Part 23-- Fakta

1232 Kata
Jika diri menolak untuk mengetahui kebenaran di balik setiap persoalan, maka hidup tak akan pernah aman. . . . . Seketika Rei limbung. Tangan kanannya memegang erat rak buku perpustakaan. Susah payah ia mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya. Tangan yang lain menekan tengah perutnya. Wajah pemuda itu berubah pucat. Bola matanya terpaku di tengah. Deru napas lelaki muda itu terdengar cepat. Cukup lama ia bertahan dengan kondisi itu. Perlahan Rei menegakkan kembali bukunya. Buku harian ayah Rei, Profesor Harold, tergeletak di bawah. Ia belum menemukan kebenaran yang ia cari, tapi sepenggal kisah ayahnya membuat Rei sulit melanjutkan. "Tenanglah, Rei." Ucapan yang sama diulangnya berkali-kali. Buku yang tergeletak itu pun dengan bergetar kembali ada di genggaman Rei. Ia memejamkan mata sesaat. Mengatur detak jantung yang terus saja semakin cepat. Jemari lentik dan putih lelaki itu kembali mengelus buku harian Harold. Kini deretan buku di rak perpustakaan kembali berubah menjadi tempat yang lain. Sebuah laboratorium yang ia kenal terbias di iris matanya. Profesor Harold tengah duduk di meja kayu sudut laboratorium itu. Lelaki berkacamata itu menghela napas berkali-kali. Rei mengulurkan tangan kanannya. Ada sebuah kerinduan dalam hati pemuda itu saat melihat sosok lelaki paruh baya yang ia kenal itu. Harold bergeming. Tentu saja, karena ia tak bisa melihat Rei, ia hanya sebuah memori di dalam buku harian yang dilihat Rei. Mata Harold terpaku pada sebuah bingkai foto di atas meja. Harold dan Risanna yang tengah memegang bayi kecil tersenyum pucat di dalam foto. Tangan Harold menggapai kacamata dan melepasnya. Kedua jari lelaki itu menekan tulang hidungnya dan kembali menghela napas. Tak lama kemudian, Risanna datang membawa dua pasang jaket tebal. "Mau jalan-jalan di luar?" Ucapan kekasih hatinya itu langsung di'"iya"kan oleh Harold. Sekejap kemudian, sekeliling Rei kembali berubah. Sebuah hutan dikelilingi pohon pinus mulai terbias di iris mata Rei. Sepasang pria wanita yang tadi berada di laboratorium berjalan berdampingan. Mereka terus berjalan jauh dan tampak berbincang ringan. Hanya cahaya dari bintang di langit malam yang menemani mereka. Tiba-tiba sebuah cahaya melesat dari langit. Bunyi yang cukup besar, membuat Harold dan Risanna berlari menuju arah bintang jatuh itu. Kelipan cahaya berwarna ungu terang memenuhi area tempat jatuhnya bintang itu. Harold tampak sangat takjub. Sementara istrinya memegang erat lengan lelaki itu. "Batu meteor?" Tanya Risanna ragu. Namub, Harold seakan mendapat sebuah jackpot. Ia tersenyum sumringah. Wajahnya penuh dengan rona bahagia. "Bukan, Risanna! Ini berkah Tuhan. Aku akan membawa beberapa butir serbuk ini untuk sampel." Tangan Risanna dengan cepat menahan Harold. "Kita tidak tahu apa ini, Harold!" "Aku percaya Tuhan selalu menjawab harapan kita Risanna, dan ini adalah berkah dariNya!" Genggaman tangan Risanna mengendur. Akhirnya ia pasrah membiarkan sang suami mengambil beberapa sampel serbuk ungu itu. Rei memperhatikan mereka dengan seksama sebelum pandangannya kembali berubah. Lagi-lagi ruang laboratorium lah yang dilihatnya. Tampak Harold tengah melihat serbuk ungu di bawah mikroskop. Risanna ada di sebelahnya dengan wajah khawatir. Tingkah Harold berubah beberapa saat kemudian. Ia memeluk istrinya dan terus mengucapkan hal yang sama. "Kita akan memulainya dengan ini! Modifikasi DNA CRISPR Cas 9 yang sempurna akan berhasil dengan ini! Ini berkah Risananna!!" Meteor? kami diciptakan dengan DNA dalam meteor? Otak Rei mencoba menyerap semua informasi dari memori buku harian yang ia lihat. Setelah itu, sekelilingnya dengan cepat berubah-ubah. Harold yang meneliti satu persatu hewan percobaan, Risanna yang mengumpulkan informasi dan memberitahu temuan mereka ke beberapa situs, beberapa ibu hamil yang terus berdatangan ke laboratorium Harold bergulir dalam pandangan Rei. Satu persatu bahan percobaan Harold yaitu janin dalam kandungan seorang ibu terlahir. Rei mengenal bayi-bayi yang terlahir itu. Ia mengingat beberapa wajah wanita-wanita yang meninggalkan anaknya di rumah utama, menjadi anak asuh Harold. Rei amat sangat tahu wajah anak-anak yang "dibuang" orang tua mereka. Tak ada yang sempurna, tak ada yang mempunyai gen sempurna. Semuanya terlahir dengan satu kecacatan dan Rei mesti melihat awal dari semua penderitaan mereka melalui memori buku harian ayahnya. Harold terus menulis satu persatu draf anak-anak yang diserahkan dengan kejam oleh orang tuanya. Kesepuluh anak yang menjadi bahan percobaan lelaki itu tertulis rapi di sebuah buku hasil uji coba. Rei mendekati ayahnya yang merupakan memori itu. Nama-nama yang tertulis di buku hasil uji coba itu berhasil membuatnya menangis. Mereka tidak lain adalah saudaranya, saudara yang sama-sama diasuh oleh ayahnya. Ravell Mirrium- Killer (sang pembunuh, cacat: otak kiri, emosi tidak stabil) Elriena Khisca- Imitator (sang peniru, cacat: penyakit jantung, perlu alat pompa jantung) Kim Hansel- Thinker (sang pemikir, cacat: saraf tangan kiri, tidak punya empati) Hear Saber- Hear (sang pendengar, cacat: buta permanen) Sora Saber- Look (Sang penglihat, cacat: gendang telinga rusak permanen) Illiana Grande- Singer (Sang penyanyi, cacat: saraf penciuman terganggu) Yuuki Hatsu-Writer (Sang penulis, cacat: saraf kedua mata terganggu) Haruna Hatsu- Reader (Sang Pembaca, cacat: saraf indra peraba di kulit terganggu) Kyouru Shizuya- Player (Sang pemain, cacat: pertumbuhan terganggu; tidak bisa tumbuh lebih dari tujuh tahun) Yui Shizuya- Sensitive ( Sang perasa, cacat: pertumbuhan terganggu; tidak bisa tumbuh lebih dari tujuh tahun) Usai membaca nama-nama di draf itu, Rei menutup mulutnya dengan tangan kiri. Pemuda itu tak pernah tahu semua akibat dari kesalahan ayahnya. Namun, membenci ayahnya saat ini juga percuma. Kemampuan anak-anak itu semakin berkembang. Pemandangan tentang pertumbuhan mereka dan janin Risanna yang mulai hamil lagi sejak dimulainya penelitian Harold juga bergulir dalam penglihatan Rei. Wajah Harold dalam kenangan-kenangan itu tak tampak bahagia. Terkadang ada pemandangan yang menunjukkan Harold tengah meneguk segelas bir dan menangis. Rei tahu, ayahnya pasti juga merasa bersalah pada anak-anak itu, tapi nasi telah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa merubah kecuali takdir. Namun, bagi Rei ini adalah fakta untuk merubah takdir. Setelah memori-memori itu bergulir, kini Rei dihadapkan oleh memori lain. Harold tampak kembali merenung di meja laboratoriumnya. Sesekali ia melihat sendu ke arah foto di sudut meja. "Aku harus membuat yang ini tetap hidup. Tuhan, kumohon, aku ingin membuat DNA sempurna untuk calon anakku." Tak berapa lama, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Harold. Harold bergegas menuju asal suara. Seorang gadis kecil yang tampak kedinginan tampak berdiri di depan saat pintu dibuka. "Oh Tuhan, masuklah nak!" Harold memapah gadis kecil itu masuk. Setelah mendudukannya di atas kursi, Harold mengambil sebuah selimut. Dibalutkannya selimut itu ke tubuh si anak. "Pakailah, Nak. Di luar pasti dingin sekali." Sesaat mata Rei berpaling dari mereka ke luar jendela. Salju tengah turun cukup banyak. Embun putih bahkan menutupi kaca jendela. Pantas saja tubuh gadis kecil itu bergetar hebat. Dengan kaos lusuh dan kemeja yang tipis itu mana mungkin bisa menghangatkannya. Harold memandang gadis kecil itu lekat sekejap. Pria paruh baya itu pergi sesaat dan kembali lagi dengan membawa secangkir coklat panas. "Minumlah, Nak. Hati-hati masih panas." Gadis kecil itu meminum coklat panasnya sedikit demi sedikit. "Apa yang membuat gadis kecil sepertimu datang ke laboratoriumku?" Harold sedikit menundukkan kepala. Berharap bertemu mata dengan gadis kecil itu. "Adikku, aku mencari adikku. Mereka bilang ia dijadikan bahan percobaan olehmu! Dan ibuku dengan teganya meninggalkanku." "Ke mana ibumu?" "Bunuh diri, aku tak sempat melihat adikku lahir, dan ibuku bunuh diri. Aku sudah tak punya apa-apa lagi." " Siapa adikmu?" "Entah, ibu hanya bilang kalau dia seperti monster yang bisa mengendalikan pikiran orang lain" "Apa yang kan kau lakukan jika sudah bertemunya?" Gadis itu terdiam sesaat. "Aku ingin melindunginya, tapi tubuhku sangat lemah. Sejak kecil aku selalu sakit-sakitan. Aku tidak yakin bisa melindungi adikku." Harold menatap gadis kecil itu lekat. "Apa kau percaya padaku?" "Hmm." "Aku akan membantumu melindungi adikmu." "Bagaimana caranya?" Seulas senyum mengembang di bibir Harold. "Aku akan membuatmu menjadi anak yang paling sempurna di antara yang sempurna."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN