Di hari pernikahannya, Jeje baru menyadari ... dia tak punya teman dekat wanita. Entah mengapa, apa ada yang salah dengan dirinya? Padahal dia bukan tipe wanita nyinyir, dia polos dan menyenangkan. Apa kepribadian seperti itu tak disukai sebagai sahabat wanita? Bahu Jeje menurun. Miris rasanya. Tidak! Dia tak ingin kesadaran itu mengurangi kebahagiaannya. Jeje berusaha tersenyum seceria mungkin. Dia berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajahnya yang telah dirias sempurna dengan dandanan alami. “Tersenyumlah, Jeje. Hari ini hari bahagiamu. Caiyo!” gumam Jeje pada dirinya sendiri. Jeje menyengir namun cengirannya di pantulan cermin terlihat aneh. Tak hanya dia yang berpendapat begitu, seseorang yang baru muncul juga mengomentari demikian. “Senyummu aneh, Jeje!” Jeje berb

