TERANG BULAN JADUL

1056 Kata
Setelah Vania dan Ziva mengedit-edit dan menambahkan tulisan cerita tentang Pak Sujani yang malang. Mereka pun mencoba untuk post di media sosial mereka masing-masing dan berharap beberapa donatur membantu mereka. Rekening yang mereka catat di medsos adalah rekening mama Ziva. Karena mereka belum bisa membuat rekening bank sendiri. Alhamdulillah respon dari masyarakat sangat positif sekali. Rata-rata bertanya alamat lengkap karena ingin menemui Pak Sujani sekeluarga secara langsung. Setelah sekitar satu minggu open donasi, Ziva dan Vania berangkat ke bank bersama Mama Ziva. Setelah print buku tabungan, betapa kagetnya Ziva dengan saldo yang tertera. "Ma, ini beneran segini?" Ziva bertanya "Iya Zi, mama sudah kosongkan saldo sebelumnya. Jadi jumlah yang ada di sana cuma jumlah dari donatur saja." Jawabnya. "Emang dapet berapa sih Zi?" tanya Vania kepo sambil merebut buku tabungan dari tangan Ziva. Disana tertera saldo 39.023.589. "Alhamdulillaaahh. Tidak sia-sia usaha kita untuk membantu Pak Sujani. Semoga dengan ini, mereka bisa memulai usaha lagi dengan lebih baik." Mereka menarik semua uang yang ada di bank, senilai 39 juta rupiah. Dan segera bergegas ke rumah Pak Sujani. Sampai disana Bapak dan Ibu Sujani sujud syukur dan sangat berterima kasih sekali atas bantuan dari semua donatur. Terutama Ziva dan Vania yang menjadi perantara. Tidak lupa Ziva dan Vania memvidiokan semua kejadian tersebut untuk laporan ke media sosial bahwa dana telah mereka salurkan ke keluarga bapak Sujani. Dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki rumah Pak Sujani supaya layak huni, serta untuk modal usaha. Sambil pulang, Vania pun mencermati rekening koran yang ia pegang. Ia agak heran mengapa jumlah uang yang terkumpul bisa sampai sebanyak itu. Ia mengamati tiap-tiap uang masuk dari donatur yang jumlahnya bervariasi. Rata-rata 50.000 - 200.000 rupiah per orang. Lalu ia berhenti di baris ke 5 dari bawah, jumlahnya berbeda jauh dari yang lainnya, 20.000.000 rupiah. Ia mengamati jumlah nol yang tertera disana dan memang betul ada donatur yang berbaik hati menyumbang sejumlah itu. "Haaahh, ada yang nyumbang 20.000.000 !!" Teriaknya. "Masa sih Van?" "Iya beneran, ini coba deh lihat." Katanya sambil menyodorkan buku rekening mama Ziva. Ziva meraih buku rekening tersebut dan mencermatinya. Benar kata Vania, diantara nominal - nominal yang tertera disana, terdapat satu nominal yang tertera 20.000.000. "Wah iya betul ada yang transfer sebanyak ini." Kata Vania. "Sekaya apa ya dia, sampai bisa transfer sebanyak ini ke rekening donasi. Jadi penasaran aku siapa yang transfer." Sambungnya "Aku juga penasaran nih, apa kita coba ke bank aja mumpung masih siang?" Usul Ziva. "Kamu gak buru-buru kan Van?" "Skuy" Kata Vania singkat. Ia juga penasaran bagaimana bisa ada donatur yang transfer sebanyak itu. Sekaya apa dia sampai bisa berdonasi segitu banyaknya. Di tengah jalan mau balik ke bank, mereka melihat ada penjual terang bulan/martabak manis tradisional (salbut). Vania dan Ziva jadi ingat masa kecil mereka yang sering membeli jajanan tersebut ketika masih SD. Rasa martabak manis yang sederhana dengan bahan-bahan yang murah. Tetapi sangat berkesan di lidah dan susah dilupakan. Bentuk awalnya bulat, dan dilipat menjadi setengah lingkaran setelah di beri olesan meses / krim di dalamnya. "Van, beli terang bulan jadul yuk. Kok aku jadi kangen rasanya ya. Tak kira sudah gak ada yang jual." Ajak Ziva. "Aku baru aja mau ajak kamu Zi. Aku juga kangen sama rasanya. Terakhir makan kapan ya, SD kelas 6 paling, setelah ambil ijazah." "Berapaan pak?" tanya Ziva ke bapak penjualnya. Penjual terang bulan tersebut memakai gerobak dorong warna biru yang atasnya kaca. Sehingga terlihat tumpukan terang bulan jadul yang berwarna kuning kecoklatan dari luar gerobak. "5 ribu neng, bisa beli setengah."Bapak penjual terang bulan jadul tersebut "Beli 2 pak." Kata Ziva sambil mengulurkan uang 10ribuan. "Siap neng. Yang isi krim apa meises?" Tanya bapak penjualnya. "Aku mau yang krim." Kata Ziva. "Aku yang meses dong." sahut Vania Ia pun mengambil alas kertas minyak, lalu diambilnya satu lipatan terang bulan jadul berisi krim dan menuangkan kental manis coklat di atasnya ditambahkan dengan sprinkle warna warni. Lalu diberikannya ke Ziva. Lalu ia mengambil satu lipatan lagi yang berisi meses, di atasnya ditambahkan gula halus. Diberikan ke Vania. Mereka pun duduk di trotoar dekat gerobak untuk menikmati terangbulan jadul tersebut. Ziva dan Vania menggigit jajanannya. Rasa manis sederhana berpadu dengan kenangan menyenangkan. Mereka seketika merasa kembali ke masa lalu. Rasa yang sama yang pernah mereka rasakan saat SD sering membeli jajanan tersebut sepulang sekolah. "Bagaimana ya cara buatnya?" Gumam Vania yang penasaran dengan cara pembuatan jajanan tersebut. Ternyata bapak penjualnya mendengar ucapan Vania. "Begini neng cara membuatnya......" Katanya Resep Terang Bulan Jadul Bahan-bahan 300 g tepung terigu serbaguna 500 ml s**u cair (bisa diganti 1 sachet s**u bubuk+air) 1 sdt ragi instan (fermipan) 1 sdt soda kue 1 butir telur 1/4 sdt vanili bubuk 1/4 sdt garam 4 sdm penuh gula pasir Cara membuat : Campur semua bahan kering, ayak sampai habis Masukkan s**u cair secara bertahap, kocok sampai semua tercampur rata. Tutup adonan, diamkan selama 1 jam sampai ragi bekerja. Panaskan teflon dengan api sedang. Tuang adonan 3-4 centong. Besarkan nyala api. Setelah muncul gelembung-gelembung, kecilkan api dan tutup sebentar adonan. Angkat. Tambahkan krim / Meses, lipat menjadi setengah lingkaran. "Begitu neng. Gak sulit kan. Neng bisa bikin sendiri dirumah, soalnya sekarang yang jual beginian sudah jarang. Sudah kalah sama jajanan modern seperti makanan ringan dan makanan kekinian." Kata Bapaknya. "Tapi saya lebih suka dengan jajanan lama seperti ini, semua bahannya aman dan tidak memakai bahan yang aneh-aneh seperti makanan kekinian sekarang." Sahut Vania. "Betul Neng, Saya tetap bertahan menjual ini karena anak saya neng. Saya berjualan sudah 20 tahun lebih. Dia suka sekali makanan ini, dulu hampir tiap hari anak saya pasti minta dibuatkan dan dimakan saat masih hangat. Senyum bahagianya yang masih polos itu masih terkenang di ingatan saya." Ceritanya dengan pandangan agak menerawang. "Sekarang anaknya dimana pak ?" Ziva bertanya dengan polosnya. Vania menyikut lengan Ziva. 'Dasar cewek satu ini gak sensitif' batinnya. "Sekarang anak saya sudah menikah dan ikut suaminya di Jakarta neng.Sejak menikah belum pernah pulang dan hubungi saya. Saya telpon beberapa kali, jawabnya masih sibuk. Yang penting saya tetap mendoakan supaya dia sehat selalu dan tidak kekurangan apa pun." Kata Bapak tersebut dengan tersenyum sedih. Suasana menjadi hening, mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Tidak terasa terang bulan jadul yang mereka nikmati hanya tinggal kertas bungkusnya saja.. Ziva agak menyesal telah bertanya kepada bapak penjual tersebut. Mereka pun pamit pulang, setelah membeli masing-masing dua untuk dibawa pulang. Lalu mereka melanjutkan kembali ke Bank. Disana......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN