13

1088 Kata
Hari ini adalah hari libur kuliah, Lili masih setia bergelung dengan selimutnya meski jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi, ia tidak berniat untuk sekedar bangun ataupun cuci muka. Lili sudah bertekad akan malas-malasan selama seharian penuh, yah meski itu hanya angan-angan karena saat ini Anderson sedang menggedor-gedor pintu tanpa perasaan, membuat Lili mau tak mau harus membukakan pintu yang ia kunci sebelum Anderson mendobraknya dengan tak berperasaan. Dug Dug Dug.. "Lili, buka pintunya." Seru suara Anderson yang semakin tidak sabaran. Dengan berat hati Lili mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya, ia melirik jam di nakas dan membuatnya menggeleng pelan, masih jam segini kenapa Anderson membangunkannya? Lili akhirnya bangun dari ranjang dan menyingkap selimut tebalnya, rambutnya acak-acakan serta wajah kusut yang ia tampilkan membuatnya bak penyihir dari bawah bumi yang hendak memangsa siapapun. Cklek! Lili membukakan pintu, sejenak ia terkejut saat Anderson membuat ancang-ancang ingin mendobraknya. "STOP!" Teriak Lili menggelegar, bisa-bisa Anderson malah menendang dirinya ketika pintu itu sudah terbuka. Anderson yang memang sudah memasang posisi kuda-kuda pun mendongakkan kepala melihat Lili yang sudah keluar dari sarangnya, akhirnya Anderson menurunkan kakinya yang hendak ia tendangkan ke pintu itu. "Kau gila? Jika pintuku rusak bagaimana." Sungut Lili dengan kesal. "Salah sendiri lama sekali buka pintu." Anderson membela diri. Lili mencebikkan bibir kesal, pagi ini ia tidak berminat adu mulut dengan kakaknya, ia hanya ingin kembali tidur memeluk guling hangatnya. "Ada apa sih, Kak? Pagi buta sudah berisik sekali." Lili mendengus malas. "Pagi buta katamu? Jam 8 lebih kau bilang pagi?" Anderson menonyor kepala Lili dengan keras hingga sang empunya terjengkang ke belakang. "Haish, katakan saja apa tujuanmu membangunkanku? Kan sudah ku bilang jangan menggangguku ketika hari libur kuliah, ini hari Sabtu jika kau lupa." Balas Lili sengit. "Ikut aku ke kantor, ada kunjungan dari berbagai perusahaan untuk saling menawarkan kerja sama." Ujar Anderson. Lili menautkan alisnya bingung. " Itu bukan urusanku, masalah kantor kan Kakak sendiri yang diutus oleh Daddy." Memang benar bahwa Lili tidak memiliki urusan terkait kantor ataupun perusahaan yang saat ini diserahkan Ayahnya pada Anderson untuk sementara waktu selama mereka sedang pergi, tugas Lili hanya satu; berkuliah dengan baik dan benar. Lalu untuk apa Anderson mengajaknya ke kantor? Bisa-bisa ia menjadi kering karena tidak tidak terlalu memahami pembahasan mereka. Meskipun Lili memilih jurusan Ekonomi pemasaran, tapi ia tidak terlalu tahu tentang dunia bisnis yang pastinya akan lebih rumit ketika dipraktekkan secara langsung. "Nah, maka dari itu kau harus ikut aku. Katakanlah untuk belajar agar kau kelak bisa mewarisi perusahaan Daddy." Ujar Anderson. Lili menganga tidak percaya, ini pasti hanya akal-akalan Anderson saja. "Males! Kau sendiri saja, aku masih ingin tidur dengan bantal guling kesayanganku." Tukas Lili final. Saat tubuhnya akan berbalik masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja Anderson menarik kerah kaos Lili membuat sang empunya menjadi tidak bisa bergerak. Melirik ke belakang, Lili berusaha melepaskan cekalan tangan Anderson. "Hei, lepas. Aku tidak mau ikut." Lili bersikeras menahan emosinya, sungguh ia ingin tidur untuk beberapa saat ke depan. Pikirannya sedang runyam karena masalah Jaden yang masih tiada henti untuk mengejarnya. "Tidak akan! Kau harus ikut, aku akan mentraktirmu bakso di kedai masakan Indonesia." Iming-iming Anderson, karena sejatinya Lili sangat menyukai makanan berbentuk bulat itu. "Heh, kau pikir aku anak kecil yang bisa disuap? Enyahlah! Aku benar-benar ingin tidur, aku sedang tidak ingin pergi kemana pun." Tukas Lili pada kakaknya. "Please my sister honey bubby, ikut yaa..." Tak ada lagi raut kesal ataupun memaksa dari Anderson, kini wajahnya berekspresi memohon ala puppy eyes. Sejenak Lili tertegun, kenapa kakaknya menjadi seperti ini? Ia yakin ada yang tidak beres. "Boleh aku bertanya padamu?" "Silahkan, tapi nanti kau harus mau ikut ke kantor." Balas Anderson. "Apa yang membuatmu mengajakku?" Lili memincingkan mata curiga. Ia melihat wajah Anderson yang langsung saja lesuh tatkala ia menanyakan hal ini, benar kan pasti ada apa-apanya? Anderson menghela napas panjang sebelum ia menjelaskannya, ditatapnya wajah Lili yang sedang memasang raut khas menyelidik. "Ada client yang ingin kau datang saat meeting, aku tidak tahu motifnya apa. Jujur saja aku sudah mengarang cerita dan membuat alasan-alasan agar kau tak usah ikut, tapi tampaknya dia sangat ingin kau datang. Maka dari itu datanglah, siapa tahu kau memang mengenalnya." Tukas Anderson panjang lebar. Mata Lili membulat terkejut seketika, apa-apaan ini? Ia tidak tahu menahu tentang rekan bisnis Ayah dan Kakaknya, tapi kenapa harus disangkut pautkan. "Please, ia hanya ingin kau datang dan bicara padanya, dan setelahnya ia akan mau bekerjasama dengan perusahaan kita." Tapi tunggu, tiba-tiba saja terlintas sebuah nama yang patut Lili curigai. "Siapa namanya?" "Tuan Petrovski, begitulah orang-orang memanggilnya, aku belum pernah bertemu langsung dengannya, hanya dengan anak buahnya saja." Lanjut Anderson sambil mengendikkan bahunya. Rahang Lili hampir jatuh saat mendengar nama itu, benar kan siapa lagi jika bukan Jaden, atau lebih tepatnya Jaden Petrovski. "s**t!" Gumam Lili pelan tapi mampu didengar oleh sang kakak. Ternyata Jaden bergerak lebih cepat, ia benar-benar mewujudkan keinginannya untuk menjalin dengan perusahaan kecil milik Ayahnya. "Kau mengenalnya?" Tanya Anderson. "Ya, dia orang yang ku jauhi selama satu tahun ini. Dari Corazo Company 'kan?" Tebak Lili di akhir kalimatnya. "Ya, benar. Dia pemiliki Corazo Company. Jadi dia yang membuatmu harus pulang ke London dan juga pindah kampus?" "Hmm." Lili tiba-tiba saja teringat pada masa lalunya, ia memang sengaja pergi dari Seattle dan kembali ke rumahnya hanya untuk menjauhi pria itu, pria jahat yang tak memiliki perasaan. Jika begini maka Anderson jadi tidak enak hati, apakah ia akan memaksa adiknya demi kepentingan perusahaan? "Jika kau tidak bisa datang, maka aku tidak memaksamu." Tukas Anderson setelah berpikir matang-matang, perasaan adiknya lebih berharga daripada urusan bisnisnya, biarlah ia tidak jadi menjalin kerja sama dengan Corazo. "Tidak! Aku akan ikut denganmu, lagipula aku sudah pernah betemu dengannya selama ada di sini, jadi tidak ada alasan lagi untuk bersembunyi, semua telah terjadi dan aku harus menghadapinya." Lili sudah bisa berpikir jernih, tak selamanya ia bisa bersembunyi terus menerus, sudah satu tahun ini ia seperti pengecut yang selalu lari dari kenyataan. Faktanya, Lili dan Jaden masih memiliki ikatan yang kuat, karena Lili belum memutuskan hubungan mereka, Lili hanya berkata bahwa ia membenci pria itu dan tak ingin menemuinya lagi. Jika sudah masuk ke dalam masalah ini, yakni hanya ada dua cara yang bisa ia lakukan; memutuskan semua hubungannya secara baik-baik dengan Jaden, atau kembali bersama dengan pria itu. Dua pilihan yang amat sulit, ketika Lili akan memutuskan hubungannya maka ia yakin bahwa Jaden tidak akan tinggal diam, mengingat bahwa sekarang ini ia masih dikejar-kejar oleh Jaden. Lalu, untuk kembali menjalin cinta seperti dulu? Rasanya Lili tidak kuat karena semenjak malam itu, ia benar-benar membenci Jaden, ia merasa terkhianati dan dibohongi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN