Part 18-- Kepergian

1039 Kata
Sebuah tekad bukan hanya dibuat tapi harus dilakukan . . . Osaka, Jepang, 2042 Bunga sakura berjatuhan di sisi jalan menuju bandara Kansai. Bandara yang paling sibuk setelah Narita dan Haneda itu satu-satunya bandara yang paling dekat dengan Kyoto. Meski sudah banyak transportasi menuju ke Bandara Narita–bandara utama di Jepang– namun jarak antara Kyoto-Osaka tetap lebih dekat dari Kyoto-Tokyo. Maka, Rei dan Yuuki memutuskan untuk berangkat dari Bandara Kansai. Taksi energi surya yang ditumpangi Rei dan Yuuki berhenti tepat di depan lobby bandara. Butuh beberapa pengorbanan agar tekad mereka mencari buku harian riset Dokter Harold di Moskow terwujud, salah satunya adalah absen kuliah. Dua mahasiswa itu bahkan sudah mulai tak terpikir bahwa mereka punya kewajiban untuk masuk kelas. Yuuki menatap jam tangannya sekilas, berharap mereka tepat waktu. Mereka masih berdiri terdiam di depan lobby sebelum akhirnya memutuskan masuk setelah menerima pesan singkat di tablet Yuuki. "Mereka akan menyusul?" Rei menggeret tas dan kopernya dengan sebuah troli. Mereka akan cukup lama di Moskow, dan sudah semestinya banyak pula yang harus disiapkan. "Sebaliknya mereka sudah menunggu di dalam lobby terminal." Tak kalah banyak, Yuuki memeriksa tas-tas dan koper miliknya di troli. Terminal dua khusus penerbangan internasional ini amat luas dan nyaman. Berbagai kesibukan tampak di sana. Setelah mengambil tiket mereka pada robot di luar portal menuju lobby terminal, mereka mencari keberadaan Yui dan Hear. Aroma berbagai makanan siap saji menggoda selera. Memang banyak sekali gerai atau sekadar fasilitas bandara yang menawarkan makanan bagi penumpang yang menunggu take off. Rei menelan air liurnya. Sejak di rumah sakit, indra perasa lelaki muda itu belum lagi menikmati makanan yang enak. Perut pria bertubuh semampai itu pun tak bisa berkompromi. Rei merutuki diri sendiri di dalam hati, bisa-bisanya dia lapar di saat genting begini. Dengan cepat dia menghalau nafsunya untuk menyicipi beberapa makanan siap saji itu. "Rei-nii kalau kau mau makan beberapa camilan terlebih dulu makan saja, aku melihat jadwal pesawatnya dan itu masig sekitar sejam lagi." Terkejut, Rei mengalihkan pandangan ke gadis kecil yang kini berada di hadapannya. Yui tersenyum meringis sambil mengusap perut mungil yang tertutup gaun pink polkadot. Melihat tingkah gadis kecil itu, Rei terkekeh. Aku bisa merasakan rasa laparmu, Rei-nii, itu membuatku ingin makan juga. Sebuah bisikan terdengar di pikiran Rei. Masih sambil tertawa kecil, pemuda itu merubah langkahnya dan menuju sebuah gerai makanan. Yuuki menggelengkan kepala dan mengikuti Rei dan Yui yang berjalan riang. Mereka tengah melahap beberapa roti lapis dan sushi ketika Hear datang bersama Yukari-- wanita yang mengasuh Yui. Gadis kecil yang tengah menyedot matcha lattenya tersenyum simpul. Yukari menghela napas panjang dan ikut tersenyum, memaklumi tingkah anak angkatnya itu. "Kukira kalian tidak akan merasakan lapar saking paniknya memikirkan teror dari orang gila itu." Hear mengambil tempat duduk kosong di samping Yui. Tangan kanan pria buta itu dengan iseng mengambil cappucino milik Yuuki dan mengisapnya nikmat. Sayang, Yuuki bukan orang yang mudah kesal karena kejahilan seperti itu, membuat Hear sedikit bosan dan mendengus. "Manusia perlu makan, meski dalam keadaan perang sekalipun." Dengan datar, Yuuki seakan menanggapi pernyataan Hear. Pria berkacamata itu membereskan bekas makanannya dan meminta Rei dan Yui untuk segera beranjak. "Sudah hampir sejam, waktunya bersiap-siap." Lagi-lagi wajah datar Yuuki membuat Hear melontarkan senyuman kecut. Lelaki yang tampak cerdas memang membosanakan,pikirnya. Rei yang sudah mengerti sifat Yuuki mengikuti lelaki berkacamata itu dan bergegas. "Kalian benar-benar tidak akan ikut?" Tanya Rei pada Hear dan Yui. Wajah asia milik lelaki itu tampak kusam dan lelah. Kantung matanya tampak lebih hitam, dan Yui merasakan kelelahan mental Rei itu. Gadis kecil itu sering sekali menopang badannya dengan merundukkan badan seharian ini. Namun, ia tetap berkata baik-baik saja pada ibu angkatnya. "He-em, Yukari tidak mengizinkanku pergi, dan kakak tahu kan, aku tidak bisa membantahnya." Yui tersenyum kecil. Sekarang pandangan Rei beralih pada Hear. Pria buta itu sedari tadi tidak melepas earphonenya, membuat Rei bertanya-tanya bagaimana ia menangkap pembicaraan mereka. "Pendengaranku terlalu peka, bisa tewas kalau naik pesawat." Yuuki mendelik. Seketika Hear tertawa. "Teleportasi, aku ke Jepang dengan teleportasi, haa– pasti tidak percaya." Sekali lagi, mata Yuuki menyipit. Dahinya mengernyit. Belum mengatakan apa-apa, Rei langsung menarik lengan Yuuki, mengisyaratkan untuk bergegas "Iya, dia memang pria buta b******k yang mengesalkan, namun kita masih membutuhkannya, jadi mari bunuh dia lain waktu, Yuuki!" Perkataan yang setengah bercanda itu ditanggapi gelak tawa Yui dan Hear. Paling tidak, mereka harus sedikit tertawa agar tak terlalu tertekan. "Rei-nii!" Teriakan Yui terdengar nyaring bagi telinga Rei yang kini sudah berjalan menuju pesawat. Pemuda manis itu menoleh dan menemukan senyum cantik Yui mengembang tulus. "Ganbatte! (Semoga berhasil!)" Rei melambaikan tangan. Sesaat kemudian, dia sudah membalikkan badannya dan mengejar Yuuki menaiki pesawat. *** Shibuya, Tokyo, Jepang, 2042 Aroma sake yang memabukkan memenuhi ruangan. Beberapa kendi kecil nan ramping berwarna putih ditemani cawan ceper berwarna senada memenuhi meja tatami. Di belakang meja kecil itu seorang lelaki berambut acak-acakan dengan yukata membalut tubuh rampingnya tersenyum tipis. Kepala lelaki itu berpangku santai pada tangan kirinya sementara tangan kanannya tak berhenti menuangkan sake ke dalam cawan putih. Sake yang tertuang meluap dari cawan putih ceper dan menetes dari sisi meja, meninggalkan bercak gelap di lantai tatami. Sora berdiri di depan pria itu dalam diam. Ia merutuki hatinya yang tak bisa pergi dari sisi lelaki itu hingga terus mengikutinya ke manapun lelaki monster itu pergi. Benar-benar cinta terkutuk. Tak berapa lama, suara pintu kanvas yang bergeser memecah keheningan. Seorang perempuan masuk dengan merundukkan kepalanya sedikit. Aura gelap menyelimuti raut wajah wanita itu. Ia datang dengan amarah hanya untuk menuang api ke dalam amarah itu. Kini amarah wanita itu semakin berkobar setelah menatap lelaki di ruangan itu. k*****t yang menjadi dalang teror pembunuhan berantai. "Kau–!" Belum sempat sumpah serapah keluar dari mulut wanita itu, ia merintih. kedua tangannya memegang pucuk dan sisi kepala bersamaan. Ia berteriak histeris. Setetes dua tetes air mata semakin membanjiri kelopak matanya. Kata-kata rutukan kini keluar dari mulut perempuan berambut panjang itu. Lelaki di hadapannya mengakhiri rutinitas menuangkan sake ke cawan dan mulai menjetikkan jari perlahan. Membuat nada dengan ritme yang mengerikan. Perempuan bertubuh semampai itu semakin berteriak histeris, namun dengan kata yang berbeda. Ia meneriakkan satu nama sambil terisak. Rei. "Ya, terus, teruslah begitu, ingatlah setiap perkataan dan perbuatannya yang tak kau suka, teuslah rasakan kebencianmu pada Rei, rasa cemburu atas penolakan perasaan cintamu padanya, rasakanlah kebencian itu dan berpihaklah padaku, Haruna Hatsu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN