Selamat

1108 Kata

    Makaila tersentak. Ia tebangun dari tidurnya dan duduk di tengah ranjang dengan tubuh bergetar hebat dan keringat yang membasahi kening serta pelipisnya. Belum juga Makaila menormalkan penglihatannya, Makaila sudah lebih dulu merasakan serangan mual yang sangat. Hal itu terjadi saat dirinya mengingat kejadian di mana darah segar yang terciprat pada wajahnya disusul dengan aroma karat yang amih yang terasa di ujung hidungnya. Makaila membekap mulutnya sendiri dan berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terasa lemas. Namun, Makaila jelas-jelas merasa sangat kesulitan.     Untungnya, seseorang datang dan membantu Makaila dengan menggendong tubuh Makaila yang ramping menuju kamar mandi. Makaila di turunkan di depan wastafel. Tentu saja sosok yang membantu Makaila itu menahan tubuh Makail

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN