Shana terbangun dari tidurnya. Ia mematikan alarm yang berbunyi nyaring di samping telinganya. Ini hari minggu, tetapi Shana tetap bangun pagi-pagi.
Kabar baiknya, sejak kejadian pot jatuh, Shana tidak lagi mendapat gangguan. Sejauh ini juga korban belum bertambah. Tapi kabar buruknya, Shana belum berhasil menemukan titik terang atas kasus ini. Penyelidikannya dengan Arthur memang tetap berjalan, tapi para pelaku bermain sangat rapi sampai tak meninggalkan jejak.
Oh ya, sikap Rose pada Shana juga biasa saja. Rose sangat sibuk dengan urusannya. Rose selalu pergi pagi-pagi dan baru sampai di rumah ketika hari sudah petang. Beberapa kali bertemu di sekolah, Rose tampak tak terlalu mempedulikan Shana.
Shana menghela napas lalu menyibak selimut. Ia berhenti memikirkan kelakuan sepupunya dan segera pergi mandi. Rencananya, ia akan pergi dengan Arthur. Tapi mereka belum punya agenda penyelidikan untuk hari ini.
***
Jam menunjukkan pukul sembilan ketika mobil Arthur memasuki halaman rumah Shana. Ia membunyikan klakson untuk memberitahu kehadirannya pada Shana.
Shana tampak berlari-lari kecil keluar dari rumahnya. "Hai, Ar."
"Hmm," gumam Arthur sebagai balasan.
Shana masuk ke mobil dan mengecek handphonenya. Arthur masih sibuk mencari-cari sesuatu dan belum menjalankan mobil.
"Sepupu lo udah cabut?" tanya Arthur memandangi rumah Shana yang selalu terlihat sepi.
Shana mengangguk. "Udah dari pagi. Lagi sibuk kayanya. Oh ya, kita mau ngapain hari ini?"
Arthur mulai menjalankan mobilnya. "Kita ke rumah Agatha dulu. Gue udah suruh Verrel, Akbar, sama Bang Nizar buat ngumpul di sana. Ada yang mau gue tanyain ke mereka."
"Oh ya, emang lo mau tanya apa?" Shana menaikkan sebelah alisnya.
Arthur mengedikkan bahu. "Nanti aja bahas sekalian di sana."
Mendapat jawaban begitu dari Arthur, Shana akhirnya memilih untuk diam. Ia mulai sibuk kembali dengan handphonenya.
Tak butuh waktu lama, Arthur dan Shana sudah tiba di rumah Agatha. Mereka bergegas keluar dari mobil dan masuk ke rumah Agatha.
***
Agatha sedang menyemprotkan air ke tanaman hias yang ada di bagian samping rumahnya. Ia berhenti menyemprot kala mendengar percakapan dua orang yang makin mendekat. Ia menoleh dan mendapati ada Shana dan Arthur tengah berdiri di ambang pintu.
"Eh, dah sampe aja kalian." Agatha meletakkan alat penyemprot dan menyuruh Shana serta Arthur duduk.
"Yang lain belum pada dateng?" Arthur mengedarkan pandangan.
Agatha menggeleng sebagai jawaban. Ia kemudian berlalu untuk mengambil cemilan dan air minum. Agatha kembali tak lama kemudian dengan tangan membawa nampan penuh makanan.
"Jadi gaes, kita mau ngomongin apa?" tanya Agatha setelah duduk di hadapan Shana dan Arthur.
"Gue mau bikin pola dan motif pembunuhan kali ini. Gue butuh kalian buat pertimbangan." Arthur menerangkan.
Agatha mengangguk-angguk seolah ia paham dengan yang dibicarakan Arthur. Tapi sebenarnya, ia tidak ada bayangan apa-apa soal hal itu.
***
Verrel, Akbar, dan Nizar datang bersamaan. Mereka langsung bergabung dengan Agatha, Shana, dan Arthur. Selanjutnya mereka segera membahas topik kali ini.
"Jadi Ar, lo udah ada gambaran soal pola pembunuhan kemarin itu?" tanya Akbar.
Arthur mengangguk mantap. "Menurut pendapat gue, tiga korban yang terluka kemarin adalah saingan dari gue, Shana, dan Agatha. Motifnya gue rasa karena si pembunuh ingin menjatuhkan nama baik kami dan juga membatasi pergerakan kami. Pembunuh ingin membuat pengalih perhatian polisi dengan mengkambing hitamkan orang lain sedangkan si pembunuh ini aman dari kecurigaan."
"Terus sejauh ini, siapa yang lo curigai?" tanya Verrel menyela.
Arthur tampak m******t bibirnya. Ragu terpancar dari sorot matanya. "Gue belum bisa nebak. Tapi menurut gue, keberadaan pelaku nggak jauh-jauh dari kita. Atau bahkan, pelaku ini adalah orang terdekat kita."
Nizar tampak mengernyitkan dahinya. "Jadi, menurut lo, ada musuh di balik selimut lagi begitu?"
Arthur menggeleng cepat. "Gue nggak bilang kalau orang terdekat kita itu artinya pelaku ada di antara kita. Oke, sekarang kita perluas sedikit lingkarnya. Kalian pikirin siapa yang paling deket sama kalian akhir-akhir ini? Mereka memang biasa ada di sekitar kalian atau sejak kejadian itu mereka baru berotasi di sekitar kalian?"
Shana tampak merenung serius. "Ar, secara kebetulan, Rose datang ke rumah gue dan tinggal sama gue. Lalu ternyata Bang Nizar sama Akbar juga mengenal Rose. Rose mendadak jadi pelatih cheerleader di SMA kita dan dia punya hubungan baik dengan Bianca. Bianca sendiri pada saat kejadian pertama, dia posisi nggak di sekolah dan nggak hadir di kelas. Apa mungkin mereka berdua bersekongkol?"
"Wah, bener juga lo Sha." Agatha mengangguk takzim. Ia lalu tampak berpikir sebentar, dan melanjutkan perkataannya. "Dan kalau menurut gue nih, Rose kan orang luar sekolah kita, dia lebih bebas berkeliaran dong buat ngebuang s*****a atau barang bukti lainnya. Sedangkan Bianca di sini yang celakain korban-korban kemarin."
"Tapi bukannya ada cowok juga kan yang terlibat?" tanya Verrel.
Arthur mengangguk. "Itu dia, gue belum ada gambaran soal cowok ini. Tapi ada yang aneh sih, dua korban pertama itu lukanya parah. Sedangkan korban ketiga, luka dia nggak separah yang lainnya."
Nizar menjentikkan jarinya. "Siapa korban ketiga?"
"Yoga, Bang." Arthur menjawab.
"Asumsi gue, Yoga ini cuma pura-pura jadi korban. Mungkin korban yang sesungguhnya cuma dua orang di awal. Untuk mengelabui, akhirnya Yoga dijadiin tumbal supaya kita nggak nemuin benang merahnya." Nizar tampak menyampaikan dengan tenang.
"Lo mungkin bener, Bang. Semula , gue juga mikirnya Yoga terlibat. Tapi gue juga nggak bisa nuduh Yoga gitu aja. Yang jelas, sekarang ini kita butuh bukti buat menguatkan argumen-argumen kita soal siapa aja dalang percobaan pembunuhan ini." Arthur menimpali.
"Ehm, tunggu dulu. Jadi kesimpulannya, kemungkinan tersangka ada tiga gitu?" tanya Shana memeperjelas.
"Ya," jawab Arthur.
"Terus orang yang dicurigai sementara adalah Rose, Bianca, dan Yoga?" tanya Shana lagi.
Kali ini dijawab oleh anggukan dari Verrel dan Akbar.
"Lalu motif mereka apa? Apa iya cuma karena pengin membuat nama kita tercoreng?" Shana mengerutkan dahinya.
"Rose mungkin nggak suka sama lo, Sha. Terus Bianca sama Yoga mah ngikut-ngikut aja." Agatha melontarkan isi kepalanya.
Shana menggeleng. "Cuma gue targetnya? Tapi yang dituduh sebagai pelaku di sini bukan cuma gue, ada Arthur dan lo, Agatha."
"Ya mungkin karena gue sama Arthur kan deket sama lo, jadi gue kaya kena imbasnya. Tapi nggak tau juga sih gimana benernya." Agatha mengakhiri ucapannya dengan mengedikkan bahu.
Jujur saja, Shana merasa terpojok. Kalau benar dialah yang ditarget oleh si pembunuh untuk dihancurkan, lalu teman-temannya menjadi tertuduh karena imbas berteman dengannya. Shana bingung sekaligus merasa bersalah.
***
Setelah membahas panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan untuk bubar. Shana pulang dengan Arthur. Sejak pembicaraan tadi, mood Shana jadi lumayan buruk. Dia merasa serba salah.
"Ar, apa mungkin semua ini karena gue?" tanya Shana pada Arthur.
Arthur menoleh sekilas lalu fokus kembali ke jalan. "Enggak juga. Mereka emang nargetin kita dan bukan cuma lo."
"Tapi kalau emang pelakunya Rose, itu artinya omongan Agatha benar, Ar. Rose kan nggak punya masalah sama kalian. Ngapain kan dia repot-repot ngejatuhin kalian." Shana memberengut.
"Gue rasa, alasannya nggak sesimpel itu. Meski memang Rose pelakunya, tapi dia pasti punya alasan yang lebih kuat dari sekedar pingin ngejatuhin nama lo." Arthur menentang pendapat Shana.
"Contohnya?" Shana mengangkat sebelah alisnya sembari menghadap ke Arthur.
"Mungkin dia mau adu domba lo sama temen-temen lo. Membuat seolah-olah lo yang menjadi sumber masalah dan teman-teman lo terkena imbasnya. Dan kalau memang itu tujuan Rose, artinya Rose udah berhasil." Arthur membelokkan mobilnya ke arah apartemennya.
"Loh, mampir ke tempat lo dulu?" Shana melihat ke luar jendela.
Arthur mengangguk. "Ada yang mau gue tunjukin. Tapi nggak bisa kalau gue bawa ke rumah lo."
Shana mengernyit bingung. Tapi ia tidak memprotes lagi.
***
Setelah sampai di apartemen Arthur, Shana segera menghempaskan diri ke sofa. Arthur sendiri sudah menghilang entah ke mana.
Arthur kembali lima menit kemudian dengan membawa papan tulis yang sudah dicoret-coret. Di sana ada tiga foto korban, foto TKP, foto barang bukti, dan foto calon tersangka.
"Ini lo yang buat Ar?"
"Iya, biar gampang buat nyambungin dari satu fakta ke fakta lain."
Shana mengangguk-angguk. "Jadi bisa jelasin ke gue maksud dari mind map ini?"
"Ini tiga korban, dengan luka di bagian berbeda. Pertama ada Kelvin. Dia terluka di bagian kepala. Dia ditemukan dalam kondisi sadar. Jadi kemungkinan saat diserang, dia juga dalam kondisi sadar. Seharusnya, ada tanda-tanda perlawanan di sini. Mengingat kelvin terluka parah, pasti pelaku menggunakan s*****a berbahaya dan luka seperti ini biasa diakibatkan oleh serangan benda tajam. Tapi kenyataannya, Kelvin sama sekali tidak terluka di bagian manapun. Seolah-olah ia tidak melawan. Misalnya menahan benda tajam itu dengan tangannya agar tidak mengenai kepala. Jadi gue rasa, Kelvin tau kalau dia bakal dijadiin korban." Arthur mengetuk-ngetuk papan tulis itu.
Shana hanya terdiam mendengar penjelasan Arthur. Ia bahkan tidak pernah memikirkan hal itu. "Jadi bisa dibilang kalau Kelvin bersekongkol dengan pelaku?"
"Bisa jadi," tegas Arthur.
"Wah ini gila." Shana geleng-geleng kepala.
"Lanjut ke korban kedua. Dia dibius. Jadi kemungkinan besar, dia tidak setuju untuk dilukai. Jadi kasusnya, dia mungkin murni korban," terang Arthur.
Shana terdiam. Lalu sebuah pikiran aneh terlintas di otaknya. "Mungkin nggak kalau korban kedua adalah pelaku yang turut melukai korban pertama?"
Arthur menatap Shana tajam. "Kok lo bisa mikir gitu?"
"Gini deh, Ar. Bang Nizar tadi curiga kalau Yoga turut serta menjadi pelaku, itu karena dia lukanya paling ringan. Sejauh ini juga Yoga adalah korban terakhir kan. Kalau kita liat polanya, korban pertama ditemukan dalam kondisi sadar. Korban kedua dalam kondisi terbius. Dan korban ketiga juga dalam kondisi terbius. Mungkin korban pertama memang setuju buat disakiti. Tapi korban kedua ini ditumbalkan untuk menjadi korban setelah dia membantu pelaku melukai korban pertama. Begitupun dengan korban ketiga. Korban ketiga membantu untuk menyakiti korban kedua. Setelah selesai, dia justru dijadikan korban selanjutnya." Shana berusaha menjelaskan apa yang terpikir olehnya.
"Begitu?" Arthur berusaha memahami logika Shana.
"Dan alasan kenapa korban ketiga ini lukanya ringan adalah karena kemungkinan besar orang yang melukai dia tidak memiliki tenaga yang sama besar dengan korban-korban sebelumnya. Ar, lo paham kan maksud gue? Duh gue bingung gimana ngomongnya." Shana menggaruk kepalanya frustasi.
"Oke-oke, gue paham. Jadi kita asumsikan bahwa korban kedua dan ketiga adalah pelaku. Begitupun korban pertama yang secara sukarela menyerahkan diri untuk disakiti. Jadi pelaku di sini ada empat orang atau lebih, gitu?" Arthur tampak mencoret-coret papan tulis itu lagi.
"Iya, gitu. Tapi kita sama sekali nggak punya bukti buat ngelaporin mereka." Shana menghela napas.
"Gue ada ide buat kumpulin bukti."
"Apa, Ar?"
***