Prolog
--Tidak ada manusia yang sempurna, yang ada hanyalah keinginan untuk menjadi sempurna.
.
.
.
Moskow, 2025
Sinar mentari masuk melalui jendela laboratorium Harold. Menghangatkan dinginnya musim salju yang telah dimulai beberapa hari lalu. Harold masih berkutik di meja kerjanya, sesekali ia menatap sebuah foto di sudut meja itu. Dia dan istrinya yang mengendong bayi mungil dengan senyum muram terpotret di sana.
Harold masih terus mengerjakan risetnya, sebelum akhirnya dia menyadari sesosok gadis kecil di luar laboratoriumnya. Gadis itu tampak kumal. Rambutnya tak tertata, dan wajahnya memutih kedinginan. Entah sejak kapan dia berada di depan laboratorium Harold. Mungkin sejak malam, dan tetap di sana sampai mentari menunjukkan wujudnya.
"Oh, Tuhan, masuklah, nak." ucap Harold pada gadis itu setelah membukakan pintu untuknya.
Harold segera mengambilkan selimut dan menyeduh secangkir coklat hangat untuk gadis itu.
"Aku mencari adikku." suara gadis kecil itu terdengar bergetar.
"Adikmu?" tanya Harold tak mengerti.
"Ya, semua orang mengatakan bahwa adikku dijadikan bahan percobaan olehmu," ia menghembuskan napasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya punya ibu, dan ia berani sekali memisahkan aku dan adikku yang baru lahir, lalu pergi meninggalkanku luntang- lantung sendirian."
Sesaat gadis itu meremas tubuhnya dengan kedua tangannya, menahan genangan air di kelopak matanya.
"Ibumu kemana?" tanya Harold lagi sembari memberikan sapu tangannya pada gadis kecil itu.
"Bunuh diri." tukasnya.
Harold terkesiap, menatap penuh iba pada gadis kecil itu.
"Siapa adikmu?"
"Entah, aku belum pernah melihatnya, tapi sebelum pergi, ibu mengatakan padaku bahwa adikku adalah monster yang bisa mengendalikan pikiran orang lain. Apa kau tahu?"
"Ya, mungkin dia adalah salah satu dari anak-anakku."
"Syukurlah, aku ingin bertemu dengannya"
Harold menatap gadis kecil itu lekat-lekat.
"Lalu setelah bertemu adikmu apa yang akan kau lakukan?"
Gadis itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Harold.
"Bisakah aku melindunginya? Maksudku, kau tahu, aku kakaknya dan aku harus melindunginya, tapi aku tidak tahu dia seperti apa, dan bagaimana aku bisa melindunginya dengan tubuhku yang sakit-sakitan ini."
Mendengar kondisi gadis itu, Harold terlihat tertarik padanya. Entah mengapa, dia merasakan bahwa kunci mimpinya untuk DNA yang sempurna adalah gadis kecil itu.
"Apa kau mau bekerjasama denganku? Jika kau mau, akan aku pastikan kau bisa melindungi adikmu."
Salju mulai turun ketika gadis kecil itu berbaring di meja operasi. Kelopak matanya lama-lama tertutup dan tanpa ia sadari, beberapa sel DNAnya telah berubah.

"Risanna, aku berhasil, aku berhasil, Risanna, formula untuk menciptakan DNA yang sempurna, aku berhasil menemukannya!"
Harold memeluk Risanna dengan erat. Semua kerja kerasnya selama ini terbayar. Tanpa mengatakan apapun, Risanna mengelus punggung Harold sembari tersenyum dalam tangisan bahagianya.
Anak luar biasa yang mereka mimpikan akan terlahir. Menorehkan sejarah luar biasa tentang riset DNA yang sempurna. Anak yang mampu melakukan segalanya, di luar batas logika manusia.