Azka pergi setelah pria itu berhasil membuat pertahan Alina hancur. Air mata gadis itu tak lagi bisa di ajak kompromi,lututnya menjadi lemas, beruntung dia berdiri tak jauh dari sofa, sehingga Alina bisa bertumpu dengan tangannya di senderan sofa. Sakit? jelas saja itu yang gadis itu rasakan setelah pujaan hatinya pergi. "Maaf.. hiks... hiks.." "Ama...Ama tenapa? Tok Ama nanis?" Buru-buru Alina mengusap air mata saat suara pangeran kecilnya yang tadi terlelap,entah kapan bangun dan sudah berada di ambang pintu, dan detik berikutnya sudah menghampiri mamanya. "Eh, anak mama sudah bangun,ayo mandi yok, habis itu kita makan." Alina mengecup pipi gembul itu, bulu matanya yang lentik mengerjap beberapa kali ketika memperhatikan sang mama. "Tenapa Ama nanis?" "Enggak, Ama ga nangi

