Audya menjauh. Itu yang Argantara rasakan. Dilihat dari sisi mana pun, jelas gadis itu menghindarinya. Hal itu yang membuat Argantara uring-uringan. Sudah hampir empat hari Audya tidak merespons apa pun pesan yang dia kirimkan. Jika bertemu di kantor, gadis yang sudah berhasil memorak-porandakan perasaannya itu hanya mengangguk sopan. Itu juga jika mata mereka tidak sengaja bertatap. Memang apa yang Argantara harapkan? Bukankah hal itu wajar-wajar saja? Mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Malah akan aneh jika Audya menyapanya dengan riang. “Ya enggak sampai begitu juga. Dia kan bisa senyum atau apa. Dia bahkan sering satu mobil sama gua. Belakangan kemarin juga kita lumayan dekat kan. Sampai jalan-jalan di taman bareng. Kesannya kaya yang sudah terjadi belakangan ini enggak ada arti

