuat Shana terlonjak kaget. "Lo nggak tidur?" tanya Arthur begitu mendapati orang yang mengusik ketenangannya adalah Shana.     "Barusan dari dapur ambil air minum." Shana berucap setenang mungkin. Padahal ia tadi sempat punya niatan untuk berteriak heboh karena kaget. "Lo sendiri nggak tidur?"     "Nggak, gue harus jagain lo. Kan nggak lucu kalau lo diapa-apain Rose padahal ada gue di sini tapi dalam kondisi tidur." Arthur berujar lirih.     "Gue juga tidur di sini aja ya, Ar. Daritadi gue nggak bisa tidur di kamar." Shana tampak meminta persetujuan.     "Terserah lo, tapi jangan deket-deket gue. Bukan muhrim soalnya." Arthur tampak mengedikkan bahu.     "Iya tau. Bentar ya, gue ambil bantal, guling, sama selimut dulu." Shana langsung melesat ke kamarnya. Tak sampai lima menit, ia sudah kembali ke ruang keluarga dengan membawa seperangkat alat tidur yang dia ambil dari kamarnya.     Shana membagikan selimut dan bantal untuk Arthur. Shana sudah menggelar bed cover dan selimut untuk alas tidur di atas lapisan karpet. Ia juga tampak menata bantal dan guling kesayangannya. Shana sudah siap tidur saat suara Arthur terdengar menginterupsi.     "Tukeran tempat, Sha. Biar gue yang di karpet." Arthur mulai bangkit dari tidurnya.     "Nggak, nggak apa-apa kok gue yang di sini. Lagian ini udah nyaman banget. Serius, Ar. Mending lo tetep di sofa aja." Shana menolak perintah Arthur.     "Awas ya kalau sampai besok pagi lo sakit dan akhirnya justru ngerepotin gue," ancam Arthur. Ia sudah berbaring kembali di sofa.     "Iya, iya, tenang aja. Gue bukan cewek ringkih penyakitan kok." Shana berkata meyakinkan. Setelah itu ia mulai memejamkan mata. Tak sampai lima menit, ia sudah tenggelam ke dalam tidurnya. ***     Arthur masih terjaga. Walau Shana ada di dekatnya, Arthur tak bisa sembrono dalam mengawasi situasi. Masalahnya, ini seperti menghadapi musuh dalam selimut.     Arthur daritadi menyadari bahwa pintu kamar sepupu Shana sering terbuka lalu tertutup lagi. Rasa-rasanya kemampuan Arthur dalam mendengarkan bunyi-bunyian makin peka saja. Atau karena ini sudah larut dan situasi kelewat hening?     Arthur masih tetap memejamkan mata. Tuh kan, Rose lagi-lagi membuka pintu. Apa sih yang dia lakukan dengan keluar masuk kamar?     Arthur membuka matanya sedikit. Ia memicing ke arah kamar Rose. Pintunya tertutup.     Arthur masih terus mengamati. Tak berselang lama, Rose kembali membuka pintu. Ya ampun, entah sudah berapa kali cewek itu buka tutup pintu. Apasih yang sedang ia rencanakan?     Arthur melihat Rose keluar dari kamarnya. Gadis itu tampak makin pucat saja. Benar-benar mirip hantu yang kelayapan di malam hari. Kulitnya kontras dengan kegelapan malam. Sosoknya yang glow in the dark tampak jelas berjalan menuruni tangga.     Arthur masih terus mengamati. Ia masih berakting seperti pangeran tidur. Tenang dan damai. Tapi sejujurnya, Arthur juga merasa takut pada cewek bernama Rose itu. Cewek itu mengingatkan Arthur pada mamanya yang punya gangguan mental. Kenangan yang cukup buruk.     Rose berjalan menuju dapur. Arthur jadi bertanya-tanya, apakah semua cewek pergi ke dapur saat tengah malam? Buktinya, Shana dan Rose sama-sama pergi ke dapur di sela-sela tidur mereka. Yah, itu tidak penting sih.     Rose keluar dari dapur. Matanya tampak jelalatan mengamati sekitar. Sepersekian detik kemudian, mata Rose berhenti di ruang keluarga.     Rose berjalan sangat pelan sampai-sampai Arthur tidak bisa merasakan pergerakannya. Mungkinkah kaki Rose tidak menapak pada tanah? Atau memang tubuh Rose sangat ringan?     Yang jelas, Arthur kembali fokus berakting. Sepertinya berhasil. Rose tidak menyadari Arthur yang masih terjaga. Rose langsung mendekati Shana. Cewek itu menatap adik sepupunya dengan wajah tanpa ekspresi.     Arthur tak bisa membaca maksud dari tatapan Rose. Walau Arthur sering bergaya-gaya dengan tampang datar, ia tetap tidak memiliki kemampuan membaca ekspresi orang yang bertampang datar juga.     Lupakan soal itu karena sekarang Rose tampak menyeringai. Ya Tuhan, seringaiannya mengerikan. Arthur yakin Shana akan berteriak histeris kalau ia melihat wajah Rose yang seperti itu. Sayangnya Shana sedang tidur sekarang.     Rose ganti menatap Arthur. Untung saja Arthur hanya membuka matanya sedikit sehingga Rose tidak menyadari bahwa sedari tadi Arthur mengintip.     "Dasar anak-anak bodoh!" Rose tampak tersenyum meremehkan.     Arthur menggeram dalam hati. Tapi ia tidak boleh terpancing emosi. Arthur punya otak dan bukannya hati. Jadi ia tidak perlu menanggapi.     Tunggu waktu yang tepat. Arthur akan membuktikan siapa yang bodoh di sini.     Arthur sengaja terbatuk-batuk kecil. Rose sempat kaget dan berdiri kaku mengamati Arthur. Tapi berhubung Arthur melanjutkan tidurnya, Rose langsung berlalu masuk ke kamar.     Mendengar Rose sudah menutup pintu, Arthur membuka mata lebih lebar. Ia mengerutkan dahinya dan mulai berpikir serius. Jadi apa kaitan Rose dengan semua ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN