Kebenaran perlu dicari, jika tidak terus saja berputar dalam kesesatan.
.
.
.
Moskow, Rusia, 2043
Rei mengerjapkan matanya. Ia baru saja terbangun dari tidur yang amat tak nyaman. Bagaimana bisa nyaman jika ia tidur di kabin pesawat dalam keadaan pikiran yang kacau. Desahan pelan terdengar dari lelaki muda itu. Kini kepalanya benar-benar penuh dengan banyak hal. Sejak kemarin saat Runa menghilang, ia hampir saja membatalkan rencananya ke Moskow, andai saja Yuuki tidak bersikeras menekankan tekadnya untuk mengalahkan si pembunuh pasti ia sudah membatalkan penerbangan.
Lelah, Rei melirik ke jendela kecil di sampingnya. Pengumuman dari pramugari tentang pendaratam pesawat terngiang di telinganya. Tak lama lagi ia akan segera mengulang semua kenangan yang ia lupakan. Lagi-lagi Rei menghela napasnya. Yuuki yang melihat sahabatnya itu bermuka masam mulai menegakkan tubuhnya, mengambil tabletnya dan menyodorkan semua pada Rei.
"Hubungilah Runa saat kita mendarat nanti."
Rei menoleh sesaat sebelum akhirnya menatap jendela kembali.
"Tak perlu, aku takut ia tak akan mau bicara padaku."
Sesaat setelah percakapan singkat kedua lelaki itu, pesawat Airloft yang mereka tumpangi mulai melakukan pendaratan di bandara Sheremetyvo. Bandara internasional Moskow itu tampak lebih megah dari dugaan Rei.
Mata indah lelaki dua puluh satu tahun itu menatap takjub salju yang turun menghiasi sekeliling Sheremetyvo. Beberapa robot yang mengatur pendaratan pesawat memberi sinyal di landasan. Dengan halus, tanpa getaran, pesawat Airloft itu mendarat di landasan. Rei mendengarkan saksama pemberitahuan dari pengeras suara sambil merapikan beberapa barang elektronik miliknya dan bergegas turun dari pesawat bersama Yuuki.
"Kau lapar?" ucap Yuuki saat mereka memasuki lobby utama bandara Sheremetyvo. Dengan cepat, Rei menggeleng untuk menjawab pertanyaan basa-basi Yuuki. Air muka lelaki muda itu masih tampak kelelahan, namun kakinya tak mau berhenti melangkah untuk segera sampai di rumah utama. Rumah yang menyimpan teka-teki identitas dirinya.
Di depan bandara kedua lelaki itu segera menaiki taksi. Tak berapa lama taksi itu mengambang di udara dan melaju tepat di atas jalanan Kota Moskow yang putih dipenuhi salju.

***
"Kita telah sampai di situs penelitian Dokter Rajua Harold, silakan taruh kartu anda di mesin pembayaran dan harap bayar sesuai tarif. Terimakasih"
Rei dan Yuuki keluar dari taksi yang tak berapa lama setelahnya kembali melaju. Sebuah bangunan seperti laboratorium dan sebuah rumah besar terlihat di hadapan mereka. Pagar besi melingkari dua bangunan besar itu. Rei terdiam melihatnya. Aroma lavender tercium kuat dari arah halaman bangunan itu. Padahal salju menutupi halaman hingga memutih, tapi wangi bunga itu terasa semerbak.
Rei masih terdiam kaku di depan pagar besi. Yuuki menatapnya heran. Lelaki yang dikenalnya sejak kecil itu bergeming. Yuuki tahu bahwa Rei akan terkejut saat melihat bangunan ini kembali setelah sekian lama. Dan, apa yang diduga Yuuki benar terjadi, perlahan air mata mulai menetes dari mata Rei. Dalam diam, lelaki muda itu merasakan sakit saat semua kenangan masa kecilnya kembali terulang saat ia menatap bangunan itu.
"Kita masuk?" Tanya Yuuki memecah keheningan. Rei tersadar dari lamunannya. Dengan cepat, ia menyeka air mata yang masih mengalir dari kedua mata coklatnya.
"Rumah besar itu masih sama."
Ucapan Rei sama sekali tak menjawab ajakan Yuuki, membuat pria berkacamata itu menghela napas. Ia menggeret kopernya tanpa memperdulikan perkataan Rei. Setelah beberapa langkah di depan Rei, ia menoleh.
"Ayo masuk, aku rasa ada orang yang menjaga tempat ini sebagai situs penelitian penting bagi Rusia."
Rei mengangguk dan ikut menggeret kopernya mengikuti Yuuki. Mereka melangkah bersama mendekati pagar besi. Di sebuah sudut pagar besi itu terdapat doorcam yang otomatis aktif saat Yuuki dan Rei berada di depan gerbang. Suara dari balik alat penerima pengunjung itu menanyakan tujuan kedua lelaki yang masih tertahan di depan gerbang.
"Hasil eksperimen?"
Terdengar nada heran bercampur terkejut saat Rei dengan sengaja memakai kekuatan pikirannya untuk berkomunikasi dengan orang di balik gerbang. Hening sesaat. Gerbang besi itu akhirnya terbuka setelah suara di doorcam terdengar bising. Mungkin bukan satu dua orang yang menjaga rumah besar dan laboratorium ayah-- pikir Rei.

***
Rei menghirup napas dalam-dalam. Aroma lavender yang tadi sudah tercium dari luar gerbang semakin terasa pekat. Seorang pria yang mengantarnya dan Yuuki ke dalam halaman rumah menghentikan langkahnya. Mata pria itu menoleh ke arah Rei. Kata-kata 'hasil eksperimen' yang tadi terlintas di pikirannya membuat banyak pertanyaan pada kedua lelaki muda di belakangnya.
"Sejak anak lelaki itu menghilang, hampir tidak ada anak Dokter Harold yang kembali ke sini." Ucap lelaki itu.
Rei dan Yuuki tidak menanggapi. Lelaki tadi berdehem lalu kembali melangkah sambil mengaktifkan tombol pintu otomatis dengan remote kecil di tangannya. Sejenak kemudian pintu rumah besar di hadapan mereka terbuka.
Tak tampak sedikitpun debu di rumah itu. Bersih. Rapi. Dan, Rei terus menerus mengatakan 'tak ada yang berubah' beberapa kali saat mereka masuk. Pajangan kerangka robot berjajar di sisi ruang utama dengan beberapa sofa dan meja yang rapi membentuk lingkaran di tengah ruangan. Di sudut ruang tampak tangga berpegangan besi dan berdinding kaca. Tampaknya tangga tersebut menuju lantai dua rumah tersebut. Dinding rumah itu dihiasi wallpaper vektor tiga dimensi berwarna biru gradasi. Sebuah rumah yang unik dan kental dengan nuansa sains serta teknologi.
"Apa kau orang yang dijuluki Sense, Rei Harold putra Dokter Rajua Harold?"
Pertanyaan lelaki berjas putih khas laboratorium yang mengantar Rei dan Yuuki menyadarkan lamunan mereka. Yuuki melepaskan genggaman dari kopernya yang sedari tadi ia geret. Mata sendu di balik kacamata lelaki muda itu melirik Rei yang masih tampak mengondisikan trauma dan perasaannya yang bercampur aduk. Saat akhirnya Rei menyadari tatapan Yuuki dan lelaki berjas putih itu, ia mengangguk, mengiyakan pertanyaan si lelaki berjas putih.
"Suatu keberuntungan, saya dapat melihat langsung putra Dokter Harold, apalagi kau adalah hasil eksperimen teori CRISPR Cas 9 yang paling luar biasa!"
"CRISPR? Metode untuk memodifikasi DNA yang bertujuan mengurangi resiko penyakit?" Rei mengucapkan sebuah pernyataan dengan nada pertanyaan, menampakkan keheranan yang amat sangat di raut mukanya. Raut wajah Yuuki pun tak kalah heran dengan Rei. Mereka seperti mendengar sesuatu yang mustahil dan tak mungkin. Ya. Metode modifikasi DNA tersebut memang sudah amat dikenal mereka. Apalagi dengan status mereka yang merupakan mahasiswa teknologi sains. Metode ini pun sudah sangat berkembang seiring bertambahnya zaman dan kemajuan teknologi, namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa merekalah awal berkembang pesatnya metode ini.
Beberapa saat kemudian, rasa keheranan dan kebingungan mereka semakin menjadi. Yuuki mengernyit. Mencoba mencerna informasi tentang CRISPR yang ia tahu.
"Rei, menurutku ini tidak masuk akal." ucapanya. Situasi di ruangan inti rumah besar itu semakin canggung. Raut wajah penuh pertanyaan antara mereka bertiga pun tampak jelas terlihat.
Kebenaran yang kucari sudah pasti ada di sudut rumah ini, meski tak masuk akal, aku akan menemukan kebenaran tentang Sense!
Dalam diam, Rei berbicara di dalam hatinya. Sementara salju kembali turun menjatuhi halaman rumah besar itu, mengganti gelapnya tanah hitam dengan indahnya es putih.