12

1124 Kata
Disinilah Lili berada, menyenderkan tubuhnya di tembok rumah sakit pinggiran kota yang tak terlalu ramai lalu lalang manusia. Ia menunggu Anderson serta menjenguk Ibu dari Ester yang sedang menjalani pengobatan akibat ulah bodoh kakaknya, Lili sempat melihat adegan Anderson yang meminta maaf pada Ester dan Ibunya. Untung saja kedua wanita itu mau memaafkan kakaknya, ia pikir Anderson akan dibawa ke sel tahanan atas kasus percobaan pembunuhan yang tidak disengaja. Lili menengok ke arah samping mendapati Anderson keluar dari pintu ruang rawat, dengan senyum cerah kakaknya menghela napas lega. "Aku lega karena sudah meminta maaf pada keluarga Ester, setidaknya hidupku tidak akan dikejar-kejar oleh rasa bersalah." Ujar Anderson pada Lili. Lili menghampiri Anderson dan berdiri sejajar. "Aku sudah mengatakannya pada mu tadi, kau sendiri yang bebal." "Aku hanya takut jika mereka tidak memaafkan ku." Desah Anderson pelan, entahlah rasanya ia tidak rela jika harus melihat Ester bersedih karena dirinya yang ceroboh mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. "Lalu bagaimana keadaan Ibu Ester?" Tanya Lili pada sang kakak, pasalnya ia tidak masuk ke dalam. Lili hanya menemani Anderson menjenguk, ia juga sempat berpapasan dengan Ester dan membicarakan masalah itu dengannya, dikarenakan Anderson masih sangat enggan karena rasa bersalahnya, jadilah Lili yang harus menjelaskannya dengan detail agar Ester tidak salah paham pada kakaknya. Anderson menganggukkan kepala pelan sembari tersenyum lega. "Beliau baik-baik saja, hanya luka ringan dan juga syok. Oh ya, aku akan mengurus semua administrasi pengobatan." Lili mengangguk mengiyakan, Anderson berjalan melewati lorong rumah sakit yang sedikit demi sedikit mulai sepi. Ia belum berani mengganggu acara Anderson yang bertemu dengan keluarga Ester, sebaliknya Lili memilih duduk diam di kursi tunggu. Saat Anderson kembali setelah menyelesaikan administrasi, ia ingin sesegera mungkin untuk pulang karena merasa lelah. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan, setengah jam lagi jam besuk akan ditutup. Lili menutup mulutnya yang menguap, ia bahkan belum sempat beristirahat tadi. Sepuluh menit Lili duduk disana sambil menahan kantuk, ponselnya bergetar pertanda ada panggilan masuk. Saat ia menengok id caller, matanya memutar jengah, dia lagi-dia lagi, kenapa masih saja mengejar dirinya. "Ada apa?" Ujar Lili mengawali pembicaraan dengan ketus, sangat khas sekali. 'Kau dimana sekarang?' Tanya seseorang yang berada di seberang sambungan telepon. "Apa urusanmu?" Tanya Lili, ia merasa bosan harus di urusi semua urusan hidupnya. Jaden, ya pria yang menelponnya saat ini adalah Jaden. 'Kau tinggal menjawab ada dimana, apa susahnya?!' Ujar Jaden lagi, tapi kali ini dari nada suaranya terdengar menuntut dan tak sabaran. "Di rumah sakit." Jawab Lili seadanya. 'Kau sakit? Ada apa denganmu, kau di rumah sakit mana my lil?' Terdengar suara Jaden yang khawatir dengan keadaan Lili, padahal sang empunya sedang baik-baik saja. Oh ya tunggu, apa katanya? My lil? Lili merasa tergelitik mendengar panggilan itu dari mulut Jaden. Sebelum bertanya yang tidak-tidak, Lili menghentikan ucapan Jaden. "Dengar.. Pertama, bukan aku yang sakit, aku menjenguk rekan kerjaku. Kedua, tutup teleponnya sekarang karena aku sedang sibuk." Terdengar hela napas bercampur lega dan kesal di sana, Lili yakin pasti pria itu sudah dongkol padanya. Ia cepat-cepat menutup sambungan telepon tatkala Anderson kembali membawa struk yang ia yakini total biaya perawatan Ibu Ester. "Maaf menunggu lama." Ujar Anderson tak enak hati pada adiknya. "Tidak apa-apa, santai saja. Aku suka melihat kakak yang sudah lega sekarang, benar begitu?" Jawab Lili pada Anderson. "Terimakasih." Anderson menganggukkan kepala pelan sambil tersenyum hangat, adiknya memang bisa diandalkan. "Kita pulang sekarang?" Tanya Lili, ia merasa kantuk luar biasa. "Sebentar, aku akan berpamitan pada Ester. Kau berjalan ke mobil saja terlebih dulu, aku akan menyusul secepatnya." Jawab Anderson. Lili mengangguk menjawab ucapan kakaknya, sedangkan Anderson sudah masuk lagi ke ruang inap Ibu Ester. Sepanjang perjalanan Lili sambil melihat-lihat sekitaran rumah sakit, sekitarnya sudah mulai sepi lenggang sekarang. Ia jadi ngeri membayangkan jikalau tempat ini tidak dihuni selama bertahun-tahun, pasti akan ada hantu yang menempatinya. Memikirkan itu membuat bulu kuduknya merinding. Ahh, kantuknya sudah hilang sekarang. Sejujurnya Lili lebih takut dengan hantu daripada pria-pria yang pernah menculiknya dulu, karena hantu tidak terlihat mata dan mereka menyeramkan penampilannya. Tak selang berapa lama ia sudah sampai di parkiran, dengan cepat masuk ke dalam kendaraan dan duduk manis menunggu kedatangan kakaknya. Lili meraih ponselnya dan memainkan aplikasi sosial medianya miliknya, tapi tiba-tiba saja matanya menangkap pergerakan dari seseorang yang sangat ia kenali, ia mengernyitkan dahi. Tak sengaja pula, mata itu menatap ke arah mobilnya. Lili mendengus sebal saat mengetahui orang itu berjalan ke arahnya. Ketukan pelan terdengar dari kaca samping ia duduk, Lili melirik malas. Untuk apa pria itu kemari, huh? "Lili, buka kacanya sebentar saja." Ujar orang itu. Dengan hati dongkol akhirnya gadis itu membukakan kaca. "Ada apa?" Pria itu melihat Lili dari atas hingga ke bawah, walaupun sedikit terhalang pintu mobil. Terdengar helaan napas. "Syukurlah, kau tidak ada apa-apa." "Aku sudah mengatakannya tadi. Lalu untuk apa kau kesini?" Lili tidak habis pikir dengan Jaden yang rela menemui dirinya malam-malam seperti ini, lagi pula Lili kan sudah menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku mencemaskanmu, sayang." Mata Jaden terlihat sayu, ia benar-benar mencintai gadis ini. Lili menggelengkan kepala pelan, seharusnya ia pergi sejauh mungkin agar Jaden tidak dapat menemuinya lagi. Sayang? Hahaha, Lili ingin tertawa terbahak-bahak sekarang. Sungguh sial! Tapi, matanya sempat berkaca-kaca mendengar ucapan tulus pria itu, entahlah Lili merasa bimbang. "Nah, kau lihat kan kalau aku baik-baik saja. Sekarang pergilah! Kakak ku akan datang sebentar lagi, aku tidak ingin dia melihatmu." Balas Lili dengan mengalihkan tatapannya ke segala arah, yang penting tidak saling menatap Johan. Jaden ingin membantah, tapi benar apa yang dikatakan oleh gadisnya. Terlihat Anderson sedang berjalan dari belokan tembok rumah sakit, Jaden tidak mau pertemuan awal dengan calon kakak iparnya menjadi buruk karena keadaannya yang kacau saat ini. "Baiklah, aku akan pergi hanya untuk sesaat. Setelahnya aku tidak akan melepas dirimu lagi, jangan melakukan hal-hal yang membuat ku marah. Kau mengerti?" Tukas Jaden panjang lebar. Lili memutar bola matanya tak peduli. "Tidak!" Rahang Jaden mengeras, ia tidak menerima penolakan, meski dari gadisnya sendiri. Sebelum amarah Jaden meledak, Lili segera memanggil sang kakak dari kejauhan. Hal ini membuat Jaden menetralkan emosinya, baiklah kali ini ia akan membiarkan Lili bermain-main, tapi tidak untuk nanti. Suatu saat, Lili akan menjadi miliknya. Saat itu juga Lili tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk membangkang perintah Jaden, pria itu menyeringai. Jaden langsung pergi darisana, Anderson sudah mendekati kendaraannya. Ia menatap adiknya dengan pandangan bertanya-tanya. "Aku seperti melihat seseorang berdiri di sini?" Tukas Anderson merasa aneh, ia celingukan ke sana kemari melihat keadaan sekitar. Lili meringis pelan, ohh jadi Anderson sempat melihat pria itu. "Hanya teman lama. Ayo langsung pulang, punggungku terasa kebas dan ingin segera istirahat." Jawab Lili dengan tenang, setelahnya ia mengalihkan pembicaraan. "Ya, aku pun juga lelah dengan hari yang panjang ini." Anderson mengemudikan mobilnya keluar dari rumah sakit, sedangkan Jaden memilih untuk mengikuti kendaraan yang ditumpangi gadisnya, hanya memastikan bahwa Lili pulang dengan keadaan selamat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN