“Jeje, ini aku ... Dokter Russel,” beritahu Dokter Russel sembari menelan ludah kelu. “Di pihak mana, kamu?” desis Jeje dingin. Dia mengeratkan cengkramannya di leher Dokter Russel hingga pria itu meringis menahan sakit. “Ya Tuhan, apa kau tak percaya padaku? Aku selalu disisimu, Jeje!” Dokter Russel berusaha meyakinkan Jeje, namun Jeje yang ini tak mudah percaya begitu saja. Dia menyeringai keji, lantas melirik pada Jessica yang tampak kesulitan melawan makhluk-makhluk yang menyerangnya. “Mengapa tak kau buktikan?” tantang Jeje. Dokter Russel terdiam, syok. Apa baru saja Jeje memintanya membunuh Jessica untuk membuktikan kesetiaannya padanya? Dokter Russel bimbang akut. Sementara Jessica yang sibuk berkelit dan menghabisi penyerangnya memutuskan lebih baik mundur terlebih dahul

