“Bapak kok enggak bangunkan saya?” tanya Audya kesal. Ini sudah jam delapan malam. Dan dia masih di kediaman Argantara. Sekitar satu menit yang lalu baru bangun dari tidurnya bersama Naura. Itu juga karena Audya yang kebelet buang air kecil. Membuka mata, menoleh ke kanan dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah Argantara yang kebetulan juga menatapnya. Melihat tirai jendela yang ditutup membuat Audya sadar. Hari sudah malam. Kandung kemih yang tadi penuh, tersedot entah ke mana dengan sendirinya. Bayangkan saja. Siapa yang tidak panik saat bangun sudah malam, di rumah orang, dengan si tuan rumah hanya duduk di sampingnya. Paling parah, si orang itu adalah bos besarnya di kantor yang sedang dia hindari setengah mati. Argantara menghela nafas. “Saya enggak tega membangunkan kamu. Kamu

