¦Part 16¦

1878 Kata
    Arthur dan Nizar melaju menuju ke tempat mereka akan bertemu dengan Pak Gerald. Arthur sudah mengganti baju seragamnya dengan kaus dan celana jeans santai. Tak ada yang tahu soal bolosnya Arthur.     Arthur sengaja mengajak Nizar untuk menemui Pak Gerald. Secara, hanya Nizar lah yang bisa membantu Arthur membolos. Arthur tidak mungkin mengajak Verrel maupun Akbar. Bisa-bisa mereka semua ketahuan sebelum berhasil menyusup keluar sekolah.     Nizar baru saja menghentikan motor sport-nya di pelataran sebuah kedai kopi. Arthur segera turun dari boncengan.     "Nggak papa nih gue ikutan nimbrung?" Nizar membuka helm full face-nya.     "Gue percaya sama lo." Arthur berlalu masuk ke kedai kopi.     Nizar tampak mengikuti Arthur. Mereka segera menuju ke meja yang agak terpisah dari meja-meja pengunjung lainnya.     Rupanya Gerald sudah sampai lebih dulu. Ia tampak semringah melihat kemunculan Arthur dan Nizar.     "Membolos lagi?" Gerald bertanya begitu Arthur duduk di hadapannya.     "Sudah biasa," kekeh Arthur.     "Dasar anak pintar. Sering membolos pun tetap dapat peringkat satu paralel." Gerald juga terkekeh.     Arthur mengulum senyum dan memilih tidak berkomentar.     "Oh ya, hallo Nak Nizar. Lama tidak bertemu. Terakhir kali kita bertemu saat menjenguk Arthur di rumah sakit, kan? Rupanya sudah satu tahun lamanya. Gimana sama kuliah kamu? " Gerald ganti menyapa Nizar.     "Lancar, Om. Saya sudah mulai terbiasa dengan jadwal kuliah yang padat dan mengurus diri sendiri. Oh ya, saya senang bisa ketemu Om lagi. Gimana kabar Om Gerald?" balas Nizar.     "Ya, seperti yang kamu lihat. Saya baik-baik saja. Tapi kalau kita bertemu seperti ini, pasti sesuatu yang buruk telah terjadi." Gerald mengedikkan bahunya.     Nizar tampak mengangguk-anggukkan kepala menanggapi perkataan Gerald. Benar juga ya. Nizar hanya akan bertemu Gerald saat ada kasus semacam ini.     "Oh ya, Om. Saya ingin menanyakan kondisi Kelvin dan Adrian. Bagaimana keadaan mereka sekarang?" Arthur menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Gerald.     Gerald tampak berpikir sebentar. "Kondisi mereka berdua sudah lebih baik. Tapi Kelvin memang mengalami cidera serius di kepalanya. Sampai saat ini ia belum sadar dan masih menjalani perawatan intensif. Kami belum bisa mendapatkan keterangan apapun dari Kelvin."     Arthur tampak menganggukan kepala. Ia lanjut bertanya, "Bagaimana dengan kondisi Adrian?"     "Adrian sudah sadarkan diri. Kemarin ia menjalani operasi untuk memulihkan tangannya yang cidera parah. Tapi dia masih syok dan belum mau dijenguk orang luar. Butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaannya pada orang di sekitarnya. Lagi-lagi, kami belum bisa meminta keterangan korban." Gerald tampak menghela napas.     Arthur terdiam. Kalau begini, mereka tidak bisa mengandalkan kesaksian korban.     Terdengar bunyi getaran handphone. Rupanya itu milik Pak Gerald.     "Permisi, saya angkat telepon dulu." Gerald berlalu.     Arthur dan Nizar mengangguk. Mereka sama-sama memandangi kepergian Gerald. ***     Sepuluh menit kemudian, barulah Gerald selesai dengan urusannya. Ia kembali menemui Arthur dan Nizar.     "Yoga sudah sadarkan diri," katanya begitu kembali duduk di bangkunya. "Kondisinya memang tidak separah dua korban sebelumnya."     "Syukurlah," gumam Arthur dan Nizar hampir bersamaan.     "Saya harus pergi sekarang. Nanti akan saya infokan lagi perkembangan-perkembangan dari para korban ini." Gerald berpamitan. Ia mulai bangkit dari duduknya dan mengenakan kembali jaket yang sedari tadi ia sampirkan di sandaran kursi.     "Baik, Pak." Arthur berdiri dari duduknya.     Nizar pun demikian. "Hati-hati di jalan, Om."     "Ya, kalian juga hati-hati pulangnya." Gerald berlalu dan menghilang di pintu kedai kopi. Arthur dan Nizar kembali duduk.     "Kemana lagi kita sekarang?" tanya Nizar.     Arthur tampak berpikir sejenak. Ia sudah tidak memiliki rencana lagi untuk penyelidikan ini. Mungkin ia akan menunggu kabar dari Pak Gerald saja.     "Anterin gue balik ke sekolah ya." Arthur berdiri dari duduknya.     "Wah, hari ini gue jadi ojek lo nih. Lo kudu bayar ya buat jasa gue." Nizar tampak meledek Arthur.      "Iya, nanti gue bayar, Bang," kekeh Arthur.     Arthur dan Nizar juga ikut berlalu dari kedai kopi itu. Mereka melaju kembali ke sekolah Arthur. ***     Arthur dan Nizar sudah sampai di area sekolah. Nizar menghentikan motornya di tempat yang lumayan sepi. Arthur segera turun dari boncengan.     "Thanks, Bang. Gue masuk dulu." Arthur bersiap memanjat pagar sekolah.     Nizar masih stay di atas motornya. "Sip. Kalau butuh apa-apa, lo hubungi gue lagi aja. Gue siap kok ngojekin lo, haha."     Belum sempat Arthur melompat masuk ke dalam sekolah, sebuah taksi berhenti di dekat motor Nizar. Arthur berhenti dari aksinya dan mengamati taksi itu.     Nizar pun demikian. Ia dengan was-was menengok ke taksi itu.     Kaca bagian penumpang terlihat di buka secara perlahan. Seorang perempuan duduk di kursi penumpang. Perempuan itu menggunakan kacamata hitam yang menutupi separuh wajahnya.     Arthur menatap tajam ke dalam taksi itu. Sedangkan Nizar tampak mengernyit dalam.     "Halo, Nizar sayang. Hai Arthur," sapa perempuan itu dengan akrab. ***     Ini semua tidak masuk akal. Shana memukul-mukul kepalanya pelan. Ia benar-benar syok dengan informasi yang Agatha berikan barusan.     "Serius, Sha! Barusan gue lihat Rose lagi jalan bareng sama Bianca." Agatha masih bicara dengan menggebu-gebu.     Shana melirik tajam ke arah Agatha. Ia berharap agar Agatha tidak bersuara sekeras itu. Mereka lagi ada di kelas dan pelajaran sedang berlangsung.     "Lo liat Rose sama Bianca dimana sih?" tanya Shana sambil berbisik.     Agatha merapat ke Shana. "Di deket aula, Sha. Barusan aja waktu gue balik dari kamar mandi."     "Lo nggak lagi halu?" Shana merasa sangsi.     "Sayangnya, enggak!" tegas Agatha.     Shana hanya bisa menghela napas. Apa benar yang Agatha lihat itu adalah Rose? Kenapa Rose bisa dekat dengan Bianca? Apa Bianca adalah pionnya Rose?     Shana meletakkan kepalanya di meja. Kepalanya terasa berdenyut. Ia sedari tadi bingung mencari keberadaan Arthur. Sekarang ditambah dengan kemunculan Rose di sekolahnya. Belum lagi soal Bianca yang ternyata mengenal Rose.     Shana melirik jam di dinding kelas. Lima menit lagi bel istirahat berbunyi. Shana harus membuktikan omongan Agatha secepatnya. ***     Begitu bel berbunyi, Shana menarik Agatha menuju aula. Rupanya di aula sedang berlangsung latihan cheerleader.     Shana dan Agatha mengintip dari jendela aula yang terbuka. Dan benar saja, ada Rose di sana.     "Tuh kan, Sha! Apa gue bilang," ucap Agatha penuh kemenangan.     "Kok Rose bisa gabung sama tim cheerleader SMA ini?" Shana masih tak percaya.     Agatha tampak mengingat-ingat. "Gue pernah denger dari Sena kalau Bianca itu kapten cheerleader tahun ini."     "Oh ya? Apalagi yang lo tau?"     "Dulu Sena kan co-captain cheers, dia nggak mungkin salah info dong. Gue cuma tau itu sih. Mungkin karena Rose dekat sama Bianca, makanya dia bisa gabung sama anak-anak cheers."     Shana dan Agatha kembali fokus mengintip ke dalam aula. Mereka dapat melihat kesibukan Rose di dalam sana. Kalau Shana tidak salah menyimpulkan, Rose ini adalah pelatih cheers yang baru.     "Dor!" teriak seseorang dari belakang Shana dan Agatha.     Kedua cewek itu terlonjak kaget. s**l! Bisa gawat kalau tempat persembunyian mereka terdeteksi oleh Rose.     "Eh, elo ternyata!" Agatha memukuli dengan brutal orang yang tadi mengangetkan dirinya.     "Ampun, ampun, ampun!" teriak orang yang mengagetkan Agatha dan Shana. Ya, orang itu tak lain adalah Verrel.     Verrel sibuk menangkis pukulan Agatha. Tak jauh dari Verrel, berdirilah Akbar yang memandang ke dalam aula dengan serius.     Shana menangkap kekakuan Akbar. Wajah Akbar terlihat sangat tegang. Sorot tajam mata Akbar juga tak lepas menatap ke dalam aula.     "Kenapa, Bar?" tanya Shana penasaran.     "Kok cewek itu ada di sini?" Akbar tampak bergumam sangat pelan. Ia terlihat sedang bermonolog.     "Hah?" Shana memperjelas. Ia tidak bisa menangkap ucapan Akbar yang kelewat lirih. Apalagi terdengar musik mengentak dari dalam aula.     Akbar tersadar. Ia menatap Shana dengan ekspresi setengah bingung.     Shana menghela napas. Ia kembali bertanya, "Lo kenapa tiba-tiba diem dan kaku banget kaya gitu?"     "Gue liat mantannya abang gue," jawab Akbar.     "Mantan? Mantan pacar gitu? Di mana?" Shana mencari ke sana kemari.     Akbar menunjuk seorang cewek di dalam aula. Shana mengikuti arah yang ditunjuk Akbar. Tak salah lagi, cewek yang dimaksud oleh Akbar itu adalah Rose.     Apakah takdir memang serumit ini? Ataukah dunia yang terlalu sempit? ***     Arthur memejamkan matanya. Ia bersandar di tembok pagar sekolah. Di hadapan Arthur, tampak Nizar yang sedang berjongkok. Wajah Nizar tampak kusut.     "Jadi maksud lo, Rose itu mantan lo?" Arthur bertanya sambil tetap memejamkan mata.     "Ya gitu lah." Nizar memijit pangkal hidungnya.     Arthur membuka mata. Ia lanjut bertanya, "Gimana caranya kalian bisa kenal?"     "Gue sama Rose satu sekolah waktu SMP. Selama SMP, gue tinggal di Surabaya, sama kaya Rose."     "Lo sampai pacaran sama cewek itu?"     "Namanya juga cinta monyet. Gue dulu juga nggak tau gue beneran ada rasa nggak sama dia. Waktu SMP, dia cewek populer. Gue pun demikian. Temen-temen gue banyak yang nyuruh gue pacaran sama Rose."     "Trus kenapa kalian putus?"     "Waktu kelas sembilan, gue sama dia ada masalah. Kami memilih udahan aja pas gue pindah ke sini buat ngelanjutin masa SMA gue. Setelah itu, gue sama sekali nggak tau kabar cewek itu."     "Kalau gue boleh tau, masalah apa yang ada di antara lo dan Rose?"     "Rose juga ada hubungan sama Akbar."     "Akbar? Akbar juga kenal sama Rose?"     "Kenal, gue sama Akbar selalu satu sekolah. Dia sekolah di SMP yang sama dengan gue. Dia satu tingkat di bawah gue. Otomatis dia juga kenal Rose."     "Akbar juga suka Rose?"     "Entah, gue nggak tau. Tapi Rose lebih suka Akbar daripada gue."     Arthur tak bisa berkomentar lagi. Ia kembali memejamkan matanya. Ini benar-benar kisah hidup yang rumit. ***     Shana berjalan ke area belakang sekolah. Sendirian. Ia berhasil memisahkan diri dari Agatha, Verrel, dan Akbar. Ia butuh waktu untuk berpikir. Semua fakta ini benar-benar aneh. Tuh kan, ini terlihat seperti kebetulan yang sangat kebetulan, sampai-sampai Shana merasa semua ini bukanlah kebetulan lagi.     Kalau benar Rose adalah mantan pacarnya Nizar, mungkinkah Rose dendam pada Nizar? Rose merencanakan semua ini untuk membalas Nizar? Tapi kenapa tiga korban yang terluka itu lah sasarannya?     Kalau Rose memang dendam pada Nizar, bukankah lebih baik Rose langsung menyerang Nizar? Eh, bukannya Shana mendoakan sesuatu yang buruk terjadi pada Nizar, lho ya!     Sambil berpikir, Shana memilih mendekati sebuah pohon berdaun lebat. Tempat di bawah pohon itu tampak sejuk. Shana duduk di rumput dan bersandar ke pohon itu. Ia memejamkan matanya.     Belum ada dua menit Shana duduk, terdengar suara langkah mendekati Shana. Rumput-rumput bergemerisik. Daun-daun kering—yang terinjak oleh entah siapa itu—juga terdengar berisik.     Shana deg-degan. Jantungnya berdebar keras. Gimana kalau orang yang sedang mendekatinya memiliki niat jahat? Tapi Shana terlalu takut untuk membuka mata. Shana memilih pasrah saja. Kalau toh dia memang bertemu orang jahat, itu sudah takdirnya. Pikiran yang konyol memang.     Langkah suara itu terhenti. Tapi Shana bisa merasakan ada seseorang di sekitarnya. Shana menahan napas selama beberapa saat. Harusnya tadi ia jangan sepasrah ini! Ia kan bisa melarikan diri ke tempat yang lebih ramai. Ah, tapi semua sudah terlambat sekarang.     Shana merasakan ada pergerakan dari orang itu. Tepat saat Shana hendak membuka mata, sebuah tangan membekap mulut Shana.     Shana berteriak histeris dengan mulut masih dibungkam. Akibatnya, suara teriakannya jadi teredam.     Shana langsung berdiri agar bisa melarikan diri. Tapi pergerakannya terkunci. Rasanya, sekarang ini Shana ingin menangis.     "Shut, shut, shut. Ini gue!" ucap orang itu.     Shana berhenti bergerak. Ia membuka matanya lebar-lebar. Sosok di depannya tampak sedang menahan tawa—terlihat dari wajahnya yang memerah.     "Pantesan lo gampang dijadiin sandera. Nggak bisa ngelawan sama sekali," cibir orang di hadapan Shana.     Shana menurunkan tangan orang itu dari mulutnya. Kurang ajar banget ini orang!     "Jangan kurang ajar ya, lo!" Shana membentak orang di hadapannya itu. Shana berlalu meninggalkan orang itu.     "Sha, Sha, sori! Gue tadi cuma bercanda." Orang itu mengikuti Shana.     "Bercanda lo itu nggak lucu, Arthur!" Shana berseru kesal. "Lo tau nggak, gue pikir lo orang jahat atau bahkan pelaku yang udah melukai Kelvin, Adrian, sama Yoga. Lo jalannya mengendap-endap, lagi!"     Arthur tampak menyeringai. "Sori, sori. Gue kira tadi lo tidur. Gue kan nggak mau ngeganggu tidur siangnya tuan putri."     Shana memicingkan matanya, "Terus, kenapa lo juga nutup mulut gue?"     "Karena gue tau ternyata lo nggak tidur dan bakalan teriak dalam waktu dekat," balas Arthur enteng.     s**l! Cowok yang satu ini pandai banget ngelesnya. Shana memutar bola matanya bosan. Shana memilih terus berjalan dan tidak menggubris keberadaan Arthur lagi.     "Sha, gue ada info baru, nih. Mau denger?"     Shana masih bungkam. Sebenarnya ia penasaran, tapi gengsi juga kalau langsung setuju.     Merasa tak ditanggapi, akhirnya Arthur memilih langsung memberitahu. "Sepupu lo itu ternyata mantan pacarnya Nizar, lho!"     "Basi!" seru Shana bosan dan tidak tertarik.     Arthur justru yang tampak terkejut di sini. "Lo udah tau?"     "Hmm," gumam Shana.     Arthur jadi makin penasaran. "Siapa yang ngasih tau lo?"     "Akbar." Shana masih menjawab singkat-singkat.     "Kok bisa tiba-tiba kalian ngomongin Rose?" selidik Arthur.     Akhirnya Shana menceritakan semuanya dari awal. Begitupun sebaliknya. Arthur juga menceritakan    info apa saja yang sudah ia dapatkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN