37. Magic Blood

1293 Kata

Jeje menangis dengan suara tertahan. “Dokter, mengapa begini? Siapa yang mencederai Dokter seperti ini? Teganya!” Lengan Dokter Lee menghitam, melepuh, dan mulai bernanah. Jeje berniat membersihkan luka itu. Namun sebelum tangannya menyentuh lengan Dokter Lee, tiba-tiba ada yang mencengkeram tangannya. “Jangan ...,” desis Lee, lemah. Tangannya yang tak terluka menahan tangan Jeje supaya tak menyentuh lukanya. “Beracun,” imbuh Lee. “Kau masih hidup!” seru Jeje, lega. Saking leganya, dia melupakan harga diri, prinsip dan gengsinya ... Jeje memeluk Lee dan mencium pipi pria itu penuh syukur. “Ya Tuhan, kau masih hidup. Jeje pikir ... Jeje pikir ... huaaa ....” Memikirkan betapa kalutnya dia tadi, tangis Jeje meledak seketika. Dia baru menyadari betapa berartinya pria ini ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN