Lili mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya, matanya beralih meneliti satu per satu kalimat yang muncul dilayar. Hembusan napasnya terasa cepat, ia harus menyelesaikan semuanya sekarang. Matanya memincing tatkala mendapati apa yang ia inginkan, yaitu sebuah berita tahun lalu yang sempat booming, namun berita itu dapat dibungkam hanya dengan satu hari. Untung saja ia masih bisa melacak sisa-sisa berita tersebut, Lili membaca kata per kata dengan serius, seolah tak ingin tertinggal walau satu huruf pun.
Berita tentang beberapa pria yang menggeluti bisnis gelap, memproduksi narkoba, menjual senjata, dan juga penyedia jasa pembunuh bayaran. Namun sayangnya di artikel tersebut tidak ada nama yang di cantumkan, hanya berisi kronologi penangkapan saja. Orang-orang yang terlibat sepertinya sangat mahir dalam membungkam media.
Lili menegakkan badannya yang terasa kaku, memorinya berkelana di masa lalu. Ia ingat betul bagaimana perpisahannya dengan kekasihnya saat itu. Seseorang mengirimkan Lili artikel yang juga berisi foto dan nama yang tertera atas keikutsertaan pelaku dalam tindak kriminal, salah satunya adalah mantan kekasihnya.
Jaden melakukan bisnis illegal itu bersama timnya, Lili tidak tahu pasti siapa saja mereka. Selama ini Jaden memang bekerja di perusahaan textil miliknya, namun ternyata itu adalah salah satu kamuflase agar bisnis ilegalnya tidak dicurigai.
Dirinya saat itu sangat marah dan begitu kecewa dengan Jaden, hingga dengan sepihak Lili memutuskan hubungan keduanya.
Malam itu, malam yang sangat menyeramkan untuk Lili ingat. Ia tidak sengaja melihat Jaden begitu brutal, pria yang pernah dicintainya menjadi monster mengerikan. Jaden menembaki pekerjanya lalu mencabik-cabik tubuhnya hingga halaman rumah dipenuhi genangan darah, Jaden pria gila.
Satu hal yang terpikirkan olehnya, Lili tak mau bertemu Jaden selamanya.
Semua begitu rumit untuk Lili jalani, yang tadinya ia belajar di Seattle harus kembali ke London untuk demi menjauh dari pria itu. Lama tak ada kabar, Lili pikir bahwa Jaden sudah masuk penjara atas perbuatannya, namun seiring berjalannya waktu tiba-tiba saja media sepi pemberitaan tentang tim kriminal itu, hingga akhirnya Lili harus bertemu dengan Jaden untuk pertama kalinya setelah satu tahun berlalu. Jadennya yang protektif tidak pernah berubah, walaupun Lili sudah memutuskan hubungan keduanya, namun Jaden masih menganggap kalau Lili adalah miliknya.
Hanya masa lalu kelam yang Lili ulang dalam memori otaknya, ia belum mau menyelam lebih jauh saat-saat dirinya bertemu Jaden pertama kalinya. Sudah cukup, mungkin dirinya akan mengenang masa indah itu nanti ketika ia benar-benar siap. Rasa trauma dan takut masih menggelayut dihatinya, ia belum siap membuka seluruh memori tentang Jaden.
Tok.. Tok.. Tok..
"Lili, aku masuk." Sebuah suara menginterupsinya, itu suara Anderson.
"Ya, masuk saja Kak." Sahut Lili agak keras.
Anderson masuk ke kamar adiknya dengan wajah kuyu, matanya terlihat sembab.
Lili segera menutup laptopnya, ia tak mau menanggung resiko atas rasa penasaran Anderson nantinya. Kakaknya itu selalu kepo dengan Lili, benar-benar menyebalkan.
"Ada apa kak?" Tanya gadis itu, tak biasanya ia melihat penampilan awut-awutan Anderson.
Anderson duduk disebelah Lili, pria dewasa itu menghela napas lelah. Sedangkan adiknya menautkan alis, tidak biasanya Anderson semembingungkan ini.
"Aku telah menabrak orang." Ujar Anderson.
Satu kalimat yang membuat Lili tercengang, Anderson merunduk menatap lantai.
"Kau yakin? jangan membuatku takut kak, kau tidak sampai membunuhnya kan?" Oke, Lili mulai panik sekarang. Ditambah melihat ekspresi muka Anderson yang begitu frustasi menambah kecemasan dirinya.
Anderson menggeleng pelan. "Tidak sampai meninggal, hanya saja dia koma selama beberapa waktu."
Lili menutup mulutnya dengan tangan, ia yakin pasti Anderson tidak sengaja melakukan itu.
"Bagaimana kronologinya, kau tidak sedang mabuk kan saat itu?" Lili berkata dengan penuh menyelidik, pasalnya jika Anderson mabuk saat berkendara, itu akan membuatnya terkena pasal berlapis.
"Sayang sekali saat itu aku sedang mabuk, Griselda memberikan ku alkohol tanpa aku sadari. Aku sudah berada di dalam mobil saat itu, mengemudikannya sampai aku merasakan bahwa kepalaku terasa pening dan tiba-tiba saja dihadapan ku sudah ada orang yang menyebrang jalan." Jawab Anderson parau.
Lagi-lagi Griselda, perempuan itu masih saja mengganggu kakaknya. Batin Lili geram.
"Kakak..." Suara Lili tercekat, ia menatap Anderson yang kini mengacak rambutnya dengan gelisah.
"Apa kau bisa menebak siapa yang menjadi korbannya?" Anderson berkata dengan nada rendah.
"Siapa?" Tanya Lili, sedangkan Anderson berbalik menatap tepat pada manik mata Lili.
"Ibu dari Ester." Anderson menundukkan kepala semakin dalam, terlihat sangat menyesal.
Keduanya terdiam selama beberapa saat. Lili tahu kehancuran Anderson, kakaknya itu pasti sedang dirundung ketakutan dan kekhawatiran atas rasa bersalahnya.
"Apa gadis itu tahu jika kakak pelakunya?" Lili berkata dengan pelan, ia tak mau seolah sedang menghakimi sang kakak.
Lagi-lagi Anderson menggeleng. "Tidak, bukankah aku terlalu pengecut sebagai pria. Aku bahkan tidak berani mengakui kesalahan ku, Sial!"
"Kak.. kau harus jujur dengan Ester, mungkin dia akan memaafkanmu nantinya." Saran Lili.
"Aku tidak takut jika dibenci, juga tidak takut jika masuk penjara. Hanya saja.. saat melihat gadis itu menangis, aku tidak tega melihatnya, entah kenapa hatiku juga ikut gelisah." Kenapa harus Ibunya Ester, mungkin semuanya akan terasa mudah jika itu orang lain. Anderson akan mengakui kesalahannya dan bertemu dengan keluarga korban, bahkan dengan suka rela Anderson akan mempertanggungjawabkan kesalahannya di hadapan pihak berwajib jika diperlukan.
"Jangan bilang kalau kakak mulai tertarik dengannya." Tebak Lili spontan.
"Aku tidak tahu, Lili. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ku sekarang, Arghhh." Anderson memukul kepalanya sendiri.
Lili mengusap pundak kakaknya untuk memberi dukungan, Lili juga pernah merasakan perasaan itu pada Jaden dulu. Ia tahu betul bagaimana rasanya mencintai tanpa kita sadari, lihatlah kakaknya begitu hancur sekarang.
Griselda, gadis ular itu benar-benar membuat amarahnya semakin berkobar. Seharusnya ia langsung membawa gadis sialan itu ke penjara atas kasus penculikannya dulu, sayang sekali Lili tidak melakukannya. Entah kenapa ia yakin jika Griselda tidak akan berhenti sampai disini saja, Griselda pasti melakukan sesuatu yang begitu menyusahkan nantinya.
"Kak, ayo kita ke rumah sakit untuk bicara dengan Ester. Jangan menjadi pengecut seperti ini, menangis meratapi nasib tidak akan merubah keadaan. Bangun! Aku akan menemanimu bertemu Ester."
Lili sudah berdiri dari duduknya, ia berniat menarik tangan Anderson yang masih terdiam bak patung.
"Lili..."
"Kak, Ayo! Atau kau mau jika Ester mengetahui informasi ini dari orang lain, itu akan mempersulit keadaan. Aku yakin jika saat ini polisi akan mencari rekaman cctv, dan tidak lama kau akan tertangkap."
Anderson seakan tertampar sesuatu. Benar apa yang dikatakan adiknya, Ester bisa saja semakin tersakiti jika mengetahui informasi ini dari orang lain. Ia tidak tahu sejak kapan rasa itu muncul, Anderson bahkan tidak menyadarinya.
"Baiklah, Ayo!" Anderson bangkit dari duduknya, pria itu berjalan dengan tegap.
Lili menatap punggung kakaknya, jatuh cinta tanpa disadari begitulah rasanya.