Kepulangan Sang Rektor Dingin
“Bagaimana mungkin aku menikah dengan anak kecil yang dulu memelukku… saat aku benar‑benar hancur menyaksikan pernikahan kakaknya?” gumam Afgan, masih tak percaya dengan takdirnya.
*
*
Afgansyah Reza Alfarizzi, dokter spesialis ortopedi terbaik di sebuah rumah sakit di Australia, akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Ia merasa telah benar‑benar bisa melupakan Alea Zuleika Wijaya—cinta pertamanya yang kini bersuamikan perwira polisi bernama Ilham Saputra.
“Sudah waktunya pulang. Ayah dan Ibu mulai menua, sekarang giliranku merawat mereka dan menanggung tanggung jawab atas dua adikku yang masih kuliah: Farhan dan Jihan. Saatnya aku menjadi kakak yang bertanggung jawab,” ucap Afgan pelan sambil melipat pakaian dan memasukkan dokumen penting ke dalam koper serta tas ranselnya.
Tiba‑tiba terdengar ketukan di pintu.
“Siapa ya? Seingatku tidak ada janji pertemuan lagi. Semua rekan kerja sudah berpamitan,” batinnya. Afgan membuka pintu yang diketuk sekali lagi.
“Iya, ada apa?” tanyanya sambil memutar kunci dan menarik daun pintu.
“Selamat sore, Dokter Afgan,” sapa Nadhira Aisyah Putri yang berdiri di ambang pintu—mantan istri kontraknya. Pernikahan mereka sudah diakhiri Afgan sebelum waktunya, setelah Nadhira berusaha menjebaknya dengan membuatnya mabuk, berharap bisa menjadi istri yang “sempurna”. Nadhira sangat mencintai Afgan, namun tak pernah sekalipun bisa menyentuh hatinya.
“Nadhira… Kau? Setelah sekian lama, kenapa baru datang sekarang? Ada apa?” tanya Afgan terkejut sekaligus penasaran.
“Afgan… Akhirnya aku punya keberanian menemuimu lagi. Sekarang aku benar‑benar siap melangkah maju, membuka hati untuk calon suamiku—suami sejati, bukan sekadar dalam kontrak,” jelas Nadhira.
Di belakangnya muncul Aldo berjalan dengan langkah riang dan wajah cerah.
“Halo, Dokter Afgansyah Reza Alfarizzi. Lama tak jumpa. Penampilanmu rapi sekali… sepertinya kamu hendak pergi jauh,” ujar Aldo sambil melirik ke dalam lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
“Ah, ya. Aku berencana pulang ke Indonesia. Silakan masuk, aku masih punya waktu sebentar sebelum keberangkatan. Dokter Aldo, Nadhira, silakan,” Afgan membuka pintu lebih lebar dan memberi jalan.
Keduanya masuk, lalu Afgan mempersilakan duduk.
“Maaf, karena aku akan pergi lama, semua bahan makanan sudah kuberikan ke tetangga. Boleh aku pesankan minuman? Apa yang kalian mau?” tawar Afgan sopan.
“Terima kasih, Dokter. Kami hanya sebentar. Aku juga harus segera pergi karena masih banyak yang akan diundang,” potong Aldo.
“Baiklah… silakan saja,” jawab Afgan sambil duduk di hadapan mereka.
“Kami ke sini ingin memberikan ini,” Nadhira menyodorkan selembar kertas undangan pernikahan.
“Undangan pernikahan? Wah… selamat untuk kalian berdua. Aku sungguh ikut bahagia,” Afgan mengambilnya dan membaca tanggalnya.
“Dua minggu lagi? Insya Allah aku akan datang khusus untuk kalian,” ucapnya dengan senyum hangat.
“Terima kasih, Dokter Afgansyah Reza Alfarizzi. Kami merasa terhormat jika kamu hadir,” Aldo berdiri dan mengulurkan tangan. Afgan pun menyambut jabatan tangannya.
“Tunggu sebentar, aku belum selesai bicara,” Nadhira ikut berdiri.
“Iya, Sayang… silakan,” ucap Aldo melepaskan tangan Afgan.
“Afgan, aku ingin mengakui sesuatu di hadapanmu, dan di hadapan Aldo calon suamiku,” Nadhira menarik napas panjang.
“Silakan, aku mendengarkan,” jawab Afgan tenang.
“Afgan… malam itu—saat aku berusaha membuatmu mabuk—tidak terjadi apa‑apa antara kita. Aku hanya berbaring di sampingmu. Bahkan saat kau tidak sadar, kau tetap menolakku dan masih menyebut nama Alea,” ungkap Nadhira dengan wajah pucat dan suara bergetar.
“Apa?” Afgan terkejut mendengarnya.
“Benar, Afgan… Kita tidak pernah melampaui batas. Kamu tetap perjaka, dan aku… tetap perawan meski pernah menjadi istrimu. Aldo, aku sampaikan ini di depanmu agar pernikahan kita nanti bersih dari kebohongan. Di malam pengantin, kau boleh membuktikan kebenarannya,” tambah Nadhira dengan mata berkaca‑kaca.
“Sayang… aku sangat mencintaimu. Aku terima apa adanya dirimu. Aku tidak peduli masa lalumu—perawan atau bukan, itu tidak penting. Yang penting aku tulus mencintaimu, apa pun keadaannya,” jawab Aldo tegas dan penuh haru.
“Aldo… terima kasih,” Nadhira langsung memeluknya erat.
“Aku juga mencintaimu. Saat kamu berani jujur dan siap melangkah bersamaku, itu sudah cukup bagiku,” bisik Aldo sambil mengecup puncak kepalanya lembut.
“Aku sungguh bahagia untuk kalian berdua. Dan Nadhira… terima kasih sudah mengatakannya. Pengakuan ini sangat berarti bagiku,” ucap Afgan sambil tersenyum lega dan menyentuh bahu mereka sebentar.
“Maafkan aku…” bisik Nadhira sambil menunduk, lalu mengulurkan tangan.
“Sudah lama aku memaafkanmu. Aku justru makin menghormatimu karena kejujuran ini. Aldo, jaga dia baik‑baik. Dia wanita langka yang tulus,” ucap Afgan mencairkan suasana.
“Kamu benar, Afgan. Wanita langka… dan aku orang yang beruntung memilikinya,” Aldo merangkul pinggang Nadhira.
“Afgan… semoga kali ini kamu juga beruntung. Semoga kamu segera menemukan cinta sejati, wanita yang bisa membuka hatimu sepenuhnya,” doa Nadhira.
“Aamiin, terima kasih, Nadhira,” jawab Afgan.
Tak lama kemudian, Nadhira dan Aldo berpamitan. Setelah pintu tertutup kembali, Afgan bergumam pelan, “Cinta sejati… Apakah benar ada? Entahlah… aku mulai ragu bisa jatuh cinta lagi.”
Afgan kembali melanjutkan pengepakan barangnya. Saat semuanya selesai, ia menatap sekeliling ruangan, lalu pandangannya tertuju pada gelang dan cincin—kenang‑kenangan bersama Alea yang sudah lama ia simpan, namun tak pernah ia buang.
“Mungkinkah ada orang yang bisa membuatku jatuh cinta dengan cara sederhana, namun memberi rasa yang luar biasa? Alea… kau memang istimewa, tapi aku sadar, kau bukan takdirku,” gumamnya pelan sambil mengenang masa lalu bersama wanita itu.
“Alea… jangan kira aku belum bisa melangkah maju. Hanya saja, aku belum bertemu seseorang yang sanggup mengguncang hatiku lagi,” batinnya sambil merapikan jas dengan tenang.
Ia meletakkan kedua benda kenangan itu di atas meja, lalu melirik jam tangannya.
“Baiklah… sudah waktunya berangkat.”
Afgan menatap terakhir kali ruangan apartemen itu, mengucapkan terima kasih dalam hati. Di sinilah ia bertahan melewati masa‑masa sulit saat takdir seolah berpihak padanya.
Tak lama kemudian, Afgan sudah duduk di dalam pesawat, siap pulang dan memulai lembaran baru—sebagai dokter spesialis yang diakui kehebatannya, sekaligus dosen tamu di salah satu universitas terkemuka di Indonesia.
Di dalam perjalanan, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya: Apakah akan ada seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta lagi di usia yang sudah matang ini? Mungkinkah ada wanita yang bisa membuatku tersenyum sendiri karena perasaan? Siapakah nanti yang bisa mengalihkan duniaku dari sekadar pekerjaan dan disiplin?
*
*
Hingga akhirnya Afgan tiba di Indonesia. Keluarganya sudah menunggu di kedatangan.
“Mas Afgannnn…” seru Putri, adik perempuan Afgan, sambil berlari menyambutnya.
Ega, adik laki‑lakinya, pun ikut berlari mendekat. Pak Rama mendorong kursi roda istrinya, Ibu Sinta—ibunya yang lumpuh sejak beberapa tahun lalu—yang kini meneteskan air mata haru melihat putra sulungnya pulang.
Afgan memeluk kedua adiknya yang kini nyaris setinggi dirinya.
“Mas… apa kabar?” tanya Putri, mahasiswa semester dua, sambil melepas rindu.
“Alhamdulillah, Mas baik. Kalian juga terlihat sehat dan baik‑baik saja. Putri, Ega, kalian sudah tumbuh besar dan dewasa,” jawab Afgan sambil melepaskan pelukan.
“Itu karena Mas dulu sibuk bekerja dan ‘memperbaiki hati’, sampai melewatkan masa tumbuh kembang kami,” ujar Ega sedikit menyindir.
“Iya… maafkan Mas ya. Mas terlalu sibuk dengan urusan sendiri sampai mengabaikan kalian. Tapi Mas janji, mulai hari ini kita takkan berpisah lagi. Mas akan selalu ada untuk kalian,” ucap Afgan lembut menatap keduanya.
“Benarkah?” Putri memastikan seolah belum percaya.
“Sangat yakin. Abang janji kita akan selalu bersama. Ngomong‑ngomong, di mana Ibu?” tanya Afgan sambil menatap ke depan. Di belakang Ega dan Putri, terlihat Pak Rama dan Ibu Sinta yang menatapnya penuh bahagia.
“Ibu?” Afgan segera berjalan mendekati kedua orang tuanya.
“Ibu menggunakan kursi roda… kenapa aku tidak diberitahu sebelumnya?” tanya Afgan terkejut dan cemas.
“Maafkan Ibu… Ibu sengaja tidak memberitahumu. Ibu merasa bersalah karena dulu sempat merusak hidupmu. Ibu sadar, saat memisahkanmu dari Alea, aku juga menjauhkanmu dari kami semua. Maaf atas kebohongan dan sikap keras Ibu dulu,” ungkap Ibu Sinta sambil menangis lirih.
“Ibuuu…” Afgan langsung memeluk ibunya yang duduk di kursi roda.
“Maafkan Ibu, Nak… kumohon maafkan Ibu,” bisik Ibu Sinta di dalam pelukan itu.
“Sudah, Bu… tidak apa‑apa. Afgan sudah ikhlas dan memaafkan. Afgan sudah menerima takdir bahwa Alea memang bukan jodoh yang Tuhan tetapkan. Jangan menyalahkan diri sendiri lagi,” ucap Afgan sambil mengusap air mata ibunya.
“Nanti Afgan yang akan merawat dan mengobati Ibu. Putra Ibu ini dokter spesialis ortopedi terbaik di Australia, sekarang akan menjadi dokter pribadi Ibu,” tambahnya sambil mengecup kening ibunya.
Afgan kemudian menatap ayahnya. Sosok yang dulu gagah perkasa kini tampak lebih renta. Mata Pak Rama berkaca‑kaca, rindunya pada putra sulungnya meluap.
“Ayah…” Afgan pun memeluk ayahnya erat.
“Nak… jangan pergi lagi, tetaplah di sini. Ayah sangat merindukanmu,” ucap Pak Rama.
“Ayah… Afgan akan tinggal bersama kalian. Maafkan Afgan yang selama ini belum bisa berbakti dan merawat Ayah serta Ibu,” jawab Afgan di dalam pelukan hangat itu.
Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang hingga sampai di rumah keluarga.
“Assalamu’alaikum,” sapa Afgan dan seluruh keluarga di depan pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab Bibi pengurus rumah sambil membukakan pintu.
“Alhamdulillah, rasanya rumah ini kembali utuh,” ucap Pak Rama dengan hati yang gembira.
Afgan masuk sambil mendorong kursi roda ibunya, diikuti kedua adiknya yang berwajah ceria.
“Mas, benar Mas Afgan akan menjadi Rektor baru di Universitas Kedokteran?” tanya Ega.
“Iya, selain itu Mas juga akan mengajar dan menerima jadwal praktik di beberapa rumah sakit,” jawab Afgan sambil duduk di ruang tengah.
“Kalau begitu percuma Mas pulang, kalau waktunya tetap habis untuk kerja seharian. Tidak ada sisa sedikit pun untuk kami,” sindir Putri.
“Ada kok… jangan khawatir. Mas yang akan mengantar dan menjemputmu ke kampus. Mas janji,” jawab Afgan tenang.
“Serius?”
“Iya, Putri. Mas sudah tidak muda lagi, takkan bercanda soal janji seperti ini,” ucap Afgan sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
“Ngomong‑ngomong Bu, minggu depan Afgan masih harus kembali sebentar ke Sydney. Nadira akhirnya bertemu jodoh yang tepat, dia akan menikah dengan Aldo,” tambah Afgan.
“Semoga jodoh Mas Afgan yang sejati juga segera datang,” sahut Putri.
“Aamiin ya Allah,” jawab semua orang—kecuali Afgan yang hanya diam dengan wajah tenang.
“Mas, kenapa tenang sekali begitu?” tanya Ega.
“Karena Mas tidak terlalu memikirkan soal jodoh. Biar semuanya berjalan apa adanya. Kalau nanti Mas menikah, harus benar‑benar karena jatuh cinta. Entah ada atau tidak wanita yang bisa mengguncang hati Mas, yang pasti Mas tidak akan menutup hati selamanya,” jawab Afgan sambil berdiri.
“Apapun keputusanmu, Ayah akan selalu mendukung,” ujar Pak Rama.
“Terima kasih Ayah, dan terima kasih semuanya. Terima kasih sudah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang,” ucap Afgan sambil menatap mereka satu per satu.
“Selamanya, Nak,” jawab Pak Rama. Sementara Ibu Sinta hanya diam, masih merasa berat hati karena banyak kesalahan di masa lalu terhadap Afgan.
“Mas, ayo bersiap makan. Sejak pagi Ibu sudah memasak semua makanan kesukaan Mas Afgan,” ajak Putri ikut berdiri.
“Siap. Mas mandi sebentar dulu ya,” jawab Afgan, lalu masuk ke kamar untuk menyegarkan diri.