Part 32-- Masa Lalu

1204 Kata
Membenci hanya akan mendatangkan rasa sepi, mendendam hanya akan membebankan hati. . . . . "Kau ..., siapa?" Wajah Rei masih menatap heran perempuan yang kini mendudukkan tubuh Sora. Setelah itu, ia menempelkan telapak tangannya di tubuh Sora dan tiga orang lain yang tak sadarkan diri. Rei yang masih menunggu jawaban bergeming, di benak lelaki itu teringat lagi buku harian ayahnya. Banyak pertanyaan yang berdatangan di pikirannya. Namun, jika apa yang ia pikirkan benar, berarti misteri kemampuan mereka dan awal dari semua teror thinker ini akan berakhir. Menyadari Rei yang menatapnya penuh tanda tanya, sang wanita misterius menoleh dan beranjak dari depan tubuh Yuuki. "Kim Yura, senang bertemu denganmu, Putra Dokter Harold." Senyuman di bibir wanita itu mengembang tulus. Ia mengulurkan tangannya untuk sekadar berkenalan dengan Rei. Dengan rasa penasaran, lelaki itu menjabatnya. Beberapa saat kemudian, bola mata Rei membesar. Ia mengingat nama wanita itu. Dugaannya tepat. "Yura? SENSE?!" Mendapati Rei yang terkejut, Yura tertawa kecil. Namun, wajahnya kembali serius setelah merasakan hal-hal aneh di sekitar mereka. Bola matanya menerawang. "Kita tak punya banyak waktu, kau harus menemukan yang lain sebelum Hans sadar." Yura segera bergegas menuju pintu. Namun, Rei menahannya. "Jelaskan dulu padaku apa yang kau ketahui. Semuanya!" sergah Rei. Yura mendengkus. Ia tak pernah tahu, putra dari lelaki yang menyelamatkan hidupnya 20 tahun lalu ternyata sangat keras kepala. "Aku akan mengirimkan memoriku saat kita mencari yang lain. Ah, kau juga harus menghubungi polisi. Jika Hans sadar, maka aku sendiri yang akan menyeretnya ke penjara." Yura melepaskan tangan Rei. Bibir wanita itu tersenyum tipis. Ia mulai fokus dengan kemampuan pikirannya. *** Moskow, Rusia, 2020 Harold membuka pintu laboratorium. Di sana, di atas kasur perawatan, seorang gadis kecil terduduk sambil memperhatikan kedua tangannya. Menatap wajah lucu milik anak itu, Harold tersenyum lembut. Ia berjalan perlahan menuju sang gadis kecil dan mengusap pucuk kepalanya. "Kau suka dengan kemampuan barumu, Yura?" tanya Harold. Gadis kecil itu--Kim Yura-- mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menatap Harold lekat-lekat. "Aku bisa tahu kalau dokter tengah menahan rasa kantuk karena semalam terus terjaga, ini aneh. Aku jadi ikut mengantuk." Tak menjawab pertanyaan Harold, Yura malah mengoceh hal aneh. Lelaki paruh baya itu tertawa mendengar ucapan Yura. Ia lalu menggenggam erat kedua tangan si gadis kecil. "Maafkan aku, Nak. Terimakasih, karena berkat dirimu, akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini." Senyuman lembut Harold terukir di bibirnya. Bola mata Yura kecil pun berbinar. "Benarkah? Ah, kalau begitu sebagai imbalannya, Dokter akan mempertemukanku dengan adikku, 'kan?" tanya Yura semangat. Harold menghela napas. Ia tersenyum sendu. Di pikiran lelaki itu ada kekhawatiran yang mendera. Namun, dengan cepat Harold berusaha menghilangkan keraguan di hatinya itu. Ia kembali mengelus rambut ikal Yura. "Tentu saja! Tapi, kau harus berjanji padaku," tegas Harold. Air muka Yura kecil berubah keheranan. Ia tak menyangka meski membuat sebuah janji hanya untuk bertemu adiknya sendiri. "Apa itu, Dok?" tanyanya kebingungan. "Jangan mendekatinya, aku hanya mengizinkanmu melihatnya dari jarak 5 meter." Lagi-lagi, aura muram tersurat di wajah Harold. Yura yang tak mengerti apa yang akan ia hadapi menatap Harold aneh. *** Mata Yura kecil terbelalak. Di depan sana, di taman bermain yang jaraknya 5 meter dari tempatnya berdiri, seorang bocah berumur sekitar 3 tahun mencabik-cabik rerumputan di depannya. Tatapan bocah lelaki itu nanar. Raut mukanya datar dan suram. Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang anak yang tampak lebih tua membawa sekotak s**u cokelat. Si bocah lelaki yang berwajah suram itu menoleh. Tatapan tajamnya menatap si pembawa s**u lekat-lekat. Tiba-tiba, anak yang ditatap tersungkur dan merunduk di hadapan bocah lelaki. "He ..., amu dak mau bagi aku? Anti aku malah, lho. Kalau Hans malah, nanti kamu halus tuluti semua yang Hans mau, ya, Yuuki." Bocah lelaki berwajah suram itu mengelus-elus pucuk anak lelaki yabg lebih tua di depannya. Seringai kecil menyeramkan dan tatapan intimidasi bocah kecil itu membuat Yura bergidik. Di dalam pikirannya, ia terus menyanggah kenyataan bahwa anak aneh itu adalah adiknya. Bocah kecil yang bahkan ditakuti dan dibuang ibunya sendiri. "Kau sudah melihatnya?" Suara Harold membuat Yura tersentak. Tubuhnya gemetar. Menyadari ketakutan gadis kecil itu, Harold segera memeluknya. "I ..., ini sebabnya, eomma membuang adikku? Eomma ..., eomma, apa eomma bunuh diri juga kare--" ucapan Yura tertahan. Isak tangis mulai keluar dari bibirnya. Harold menepuk-nepuk punggung Yura, mencoba menenangkan gadis kecil itu. Ia tahu kenyataan ibu Hans yang bunuh diri karena pengaruh putranya sendiri. Dokter itu masih mengingat tampang polos Hans yang mengatakan bahwa ia membenci ibunya. Itu semua dilakukan Hans karena membaca pikiran sang ibu yang berniat membuangnya. Tanoa rasa iba sedikitpun, Hans saat itu langsung memanipulasi pikiran ibunya untuk bunuh diri dan semua fakta itu dikatakannya langsung pada Harold. Tiba-tiba, Yura yang masih berada dalam dekapan Harold semakin tersedu. Ia membaca semua kenangan Harold tentang adiknya. Dirinya merasa bahwa ia tak cukup kuat menghadapi kenyataan itu, paling tidak untuk saat itu. "A ..., aku ..., akan pergi, Dok," ucap Yura sambil terisak. "Ya, kembalilah ke Korea, aku akan menghubungi kenalanku di sana. Tinggallah dengan aman, Yura. Sampai saatnya tiba, jangan pernha membiarkan satu orang pun tahu tentang kemampuanmu, kecuali aku, dan--" "Aku!" suara anak perempuan memotong pembicaraan Harold dan Yura. Mereka berdua menoleh. "Ayah, ayah, Sola boleh main dengan kakak ini, dia kakak Hans?" tanya anak perempuan berambut pirang itu. Harold kembali menghela napas. Matanya saling pandang dengan Yura yang tak mengerti situasi apa yang kini ia hadapi. "Ya, tapi kak Yura akan segera pergi dan Sora tidak boleh mengatakan apapun pada Hans, ya. Janji?" Harold mengulurkan jari kelingkingnya pada Sora. Anak perempuan itu melilitkan jari miliknya pada milik Harold sambil mengangguk semangat. Ia pun menarik tangan Yura yang masih menatap Harold. Melihat dua anak perempuan itu, Harold hanya tersenyum tipis. Keputusan Harold saat itu membawa petaka. Hans yang mengetahui ia memiliki kakak dari ingatan Sora menjadi murka. Ia berusaha untuk menemukan kakaknya itu, tapi Harold tidak pernah mengizinkan dirinya keluar rumah utama. Sementara Yura, ia sudah diasuh oleh Dokter Jang, kenalan Harold di Korea Selatan. Ia masih sering berkontak dengan Sora. Meski perempuan itu terus menerus meminta maaf pada Yura karena keberadaannya hampir diketahui Hans, Yura selalu mengatakan bahwa itu bukan salah Sora. Yura tahu, cepat atau lambat, ia harus menghentikan ambisi adiknya. Apalagi saat ia tahu bahwa putra Dokter Harold yang memiliki semua kemampuan sama seperti dirinya telah lahir. Ia sudah menduga, adiknya akan membenci anak sempurna itu dan akan melenyapkan anak itu bagaimanapun caranya. Sejak ia terus berkontak dengan Sora, Yura juga tahu bahwa adiknya semakin tidak bisa dikendalikan. Yura tahu dirinya belum siap, ia benar-benar harus menguasai dan melatih terus kemampuannya, sampai saatnya ia harus benar-benar menghentikan Hans. *** Kyoto, Jepang, 2042 "Kau mengasingkan diri selama ini?!" tanya Rei tak percaya pada Yura. Lelaki berkemeja biru itu baru saja menerima semua memori masa lalu Yura. Perempuan itu mengangguk cepat, merespon pertanyaan Rei. "Maaf, karena aku yang pengecut ini, kau sampai harus menderita dengan perlakuan adikku." Yura menatap Rei sendu. Namun, lelaki itu menggeleng. "Bukan salahmu, Hans sendiri yang memilih untuk membenci dan mendendam, ia tidak pernah tahu itu hanya akan membebani dirinya sendiri," ucap Rei sambil menatap langit. Ia menerawang apa yang akan terjadi saat Hans mengetahui semua ini. Apakah si pengendali pikiran itu selamanya tidak akan memiliki empati? Pikir Rei. Yura hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Rei. Ia lalu segera meminta Rei untuk berpencar saat mereka sampai di sebuah taman bermain. Ada tiga perasaan berbeda yang mereka rasakan. Salah satunya adalah penyesalan akan kematian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN