“Mencintai seseorang adalah luka yang akan kubawa sampai mati.”—Illiana Grande.
.
.
.
.
Haneda, Tokyo
Seorang wanita berkacamata hitam masih berdiri mematung di depan kopernya yang baru saja diberikan robot petugas pengambilan barang. Matanya menatap seseorang yang familiar berjalan ke luar menuju lobby bandara. Setelah beberapa detik, ia pun tersadar mesti bergegas menyusul perempuan berwajah Korea yang baru saja ia lihat. Setelah turun melalui elevator ekspres, wanita itu mencari-cari keberadaan orang yang wajahnya mirip dengan lelaki yang pernah dikenalnya. Bola matanya berhenti berpendar saat menemukan perempuan yang ia cari ke luar lobby menaiki taksi otomatis. Ia mempercepat langkahnya. Sayang, setelah kakinya menginjak parkiran transportasi kota di luar bandara, orang yang dikejarnya sudah menghilang. Ia pun tak kehabisan akal. Didatanginya mesin pelacak tujuan taksi otomatis tak jauh dari sana. Seorang petuga sempat menegurnya karena tidak mempunyai akses menggunakan mesin tersebut. Namun, kemampuan menyamar miliknya membuat petugas tersebut tiba-tiba berubah pikiran.
“Ah, kau detektif, kau pasti mencari pembunuh berantai yang tengah buron itu, ya? Apa ada yang mencurigakan menaiki taksi otomatis barusan?” tanya petugas berdasi yang menjaga mesin pelacak. Entah kenapa, petugas tersebut melihat sang wanita di hadapannya tampak seperti detektif kepolisian daerah.
“Iya, saya mencurigai seorang perempuan yang menaiki taksi otomatis dengan nomor plat こ54-32.” Ujar perempuan tersebut. Sebelumnya, ia sudah mengingat angka di belakang taksi otomatis yang diincarnya. Setelah mendengarnya, sang petugas langsung menuliskan nomor yang dimaksud. Tak butuh lama, mesin pelacak itu pun menunjukkan tujuan kepergian taksi. Di sana tertulis Perfektur Kyoto dan nama jalan ke mana kendaraan umum itu pergi.
Setelah menscan informasi dari mesin pelacak, perempuan tersebut mengedipkan bola mata almodnya. Ia pun bergegas meniggalkan sang petugas yang kini tampak kebingungan.
Setelah menyewa taksi dan memasukkan alamat yang ia dapat, sang wanita menyalakan gelang di pergelangan tangannya. Sebuah proyeksi yang mirip dengan layer ponsel langsung tertera di hadapannya. Di sana, tertulis 50 kali panggilan tak terjawab dari nomor yang dikenalnya. Ia tersenyum simpul, tapi rona wajahnya tak seperti orang yang berbahagia. Ia memang tak meminta izin terlebih dahulu pada orang tersebut akan kepergiannya ke Tokyo. Memang, tujuan utama ia pergi ke sana adalah jadwal opera yang diadakan oleh manajemennya. Ia juga mempunyai janji dengan salah satu artis kawakan di Jepang. Ia mengingat-ingat lagi bagaimana rupa orang yang membuat janji dengannya itu. Walau sekarang pikiran perempuan itu sudah berubah mengikuti taksi otomatis yang disewa orang yang ia curigai.
Tanpa menelepon balik lelaki yang sudah menghubunginya berkali-kali itu, sang perempuan berambut cokelat terang itu langsung membuka aplikasi w******p. Di sana, hampir 100 chat dari nomor yang sama.
Kau tidak benar-benar ke sana, kan?
Kau hanya pergi untuk bertemu Miyahara kan?
Elriena, kau bilang kau percaya padaku?
Kenapa kau pergi ke Jepang?
Karena berita itu kah?
Kau mengira anak itu ada di Jepang? Di Kyoto?
Riena? Jawab aku.
Riena?
Begitulah isi beberapa pesan w******p yang diterima si wanita—Elriena namanya. Tertulis pula nama ‘Ravell-My Heart’ sebagai orang yang mengirim pesan. Ya, kekasihnya lah yang membuat ponsel gelang Elriena berisi banyak notifikasi. Bukan hanya dari aplikasi w******p, lelaki itu bahkan mengirimkan chat ke sosial media Elriena yang lain.
Riena, jangan gegabah!
Pulanglah tanpa bertemu dengannya,
Kau bilang aku tak perlu mencari anak itu?
Kenapa kau mencarinya?
Riena? Jawab aku?!
Kau tidak benar-benar ke sana, kan?
Membaca pesan-pesan masuk yang bernada sama membuat Elriena jengah. Ia pun menscroll layer di hadapannya tanpa memperhatikan. Hingga jemarinya berhenti saat ia sampai di pesan terakhir yang dikirimkan Ravell.
Riena, tolong jangan membuatku khawatir. Aku mencintaimu.
Sontak, mata Elriena memanas. Bulir-bulir air mata mulai membasahi wanita yang memakai blouse abu tersebut. Ia menutup matanya dengan tangan kanan, berharap tangisannya berhenti. Di dalam hati Elriena, ia terus mengatakan hal yang sama.
Aku juga mencintaimu, Ravell, aku melakukan ini untukmu.
***
Kyoto, Jepang
Death is no dream
(Kematian bukanlah mimpi)
For in death I'm caressing you
(Karena dalam kematian aku membelaimu)
With the last breath of my
(Dengan nafas terakhir dari)
Soul I'll be blessing you
(Jiwaku, aku kan memberkatimu)
((Gloomy Sunday—Billie Holiday))
Suara nyanyian suram tersebut seakan menghantui pendengaran Hear. Lelaki yang mempunyai kemampuan pendengaran itu semakin tersiksa karena alunan tersebut. Ia berusaha menutup telinganya dengan headset, tetapi itu sama sekali tak berfungsi. Suara itu seperti merasuki alam sadarnya. Lelaki itu pun terjatuh di tanah. Tubuhnya meringkuk gemetar. Tiba-tiba, di antara lagu kematian itu terdengar suara Rei dalam pikirannya.
Hear, fokuskan pendengaranmu ke asal suara, jangan ke makna nyanyainnya! Temukan dia, Hear, aku tengah menghadapi Thinker, berusahalah semampumu. Aku akan menolongmu secepatnya.
Memahami apa yang dikatakan Rei, lelaki itu mencoba untuk bangkit kembali. Sebenarnya, ia tahu jelas siapa pemilik suara yang menyanyikan lagu kematian itu. Seperti kata Rei, ia hanya perlu memfokuskan ke asal suaranya. Tak habis akal, ia pun menyalakan lagu lain sekencang-kencangnya di headset. Meski masih mendengar nyanyian kematian itu, paling tidak Hear bisa mengurangi dampak hipnotis di dalamnya.
Perlahan-lahan, kaki Hear mulai berjalan mengikuti asal suara. Sayangnya, ia menuju ke taman tempat ia meninggalkan Yui. Di dalam hatinya, lelaki itu terus-menerus mengumpat. Ia sadar bahwa Thinker sengaja memfokuskan serangan di taman bermain itu. Tempat yang jauh dari keramaian dan akan mudah melenyapkan mereka yang berada di pihak Rei satu persatu. Hear juga tahu, asal suara Rei tak jauh dari taman itu, tepat di atap gedung tua dekat apartemen Rei. Kini, lelaki itu mesti mengutuk Rei yang mempunyai apartemen di tempat sepi seperti ini.
Namun, segala u*****n Hear mesti berakhir saat seorang perempuan yang ia kenal kini berada tepat di depannya. Perempuan cantic berambut coklat gelap sedikit hitam dengan bola mata berwarna biru keabuan tengah bernyanyi di ayunan taman tersebut. Hear mencoba menangkap suara lain yang berasal dari Yui atau Kyouru yang kemungkinan besar masih ada di sekitar taman, tetapi nihil. Ia tak mendengar apa pun selain nyanyian kematian yang dilantunkan sang perempuan.
Hear berjalan perlahan menuju perempuan yang belum menyadari kehadirannya itu. Namun, tiba-tiba, ia terbatuk. Darah menetes dari mulutnya. Pikiran Hear mulai tidak sadar. Ia tahu, semakin ia mendekati wanita tersebut, ia akan semakin tidak sadarkan diri dan akhirnya akan memcoba membunuh dirinya sendiri bagaimanapun caranya.
“Il …, Il …, liana, kumohon hentikan nyanyianmu,” ucap Hear akhirnya, membuat wanita tersebut menghentikan ayunannya dan menoleh kepada sang lelaki buta tersebut.
Tatapan wanita itu—yang dipanggil Illiana—tampak kosong. Namun, seakan menyadari lelaki di hadapannya, mata kosong Illiana berubah sedikit demi sedikit. Ia seperti memaksakan untuk terbangun dari alam bawah sadarnya.
“He …, ar? My …, Dear?” Sambil meringis, Illiana berusaha menyadarkan dirinya. Namun, lagi-lagi ia mesti membuka mulutnya dan bernyanyi seakan dipaksa seseorang.
Gloomy Sunday
(Minggu yang muram)
Dreaming
(Bermimpi)
I was only dreaming
(Aku hanya bermimpi)
“Kau tahu, Honey, aku tidak bisa meng …, hentikan …, ini.” Ucapan Illiana terdengar terbata-bata. Ia pun berdiri mendekati Hear yang mulai tersungkur ke tanah.
I wake and I find you
(Aku terbangun dan aku menemukanmu)
Asleep in the deep of
(Tidur lelap di kedalaman)
“Il …, Liana …, kumo—” ucapan Hear terputus saat Illiana tiba-tiba mencium bibir lelaki itu. Belum sempat Hear protes dengan tindakan Illiana, wanita itu sudah melepasnya.
“Tenang, Sayangku. Aku mencintaimu, aku tak akan membiarkanmu terluka …,” setelah mengatakan itu, Illiana bergegas pergi menaiki ayunan yang tadi ia naiki sambil terseok-seok. Dengan tenang, wanita itu melilitkan rantai benda tersebut ke lehernya sendiri berkali-kali.
“Mencintai seseorang adalah luka yang akan kubawa sampai mati,” ucap Illiana saat rantai sudah membelit lehernya.
My heart
Hatiku
Dear
Sayang
Setelah menyayikan lirik tersebut, dengan senyuman merekah dan menatap lelaki di hadapannya yang tak berkutik, Illiana menjauhkan pijakan ayunan hingga ia tergantung di sana tak sadarkan diri.