KLEPON

1090 Kata
POV Vania Langsung ku scroll layar ke atas untuk mengangkatnya, tetapi tidak ada suara disana..... Hening "Halo,Halo?" suara dari seberang telpon tetap tidak terdengar. Kumatikan saja daripada makin membuang waktu. Kulanjutkan mengunyah brownies dari tetangga baruku itu sambil duduk di ruang tamu. Sepulangnya Bu Rina tadi, aku masih penasaran cowok bagaimana yang sekarang jadi tetanggaku itu. Sudah seminggu sejak kulihat mobil sport mewah parkir didepan rumah itu. Tapi selama ini tidak pernah kujumpai cowok yang katanya seumuranku itu. Entah sekaya apa tetanggaku itu, sehingga mempunyai mobil semewah itu. Pasti bukan dari kalangan orang biasa. Melihat penampilan Bu Rina tadi juga, walaupun sederhana bisa terlihat dari bahan dan tampilan pakaiannya. Pasti harganya jutaan, walaupun begitu beliau tidak terkesan sombong. Tring.. tring.. Lagi HP ku berbunyi. Ku abaikan saja karena pasti dari penelepon tak bernama lagi. Setelah mati, berbunyi lagi notifikasi telpon di HP ku, Setelah kubiarkan 3x baru kulihat di layar, tertera nama Ziva. Segera ku angkat dengan tangan kiri karena sepotong brownies masih ada di tangan kananku. "Hei Van, lama banget sih gak ngangkat. Ditelponin beberapa kali juga." Cerocosnya. "Dasar, udah nggak salam, langsung malah ngomel-ngomel." Ujarku kepadanya. "Oh iya, Assalamualaikum Bu Vania. " "Hahaha, gitu dong. Maaf tadi lama ngangkatnya. Daritadi ada orang iseng nelponin aku. Diangkat gak ada suaranya. Makanya tadi waktu kamu telpon, kukira orang iseng lagi. Kubiarin aja biar kapok." katanya sambil mengunyah potongan brownies di tangannya "Huu dasar. Eh Van, katanya tadi Risa cium pipi Ravel ya?" Uhukk,uhuk, Vania tersedak brownies yang sedang dikunyahnya karena mendengar perkataan Ziva. Ia segera mengambil segelas teh sisa mamanya yang ada di meja. "Hei Van, Vania, kamu kenapa sih?" Tanya Ziva di seberang sana. "Sori sori, tadi aku lagi makan brownies, kelesek gara-gara kamu nih ngagetin aja. Kamu dapet cerita darimana sih?" "Tadi siang sebelum kamu ke kantin, ada anak yang bisik-bisik di belakangku, katanya tadi pas lewat kelas kita ada tiga s*****n itu di kelas, trus Risa cium Ravel." "Hmmm, udah nyebar ternyata. Iya bener, nekat banget tuh Risa. Padahal Ravel kelihatan gak peduli sama dia. Dan aku tadi pas kebetulan di kelas lho. Jadi bener-bener tau banget kejadiannya kayak gimana. " "Sumpah? Ya ampun Van, kamu sabar banget sih. Kalau aku jadi kamu pasti udah ku jambak rambut pasangan Risa sampai copot smua." Aku tertawa mendengar temanku satu ini yang memang bar-bar. Ziva bercerita denganku sampai selesai kira-kira 15 menitan. Ravel, cowok misterius itu memang membuat banyak cewek di sekolahku penasaran. Uniknya, dia tidak pernah sekalipun ke kantin. Padahal kantin sekolah adalah hal yang tidak bisa kita lupakan saat sekolah. Setelah beberapa waktu lalu ia ramah padaku, sekarang kembali seperti dulu lagi. Bukannya dia menjauhiku, tapi memang dari dulu seperti itu. Tidak pernah dekat dengan siapapun. Malamnya, aku mulai menghitung-hitung laba dari penjualan telur gulung selama satu minggu. Alhamdulillah laba yang terkumpul sejumlah 215.000 rupiah. Sangat lumayan untuk pelajar sepertiku. Selesai menghitung, aku melihat jadwal pelajaran untuk besok. Lalu aku baru ingat kalau ternyata hari ini adalah hari ibu. Jam masih menunjukkan pukul 7 malam. Belum terlalu malam untuk membeli sesuatu untuk mama. Sambil memikirkan apa yang ingin ku beli, aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Setelah ku pikir-pikir aku ingin membeli kue tart saja untuk mama. Lalu aku ingat jika 250meter dari rumah ada toko roti yang lumayan lengkap. Toko roti yang menjual berbagai macam cake dan kue tradisional. Aku bergegas jalan kesana untuk membeli kue yang kuinginkan. Ditengah jalan, aku mendengar suara tangisan. Setelah kulihat sekitar, ternyata ada anak kecil kira-kira 10 tahunan sedang menangis sambil terduduk di sebelah tiang listrik. "Halo adik namanya siapa? " Tanyaku. "Farel kak. " "Kamu kenapa menangis?" Kataku sambil merendahkan tubuhku sehingga setara dengan anak itu. "Aku lupa dimana rumahku. Hiks hiks. " Farel melanjutkan tangisannya. "Aduh, gimana ini. Adik tau rumahnya dimana? Nanti bisa kakak carikan. " "Gak tau kak, aku baru pindah. Belum hafal daerah sini. " "Kamu gak bawa HP?" Tanyaku, karena aku tau dari baju Farel bukan sembarangan. Ia memakai kaos n*vada warna putih, celana Jeans merk L*vi's. Serta sepatu Va*s berwarna putih tulang. "Aku gak dibolehin mama bawa HP kalau main keluar. " "Tadi kamu main sendiri?" "Enggak, aku tadi main sama anak-anak disini, lalu sebelum maghrib mereka pulang semua. Aku ditinggal." "Ya udah, ikut kakak beli kue, lalu nanti kerumah kakak dulu ya." Farel hanya mengangguk. Sampai toko kue, ternyata kue-kue yang tersedia tidak seberapa karena sudah malam. Di toko kue ini memang mempunyai sistem konsinyasi atau titipan. Jadi produsen kue setiap pagi mengirim kue dan malamnya mereka mengambil hasil penjualan kuenya. Sehingga kue yang tersedia pasti selalu baru setiap hari. Farel menunggu sambil makan puding mangga yang kubelikan untuknya. aku sibuk memilih cake yang ingin kuberikan pada mama. Kumelihat berjajar cake berukuran mini yang ada disana. Pandanganku terhenti pada satu cake yang amat menarik. Warnanya hijau muda, dengan taburan kelapa parut dan ada hiasan berbentuk bulat-bulat mengelilingi atasnya. Diatas bulatan tersebut ada daun pandan segar yang dibentuk pita, sehingga menambah keanggunan cake itu. "Mbak ini cake apa ya kok lucu bentuknya" Tanyaku kepada salah satu staff yang memakai apron bertuliskan nama toko itu. "Ini cake klepon kak, rotinya terbuat dari sponge cake pandan dengan pewarna pandan asli. Dalamnya ada krim dari gula merah dan dilapisi dengan krim pandan dan taburan kelapa parut." "Lalu yang bulat-bulat di atasnya itu apa mbak.?" "Itu klepon asli kak, dalamnya jula merah dan ada hiasan gula merah serut ditengahnya." Mendengar penjelasan dari staff tersebut rasanya tak sabar aku untuk memberikan ke mama. Mama tidak suka cake atau bolu kekinian dengan krim pada umumnya, eneg katanya. Malah lebih suka dengan jajanan tradisional yang sering dijual di pasar. Klepon atau kelepon, jajanan dari Jawa, dikenal pula di wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Malaysia serta pada masyarakat Betawi, adalah sejenis kue tradisional yang termasuk ke dalam kelompok jajanan pasar. Kue ini terbuat dari tepung beras ketan yang umumnya diwarnai hijau melalui penggunaan daun pandan atau daun suji. Sumber : Wikipedia Resep Klepon 250gr tepung ketan 50gr tepung beras beberapa lembar Daun pandan wangi / suji dan air secukupnya diblender disaring, ambil airnya saja Gula merah serut untuk isian 150gr Kelapa parut, dikukus Cara membuat : Campur tepung ketan, tepung beras dan air pandan. Uleni sampai adonan tidak lengkat. Bentuk bulat-bulat adonan, pipihkan, isi dengan gula merah serut. Panaskan air di panci sampai mendidih, masukkan bola adonan. Rebus sampai mengapung. Tiriskan Siapkan kelapa parut kukus di piring, gulingkan bola-bola klepon sampai kelapa menutupi seluruh permukaan. Klepon siap disajikan. "Oke mbak, aku mau kue klepon aja." Setelah membayar, aku melihat Farel telah menghabiskan puding mangganya. Segera aku bergegas pulang sebelum hari semakin malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN