bc

Istri Yang Kutolak Ternyata Seorang Milyarder

book_age16+
detail_authorizedDIIZINKAN
3.2K
IKUTI
27.1K
BACA
HE
kickass heroine
kicking
city
like
intro-logo
Uraian

"Bukankah itu mantan istrimu, Pak?"

Di sebuah pesta amal kelas atas, Justin Wijayakusuma mengangkat gelas dan mengalihkan pandangan ke arah seorang wanita yang tak jauh darinya. Berbalut perhiasan milyaran rupiah dan gaun adibusana berbahan sutra, penampilannya tampak elegan dan megah, tanpa susah payah telah memikat perhatian semua orang.

Justin membeku. Mantan istrinya, Cecilia Adibrata tak mungkin bisa tampak begitu luar biasa!

"Hai, mantan suami. Selamat datang di acara amalku," ucap wanita itu. 

Ada yang ingin Author sampaikan ke pembaca sekalian: Hai teman-teman!🙋‍♂️ Aku senang banget melihat kalian semua menyukai buku ini, aku akan berusaha mengupdate bab-bab baru, jadi jangan sampai ketinggalan ya! Aku harap kalian terus mengikuti cerita ini! Aku sayang kalian semua! Terima kasih...

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Perceraian
"Justin, bisakah kamu pulang bersamaku?" Cecilia Adibrata memohon sambil mengabaikan tatapan mengejek orang-orang di ruangan tersebut. Suaminya, Justin Wijayakusuma, yang sedang duduk di sofa, menatapnya dengan tatapan acuh tak acuh namun tidak berkata apa-apa. Laki-laki itu malah lanjut mengobrol dan minum dengan teman-temannya. Dia mengabaikan istrinya seolah Cecilia adalah orang asing. Menahan geram, Cecilia berbicara lagi dengan gigi terkatup. "Justin, hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita." "Aku sama sekali tidak tertarik merayakan apa yang disebut sebagai hari ulang tahun itu." Justin mengambil gelas dan meneguk minumannya. Di bawah cahaya redup, matanya menjadi lebih dingin dari sebelumnya. "Tapi..." "Cukup dengan aktingmu itu, Cecilia. Aku tahu apa yang kamu inginkan." Justin menyela Cecilia dengan cibiran kasar. Dia mengeluarkan cek dari dompetnya, menulis sejumlah angka di atasnya, dan melemparkan cek itu ke meja di depan Cecilia. “Bukankah ini yang kamu inginkan? Ambillah dan pergi dari sini.” Justin tetap terlihat acuh tak acuh, tapi kekesalan di matanya semakin dalam. "Sudah, ambil saja uangnya dan pergi dari sini. Kamu benar-benar merusak mood." “Selalu ada wanita seperti dia. Mereka melakukan segalanya demi uang.” Mendengar ejekan orang-orang di ruangan itu, Cecilia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menekan telapak tangannya. Dipermalukan oleh suami yang dia cintai di depan banyak orang di hari ulang tahun pernikahan mereka pula, Cecilia merasa telah kehilangan seluruh harga dirinya. Udara di ruangan itu serasa membeku. "Maaf teman-teman. Aku terlambat." Suara seorang wanita memecahkan kebekuan tersebut. Erin Sandrina, mengenakan rok pensil dengan atasan berpunggung terbuka, duduk tepat di samping Justin tanpa melirik ke arah Cecilia. Dia meletakkan tasnya, lalu langsung menyandarkan kepalanya di bahu Justin, kemudian berbicara padanya dengan suara yang manis, "Justin, maaf aku terlambat. Kamu tidak keberatan, kan?" Seolah baru saja merasakan ada yang tidak beres dengan suasana di ruangan itu, Erin pun akhirnya menoleh ke arah Cecilia. Dia memandang Cecilia dari atas ke bawah, sambil menyeringai dengan tatapan menghina. "Justin, bukankah itu istrimu? Apa yang membawanya ke sini?" Justin tidak menjawab. Dia terus minum. Kemudian, Erin melayangkan pandangan pada cek di atas meja. "Cecilia, kamu minta uang lagi ya?" Erin melemparkan cek itu ke Cecilia dengan sikap arogan sambil mengejek, "Benar-benar ya kamu ini! Bisa-bisanya perempuan matre sepertimu menikah dengan Justin? Kalau kamu sangat butuh uang, datang saja padaku dan berhentilah mengganggu Justin. Dia tidak mau melihatmu sama sekali." Kata-k********r Erin menusuk hati Cecilia seperti pisau, tapi orang-orang di ruangan itu semuanya malah tertawa. Ini bukan pertama kalinya Erin memprovokasi Cecilia, dan Cecilia biasanya menjawab kata-k********r itu dengan senyuman lembut. Namun kali ini, menghinanya di hari ulang tahun pernikahannya tidak ada bedanya dengan merampas harga diri Cecilia, melemparkannya ke lantai, lalu menginjak-injaknya. Cecilia merasa sangat malu. Hari ini, tahun ke empat pernikahannya dengan Justin terasa seolah tak berarti apa pun dan hanyalah sebuah lelucon belaka. Justin masih duduk di sana sambil memegang gelas wine dengan sikap menyendiri bak raja, seolah apa yang terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya. Cecilia tersenyum, bukan karena merasa senang, tapi justru menertawakan dirinya sendiri. Bahkan saat ini, dia masih berharap Justin akan melindunginya, padahal pria itulah orang yang paling menyakitinya selama ini. Jika saja dulu Cecilia tahu bahwa hal seperti ini akan terjadi, apakah dia akan tetap mengambil keputusan yang sama? Cecilia menyentuh mata kirinya. Dia sudah kehilangan penglihatannya karena Justin, tapi hampir tidak ada yang mengetahui hal itu. Dia ingat bagaimana dulu dia belajar memasak untuk Justin, tidak pernah menyerah tidak peduli berapa kali jarinya terluka, tapi Justin tidak pernah memakan makanan yang dia masak. Bahkan ketika Cecilia mengirim makanan ke kantor, Justin hanya membuangnya ke tempat sampah di depan karyawannya dan malah memperingatkan, "Cecilia, kamu pikir aku akan tersentuh oleh pengabdian murahanmu ini? Jangan menyanjung dirimu sendiri terlalu tinggi." Justin tidak pernah bersamanya pada saat Cecilia membutuhkan. Dia sedang merayakan ulang tahun Erin saat Cecilia mengalami demam tinggi. Dia bersama Erin di bioskop ketika Cecilia sedang meringkuk di tempat tidur, ketakutan oleh guntur di malam badai. Cecilia menghabiskan hampir setiap hari sendirian selama empat tahun terakhir. Justin telah berkali-kali membuktikan padanya bahwa dia tidak pernah mencintai Cecilia, tidak sedikit pun. Cecilia berani melakukan apa pun demi cintanya, tapi ternyata dia tetap kalah. Dia telah memberikan segalanya dengan harapan memenangkan hati Justin, tapi dia hanya dibalas dengan penghinaan dan sikap merendahkan seperti ini. Cecilia tidak akan lagi menahannya kali ini. Dia membungkuk, mengambil cek di lantai, dan merobeknya di depan semua orang. Hatinya koyak, seperti sobekan cek tersebut. Dia menahan air matanya, lalu bergegas keluar ruangan tersebut. Setibanya di ujung koridor, Cecilia akhirnya kehilangan tenaganya. Dia bersandar ke dinding dan terengah-engah setelah cukup jauh berlari. Setelah berdiri diam beberapa saat, dia akhirnya menelepon Justin. "Kenapa? Menyesal pergi tanpa mengambil uangnya?" tanya Justin. Ada jeda sejenak, sebelum akhirnya Cecilia berkata dengan serius, "Aku ingin cerai."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook