30

650 Kata

Jaden terlihat mengepalkan tangannya erat, otot-otot tangannya saling mencuat. Kini pria itu sedang duduk di kursi kebesarannya, pandangannya lurus ke depan dengan penuh amarah. Hatinya terasa panas mengingat Lili yang secara terang-terangan lebih memilih Wiliam dibanding dirinya, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Deru napasnya semakin memburu, hingga pada akhirnya ia memukul meja kaca yang ada didepannya, meja kaca yang tak salah apapun menjadi pecah berkeping-keping. "Wiliam, Wiliam, Wiliam. Kenapa kau membela dia, arghh." Jaden berdiri dari duduknya, pria itu berjalan ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan taman miliknya. Beberapa orang kepercayaannya berjaga di sana. Jaden sedang menggunakan kemeja putih polos serta celana kerja yang nampak begitu licin, ia memang memilih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN