¦Part 17¦

1765 Kata
    Shana dan Arthur memutuskan untuk kembali ke kelas ketika bel berbunyi. Lagian, mereka juga sudah selesai bertukar informasi.     Barusaja melangkah masuk ke kelas, mereka langsung disambut Agatha. Rupanya sejak tadi, Agatha sudah menunggu-nunggu kehadiran Shana dan Arthur.     "Kalian kemana aja sih?" tanya Agatha mengekori Shana dan Arthur yang tengah berjalan menuju bangku masing-masing.     "Dari muter-muterin sekolah." Shana menjawab asal. Tapi tidak bohong juga sebenarnya. Ia dan Arthur memang tadi sempat berjalan tanpa arah dengan memutari sekolah ini. Tentunya sambil mengobrolkan informasi penting.     Agatha mencibir. "Ih, kurang kerjaan banget sih kalian. Oh ya, Sha, tadi waktu lo pergi ninggalin kami bertiga, Rose nyamperin kami lho!"     "Oh ya? Terus Rose ngapain aja?" Shana berhenti melangkah. Rupanya omongan Agatha lumayan menarik.     "Rose menyapa Akbar. Tapi Akbarnya malah kaya ketakutan gitu. Lucu banget deh interaksi mereka." Agatha juga turut berhenti melangkah. Ia menyejajari posisi Shana.     Arthur masih dapat mendengar ucapan Agatha. Ia mengernyit bingung. Kenapa Akbar bisa ketakutan saat bertemu Rose? Bukankah menurut Nizar, Rose lebih menyukai Akbar? Kalau begitu, seharusnya Rose bersikap baik kepada Akbar. Ah, Arthur jadi bingung sendiri kan. Tapi yang namanya psikopat mungkin memang suka membuat orang lain ketakutan. Termasuk orang yang katanya mereka suka. ***     Sore harinya, Shana mampir ke rumah Agatha untuk mengambil mobilnya. Shana tak langsung pulang karena pada akhirnya yang pergi ke rumah Agatha bukan hanya Shana. Arthur, Verrel, dan Akbar juga turut serta menyatroni rumah Agatha.     "Ambilin minum dong, Tha. Haus nih!" seru Verrel tidak tahu malu. Padahal mereka barusaja memasuki pintu gerbang rumah Agatha.     Agatha melirik sinis ke arah Verrel. Walau begitu, ia tetap pergi untuk mengambilkan minum. "Iya, bawel. Gue juga bakal kasih lo minum tanpa diminta."     Verrel tampak terkekeh puas melihat Agatha yang bersungut-sungut sebal. Agatha membawa teman-temannya ke halaman belakang rumah. Setelah memastikan teman-temannya mendapat tempat enak untuk mengobrol, Agatha berlalu menuju ke dapur.     "Jadi menurut lo, Rose nggak suka abang gue?" tanya Akbar pada Arthur.     Arthur menoleh ke Akbar sambil mengernyit. "Itu menurut abang lo, bukan menurut gue. Kalau gue sih nggak yakin si Rose bisa punya perasaan suka sama seseorang. Jadi mungkin dia memang nggak serius sama abang lo."     "Mungkin tujuan dia ngedeketin lo dulu itu adalah membuat lo dan abang lo terpecah belah." Verrel ikutan nimbrung.     "Kenapa Rose pengen membuat hubungan gue dan abang gue jadi buruk?" Akbar bertanya kritis.     "Karena Rose akan merasa puas kalau berhasil membuat hubungan lo dan abang lo jadi rusak. Gue rasa Rose memang menikmati kekacauan yang terjadi akibat ulahnya." Shana menimpali.     "Sepupu lo serem banget, Sha," ujar Verrel sambil bergidik. "Untung DNA lo nggak mirip sama dia."     Shana terkekeh geli dengan ucapan Verrel. "Kalian sih belum seberapa diganggu Rose. Kalau gue udah nggak kehitung berapa banyaknya dicelakai sama sepupu gue itu."     Verrel mengangguk-angguk. Benar juga, ya. Bisa dikatakan kalau ia belum pernah diganggu oleh Rose secara langsung. Tapi mendengar cerita-cerita menyeramkan soal Rose ternyata sudah mampu membuat Verrel kelabakan juga.     "Terus, apa nih langkah kita selanjutnya?" tanya Akbar serius.     "Sejauh ini, pelaku sukses membuat alibi dan justru membuat kita berada di posisi tersangka. Korban belum ada yang bisa dimintai keterangan. Semua bukti masih abu-abu. Motif pelaku belum terungkap karena ketiga korban yang terluka tidak memiliki korelasi." Arthur menjelaskan.     "Jadi maksud lo, korbannya random gitu?" Shana mengernyit tak setuju.     Arthur mengedikkan bahunya. "Iya, gitu deh."     "Enggak, Ar. Ketiga korban ini sama-sama anak berprestasi. Ketiganya adalah saingan masing-masing dari kita yang dituduh sebagai tersangka. Belum lagi fakta bahwa ketiga korban itu adalah laki-laki. Apa menurut lo, ini nggak aneh?" Shana menjabarkan pemikirannya.     Arthur menggeleng. Ia punya pemikiran lain dan ia rasa, pemikirannya lebih mendekati kata tepat. "Gue rasa, pelaku mencari korban secara acak. Yang jadi target mereka itu kita. Mereka melukai orang yang berotasi di sekitar kita dan memiliki hubungan dengan kita. Sehingga saat semua bukti menyudutkan kita, orang-orang akan percaya bahwa memang kita lah pelakunya."     "Udah-udah, nanti lagi musyawarahnya. Nih diminum dulu. Gue juga bawain cemilan buat kalian," sela Agatha yang datang dengan tangan membawa nampan berisi gelas-gelas kaca.     Suasana yang semula tegang—karena perdebatan antara Shana dan Arthur—mulai berangsur mereda. Mereka tidak lagi saling adu argumen.     Arthur menyesap jus jeruk yang Agatha suguhkan. Setelah puas membasahi kerongkongannya, Arthur meletakkan gelas berisi jus jeruk itu dan segera angkat bicara. "Ngomong-ngomong, gue udah dapet kabar lagi dari Pak Gerald."     "Soal apa?" sambar Shana cepat.     Arthur tampak berpikir sejenak. "Soal Yoga. Dia udah sadar dan dia satu-satunya korban yang bisa dimintai keterangan."     "Lho, tadi lo bilang belum ada korban yang bisa dimintai keterangan," sanggah Akbar yang rupanya cukup tanggap.     "Tadinya, gue berniat merahasiakan ini dari kalian. Tapi, ya udah lah. Kalian juga perlu tau kok," Arthur menjeda ucapannya, "Yoga mengklarifikasi kalau pelakunya sungguhan Agatha."     "What the F! s****n banget sih tuh orang. Halunya nggak kira-kira. Enak aja nuduh-nuduh gue. Gue aja nggak kenal sama dia." Muka Agatha tampak memerah menahan marah. Ia bahkan sudah mulai mengucap sumpah serapah. Untung saja, Agatha tidak ada di dekat Yoga. Kalau sampai Agatha bisa menjangkau Yoga, tak pelak lagi Agatha akan langsung menerjang cowok itu.     "Sabar, Tha." Shana menepuk bahu Agatha, menenangkan.     "Terus, gimana kelanjutannya?" Akbar bertanya pada Arthur.     Arthur menimbang sebentar, lalu ia memutuskan untuk menjawab. "Karena Yoga sendiri yang menyatakan bahwa Agatha lah pelakunya, kemungkinan polisi akan menahan Agatha sementara waktu. Atau paling nggak, mereka bakalan mantau kegiatan Agatha."     "Anjir! Nyebelin banget sih. Kalo gini jadinya, mendingan gue buat kondisinya makin parah aja biar nggak banyak bacot," amuk Agatha.     Verrel membekap mulut Agatha. "Heh, mulutnya kalau ngomong dijaga, Mbak. Bisa-bisa malah gara-gara omongan lo itu, lo jadi dapet masalah serius."     Agatha melepaskan tangan Verrel yang membekap mulutnya. Agatha menyentakkan tangan Verrel dengan kesal.     "Gue penasaran sama Yoga." Shana bergumam agak keras.     "Apanya yang bikin lo penasaran?" tanya Akbar.     Shana mengedikkan bahunya. "Gue juga nggak tau. Mungkin cuma sekedar penasaran aja." ***     Shana memarkirkan mobil di garasi. Handphonenya berbunyi. Ternyata bundanya yang telepon.      Sambil turun dari mobil, Shana mengangkat telepon itu. Belum genap Shana berjalan sepuluh langkah, tiba-tiba saja ada sebuah pot bunga yang meluncur turun dari teras loteng.     Shana mengaduh sambil memegang kepalanya yang kejatuhan pot. Saat ia menengadah ke atas, tak ada siapapun di teras loteng.     Shana membenarkan posisi handphonenya di telinga. Di seberang telepon, bundanya terdengar bertanya dengan panik.     Shana memilih berbohong saja. Ia tidak mau bundanya kepikiran. Ia segera menutup telepon setelah mengucap salam. ***     Mobil Arthur berhenti di carport. Cowok itu tampak bergegas mendekati Shana.     Arthur jelas tahu kalau ada yang tidak beres dengan keadaan di sekitar Shana. Sebuah pot dan tanamannya tampak berserakan di sekitar Shana. Shana sendiri sedang berjongkok sambil memegangi kepalanya.     "Lo kenapa?" tanya Arthur begitu berhenti di sebelah Shana.     Shana hanya nyengir kuda lantaran menahan sakit di kepala dan juga malu dipergoki Arthur. Oke, Shana akui bahwa dirinya sempat lengah sampai-sampai tidak menyadari kalau ada sebuah pot yang meluncur di atas kepalanya.     Arthur memeriksa kepala Shana. "Lo kejatuhan pot?"     "Iya," jawab Shana. Lagi-lagi sambil nyengir.     Arthur memandang ke atas. Di teras loteng, memang ada beberapa pot tanaman hias. Tapi tidak mungkin kan kalau pot itu jatuh dengan sendirinya?     "Ulah sepupu lo?" tanya Arthur tanpa bermaksud menuduh.     Shana menggeleng. "Bukan kayanya."     "Terus siapa?" Arthur mengernyitkan dahi.     "Pintu menuju loteng selalu terkunci. Mungkin memang pot itu jatuh karena posisinya yang terlalu kepinggir." Shana turut memperhatikan loteng.     Kini Arthur yang menggeleng. "Kenapa bisa pas banget sama lo yang lagi lewat di bawahnya?"     Shana merenung. "Iya sih. Tapi Rose belum sampai rumah."     "Rose masih di SMA Argosaka?" Arthur tampak ragu.     Shana mengangguk. Tadi gerbang rumahnya masih terkunci. Jadi, kemungkinan Rose belum kembali ke rumah kan?     "Ya udah lah. Kita masuk dulu. Nanti gue cek CCTV rumah lo." Arthur membantu Shana berdiri dan membawa cewek itu masuk ke rumah. ***     Shana masuk ke kamarnya. Ia segera meletakkan tasnya di kursi belajar. Matanya menyapu meja belajar sekilas. Tapi tatapannya berhenti pada kotak kayu yang diletakkan di atas laptopnya.     Kotak kayu lagi? Bagaimana bisa ada kotak kayu itu diletakkan di kamar Shana? Shana yakin banget kalau tadi pagi ia sudah mengunci pintu kamarnya.     Ada yang tidak beres. Seseorang pasti sudah membuat duplikat kunci untuk membuka kamar Shana. Shana melihat sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda kerusakan pada barang. Jendela pun dalam kondisi bagus. Itu artinya orang yang menyusup ke kamarnya memang masuk melalui pintu.     Pikiran Shana mau tak mau langsung menuju ke sepupunya, Rose. Benar, hanya Rose yang ada di rumah ini sejak pagi.     Shana menyambar kotak kayu itu dan membawanya keluar kamar. Ia segera mencari Arthur untuk menunjukkan penemuannya itu.     Arthur ternyata sedang duduk di ruang keluarga. Dipangkuan Arthur, tampak sebuah laptop yang menyala.     Rupanya Arthur langsung merealisasikan ucapannya tadi untuk mengecek CCTV. Dahi Arthur berkerut-kerut samar.     "Ar, gue nemuin ini di meja belajar." Shana menyodorkan kotak kayu itu pada Arthur.     Arthur mengangkat wajahnya dari layar laptop. Kernyitan di dahinya makin jelas.     "Kotak kayu?" gumam Arthur.     Shana menganggukkan kepala. "Coba lo buka!"     "Kenapa nggak lo aja yang buka?" Arthur tampak fokus kembali ke laptop.     Shana menghempaskan tubuhnya ke sofa di sebelah Arthur. "Serius nih, gue nggak berani!"     Arthur terkekeh melihat wajah Shana yang cemberut. Ia mengambil alih kotak kayu itu dan membukanya perlahan.     "Cuma coklat seperti kemarin. Minus suratnya." Arthur menunjukkan isi kotak itu kepada Shana.      Shana terdiam dan tidak berkomentar. Mata Shana justru memandangi layar laptop milik Arthur. "Itu CCTV rumah gue? Ada sesuatu yang lo dapatkan?"     "Sayangnya, CCTV di rumah ini sudah dirusak." Arthur menunjukkan pada Shana rekaman CCTV yang sedari tadi ia tekuri.     Shana masih blank. "Jadi maksud lo gimana?"     "Sejak pagi CCTV di rumah lo ini udah nggak merekam apapun. Semuanya gelap." Arthur menjelaskan dengan sabar.     Shana menyandarkan tubuhnya di sofa. Gila, gila, ini gila. Ia pusing tujuh keliling sekarang ini.     "Udah, santai-santai. Jangan tegang gitu mikirnya. Ntar lo kram otak lagi." Arthur bergurau.     Shana hanya melirik s***s. Gurauan Arthur sama sekali tidak lucu.     "Jadi menurut lo, ini ulah siapa?" tanya Arthur setelah menutup laptopnya.     "Rose. Cuma dia yang bisa kelayapan di rumah gue." Harus Shana akui kalau sepupunya itulah yang paling berpotensi.     Arthur mengangguk. "Dia datang ke SMA Argosaka saat jam istirahat. Itu artinya sedari pagi ia bisa saja ada di rumah. Nggak ada saksi karena rumah lo kosong. Rekaman CCTV mulai rusak sejak pukul sembilan pagi."     Shana dan Arthur sama-sama menengok ke arah ruang depan—tepatnya pintu rumah Shana yang tampak terbuka. Rupanya Rose yang datang.     Wajah Rose tampak bengis di mata Shana. Cewek itu tersenyum lebar tapi tidak ada ketulusan di senyumnya itu.     Rose berjalan ke arah ruang keluarga, tempat Shana dan Arthur berada. "Kalian udah pulang dari tadi ya? Kok di depan ada pot yang berserakan gitu?"     Rose memasang wajah super polos dan Shana tahu kalau cewek itu hanya sedang memancing-mancing. Kalau begini, Shana bisa menyimpulkan bahwa Rose lah yang menjatuhkan pot itu.     "Tadi pot itu jatuh dari loteng dan mengenai kepala Shana." Arthur menanggapi Rose dengan santai.     Rose tampak terkejut. Cewek itu bahkan sampai ternganga. Tak lama wajahnya berubah prihatin. "Wah, coba kalau aku ada di rumah. Aku pasti akan tolongin kamu, Shana."     Shana hanya diam. Ia mencoba bersabar dan tidak terpancing emosi.     "Kotak apa itu?" tanya Rose saat matanya mendapati kotak kayu yang tadi Shana temukan di meja belajarnya.     "Aku juga nggak tau," jawab Shana kalem.     Rose mengangguk paham. Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada Arthur dan Shana. "Sampai ketemu nanti."     Shana dan Arthur menghela napas lega begitu Rose meninggalkan mereka. Benar-benar deh aura yang Rose pancarkan sangat-sangat mengerikan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN