Shana terbangun dari tidurnya dengan keringat mengalir di dahi dan tengkuknya. Ini bukan karena ia kegerahan, tapi ia baru saja mendapat mimpi buruk.
Mimpi yang membuatnya lari pontang-panting untuk menyelamatkan diri. Ketika ia tersadar, yang tersisa hanyalah lelah.
Shana melihat sekitarnya. Ia mencari keberadaan Arthur. Tapi hasilnya nihil. Shana tak mendapati Arthur di sofa yang semalam mendadak menjadi tempat tidur Arthur. Apa Arthur sudah pergi dari rumah Shana? Lalu sekarang Shana ada di rumah sendirian bersama Rose gitu? Apa-apaan ini!
"Haaaaa," teriak Shana begitu seseorang menyentuh bahunya. Tidak salah lagi, orang itu pastilah si Rose.
Ini persis seperti mimpi Shana barusan. Shana yang sedang berada di rumah sendirian. Rose yang menghampirinya dengan membawa pisau daging dan mengayunkan pisau itu ke arah Shana. Dan semua berakhir dengan genangan darah Shana.
"Jangan teriak-teriak dong. Masih pagi tau nggak!" tukas orang yang menepuk bahu Shana.
Shana menghela napas lega. Ia kenal dengan suara itu. Ya, itu suara Arthur.
Shana memutar tubuhnya dan mendapati Arthur berdiri di hadapannya. Shana hanya bisa tersenyum malu-malu karena bertingkah memalukan. "Sori, barusan gue mimpi buruk. Jadi gue kira bukan lo yang nepuk bahu gue."
Arthur memasang wajah masam. Ia kemudian menyalakan TV dan kembali rebahan di sofa.
"Jam berapa sekarang?" tanya Shana.
"Setengah enam." Arthur menjawab singkat.
"Hah, jam setengah enam?" Shana membeo jawaban Arthur. Wajahnya jadi makin pucat saja.
"Iya, emang kenapa?" Arthur mengerutkan dahinya.
"Siap-siap sekolah dong!" Shana menyibak selimutnya dan segera meluncur ke kamarnya. Arthur hanya mengedikkan bahu dan kembali menonton TV.
***
Setengah jam kemudian, Shana sudah selesai bersiap. Ia merapikan rambutnya sambil berjalan menuruni tangga.
"Ar, lo di mana?" Shana mengedarkan pandangan ke penjuru rumahnya.
"Arthur ada di dapur." Rose muncul dari balik tangga.
Shana berhenti melangkah. Ia terkejut karena bertemu Rose di tangga. Tiba-tiba saja nyali Shana menciut. Shana memikirkan banyak hal buruk yang bisa Rose lakukan di tangga ini untuk mencelakai Shana. Bisa saja kan Rose mendorong Shana hingga Shana jatuh terguling-guling di tangga? Apa Shana harus berteriak memanggil Arthur sekarang?
Tapi tidak seperti yang Shana duga, Rose hanya berjalan tanpa mengusik ketenangan Shana. Rose menaiki tangga dengan anggun dan langsung menuju ke kamarnya.
Shana mengerutkan dahinya. Kenapa Rose tidak melakukan hal buruk apapun padanya? Atau selama ini Shana lah yang terlalu berpikiran negatif?
"Berangkat sekarang?" Arthur berjalan keluar dari dapur dan menunggu Shana bergabung dengannya.
"Iya," gumam Shana. Ia menuruni tangga dengan cepat.
***
"Lo udah ketemu Rose pagi ini?" tanya Shana begitu Arthur masuk ke mobil.
"Udah, kenapa emang?" Arthur mulai menjalankan mobilnya.
"Dia nggak bertingkah macem-macem kan ke elo?" tanya Shana was-was.
Arthur meneliti raut wajah Shana. "Lo khawatirin gue?"
Shana menggeleng cepat. Ia segera menatap jalanan dari samping.
Arthur mengangguk paham. Ia juga mulai konsentrasi menyetir. "Rose nggak akan bisa celakain gue. Secara tenaga gue jauh lebih kuat dari dia. Yang terpenting sekarang adalah dia nggak melakukan sesuatu yang berbahaya ke elo."
"Tapi, Ar, Rose itu punya otak yang licik. Mungkin secara tenaga dia emang kalah, tapi otak kriminalnya mungkin jauh lebih s***s daripada otak lo." Shana kembali menatap Arthur serius.
"Ya, gue tau itu." Arthur setuju dengan ucapan Shana. Bagaimanapun, orang seperti Rose punya jalan pikiran yang susah ditebak dan tergolong nekad. Itulah yang membuat orang dengan pikiran baik kadang kalah dengan orang berotak licik.
"Apa rencana lo sekarang?" tanya Shana tanpa melihat ke Arthur.
Arthur menggeleng. "Belum ada rencana."
"Flashdisk Agatha hilang entah sejak kapan. Gue rasa dalam waktu dekat akan ada korban lagi," ucap Shana.
"Semuanya masih berupa dugaan-dugaan. Gue belum bisa ambil langkah, Sha." Arthur menghela napas.
"Ar, kalau kita nggak segera bertindak, pelaku akan merasa aman dan berada di atas angin. Pelaku ini bakal lebih meremehkan kita. Akhirnya, banyak siswa yang akan jadi korban di kasus ini." Shana mendesak Arthur.
Arthur tampak berpikir sejenak. "Oke, gue akan cari tahu keadaan dua korban kemarin dan juga hasil analisis bukti yang ditemukan di TKP. Gue juga akan mencari bukti-bukti lain dan keterlibatan orang-orang di dalam kasus ini."
"Gue boleh ikut, kan?" Shana menatap Arthur dengan tatapan memohon.
Arthur sebenarnya ingin menolak. Namun melihat kesungguhan Shana, Arthur jadi tak tega. "Terserah lo aja."
***
Shana dan Arthur berjalan santai ke kelas. Mereka tidak berjalan bersisihan. Shana berjalan beberapa langkah di depan Arthur.
Arthur memang sungguhan berniat merealisasikan rencana menjaga jarak dengan Shana. Berhubung Shana sudah bisa memahami maksud Arthur, Shana juga tidak tampak keberatan.
"Agatha?" Shana tampak mengernyitkan dahinya dalam-dalam saat mendapati Agatha terduduk lesu di depan gudang tempat anak-anak club seni menyimpan hasil lukisan mereka.
"Sha," gumam Agatha lirih.
Shana bisa melihat betapa pucatnya Agatha. Bahkan mata Agatha tampak merah dan sembab. Apa Agatha barusaja menangis?
"Tha, lo kenapa?" Shana segera merangkul Agatha.
Agatha tidak menjawab pertanyaan Shana. Ia justru mulai menangis.
Arthur menyadari adanya situasi tidak beres. Ia segera mencari-cari hal tidak beres itu.
Dan dugaannya benar. Arthur bisa melihat cowok dengan tangan kanan berdarah-darah tergeletak di gudang penyimpanan lukisan. Arthur berjongkok di depan cowok itu. Ia mengecek nadi dan napas korban. Tak lupa, Arthur juga memanggil ambulans dan polisi.
Pandangan Arthur jatuh ke tangan korban yang tidak terluka. Cowok itu menggenggam sesuatu yang ukurannya lumayan menyita perhatian.
Pintu ruang gudang penyimpanan lukisan itu terhempas. Agatha menderap ke arah korban. Agatha berniat mengambil sesuatu di genggaman korban tapi Arthur berhasil menghalangi.
"Arthur minggir!" Agatha mendorong tubuh Arthur. Arthur tetap bergeming.
Shana menarik Agatha mundur. "Tha, lo jangan sentuh korban sembarangan."
"Gue cuma mau ambil flashdisk gue, Sha!" Agatha melepaskan diri dari Shana. Ia mulai mencoba menyingkirkan Arthur lagi.
"Sha, bawa Agatha keluar." Arthur masih menghalangi Agatha.
"Nggak, gue harus ambil flashdisk itu sebelum polisi dateng. Gue nggak melalukan kesalahan apapun. Gue nggak mau gara-gara flashdisk itu, gue dianggap sebagai pelaku yang mencelakai cowok itu! " Agatha mendorong tubuh Arthur dengan brutal.
"Cukup, Agatha! Sekarang lo keluar dari ruangan ini." Arthur membentak Agatha.
Agatha terdiam. Ia cukup kaget dibentak begitu oleh Arthur. Shana berhasil membawa Agatha keluar dari gudang itu tanpa perlawanan.
"Itu Yoga," ucap Shana pada Arthur sesaat sebelum ia meninggalkan gudang.
Arthur mengepalkan tangannya. Matanya kembali meneliti korban itu. Benar kata Shana, itu Yoga.
***
Tak sampai lima menit, polisi yang ternyata masih berjaga di sekolah ini mulai berdatangan. Mereka segera menolong korban. Begitu ambulans datang, korban yang ternyata adalah Yoga itu langsung di evakuasi ke rumah sakit.
Arthur sudah memberikan keterangan pada polisi-polisi itu. Arthur dan Shana dijadikan saksi. Sementara Agatha masih diinterogasi.
Saat polisi-polisi itu memeriksa flashdisk yang ada di genggaman korban, mereka menjadikan Agatha sebagai tertuduh kasus ini. Namun sama seperti Shana, Agatha masih belum ditahan. Itu semua berkat usaha Arthur dalam meyakinkan polisi-polisi itu.
"Kalian akan tetap kami awasi!" seru polisi-polisi itu sebelum meninggalkan Shana, Agatha, dan Arthur.
Shana, Agatha, dan Arthur hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka tidak berani protes mengingat posisi mereka di sini adalah tertuduh.
Shana mengajak Agatha dan Arthur ke taman belakang sekolah. Tempat itu memang sepi dan jarang didatangi oleh siswa SMA ini. Barangkali kebanyakan siswa takut pada rumor bahwa taman belakang sekolah itu angker.
"Tha, lo bisa ceritain ke kita gimana semua ini bisa terjadi?" tanya Shana perlahan.
"Gue udah ceritain semuanya ke polisi." Agatha tampak menyeka air mata yang ada di pipinya.
"Tapi lo belum cerita ke kami. Kami juga perlu tau cerita lo supaya kami bisa bantu lo. Btw, sori tadi gue bentak lo." Arthur tampak serius dengan ucapannya.
Agatha mengangguk. "Oke, gue maafin."
"Nah, ayo cerita, Tha!" pinta Shana.
Agatha menghela napas lalu tampak berpikir sejenak. "Oke, gue akan cerita. Semalem pas kalian cabut dari rumah gue, gue dapet pesan dari nomer asing. Dia bilang dia nemuin flashdisk gue dan berniat balikin flashdisk itu. Dia minta ketemu gue pagi ini jam enam di gudang penyimpanan lukisan. Gue bersyukur banget ada yang nemuin flashdisk gue. Gue bela-belain bangun pagi dan berangkat ke sekolah pagi buta. Eh, pas gue sampe di gudang, gue malah nemuin cowok terkapar dengan tangan berdarah-darah. Berhubung gue panik, gue langsung ke luar dari gudang dan menenangkan diri. Nggak lama setelah itu, kalian dateng."
Shana dan Arthur saling pandang. Kemudian Shana segera bertanya, "Lo kenal Yoga, Tha?"
Agatha menggeleng. "Gue tau dia anak PMR juga gara-gara kemarin kita datengin dia di UKS."
"Dia bukan anak club kesenian?" Arthur menaikkan sebelah alisnya.
"Gue nggak tau." Agatha mengedikkan bahunya.
Mereka bertiga terdiam cukup lama. Sampai akhirnya Arthur yang buka suara. "Kalian sadar nggak, ketiga korban di kasus ini cowok?"
Entah ini hanya kebetulan belaka atau memang ada sesuatu di sini.
***
Arthur sudah mencari rekaman CCTV yang mengarah ke koridor di area gudang penyimpanan lukisan. Tapi hasilnya nihil. Ternyata koridor di sekitar ruangan itu tidak dipasangi CCTV.
Walau begitu, Arthur belum menyerah. Ia bahkan nekad mendatangi polisi-polisi itu hanya sekedar untuk merecoki mereka. Usaha Arthur tak terlalu sia-sia. Walau ia tidak mendapat banyak penjelasan dari polisi, Arthur tahu beberapa hal soal kasus Yoga.
Pertama, s*****a untuk melukai Yoga tidak disembunyikan di tingkap. s*****a itu disembunyikan di dalam kotak kayu untuk menyimpan panil yang biasa digunakan saat pameran lukisan berlangsung di SMA Argosaka ini. Kedua, saat ditemukan, darah korban sudah mulai mengering. Itu artinya, korban dilukai jauh sebelum Agatha menemukan korban itu. Ketiga, korban dibius namun saputangan untuk membius korban ditinggalkan di saku baju seragam korban. Apa artinya semua ini?
Arthur kembali mencari keterangan tentang dua korban sebelum Yoga. Ia menghubungi Pak Gerald. Pada dering pertama, telepon dari Arthur langsung tersambung.
"Halo, Pak Gerald. Pak Gerald ada waktu untuk bicara?" Arthur membuka percakapan. Ia berjalan ke area belakang sekolah untuk menghindari keramaian.
"Iya saya ada waktu. Apa ada yang perlu kita bicarakan?" tanya Pak Gerald.
Arthur tampak berpikir sebentar. "Saya butuh info tentang dua korban terdahulu."
"Oke. Kapan kita bertemu? Saya sedang tidak bisa datang ke sekolahmu. Kita harus bertemu di luar sekolah." Pak Gerald menyetujui.
"Sekarang juga. Saya akan datang ke kantor Pak Gerald."
"Kita bertemu di kedai kopi dekat kantor saya saja."
"Baiklah."
Begitu sambungan telepon terputus, Arthur segera mengendap-endap keluar dari sekolah. Ia menuju ke bagian belakang sekolah yang sepi.
Arthur memanjat pohon. Lalu ia menopang tubuhnya di salah satu cabang pohon dan melompat keluar pagar sekolah. Syukurlah tak ada saksi mata untuk aksi nekadnya itu.
Arthur melirik ke kanan dan ke kiri. Ia menyempatkan membuka notifikasi pesan di handphonenya.
From : Nizar
Ar, lo dimana? Gue udah stay di tempat satu nih.
To : Nizar
Gue udah di luar pager sekolah. Lo ke posisi dua sekarang.
From : Nizar
Otw.
Arthur memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku seragam. Ia bersandar di pagar sekolah agar tidak terlalu kentara.
Tak sampai lima menit, Nizar sudah menghentikan motornya di depan Arthur. Nizar mengenakan celana hitam, jaket kulit berwarna hitam, dan helm full face.
"Pesenan lo," ucap Nizar sembari menyodorkan kantong kertas ke Arthur.
"Thanks, Bang. Kita cari toilet umum atau pom bensin terdekat. Gue perlu ganti baju dulu."
***