1 KAMAR

910 Kata
Dita berpamitan pada keluarga nya satu persatu. "Mah... pah... aku pamit ya." Dita mulai mengeluarkan buih buih bening dari matanya. "Iya nak, jadi istri yang baik dan berbakti ya nak seperti mamah berbakti pada papah." Reni pun ikut menangis melihat putri nya yang menangis. Dita pun menghampiri Fira dan Dani. "kak aku pamit ya." Dita memeluk sang kakak satu satunya itu sambil menangis. "Iya dek, tapi kamu ga usah nangis kamu bisa kok lain waktu ke sini paling cuma setengah jam kalo naik motor, jangan lebay deh." Fira mulai menjahili adiknya. "ishhh kakak mah ga bisa di ajak dramatis deh." Dita menepuk pundak kakaknya dengan pelan karna sebal dengan kakaknya yang tidak bisa di ajak dramatis sedikit. Dita menghampiri keponakan satu satunya dan yang sering membuat nya gemas pada pipi nya yang seperti bakpao. Dita mengelus pipi Dafa dengan lembut."Ante pamit ya Dafa nanti kalau dafa mau main minta anterin sama bunda ya, atau sama omah, ok sayang." "ok siap ante." Dafa sangat semangat. Dita pun masuk ke mobil Gilang dan Gilang membantu membawa koper dan memasukkan nya ke dalam bagasi mobil. Dalam perjalanan hanya ada hening di antara mereka berdua. Dita hanya fokus melihat keluar jendela mobil. terasa sangat cepat Dita dan Gilang kini telah sampai di mansion keluarga Sunandar. "Ayo turun." ajak gilang dengan lengkungan tipis terlihat di bibir nya. Dita hanya mengangguk. Mereka berdua memasuki mansion keluarga Sunandar. "Dita, Gilang." Sambut Tifa dan Agung yang telah menunggu mereka sendari tadi. Dita dan Gilang menghampiri orang tuanya yang sedang duduk di sofa. "Tante, om." Sapa Dita dan menyalami tangan kedua mertua nya. "Jangan tante sama om dong manggilnya, sekarang kamu manggilnya mamah papah, ya sayang." Tifa berdiri dan merangkul menantunya untuk ikut duduk bersama nya di sofa. "Iya mah." Dita sedikit gugup berada di dekat Tifa dan Agung di tambah lagi Gilang yang sendari tadi memperhatikan nya dengan tatapan tak bisa di artikan. Sementara Tifa sendari tadi mengelus ngelus punggung Dita dengan penuh kasih sayang. "Mah, pah aku sama Dita mau ke kamar dulu ya." Gilang bangkit dari duduk nya. "Aku capek banget mau istirahat." lanjut nya. "Dita untuk sementara kamu satu kamar dulu ya sama Gilang, karna kamar yang lain di rumah ini belum sempat untuk di bersihkan, jadi untuk sementara kamu satu kamar dulu sama Gilang." ucap Tifa yang menghadap ke Dita. "i-i-iya mah." Dita sepat tak bernafas karena ia terkejut harus satu kamar dengan Gilang sehingga ia sedikit terbata menjawab nya. "Gilang inget kalian masih jelas 11 jangan~" belum selesai berbicara Gilang segera menjawab. "Iya mah aku tau ko." ucap gilang. "Bagus deh kalo kamu udah tau." "Yaudah mah aku ke mau ke kamar dulu ya." ucap Gilang dan menarik koper milik Dita. Dita hanya mengekor di belakang Gilang. Saat memasuki kamar Gilang segera menaruh koper di dekat lemari. "Nanti baju lu taro lemari yang itu, sengaja gua kosong ngin buat baju lu." Gilang menunjuk lemari kayu yang berwarna hitam dan tingginya melebihi tinggi badan Dita. Dita hanya mengangguk dan segera memasuki satu persatu baju baju Dita. Gilang duduk di tempat tidur dan menyandarkan kepalanya. Sesekali gilang terkekeh melihat istrinya yang kesusahan meletakan baju di lemari yang bagian atas. "ck ko tinggi banget sih." Dita menggerutu pelan. Tiba tiba Gilang berada di belakang nya dan mengambil baju yang ada di tangan Dita untuk di letakan di lemari bagian atas. "Kalo engga nyampe ngomong jangan cuma loncat loncat kayak katak." Gilang memberi tau dengan kesan mengejek Dita. "Ishhhhh aku tuh ga pendek tau, tinggi aku tu cuma 165 udah termasuk tinggi." Dita yang tak terima karna di ejek oleh Gilang. "Gua engga ngomong lu pendek ko tapi gua bilang kalo engga nyampe itu bilang jangan loncat loncat kayak katak." jelas guang sambil terkekeh. "Tapi kesan lu itu udah jelas banget ngeledek gua." Dita masih sebal dengan Gilang yang mengejek nya. "Terserah lu gua ga peduli." Gilang kembali ke tempat tidur dan memainkan ponselnya. "Ishhhhh kamu itu." Dita mencoba sabar. "huftttt.... dah lah." Dita berbalik dan keluar dari kamar Gilang dan pergi ke halaman rumah Gilang yang terlihat jika malam itu sangat indah. Dita duduk di kursi dan mengangkat wajahnya untuk menatap bintang. Cukup lama ia melamun dan tak terasa ia mengeluarkan air mata. "Gua mau pulang gua ga mau kaya gini terus setiap hari hiks hiks." Dita menangis. Gilang yang melihat Dita menangis merasa bersalah, Gilang segera menghampiri Dita dan duduk di samping nya. "Gua minta maaf." Dita yang mendengar suara Gilang terkejut dan segera menghapus air matanya. "Ngapain lu ke sini." Tanya Dita dengan suara yang serak karna nangis. "Gua minta maaf ya karena gua lu harus menerima perjodohan ini." Gilang menatap Dita dengan rasa bersalah nya. Dita menarik nafas panjang dan membuang nya dengan pelan. "Gapapa ko gua cuma pengen jadi mahasiswa, jadi remaja, bukan jadi istri." ucap Dita dengan senyum nya. "Lu bisa ko jadi apa yang lu mau." ucap Gilang. "Lu ga perlu jadi istri lu tetep ada di kehidupan lu seperti biasa nya." lanjut nya. "Bener lu ga marah." Dita bertanya tak percaya. "Iya tapi nanti, di mulai dari Minggu besok, soalnya mamah sama papah kan satu tahun di luar negri buat jalanin pengobatan." jelas Gilang. "Tapi kalau di depan mamah sama papah lu harus jadi istri yang baik ya dan nurut sama gua." lanjutnya nya dengan susah payah menjelaskan. "Lu beneran." lagi lagi Dita tak percaya. "Iya beneran." jawabnya dengan senyum. Dita yang senang pun reflek memeluk Gilang dengan bahagia. "Makasih, makasih banyak." ucap Dita dengan masih di pelukan Gilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN