Kabar Buruk (21+)

1280 Kata
    “Wah, ke mana perginya rasa percaya dirimu itu? Kau sudah kalah, maka terima konsekuensinya.”       Makaila mengkerut takut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bara. Sudah dipastikan jika kini Bara akan menagih taruhan yang sudah disepakati oleh mereka tadi. “Me-Memangnya, apa yang kamu inginkan?” tanya Makaila gugup. Sejak awal, baik Makaila maupun Bara memang tidak mengatakan apa yang mereka inginkan, jika mereka menang nanti. Karena itulah, Makaila tidak bisa menahan diri untuk merasa begitu gugup dengan apa yang akan diminta oleh Bara padanya. Makaila sendiri lebih dari yakin, jika Bara tidak akan meminta hal yang normal. Hal yang ia minta, sudah dipastikan adalah hal yang akan merugikan Makaila.     Bara menatap Makaila dengan sebuah seringai, dan menjawab santai, “Buka bajumu dan terima apa yang akan aku lakukan padamu.”     Apa yang dikatakan oleh Bara membuat Makaila tersentak dengan rasa terkejut yang tidak main-main. Makaila menggeleng cepat. “Ti, Tidak mau!” seru Makaila keras. Apa Bara pikir Makaila tidak memiliki rasa malu dengan memintanya membuka baju dan menerima semua apa yang akan dilakukan oleh Bara.     Mendengar seruan penolakan yang diberikan oleh Makaila, Bara pun mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Apa kau tengah berusaha untuk memberontak dan mengingkari apa yang sudah kita sepakati?” tanya Bara dengan nada rendah yang terdengar mengerikan bagi Makaila yang mendengarnya. Namun, Makaila tidak mau mengalah dan membuka bajunya secara sukarela seperti yang diinginkan oleh Bara. Setidaknya, Makaila akan berusaha untuk mencari jalan ke luar dari situasi yang menyulitkannya ini.     “Ba, Bagaimana kalau kita mengulang permainan ini. Kita ulang sekali lagi,” ucap Makaila. Ya, Makaila yakin jika dirinya bisa bermain sekali lagi, Makaila pasti akan menang. Makaila akan sangat berkenstrasi dan memenangkan permainan ini dengan apa pun caranya.     Namun, Bara menggeleng. Ia tampak tidak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Makaila tersebut. “Aku rasa, aku sama sekali tidak diuntungkan dengan apa yang kau katakan itu. Sudah jelas, aku menang dalam permainan tadi, jadi aku sudah menang dan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Jika aku kembali bermain, aku tidak yakin jika aku bisa kembali menang. Tidak ada jaminan yang terasa menguntungkan bagiku,” ucap Bara membuat Makaila kembali memutar otaknya. Tentu saja, ia berpikir untuk membuat sebuah penawaran yang menarik untuk Bara, agar Bara mau memainkan permainan ini sekali lagi.     “Kalau begitu, bermainlah lagi denganku. Jika kamu menang, kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu inginkan. Aku berjanji tidak akan membantah,” ucap Makaila sungguh-sungguh.     Bara yang mendengarnya tentu saja menyeringai. “Penawaran yang terdengar begitu menarik. Jika aku bisa mendapatkan apa pun darimu, jelas aku tidak akan melepaskan tawaran ini. Mari bermain sekali lagi,” ucap Bara sembari merapikan alat bermain congkak yang sebelumnya sudah mereka gunakan, dan menyiapkannya untuk permainan selanjutnya.     Sebelum permainan dimulai, Makaila berdoa pada Tuhan agar dirinya akan mendapatkan kemenangan dalam permainan kali ini. Selain untuk menghindari permintaan tidak masuk akal yang sudah diajukan oleh Bara, Makaila juga ingin melepaskan diri dari semua jeratan Bara. Makaila tidak ingin lagi hidup di bawah bayang-bayang ketakutan terhadap pembunuh satu ini. Sayangnya, lagi-lagi Makaila harus menelan pil pahit. Dirinya kembali kalah, walaupun sudah berusaha mati-matian bermain dengan sebaik mungkin.     Makaila agak beringsut menjauh dari meja dan berkata, “Ba, Bara, sebaiknya kamu ganti permintaanmu. Jika kamu menggantinya, aku berjanji akan memenuhinya.”     Bara menatap Makaila dingin. “Aku sudah memnuhi permintaanmu, karena iming-iming janji yang kau katakan. Tapi kini? Kau malah memintaku mengubah keinginanku? Ayolah, jangan lupakan janji yang sudah kau katakan,” ucap Bara tidak bergerak dari posisinya yang berada di seberang meja di mana Makaila duduk dengan gelisah.     “Ta, Tapi aku tidak mau membuka bajuku,” ucap Makaila ketakutan.     “Ah, sepertinya kau perlu bantuanku untuk membukanya. Kalau begitu, kemarilah! Biar aku yang membukakan bajumu,” ucap Bara sembari bangkit dan berusaha meraih tubuh Makaila. Namun, Makaila yang ketakutan menghindar dan ikut bangkit untuk berlari dari Bara. Hanya saja, langkah Makaila sangat terlambat. Tubuh mungilnya sudah tertangkap dengan mudah oleh Bara saat ini.     Makaila menggeleng dan berontak sembari berteriak, “Ti, tidak siapa pun tolong! Bara, lepaskan aku! Aku tidak mau!”     Sayangnya, teriakan Makaila tersebut sama sekali tidak bisa didengar oleh siapa pun yang berada di luar apartemen pribadi Makaila tersebut. Ada pun Bara yang sudah jelas mendengarnya, sama sekali tidak berniat untuk melepaskan Makaila. Bara kini membaringkan Makaila di atas meja rendah yang selalu digunakan untuk tempat belajar Makaila selama homescooling. Tentu saja, sebelumnya Bara menyingkirkan permainan congkak yang sudah digunakan. Bara menyeringai saat melihat wajah cantik Makaila yang sudah dipenuhi oleh air mata.     “Tidak perlu menangis, tidak ada hal yang menakutkan yang akan terjadi. Aku malah akan mengenalkanmu pada hal menyenangkan. Aku akan membawamu untuk berkenalan dengan surga dunia yang sudah jelas belum pernah kau temui,” setelah mengucapkan hal tersebut Bara mengecup bibir Makaila dan dengan cepat membuka pakaian yang dikenakan Makaila. Tentu saja Bara harus berjibaku dengan Makaila yang terus saja berontak mempertahankan pakaian yang ia kenakan agar tetap melekat pada tubuhnya.     Setelah tersisa satu set pakaian dalam, Bara pun setengah menindih Makaila dan memilih untuk melepaskan setelan kemeja yang ia kenakan. Kini, Bara bertelanjang d**a dan menunduk untuk mencium Makaila untuk kesekian kalinya. Namun, kali ini Bara mencium Makaila dengan dalam dan dalam rentang waktu yang cukup lama hingga sanggup membuat Makaila hampir kehilangan napasnya. Lagi dan lagi, Bara menyentuh titik-titik sensitif Makaila sebagai seorang perempuan. Titik-titik yang belum pernah dilihiat, bahkan disentuh oleh siapa pun. Titik-titik yang juga mengantarkan gelenyar aneh yang membuat Makaila merasakan hantaman gairah yang meledak dan mengantarkan dirinya pada sebuah puncak yang menakjubkan. Ya, hanya dengan sentuhan jemari dan kecupan yang diberikan oleh Bara, Makaila berhasil meraih puncak pertama dalam hidupnya.     Makaila tampak menakjubkan saat ini. Bara mengusap pelipis Makaila yang basah oleh keringat saat ini. Wajahnya yang putih memerah karena hantaman gairah yang membuatnya lunglai selagus pusing. Makaila tidak sadar saat Bara sudah berhasil menelanjanginya secara sempurna saat ini. Bahkan, Makaila tidak saat Bara sudah bersiap untuk merenggut hal yang paling berharga miliknya. Makaila masih terlarut dengan jejak-jejak gairah yang menggulung dirinya. Barulah saat serangan rasa sakit menyerang bagian sensitif miliknya, Makaila tidak bisa menahan diri untuk menjerit sekuat tenaga dan mendorong tubuh Bara yang menindih dirinya.     Bara mengernyitkan keningnya dan memilih untuk menggendong Makaila untuk berpindah tempat. Bara membarikan Makaila di atas ranjang dan kembali memposisikan diri, Bara kembali menindih Makaila yang berusaha untuk melepaskan diri. Bara berbisik, “Tenang, ini hanya sakit pada awalnya saja. setelah sakitnya menghilang, aka nada surga yang menunggumu.”     Lalu sedetik kemudian jeritan Makaila melengking. Jeritan penuh kesakitan yang menandakan jika Makaila sudah tak sama lagi. Label gadis yang ia miliki sudah direnggut paksa oleh Bara. Air mata mengucur deras dari kedua matanya. Makaila memejamkan matanya dan menolak untuk melihat Bara yang kini menatapnya dengan dalam. Bara mencium kernyitan pada kening Makaila. Lalu kembali mengecup bibir Makaila dengan lembut. “Selamat, kini kau sudah menjadi wanita seutuhnya, Makaila,” bisik Bara tepat di atas bibir Makaila dengan seringai penuh kemenangan serta kepuasan yang sama sekali tidak ia tutupi.       **         Bara mengecup tulang selangka Makaila untuk terakhir kalinya, sebelum melepaskan diri dari Makaila yang sudah jatuh tidak sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu. Kini, Bara bersiul senang. Ia merasa begitu puas. Kepuasan yang rasanya belum pernah ia temui selama dirinya sudah mengenal dunia seks. Bara berbaring di samping Makaila yang kini sudah ditutupi selimut tebal. Pikirannya berkelana untuk beberapa saat sebelum pikirannya tersebut terganggu dengan dering ponsel milik Makaila.     Bara pun meraih ponsel Makaila tersebut dan memeriksa siapa yang memanggil. Bara berdecih saat melihat nama Yafas di sana. Bara mengabaikan telepon yang datang berulang kali tersebut. Namun, tak berapa lama ada pesan yang masuk dan berbunyi, “Makaila, kenapa tidak mengangkat teleponku? Apa kamu baik-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi, bukan?”     Bara yang membacanya menyeringai. Ia melirik Makaila yang tampak tenang dalam tidurnya. “Tidak ada hal buruk, yang ada adalah hal yang sangat menyenangkan.” Bara kembali menatap layar ponsel Makaila dan kembali menyeringai.     “Hal yang menyenangkan, karena aku sudah berhasil mengenalkan sebuah gairah pada gadis yang kau cintai,” ucap Bara penuh kemenangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN