Part 28-- Senapan

1070 Kata
  --Ambisi akan menghancurkan segalanya tanpa disadari-- . . . Sosok lelaki berambut acak-acakan dalam pikiran Runa mendekati Rei perlahan. Sejak Rei menyebut namanya, ia tak berhenti terkekeh. Aura aneh merasuk ke dalam tubuh Rei. Lelaki itu tahu cepat atau lambar ia mesti melepaskan Runa dari kendali kemampuan membacanya. "Aku senang kau mengenaliku, Rei, tapi aku sama sekali tidak senang kau mengusik pikiran teman baikku ini." Seringai sinis terpatri di bibir lelaki yang dipanggil 'Hans' itu. Rei bergidik. Ia berusaha mengosongkan pikirannya. Ingatan tentang lelaki iti di pikiran Rei benar-benar tidak bagus. Thinker! Dalan dari teror ini adalah dia, bukab Killer?! Tubuh Rei memaksanya untuk mundur perlahan. Di pikiran Rei terbesit memori tentang Kim Hansel, sang Pemikir, Thinker. Sekelebat, bayangan akan wajah masa kecil Hans terbayang di kepala Rei. Lelaki itu amat sangat membenci Rei. Dialah anak yang pertama kali membuat semuanya pergi meninggalkan rumah Harold. Membayangkan apa yang teringat dari sosok Hans membuat Rei semakin gentar. Ia tahu kemampuan memanipulasi pikiran milik Thinker bukan main-main. Aku harus keluar! "Ya, memang, kau harus keluar, atau tubuh kalian akan berlubang. DOR!" ucap bayangan Hans yang membuat isyarat pistol di tangannya. Bertepatan dengan itu, suara teriakan Yuuki yang memanggil nama Rei menggema. "REI!!" Teriakan itu menyadarkan Rei. Namun, baru saja lelaki itu melepaskan ciumannya dari Runa, sebuah peluru sudah melesat ke arahnya. Dengan cepat, Rei memeluk Runa dan melompat tuk menghindari tembakan yang entah dari mana itu. "Rei, kau tidak apa-apa?!" Yuuki berlari menuju tempat Rei dan Runa. Pria berkacamata itu pun menyadari adiknya yang sudah tak sadarkan diri. "Apa ini sudah satu menit, Yuuki? Kenapa waktunya berjalan kembali?!" Rei merasa ada yang janggal pada situasi tersebut. Sayangnya, Yuuki segera menarik lengan Rei dan memberi isyarat padanya untuk berlari ke tepi sebuah bangunan. "Penembak itu tidak masuk ke dalam jangkauanku, Rei. Ini berbahaya! Kita tidak tahu kapan dia akan menem--" Dor! Dor! Bel sempat Yuuki menjelaskan situasi pada Rei, beberapa peluru sudah melesat kembali ke arah mereka. Kedua lelaki itu mengedarkan pandangan. Rei menutup matanya sesaat. Ia lalu memfokuskan seluruh kekmampuannya pada indra penglihatan. Berkat itu, dirinya dapat melihat sesosok wanita berjaket kulit hitam di atap gedung yang berjarak 1000 meter dari tempat Rei dan Yuuki. "Di sana! Dia ..., Sora?!" Mendengar ucapan Rei, Yuuki mengikuti petunjuk lelaki itu. Ia menelan saliva, gugup. "Gila! Bagaimana dia bisa membidik kita dadi jarak sejauh itu?!" seru Yuuki tak percaya. "Kau lupa apa kemampuan Sora, Yuuki?!" Rei tidak habis pikir dengan respon terkejut Yuuki. Bukankah seharusnya lelaki itu lebih mengingat semua anak-anak Harolf dan kemampuan mereka. "Look! Sial! Dia bisa membidik kita di mana saja, Rei. Ini gawat." Tanpa menghiraukan ucapan Yuuki, Rei menghela napas. Ia menggigit bibirnya. Pikirannya mulai bekerja untuk mencari cara agar bisa menghindari bidikan Sora. Saat mata Rei memperhatikan sekeliling, ia menatap arloji yang dipakainya. Lelaki itu pun segera memberi isyarat pada Yuuki. "Bawa Runa ke tempat yang aman, aku akan mencoba melawan Sora." Sayang, ucapan Rei disergah oleh Yuuki. "Jangan gila, Rei! Kau mau melakukan apa?!" tanya Yuuki dengan raut wajah khawatir. "Tenanglah, Yuuki, aku punya senjata dan kemampuan DNA sempurnaku." Dengan senyum mengembang Rei beranjak meninggalkan Yuuki. Lelaki itu dengan gesit menghindari semua tembakan Sora sambil terus berlari mendekat ke tempat wanita itu. Sementara itu, Yuuki menulis sesuatu di buku catatan yang sudah dipungutnya. Ia menulis 'tidak terlihat selama 30 menit'. *** Rei terus berlari menghindari semua tembakan Sora. Desing peluru sudah memekakkan telinga lelaki berkulit putih itu. Kini, Rei memfokuskan semua kemampuannya. Ia mengutak-atik arlojinya tanpa berhenti berlari. Beberapa saat kemudian, seutas sinar laser keluar dari benda yang terpasang di tangan Rei itu. Lelaki berambut hitam itu membidik sinar laser yang tidak begitu kuat tersebut ke arah Sora. Ia hanya berniat untuk menghentikan kemampuan 'melihat' wanita itu sementara. Namun, jarak mereka masih belum terlalu dekat. Sampai akhirnya Rei berada di depan gedung, tiba-tiba suara tembakan berhenti. Tidak ada lagi peluru yang mengarah pada lelaki itu. Rei mendongak ke atas gedung. Dari belakang Sora, sesosok pria yang baru saja ia temui di pikiran Runa muncul. Hans terseny mengerikan sambil memegang senapan laras panjang yang dipegang Sora. Ayo naik dan temui aku, Sense! Seketika, Rei menggertakan giginya saat mendapat telepati dari Hans. Berkali-kali lelaki itu mengutuk Hans dalam hatinya. Kini, senyum Hans berubah menjadi tawa yang terdengar memenuhi langit. *** Haneda, Jepang "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobala bebe--" Belum habis suara operator di handphonenya, pemilik handphone itu sudah mematikannya duluan. Wanita itu lalu mencoba mendial nomor yang ingin ia telepon.endengar operator yang lagi-lagi menjawabnya membuat wanita berambut cokelat panjang itu menghela napas. Jantungnya berdetak cepat seketika. Ia tahu ada yang tidak beres. Sejak di pesawat tadi, hatinya terus menerus merasakan sesuatu yang aneh. Tangis, kebencian, emosi bahagia yang aneh, dan hal-hal yang membuatnya mesti menutup wajahnya selama penerbangan. Pasalnya, wanita itu mampu merasakan semua keadaan dari orang-orang yang ia kenal dan ia terkadang tanpa sadar mengekspresikannya. Sambil menggigiti kuku tangan kirinya, wanita itu kembali mendial nomor. Di layar hologram di depannya tertulis nama kontak yang ditelepon. Mataku; Sora-- begitulah tulisannya. "Ayolah, kau harus menunjukkanku apa yang tengah terjadi." Setelah putus asa untuk menelepon, wanita itu pun mematikan handphonenya. Kakinya bergegas ke luar bandara. Tanpa basa-basi, ia segera menaiki taksi tenaga surya yang parkir di depan lobi. "Kyoto, hm, aku akan mengetik lokasi tepatnya setelah sampai di sana." Wanita itu mengucapkan hal tersebut sembari menempelkan sebuah kartu pada mesin di depan mobil. Taksi itu pun melaju sendiri sesuai akses poin yang dimasukkan sang wanita ke mesin kemudinya. *** "Hear-nii! Kita harus berpisah, jika seperti ini terus, kita berdua benar-benar bisa gila akan ilusi kebun binatangnya Kyouru!" Yui mendorong tubuh Hear menjauh darinya. Ia sendiri terduduk pasrah di belakang pohon tinggi. Raut wajah Hear makin tidak karuan. Lelaki itu tidak mungkin meninggalkan Yui sendiri, tapi hati kecilnya membenarkan perkataan Yui. Mereka tidak bisa terus berdiam diri. Paling tidak, salah satu dari mereka harus mencari bantuan, atau lebih tepatnya mencari Rei. "Aku akan pergi mencari Rei. Aku mendengar suaranya dan desing peluru beberapa menit lalu. Kau tunggulah, Yui, aku akan kembali." Dengan perasaan was-was, Hear beranjak meninggalkan Yui yang bersembunyi. Gadis kecil itu pun menganggukan kepala sambil tersenyum menenangkan. Sebenarnya, di hati kecilnya, ia pun meminta Hear untuk mencari Rei, karena sejak tadi perasaan Rei yang gamang dan terasa terancam memenuhi pikiran Yui. Gadis kecil itu tahu, 'orang itu' telah menyerang mereka. Lelaki yang mampu membuat saudaranya, Kyouru, sampai seperti ini akan benar-benar menyelesaikan teror yang dibuatnya. Dalam hati, Yui amat ketakutan sekaligus terus berdoa bahwa ambisi lelaki itu tidak akan benar-benar menghancurkan Rei.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN