Part 35-- Epilog 1

1145 Kata
“Ketidaksempurnaan bukanlah takdir yang tak dapat diubah.”— Kim Yura. . . . .   Sudah beberapa menit berlalu sejak Hear masuk ke ruang investigasi. Di depan pintu ruangan berwarna abu-abu itu, Rei duduk di kursi tunggu sambal menatap kaca tak transparan di depannya. Pikiran lelaki itu mengawang. Ia berkali-kali mencoba focus pada kemampuan melihat dan pikirannya, tapi ruangan itu seperti kebal terhadap kemampuannya. Kini, hanya rasa cemas yang menyelimuti Rei. Yui dan Kyouru sebelumnya sudah dibawa beberapa petugas untuk pemeriksaan begitu juga dengan Yura dan Elriena. Walaupun wanita yang mampu berakting itu sempat mencoba melarikan diri, tetapi akhirnya ia tetap dipaksa mengatakan hal yang ia tahu pada polisi. Memang manusia super masih cukup aneh, tetapi alat-alat penyidik dan ruangan investigasi sudah mampu berjaga-jaga tentang hal itu.   Hawa dingin dari air conditioner di Lorong tunggu itu menerpa tubuh Rei. Lelaki itu mulai gelisah. Setelah semua saudaranya, ialah yang terkahir akan memasuki ruangan dan bertemu Detektif Ishirou. Memang, ini bukan pertama kali ia datang ke sana. Namun, saat pertama kali bersaksi, ia masih belum mengingat memorinya. Saat ini, dengan banyak hal yang ia tahu, ia takut jika ada orang lain yang mengetahuinya. Penelitian ayahnya memang meraih penghargaan nobel, tetapi banyak orang yang belum tahu rahasia formula pembuat anak-anak berkemampuan super dan juga hal yang membuat uji cobanya benar-benar berhasil menciptakan Sense, sang pemilik DNA sempurna.   Rei menghela napas berat. Tak lama kemudian, matanya menoleh saat menyadari ada yang mendekatinya. Yuuki tampak berwajah kuyu tengah menatap pilu pada Rei. Di belakang lelaki itu, Runa tampak bersembunyi. Wanita itu memegang ujung kemeja belakang kakak kandungnya. Kakak beradik itu telah selesai memberi kesaksian di ruang penyidik yang berbeda dengan Hear. Menatap mereka yang tampak baik-baik saja, Rei tersenyum cerah. Sepertinya penyidik tidak menyudutkan mereka. Apalagi mereka termasuk korban yang dikendalikan pelaku dan itu membuat Rei percaya bahwa apapun kesaksian mereka tidak akan merugikan diri mereka sendiri.   “Hear belum keluar?” tanya Yuuki dengan nada khawatir. Rei menggeleng. Ia segera berdiri menghampiri kakak beradik itu. “Aku senang kalian baik-baik saja. Terutama kau, Runa.” Senyuman Rei terhias lembut di bibirnya. Sementara itu, Runa semakin menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Yuuki. Sang kakak menoleh ke adiknya. Lelaki berkacamata itu menghela napas.   “Sejak aku mengajaknya menemuimu, ia terus saja bersembunyi seperti ini. Runa, berhentilah bertingkah begitu!” Yuuki menarik lengan adiknya tuk beranjak dari tempatnya. Sayang, wanita itu tetap kukuh menarik kemeja belakang Yuuki dan menyembunyikan dirinya.   “Kau baik-baik saja, kan, Runa?’ tanya Rei sambal mengintip melalui tubuh Yuuki hanya tuk bertemu mata dengan sang ‘Reader’. Sontak, Runa melepaskan Yuuki dan berlari pergi ke belakang, meninggalkan dua orang lelaki itu. Mata Rei tampak berkedip-kedip sesaat. Baru saja ia mau mencoba membaca apa yang dipikirkan Runa, tetapi sepertinya wanita itu tahu apa yang hendak ia lakukan.   “Hah …, biarkan saja dia. Aku rasa ia lagi-lagi merasa bersalah padamu,” ucap Yuuki sambal mendudukkan diri di atas kursi. Rei mengikuti sahabatnya itu. Sang penulis itu merogoh kantungnya dan menyodorkan sebuah minuman kaleng pada Rei. Setelah membuka dan meneguknya, Rei terpaku menatap lantai yang dingin.   “Apalagi yang kau pikirkan, Rei? Bukankah akhirnya semua ini telah berkahir, aku dan Runa tak perlu lagi menyembunyikan apapun padamu. Teror telah benar-benar usai.” Yuuki menatap wajah sendu Rei. Sahabatnya itu tahu bahwa lelaki yang mempunyai DNA sempurna di sampingnya itu kini telah mengkhawatirkan sesuatu.   “Benarkah? Apa sekarang benar-benar selesai? Aku hanya takut jika semua ini baru saja menjadi awal hal buruk lain terjadi pada kita semua. Aku takut, penelitian Ayah diketahui semua orang, yang lebih buruk, jika kalian berada dalam bahaya karena diriku tak bisa melindungi kalian dengan kemampuanku ini.” Rei menatap kedua telapak tangannya. Ia tak bisa merasakan hal berbeda dari sana. Bahkan, tubuhnya tetap merasakan hawa dingin, meski ia mencoba melawannya. Dalam pikiran Rei, segala kekalutan telah menghantui. Ia tidak tahu apakah semua saudaranya akan baik-baik saja. Kata-kata ayahnya yang mengatakan bahwa dialah anak sempurna yang harus melindungi saudara-saudara angkatnya menjadi beban dalam pikirannya.   Menatap Rei yang tampak tak percaya diri, Rei menepuk-nepuk pundak sang sahabat. Ia sangat berharap tindakannya itu mampu menenangkan sang Sense. Tak berapa lama kemudian, pintu ruang investigas terbuka. Hear keluar dari sana dengan wajah datar. Yuuki dan Rei segera menghampiri lelaki buta itu. Namun, saat kedua sahabat itu menanyakan apa yang tengah terjadi di dalam ruangan, Hear tetap bungkam. Ia hanya berlalu sambal mengucapkan hal yang membuat Rei dan Yuuki enggan menghentikannya.   “Jangan tanyakan apa pun, aku hanya ingin sendiri.”   ***   Sebuah sel berbentuk kapsul berkaca transparan dan dilengkapi beberapa tombol hijau di sisi kanannya mengurung Hans di dalamya. Lelaki itu kini hanya dapat menatap lunglai sambal meringkuk. Meski sudah lewat jam makan siang, taka da satu pun makanan yang mengisi perutnya. Ia lebih memilih menolah semua makanan yang disediakan sipir penjara khusus itu. Di tempat ini, jangankan menggunakan kemampuan pengendali pikirannya, bahkan berpikir ia akan hidup saja sudah sulit.   Hans menengadah setelah menyadari seseorang tampak mengunjungi selnya. Yura berdiri di depan kurungan Hans dengan tatapan sedih. Wanita itu lalu merunduk agar dapat bertatap mata dengan adik kandungnya. Detektif Ishirou yang juga datang Bersama Yura menyalakan salah satu tombol hijau di sisi pintu sel. Hal itu membuat tulisan ‘speaker on’ di monitor ruangan tersebut menyala.   “Hans, kau mendengarku?” tanya Yura mengawali pembicaraan mereka. Senyum sinis terukir di bibir Hans. Lelaki pengendali pikiran itu menatap Yura malas. Ia tampak enggan menjawab pertanyaan basa-basi kakaknya itu.   “Aku rasa senyuman itu pertanda bahwa kau mendengarku,” tanpa memaksa Hans merespon perkataannya, Yura kembali berbicara.   “Aku tahu, Hans. Banyak hal yang ingin kau ketahui. Tapi, aku hanya ingin kau tahu, aku meninggalkanmu bukan karena aku membuangmu. Sejak awal aku bertemu Dokter Harold, aku berniat ingin menyelamatkanmu. Aku tahu, aku telah menjadi kakak yang tak bertanggung jawab, tapi percayalah, Hans, aku menyayangimu, kau tidak sendirian di dunia ini, jadi kau tak perlu membenci atau iri pada siapa pun. Tentang ketidaksempurnaanmu, bagiku itu bukan hal yang buruk. Ketidaksempurnaan bukanlah takdir yang tak dapat diubah. Kau lahir tanpa empati, tapi aku yakin hati nuranimu masih ada, Hans, dan itu akan menuntunmu. Kau perca—”   “Noona, bogoshiposseo?” tanya Hans tiba-tiba. Seketika, air mata meleleh membasahi pipi mulus Yura. Wanita itu memejamkan mata untuk menahan emosinya. Ia tahu apa yang dilakukannya selama ini adalah hal yang tidak akan dimaafkan Hans. Yura juga mengerti kenyataaan bahwa ia melarikan diri karena rasa takut pada adiknya sendiri adalah hal yang sangat dibenci Hans. Yura tidak percaya diri menjawab pertanyaan Hans dan merasa nasehatnya hanyalah omong kosong lain yang berikan pada adiknya. Akhirnya, tanpa merespon apapun akan ucapan Hans, Yura memilih meninggalkan sel. Ia mengatakan terima kasih kepada Detektif Ishirou karena telah mengantarnya menemui sang adik sebelum dirinya meminta izin untuk pergi.   Detektif polisi berkemeja putih abu itu hanya tersenyum simpul. Sesaat setelah Yura benar-benar pergi, lelaki itu mendatangi sel Hans kembali. Sang Thinker menatap Ishirou malas. Seringai di bibirnya kembali merekah.   “Bukankah kau ingin bebas, Thinker? Kau bisa bekerja sama denganku.” Senyum licik menghiasi bibir sang Detektif kepolisian itu. Hans terkekeh mendengar tawaran tersebut. Tangan kiri lelaki itu beralih menopang dagu.   “Dugaanku tepat, ya. Kau memang punya pikiran yang sama sepertiku, Detektif.”     ---Season 1 Tamat--- 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN