“Jadi, tolong bantu aku untuk menangkap pelaku pembunuhan berantai yang mengatas namakan keadilan itu” —Saito Hasaharu. . . . Aichi, 2043 Hear membuka matanya perlahan. Kegelapan yang ia lihat kini tampak sedikit berwarna. Ia bisa mendengar suara-suara yang dikenalnya dan memberi warna-warna berbeda di penglihatannya. Lelaki itu meringis. Ia menyadari rasa sakit pada kepalanya. Tanganny berusaha menggapai kepalanya. Ada perban di sana dan Hear pun tahu bahwa ia tengah berada di rumah sakit. Apalagi selang infus di tangannya sangat terasa berat. Lelaki buta itu tanpa sadar tersenyum. Ia merasa lega sediki. Paling tidak, ia tidak mati dan dapat memberitahu apa yang diketahuinya kepada Rei dan yang lain. Suara grasak grusuk semakin jelas terdengar di telinga Hear. Ia mengernyit. “

