“Lee, Kak Lee ....” Lee merasa sumringah ketika dia kembali dari hutan, Jeje menyambutnya dengan riang. Seperti anak kecil yang menyambut ayahnya pulang kerja. Dia mengusap kepala Jeje lembut. “Hai, Jeje. Kau merindukanku? Aku hanya pergi selama ....” Lee melirik jam di pergelangan tangannya. “Tak sampai tigapuluh menit.” “Rindu?” ulang Jeje bingung. Dia seperti anak bayi yang baru belajar kosa kata, Lee harus rajin menjelaskannya calon istrinya memahaminya walau hanya sebatas kemampuannya. “Rindu itu kalau kita tak melihat seseorang tapi kita selalu terpikir padanya.” “Berpikir?” Jeje menggeleng. Dia terbiasa menggeleng jika tak memahami sesuatu. “Hm, mungkin lebih tepat ... kita akan terus terbayang orang itu saat dia tak ada.” Jeje tetap menggeleng dengan raut wajah bin

