--Lari dari kenyataan pahit, hanya akan membuat hidup lebih sulit.
.
.
.
"Aku akan keluar dari rumah ini." Seorang anak lelaki berumur sekitar dua belas tahun mengambil ransel dari sofa.
"Aku juga." Ucap seorang anak perempuan yang nampak lebih muda dari anak lelaki itu.
Beberapa anak yang lain masih terpaku memandang beku ubin yang tampak dingin. Mereka tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Pria paruh baya yang sejak tadi masih mendengar diskusi mereka sambil duduk tenang di sofanya kini berdiri. Parasnya menampakkan amarah yang ditahan semampunya. Mungkin ketenangan yang biasa ia tunjukkan mulai habis perlahan-lahan.
"Tak ada yang keluar dari rumah ini! Kalian semua adalah anak-anakku yang berharga, pikirkanlah itu baik-baik, Ravell, Sora, dan yang lain juga! Berhentilah bertingkah seakan-akan aku tak membutuhkan kalian!"
Nada bicara pria paruh baya itu meninggi. Mukanya merah padam. Tak biasanya ia bersikap begitu, dan anak-anak di sekitarnya makin membeku menatap ubin dalam-dalam, seakan lekat mata-mata mereka ke sana.
"Begitulah kenyataannya, Dok. Dari awal kami hanyalah kelinci percobaanmu, jadi berhentilah berlagak seakan kau peduli pada kami!"
Bocah delapan tahun yang tadi masih menatap ubin, memicingkan matanya. Lantas ia melangkah pergi ke kamarnya. Tujuh anak lain kini saling bertatapan. Ia tahu bocah itupun juga berpikiran sama seperti dua anak yang sedari tadi sudah mempersiapkan ranselnya.
"Aku pergi bukan karena dia, Yah. Aku hanya ingin melihat diriku dari mata orang lain, kau tahu jelas, akulah yang berkemampuan paling buruk di antara semua anakmu." Jelas anak lelaki berumur dua belas tadi sambil memakai ransel ke punggungnya.
"RAVELL! Berhentilah berkata seperti itu, aku sudah sering memperingatkanmu!"
Sebelum anak lelaki itu kembali menyanggah ucapan si pria paruh baya, anak lelaki berumur delapan tahun tadi keluar dari kamarnya. Tas besar di punggungnya benar-benar menunjukkan bahwa dia akan benar-benar pergi. Sekilas ia melirik ke arah sembilan anak yang lain, lalu menatap sinis pada satu anak lelaki lagi. Sejak diskusi panjang itu dimulai, ada satu anak lelaki yang hanya berdiri di sudut ruangan, tepat di bawah tangga. Ia berdiri di sana sambil terus menangis tersedu.
"Kau puas? Kaulah penyebab semua ini, Rei. Kalau kau tak terlahir, kami akan baik-baik saja tinggal di rumah ini." Ucap anak lelaki delapan tahun itu. Langkah kakinya dengan santai menuju ke pintu keluar rumah besar itu. Teriakan penuh amarah dari si pria paruh baya pun tidak dipedulikan olehnya.
"Hans, tunggu aku!" Seru anak perempuan yang sejak awak sudah siap untuk pergi.
"Ayah, maaf. Izinkan aku juga untuk pergi," Si anak lelaki dua belas tahun berkata dengan wajah datar, namun suaranya terdengar lembut.
"Dan Rei, sungguh, kau memang bencana bagi kami, dan akan kupastikan, akulah yang akan melenyapkanmu nanti."
Tatapan anak lelaki itu kini mengarah pada Rei yang masih menangis di sudut ruangan. Mengikuti dua anak yang telah pergi sebelumnya, ia pun beranjak pergi meninggalkan rumah besar itu. Tinggallah tujuh anak yang masih meratap, si pria paruh baya yang terdiam menahan amarah dan tangisan Rei yang membuat suasana hitam pekat di rumah besar itu.
Hari demi hari berlalu. Mentari yang terik berubah menjadi salju yang menumpuk di halaman rumah itu. Tampak dingin. Sunyi dan sepi. Tak ada lagi anak-anak yang biasanya berlarian bermain di halaman. Suara-suara ricuh tawa mereka pun menghilang bersama kepergian anak-anak yang tersisa.
Beberapa orang datang ke rumah itu bergiliran. Mereka mengetuk pintu, berbicara dengan pria paruh baya di laboratoriumnya lalu pulang membawa satu anak. Hari-hari itu terus berlalu, hingga hanya empat anak yang tersisa. Pasrah menerima kenyataan bahwa tak ada yang mau mengambil mereka sebagai anak angkatnya.
Keempat anak itu kini duduk terdiam di ruang utama rumah itu. Tiga anak lelaki, satu anak nampak lebih muda dari dua yang lain, satu lagi anak perempuan tampak seumuran dengan Rei yang menatap mereka dari balik pintu laboratorium, mereka hanya menatap kosong lalu sesekali menoleh ke luar jendela. Di hati mereka masing-masing ada keinginan untuk tetap menemani si pria paruh baya di rumah besar itu, namun setengah bagian diri mereka berteriak ingin pergi.
"Ayah, kenapa kau membiarkan semuanya pergi?"
Di laboratorium ayahnya, Rei menatap ayahnya dengan kecewa. Raut mukanya mengatakan jelas bahwa ia tidak setuju dengan apa yang dilakukan ayahnya akhir-akhir ini, terutama setelah ketiga anak angkatnya memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.
"Karena memang inilah takdir Tuhan, Rei, anakku."
Pria paruh baya itu tersenyum kecut. Mungkin dalam dirinya menolak apa yang tengah ia lakukan, tapi mau tak mau ia harus melakukannya. Tubuh kecil Rei bergetar hebat menanggapi senyuman ayahnya.
"Takdir?! Ayah hanya bisa mengatakan itu?! Lalu bagaimana denganku yang memiliki kemampuan ini karena ayah? Bagaimana perasaan Yuuki, Runa, Kyouru, dan Kak Hear?! Apa ayah benar-benar hanya menganggap mereka sebagai kelinci percobaan?!"
Amarahnya meledak. Air matanya mendesak keluar dari sela-sela matanya yang bulat. Mendengar seruan anaknya itu, pria paruh baya menaikkan tangan kanannya. Hampir saja tangan itu mendarat di pipi putih pucat Rei yang kedinginan, namun pria itu menghela napas dan segera menurunkan tangannya. Rei sempat terkejut melihat apa yang akan ayahnya lakukan padanya. Tangisnya makin kuat. Namun, empat anak di ruang utama hanya terdiam mendengar tangisan Rei.
"Dengar, nak. Kaulah impianku, kaulah tujuan hidupku. Kemampuanmu adalah berkah dari Tuhan, begitu juga kemampuan mereka. Sungguh, aku benar-benar menganggap mereka anak-anak kandungku juga, saudara-saudaramu, tapi aku tak bisa menahan pemikiran mereka padaku,"
Pria paruh baya itu menahan butir air mata yang mulai tampak di sudut matanya. Ia menghela napas. Sesaat kemudian ia berjalan menuju salah satu rak. Sebuah pistol diambilnya dari dalam laci rak itu, lantas langkah kakinya kembali membawanya ke hadapan Rei. Ia berlutut menyesuaikan tingginya dengan tinggi anak lelaki yang menatapnya nanar.
"Aku hanya berharap tak ada lagi orang yang kehilangan anaknya di dunia ini, tapi kau tahu, Rei? Kita tak bisa memaksakan pendapat kita pada orang lain, termasuk aku yang tak dapat memaksakan pendapatku padamu atau pada saudara-saudara angkatmu. Bagiku, kalian adalah anak-anakku yang berharga."
Menatap Rei yang masih menangis terisak, pria itu berdiri. Tangan kanannya dengan ringan mengarahkan pistol ke arah jantungnya. Rei terkesiap. Ia hampir berteriak sebelum tangan kiri ayahnya mengelus pucuk kepalanya lembut.
"Tak apa, Rei. Aku minta maaf, aku bukanlah ayah yang baik bagi kalian. Aku ingin mengakhiri hidupku agar kau percaya bahwa kekuatanmu adalah berkah dari Tuhan, agar mereka tak mengira bahwa aku hanya mencintaimu. Aku hanya ingin kalian hidup menerima kemampuan kalian. Setelah ini pun, kuharap kau tak perlu menyesal dengan kelahiranmu, tak perlu terus berusaha menghilangkan memorimu, percayalah Rei, kau mampu melenyamatkan semua orang, semua saudara-saudaramu,"
Jari telunjuk pria itu menarik tuas pistol. Suara pistol yang menggelegar membuat terkejut empat orang anak di ruang utama. Kaki-kaki kecil mereka berlari ke arah laboratorium.
"Jangan pernah lari dari kenyataan pahit sekalipun, jangan menyalahkan dirimu sendiri, putraku tercinta."
Kata-kata itu menjadi kalimat terakhir si pria paruh baya yang kini terbaring di atas dingin ubin. Rei panik. Langkah kakinya berlari menuju jasad ayahnya. Namun, tiga anak lain merangsek masuk ke laboratorium.
"Dokter Harold!" Teriak seorang anak lelaki sambil berlari mendekati Rei yang berada di depan jasad si pria paruh baya. Wajah anak itu menatap ngeri ke arah jantung si pria dan tangan Rei yang penuh darah.
"Kau....kau membunuh ayahmu sendiri?"
"Bukan aku, bukan!"
"Kak Hear, Kyouru, tolong hubungi rumah sakit, aku dan Runa akan membawa Rei untuk melindunginya, bisa saja tanpa sadar dia membunuh Dokter Harold."
"Bukan aku, sudah kubilang bukan aku."
Anak lelaki itu mengeluarkan buku catatannya lalu dengan cepat menulis sesuatu. Tak berapa lama, Rei berhasil dibawa ke luar rumah tanpa perlawanan. Sedangkan, dua orang anak lain di dalam laboratorium bergegas melakukan tugasnya dengan raut wajah muram nan ketakutan.