7. Mimpi Bersama

473 Kata
Hari bekerja kedua, Lintang sore harinya di jemput oleh Desty lagi. Akan tetapi Lintang merasa tidak enak jika setiap hari harus merepotkan temannya karena menjemput atau mengantarkan, terlebih lagi jarak dari rumahnya menuju tempat karaoke lumayan jauh. "Desty, apa sebaiknya aku ngekos saja ya disekitar sini? Jadi untuk bekerja aku tak perlu melakukan perjalanan jauh?" tanya Lintang meminta pendapat. "Yah, itu benar juga. Jadi aku juga bisa sering - sering menginap di tempatmu," balas Desty senang. Lintang tiba - tiba merasa iba, sebab sahabatnya itu rumahnya bagus tapi tidak pernah kerasan di rumah sebab sepi hanya ada pelayan. "Tapi minta tolong siapa ya? Pengenku yang murah - murah saja," kata Lintang kebingungan. "Masalah itu kamu santai saja, di sana aku kan punya banyak kenalan," balas Desty senang. Setelah sampai di sana Lintang langsung berganti pakaian yang dipinjamkan Desty, sebab Lintang memang belum membeli baju khusus bekerja. Sambil di make up, Desty sambil ceramah. "Lintang, kamu perhatikan baik - baik saat aku merias kamu. Jadi nanti kamu bisa melakukannya sendiri," ucap Desty. "Iya, terima kasih banyak, Desty. Aku sangat berhutang Budi padamu," jawab Lintang senang. "Lintang, dengarkan aku. Profesi ini tidak baik bagimu kedepannya. Jadi kamu harus berusaha menabung dari sekarang, jadi setelah lulus kuliah kamu bisa meneruskan kuliah dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Kamu sangat cantik dan juga cerdas, kamu berhak memiliki kehidupan serta pasangan yang baik nanti," tutur Desty serius. Lintang hanya mengangguk, dia tidak menyangka, jika sahabatnya yang kesehariannya terlihat suka bermain - main ternyata bisa memikirkan hal seperti itu. "Desty, setelah lulus kamu mau melanjutkan kuliah di mana?" tanya Lintang kemudian. "Ke luar negeri, aku sangat ingin kuliah di Paris," jawab Desty pasti. "Kamu sangat mudah bisa sekolah di sana, kalau aku bisa sekolah di Universitas yang murah saja sudah bersyukur," balas Lintang. "Tidak ada hal yang tidak mungkin, mulai sekarang kamu harus pandai mencari uang dan menabung sebanyak mungkin. Aku membayangkan jika kita bisa kuliah bersama di sana pasti menyenangkan," hibur Desty. "Aku takut berharap, sebab jika tidak terwujud hanya akan kecewa," ujar Lintang pilu. "Hey, ini bukan Lintang yang aku kenal. Setahuku sahabatku itu orang yang optimis dan pantang menyerah. Di sana kan nanti kamu bisa sekalian mencari pekerjaan sampingan, aku dengar penghasilannya lumayan. Dengan begitu kamu bisa mengirim uang untuk kedua orang tuamu," bujuk Desty. "Baiklah, terima kasih, Desty. Mari jadikan ini mimpi kita bersama," jawab Lintang menjadi semangat. "Nah, begitu dong. Ayo buruan keluar, aku dengar pangeran kamu sudah datang mencarimu," goda Desty. "Siapa?" tanya Lintang penasaran. "Devan, memang siapa lagi," balas Desty setengah mengejek. "Oke, karena dia sudah sering menyakitiku maka aku akan mendapatkan uang yang banyak darinya," kata Lintang serius. "Ini baru teman aku," ucap Desty memberikan semangat. Di hari kedua ini, Lintang menghabiskan jam kerjanya bersama Devan. Tidak seperti kemarin yang malu - malu dan canggung, Lintang lebih percaya diri dan semakin mempesona membuat Devan semakin tergila - gila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN